VALIT ( Noval dan Dita)

VALIT ( Noval dan Dita)
Dua Langkah


__ADS_3

"Mas, besok aku ujian terakhir loh"


"Ya terus?"


"Kok terus sih?"


"Jadi?"


"Kok malah jadi" ucap Dita yang mulai terdengar nada ngambeknya diseberang sana.


Mendengar suara Dita seperti itu membuat Noval menyunggingkan senyumnya walau Dita tak melihat.


"Mas gak ngerti maksud, Tata. Bisa jelasin untuk Mas?" Tanya Noval dengan lembutnya.


Selama satu minggu di masa-masa ujian, Noval memilih untuk tidak berjumpa dengan Dita untuk saat ini, guna memberi waktu agar gadis itu lebih fokus untuk belajar.


Tetapi hal itu tidak mengurangi interaksi mereka untuk berkomunikasi. Seperti sekarang, tiap malam seusai Dita selesai belajar, Noval akan menghubungi kekasihnya itu untuk memberi semangat atau hanya untuk bercerita apa saja.


"Mas gak nyiapin acara buat ngelamar aku? Selesai ujian aku tinggal nunggu hasilnya aja" jelasnya.


"Emang yakin bakal lulus?"


"MAS DOAIN AKU GAK LULUS YA?" Tanya Dita diseberang sana dengan berteriak, sontak membuat Noval reflek menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Mas nanya, Tata, bukan ngedoain."


"Nanyanya gitu banget sih"


"Gak boleh Mas nanya gitu?"


"Kalau menyangkut segala macam hal tentang mas, Mas tenang aja. Aku bakal kerja keras kok. Jadi aku yakin banget kalau aku bakal lulus, ya walau gak nilai terbaik. Tapi aku udah bersungguh-sungguh" jelasnya disebrang sana yang terdengar menggebu-gebu.


Tanpa sadar Noval yang tengah duduk di meja kerja yang ada didalam kamarnya itu menyunggingkan senyumnya kembali hanya karena mendengar perkataan gadisnya seperti itu.


Kata-kata sederhana gak mengandung gula, tapi memiliki rasa yang begitu manis karena diberi dengan ketulusan.


"Tau gak kenapa Mas bisa suka sama kamu?" Tanya Noval tiba-tiba.


"Karena aku cantik? Ya emang sih, walau aku belum pernah pacaran selama ini, Mas. Tapi banyak kok cowok yang deketin aku. Tapi ntah kenapa hati ini milihnya ke Mas" jawabnya yang disertai tawa kecilnya di akhir, merasa geli dengan omongannya sendiri.


Mendengar itu membuat Noval menggeleng-gelengankan kepalanya.


"Oke karena kamu cantik, tapi point utamanya gak disana, Ta. Karena kalau hanya dilihat dari cantiknya aja, masih banyak diluar sana yang lebih cantik dari kamu" jelasnya.


"Contohnya Mbak Bella gitu?" Tanya Dita.


"Kenapa harus Bella?"


"Ya karena dia mantannya, Mas" jawab Dita yang terdengar jutek.


"Cantiknya Bella itu masih belum seberapa sama cewek-cewek diluar sana, Ta" ucap Noval dengan lembutnya.


"Kalau di bandingkan sama Miabe ya jauh lah Mas"


Noval mengerutkan keningnya, gak kenal dengan nama yang disebutin gadisnya itu.


"Miabe? Siapa dia?" Tanyanya.


Diseberang sana terdengar hembusan nafas dari Dita "Miabe, Mas gak kenal? Itu loh nama lain dari Maria Ozawa" jelasnya.


Noval terdiam, tak mendengar lagi ucapan yang di ucapkan Dita selanjutnya.


"Ta, kamu tau yang gituan?" Tanyanya dengan nada tak percaya.


"Tau dong, kan panutan aku Mas" jawab Dita dengan entengnya tidak peduli dengan nada khawatir dari Noval.


"Tau dari mana? Siapa yang kasih tau?"


"Dari temen waktu smp dulu. Kenapa sih Mas? Kayak gak suka gitu aku ngefans sama dia"


Mendengar itu membuat Noval tampak gusar, pikirannya sudah bercabang kemana-mana.


"Bukan gak suka, kamu tau gak sih dia siapa?"


"Model, kan? Pemain film juga" jawabnya.


"Film apa?"


"Aku gak tau, aku gak pernah nonton filmnya. Aku cuma lihat photo dia. Dia cantik natural tanpa makeup, terus bodynya bagus. Aku suka" jelasnya.


Ribuan laki-laki di muka bumi ini mungkin juga suka, Ta. Apa lagi kalau lihat filmnya, pikir Noval.


Dia sedikit merasa lega dengan jawaban yang diberikan gadis itu. Setidaknya untuk saat ini, gadis itu masih berada di zona aman. Dan kepolosan yang ditunjukkan gadis itu emang benar asli dari sifatnya, bukan karena dibuat-buat.


"Ah ok" balas Noval singkat.


"Jadi kalau di bandingkan sama Miabe, Mbak Bella itu kalah jauh" sambungnya lagi masih membahas tentang Bella, mantannya Noval.


"Tapi tetep cantikkan? namanya juga cewek".


Mendengar itu membuat Dita menarik sebelah bibirnya keatas. Kurang senang rivalnya di bela begitu, apa lagi di puji seperti itu oleh pacarnya.


Cantik karena polesan aja juga, pikir Dita.


"Tapi aku juga cantik" ucap Dita yang tanpa sadar dianggukin oleh Noval "cantik aku natural, tanpa polesan. Kayak gini aja aku udah cantik, apa lagi di poles. Atau Mas mau lihat aku yang makeup-an?" Usul Dita.


"No!" Jawab Noval cepat dengan sedikit menaikkan nada suaranya.


"Kenapa?"


"Mas suka kamu yang kayak gini. Bener, cewek yang bermake-up itu cantik. Tapi kayak gini aja udah cantik kenapa harus di percantik lagi? Berlebihan itu gak baik, Ta. Contoh kamu minum teh, udah manis. Terus kamu tambahan lagi gulanya, makin manis kan?"


"Iya"


"Enak gak kalau manis banget gitu?"


"Gak enak, aneh sih yang ada rasanya. Kayak buat enek gitu. Duh ngebayanginnya aja udah buat aku mual, apa lagi kalau ingat tampang jelek Arka. Isi perut aku makin pengen keluar mas" jawab Dita yang membuat Noval tertawa.


Ini salah satu alasan kenapa dia bisa suka sama gadis ini, tanpa memikirkan joke lucu tapi bisa bikin orang tertawa.


"Nah kayak gitu juga kita ngelihat cewek-cewek yang bermake-up berlebihan, Ta. Mereka udah cantik, tapi kalau berlebihan gitu bukan buat kita makin suka, yang ada malah bikin kita risih ngelihatnya. Jadi jangan pernah ya buat berfikir untuk make-upan kayak gitu. Mas gak ngelarang kamu buat mempercantik diri kamu, toh itu juga yang seneng pasangannya kan. Tapi sewajarnya aja" jelasnya.


Dita diam, tak menyahut ataupun berkomentar lagi.


"Ta, masih disana kan?" Tanya Noval pelan.


"Masih, Mas" jawab gadis itu cepat.


"Terus kenapa gak nyahut Mas ngomong?"


"Aku lagi mikir"


Noval mengerutkan keningnya, "mikir apa?"


"Hubungannya gula sama cewek bermakeup tadi apa ya?."


Mendengar itu seketika rasa bangga Noval akan kata-kata keren yang tadi dilontarkannya hilang begitu saja.


"Udah lupa kan. Mereka gak ada hubungan apa-apa selain tetanggaan" timpal Noval tak bersemangat.


"Oh gitu, terus jawaban kenapa Mas suka sama aku apa?"


"Gak tau, Mas lupa" jawabnya seenaknya.


Diseberang sana mendegar itu membuat Dita mengerutkan bibirnya, padahal dia lumayan penasaran sama jawaban cowok itu tadi.


"Tidur gih, udah malem ni. Besok mesti bangun pagi kan buat ngulang pelajarannya".


"Ih belum ngantuk Mas" rengek Dita dengan manjanya.


"Cintanya Mas, Sayangnya Mas, kekasihnya Mas, miliknya Mas. Tidur gih" bujuk Noval dengan lembut dan halusnya.


"Maaas" rengeknya lagi.


"Tata, denger Mas bilang apa?"


Walau tak tampak oleh Noval, Dita reflek mengangguk "iya denger".


"Yaudah tidur ya. Besok pulang ujian Mas jemput".


"Beneran ya? Aku udah kangen banget soalnya" rengeknya kembali.


"Iya bener, makanya tidur"


"Iya ini mau tidur"


"Oh satu lagi, Mas lupa" timpal Noval yang membuat dia mengurungkan untuk mematikan ponselnya.


"Ya?"


"Soal lamaran, kamu gak usah pikirkan. Biar itu urusan Mas. Kamu cukup belajar yang baik dan bener aja. Pokoknya selesai ujian Mas bakal dateng sama keluarga buat ngelamar" jelasnya, "Siap lamaran langsung nikah mau kan?"


"Mau-mau" jawab Dita antusias yang membuat Noval tersenyum geli dengernya.


"Jadi ntar gak pakai acara tunangan lagi, kan langsung nikah. Tukar cincinnya waktu lamaran aja. Mas juga udah bilang sama mama papa kamu" sambungnya lagi.


"Oke mas" balas Dita dengan cengirannya.


"Yaudah tidur ya, Mas cuma mau bilang itu aja.


"Iya, Mas juga tidur. Jangan begadang mulu, ngegambar" timpal Dita memperingati.


Noval tertawa kecil, kalau saja gadisnya itu sekarang ada dihadapannya mungkin dia sudah mencubit pipinya.


"Kan buat kejar target, Ta."


"Aku gak pernah kok minta acara nikahnya yang mewah, yang penting sama aku itu aku nikahnya sama mas. Nikah di KUA aja aku gak masalah kok, Mas"


Noval yang tengah menopang dagu dengan sebelah tangannya kembali menyunggingkan senyumnya, merasa tersentuh dengan perkataan gadis itu.


"Mas terharu denger kamu ngomong kayak gitu, gimana Mas gak makin sayang coba, calon istrinya pengertian begini" godanya yang membuat Dita merasa pipinya memanas diseberang sana.


"Mas, ih aku serius" timpalnya mengalihkan rasa malunya.


"Mas juga serius, sayang".


"Yaudah deh terserah masnya aja, yang jelas aku gak pernah ya nuntut hal yang berlebihan dari mas".


"Iya-iya. Udah kan? Udah bisa tidur?" Tanya Noval yang terdengar serius.


Dita tertawa "iya aku tidur. Daaah Mas".


"Daaah" balas Noval, lalu memutuskan sambungan telfon tersebut.


🍂🍂🍂🍂


"Mama papa kapan pulang dinas, Val?."


Noval mengalihkan pandangannya dari ponsel yang dipegangnya ke arah Gio yang berada di hadapannya.


"Diusahain seminggu sebelum acara, Gi. Biar bisa biar bisa bantu-bantu gue" jawabnya.


"Gila sih lama banget di Semarangnya. Siap acara ketemu orang tua Dita belum balik sampai sekarang" timpal Gio lagi.


Noval menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi "Yayasan yang disana lagi ada masalah" ucapnya yang membuat Gio tak berkomentar apa-apa lagi.


"Gi, yang gue bilang kemarin udah lo carikan?"


Siang ini Noval, Raka dan Gio sedang menikmati waktu senggang mereka untuk menikmati segelas kopi yang ada di cafeteria kantor mereka.


"Yang mana? Gue lupa. Kata-kata lo banyak banget, lupa gue yang mana satu" jawab Gio setelah menyeruput cappuccino late miliknya.


Noval menarik nafasnya dalam, menahan umpatan yang ingin dikeluarkannya untuk cowok yang sekarang ada dihadapannya itu.


"Emang lo dikasih tugas sama Noval ngapain?" Giliran Raka yang bersuara.


"Cari bucket bunga" jawab Gio dengan santainya.


"Lo kalau gak bikin orang kesel emang gak seneng ya, Gi" sahut Noval dengan sinisnya.


Raka yang ada diantara kedu orang itu geleng kepala, sedangkan Gio nyengir tanpa rasa bersalah.


"Tampang ngeselin lo bikin gue suka, Val" sahut Gio dengan senyum genitnya yang membuat Raka mengidikkan bahunya serem, sedangkan Noval langsung menendang kaki cowok itu.


"Najis" ucapnya sinis.


"Lo tenang aja sih, gue gak lupa sama tugas gue. Pokoknya lo terima beres" sambung Gio kembali yang dianggukin oleh Noval pasrah.


"Bener ya gue bisa percayain sama lo"


Gio berdecak "Udah dibilangin juga lo serahin aja sama gue. Soal ginian gue mah udah khatam" sombongnya menepuk-nepuk dadanya.


"Oh secara gak langsung lo ngakuin kalau lo sering beli bunga buat cewek lain, gitu Gi?" Timpal Raka yang membuat Gio menyemburkan minuman yang ada di mulutnya.

__ADS_1


"Allah, Gi! Jorok lo" berang Raka melap wajahnya dengan tissue yang kena semprotan dari mulut Gio.


"Sorry-sorry, Ka. Lo sih, ngomong aneh-aneh. Kan gue kaget, ****" belanya yang membuat Noval mencibir.


"Aneh-aneh apaan? Orang gue nanya juga" sengit Raka masih berusaha menghilangkan rasa lengket yang ada di wajahnya.


"Nanya apaan? Lo nuduh gue, nyet" ucapnya pada Raka lalu menoleh kearah Noval "Val, lo percaya sama gue, gue gak pernah beli bunga buat cewek lain kecuali untuk Bee" ucapnya berusaha meyakinkan.


"Gue nyimak aja, lo lanjutin aja sama Raka" ucap cowok itu dengan santainya dengan senyum manisnya tapi menurut Gio itu senyum yang sangat menyeramkan.


Gio menggebrak meja yang membuat seluruh orang yang ada disana menoleh kearah meja mereka.


"Gi ah, kalem kenapa sih. Malu dilihatin orang" ucap Raka memperingati.


"Bodo, lo buat nyawa gue diambang pintu tau gak. Gak lihat lo tatapan Noval ke gue gimana" ucapnya yang membuat Raka menoleh ke arah Noval, hingga cowok itu tertawa.


Benar kata Gio, Noval kini sudah memasang mode dingin tanpa ekspresi.


"Oke-oke, gue bacanda. Lagian tampang lo panik banget, Gi. Santai napa".


"Santai-santai endas lo" sewot Gio, "gara-gara ini bisa jadi ntar gue gagal nikah, nyet" lanjutnya masih terlihat panik.


"Udah sih. Gue sama Raka percaya sama lo. Dasar, gampang banget di kerjain jadi orang" timpal Noval ikutan.


Gio cemberut "namanya juga orang ngebet kawin, Val" balasnya.


"Nikah woi nikah, emang lo hewan kawin-kawin" ralat Raka membenarkan.


"Kalau mau jadi hewan lo aja, gak usah bawa-bawa adik gue" ucap Noval kembali.


"Hadeeuh" ucapnya Gio menarik nafasnya dalam, "iya-iya, salah mulu gue. Emang susah kalau udah ngadepin lo berdua" ucapnya sedikit prustasi menghadapi kedua orang itu,  yang membuat Noval dan Raka reflek bertos ria berhasil membuat Gio kesal.


"Oiya Val, lo udah mesen cincinnya? Kan gak lucu lo lupa sama hal pentingnya" ucap Raka setelahnya.


"Nah iya, gue juga mau ngomong itu. Habis lo gak ada bahas cincin sama kita, gue kira lo lupa" timpal Gio.


Noval mengangguk "Soal cincin udah gue serahin sama Yuki. Gue rasa mereka lebih tau hal gituan" jawabnya.


"Lah ukurannya gimana? Dita sama Yuki kan beda size" tanyanya kembali.


"Soal ukuran, gue udah nanya ke mamanya Dita berapa diameter jarinya Dita" jawabnya.


Gio mengangguk paham lalu terdiam untuk menikmati kopinya kembali.


"Hmm Val, beneran gak mau tunangan dulu aja?" Tanya Gio dengan seriusnya setelahnya.


Noval diam sejenak meletakkan ponsel yang ada ditangannya keatas meja lalu menoleh kearah Gio "ngapain pakai tunangan, Gi? Toh gue juga bakal ngenikahin Dita secepatnyakan. Gue gak mau ngundur-ngundur waktu lagi" jawabnya.


Raka mengangguk "niat baik emang harus segera di laksanakan" jelasnya.


Gio mencibir "niat baik gue udah dari kapan tahun tu, belum juga terlaksanakan. Udah mau kering kulit gue nungguinnya tau gak" ucapnya dengan nada sedih.


"Suruh siapa lo deketin anak gadis orang yang punya abang belum nikah? Ya tanggung sama lo lah konsekuennya" balas Noval.


"Tapi Val, diluar sana banyak kok abangnya yang di langkau sama adiknya, it's okay tuh gak ada masalah" protes Gio kembali.


"Kenapa lo gak ngomong sama nyokap bokap gue kayak gitu waktu itu?" Sinisnya yang membuat Gio cemberut dengar bibir bawah yang sudah maju kedepan.


Raka tertawa melihat reaksi Gio mendengar pertanyaan Noval seperti itu.


"Ya gak mungkinlah" jawabnya menunduk lemas.


"Kenapa? Sama gue lo bisa ngomong kayak gitu, kenapa sama nyokap bokap gak bisa?".


"Lo mau gue gak di restuin ha? Dapet restu lo aja gue mesti bersemedi di goa, apa lagi kalau gak dapet restu dari om sama tante" sewotnya.


"Lebay lo" timpal Noval melempar cowok itu dengan tissue bekasnya.


"Dih si kampret, jorok *****" teriak Gio kegelian, lalu melempar kembali tissue bekas itu ke arah Noval.


Melihat itu membuat Raka geleng kepala, tak paham dengan pemikiran kedua sahabatnya yang sudah terbilang berumur tapi kelakuannya masih seperti anak kecil, bahkan adik kecilnya Zeka tidak pernah berkelakuan kekanakan seperti kedua orang itu.


Tapi faktanya pertemanan antara cowok lebih kelihatan kekanakan dari pada cewek. Cewek lebih banyak jaimnya.


"Berantem mulu lo berdua, gak malu sama umur? Heran gue ada aja bahasan yang buat berantem" sindir Raka yang dari tadi diam menyaksikan keributan dari dua orang itu.


Noval dan Gio reflek menoleh kearah Raka dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


Melihat itu membuat Raka mengerutkan keningnya "kenapa? Ada yang salah sama omongan gue?" Tanyanya merasa tak bersalah.


"Ya adalah, lo kan laki-laki. Kalau mau bener jadi perempuan dulu sana" ucap Gio santai.


"Hah?" Tanya Raka bingung mencerna ucapan cowok itu.


Sementara Noval yang paham maksud dari Gio tadi sudah ngakak keras hingga perutnya terasa sakit.


"Kambing" umpat Raka melempar Gio dengan tissue bekasnya setelah beberapa detik kemudian dia mengerti akan maksud ucapan cowok itu.


"Gitu aja lama mikirnya" sindir Gio.


"Temen lo ni Val minta di karungin" ucap Raka pada Noval yang menunjuk kearha Gio dengan dagunya.


"Gue gak punya temen kayak dia, Ka" sahut Noval seenaknya menatap miris kearah Gio.


"Tapi lo punya calon adik ipar kayak gue kan?" Goda Gio memainkan alisnya tanpa merasa tersinggung atas ucapan kedua sahabatnya itu.


Mendengar ucapan yang dilontarkan Gio itu membuat Noval tersenyum yang terkesan dipaksakan, lalu dengan pelan dia berucap "*******".


Lantas hal itu membuat Raka dan Gio kembali tertawa karena telah berhasil memancing kekesalan Noval yang dari tadi coba di tahan-tahannya.


"Bee kapan balik, Val?" Tanya Raka.


"Gak tau gue, katanya masih diusahakan. Lagi sibuk sama tugas akhir" jawabnya membuat Gio menunduk memainkan ponselnya.


"Lo gak masalah Bee gak balik, Gi?" Tanya Raka kali ini pada Gio.


Mendengar pertanyaan Raka itu membuat Gio mengangkat kepalanya menoleh pada cowok itu "lah kenapa nanya kegue, kan itu acara Noval. Gue sih biasa aja. Gak jumpa sekarang juga gak masalah, gue bisa nyamperin kesana" jawabnya berusaha terlihat santai.


Noval mencibir mendengar perkataan yang tidak sesuai dengan perasaan Gii saat ini "kalau mau bilang kecewa bilang aja. Gak usah sok-sok tegar gitu" timpalnya.


Gio mendengus kasar "apaan, jangan sok tau" elaknya buang muka.


"Kalau emang ngarep Bee pulang, ya di omongin. Jangan pasrah gitu" balas Noval yang di anggukin oleh Raka.


Gio menoleh "Gue gak mau ganggu study Bee, Val. Kalau emang gak bisa balik, yaudah gak masalah. Ntar gue paksa balik kesannya gue yang egois lagi. Toh lo yang abangnya sama yang punya acara gak segitunyakan nyuruh Bee balik".


Raka menganguk kembali "Tapi gue yakin sih Bee bakal balik ke Indo. Gak mungkin Bee mau ngelewatin acara penting abangnya ini".


"Ya semogah aja" balas Gio dengan senyum kakunya.


Gio tak langsung menjawab, dia menarik nafasnya dalam lalu dihembusnya berlahan "Gue sih terserah Beenya aja, kalau Bee siap ya ayo, kalau belum ya gue tunggu. Gue gak maksa lah, Ka. Lagian Bee masih mau ngelarin S2 nya dulu" jawabnya.


"Bee udah mau tunangan sama gue aja gue udah sujud syukur banget. Jadi ya sekarang gue ngikutin alurnya aja lagi" sambungnya.


"Gue bukan mau memihak sama adik gue atau gimana ya, Gi, tapi lulus S2 itu udah cita-cita Bee dari dulu waktu ngelihat Mas Novan yang sibuk sama sekolahnya sampai punya bisnis sendiri" timpal Noval.


"Iya gue tau. Bee pernah bilang langsung ke gue. Ya gue orang yang ada disampingnya ngedukung aja, selagi buat Bee seneng kenapa nggak" jawabnya yang terdengar begitu pasrah.


"Kalau Bee minta kerja setelah nikah gimana?" Tiba-tiba Raka mempertanyakan hal random seperti itu lagi.


Noval diam, menunggu jawaban cowok itu. Dia juga penasaran sejauh nama sahabat satunya itu ngedukung keinginan adik sematawayangnya itu.


Gio tertawa hambar mengakat tangannya diatas meja memainkan kuku-kukunya.


"Jujur dari hati gue yang paling dalam, gue pengen Bee gak jadi wanita karir. Gue pengen dia jadi ibu rumah tangga, yang mengurus semua kebutuhan keluarganya" jawabnya.


Mendengar itu membuat Noval menaikkan alisnya dengan tatapan lurus kearah Gio.


Gio yang sadar akan perubahan tatapan Noval segera meralat ucapannya "maksudnya, gue bukan mau memperlakukan Bee seperti pembantu atau apapun itu namanya yang membuat dirinya direndahkan. Gue cuma ingin ntar anak-anak gue gak ngerasain apa yang gue rasain sekarang".


"Tapi kalau Beenya mau kerja, ya balik lagi di awal. Gue bakal dukung semampu gue. Jangan karena gue, apa yang diinginkannya dari dulu terhalang. Gue pengen Bee sama gue bisa jadi orang yang saling support, bukan malah jadi beban satu sama lain" sambungnya.


Mendengar perkataan Gio seperti itu membuat Raka menyunggingkan senyum tipisnya. Beberapa tahun mengenal cowok itu dia tau betul kalau cara dia bersikap berisik semala ini adalah salah satu cara dia untuk menyembunyikan masalahnya.


Ya, seperti sekarang ini. Gio yang selalu easy going, tampak ceria, berisik seakan tak memiliki masalah, tapi ternyata punya masalah dengan kehidupannya.


Bukan Raka dan Noval tidak tau masalah yang dihadapi Gio, tapi cara berpura-pura tidak tau adalah cara paling terbaik yang mereka lalukan. Sebab Gio bukan type orang yang terlalu memikirkan masalahnya. Baginya semua akan baik-baik aja. Begitu lah kata-kata yang selalu di ucapkannya ketika kedua sahabatnya itu merasa khawatir padanya.


Berbeda dengan Noval, Noval merupakan type orang yang terlalu tertutup dengan masalah dan akan berakhir dengan membuat dirinya uring-uringan berlarut-larut dengan masalah itu.


Kadang hal itu yang selalu membuat Gio dan Raka mudah khawatir dengan sahabatnya satu itu. Manusia yang tertutup, sangat tertutup tapi gak bisa mengatasi masalahnya sendiri.


Sedangkan Raka sendiri adalah type orang sama pada umumnya, jika ada masalah dia akan menunjukkan dengan ekspresinya dan jika ditanya dia akan langsung bercerita. Type manusia yang hidup lurus seperti air hujan. Tidak neko-neko.


Dan disinilah yang membuat Noval Raka dan Gio merasa cocok untuk berteman satu sama lain. Karena perbedaan cara mereka menghadapi masalah yang membuat ketiganya saling melengkapi.


"Dita sendiri gimana? Beneran setelah lulus gak mau ngelanjut studynya?" Giliran Gio yang bertanya.


"Untuk sekarang nggak dulu katanya, tapi gak tau kedepannya gimana, gue ngedukung aja keputusannya gimana" jawabnyanya, "mau Dita ngelanjut atau nggak, gak bakal ngerubah keputusan gue. Gue gak bakal malu kalau istri gue ntarnya cuma lulusan SMA atau ntar anak gue punya ibu yang hanya tamatan SMA.


Raka mengangguk membenarkan "menurut gue, tinggi rendahnya pendidikan orang tua gak berpengaruh besar terhadap kesuksesan anaknya. Orang tua zaman dulu yang hanya lulusan SD atau bahkan gak sekolah, gak pandai baca tulis bisa buat anak-anaknya sukses. Ya semua mungkin tergantung bagaimana orang tua mendidiknya, bukan karena tingkat pendidikan orang tuanya"


"Tapi masih banyak yang beranggapan, anak yang pintar, cerdas dan sukses itu lahir dari orang tua yang mempunyai pendidikan yang tinggi, Ka" timpal Gio.


"Nah bener. Tapi lo jangan lupa juga, anak yang badung, nakal dan gak ada akhlak juga banyak terlahir dari orang tua yang berpendidikannya tinggi. Pendidikan mereka saja yang tinggi, tapi mereka gak ngerti gimana caranya mengurus dan mendidik anaknya" balas Raka santai tapi terlihat serius.


"Gila sih kalau ngomong sama lo, Ka. Gak ngerti lagi gue sumpah. Ini ni alasan kenapa gue pengen banget anak gue ntar jodohnya sama Afka" ucapnya merasa takjub yang membuat Raka memutarkan matanya, malas menanggapin omongan ngaco dari Gio.


"Belum nongol aja anak lo udah lo jodoh-jodohin. Lagian lo yakin kalau anak lo cewek? Kalau cowok gimana? Masih mau jodohin ke Afka?" Tanya Noval yang dari tadi cuma kebagian mendengarkan cerita dua cowok itu.


"Tau ni" sahut Raka.


"Ya kan gue lagi usaha memperbaiki keturunan gue, Val, Ka" ucapnya cemberut, "Pokoknya buat lo Val" tunjuknya kearah Noval, yang membuat cowok itu menyerngitkan keningnya, "Gue mohon, ntar bikin anaknya cowok aja ya. Biar anak gue ntar gak ditikung sama anak lo" sambungnya yang membuat kedua orang itu Noval dan Raka tercengang mendengar permintaan Gio.


Noval dan Raka kompak berucap "stress".


🌸🌸🌸🌸


"Bazinganlah" umpat Bagas di mejanya, "gue udah ibadah kegereja satu harian full dari pagi sampai malam, berdoa supaya ujian gue lancar. Tapi tetap aja hasilnya gak memuaskan. Mana tadi ujiannya susah banget ****" rengek cowok itu.


Dita dan Lala yang ada dihadapan Bagas reflek saling lirik dengan tatapan yang dapat diartikan,


'lo gak gabung, Dit?'


'Nggak, gue kan gak sebego Bagas'


'jadi lo lebih pintar gitu dari Bagas?'


'iyalah, lo gak lihat gue santai gini'


'ya itu karena lo gak mempedulikan hasil akhirnya, nyet'.


Begitulah kita-kita percakapan yang mereka lakukan.


"Woi elah lo ngapa dah malah lirik-lirik gitu. Najis lo homo" sewot Bagas kembali yang membuat Dita dan Lala kompak menoleh dan memutarkan bola mata mereka.


"Mulut lo filter dulu, Gas" ucap Dita, "Lagian ngapain sih rengek-rengek gitu, kayak bocah aja" sambungnya lagi.


"Ngerengek sampai suara lo habis juga gak bakal merubah keadaankan?. Lagian ibadah cuma kalau lagi ada butuhnya gitu gimana Tuhan mau ngabulin doa lo. Orang yang ibadahnya lancar aja masih harus bersabar dulu" ucap Lala dengan tangan yang terlipat didada.


"Makanya ibadah sama usaha harus sejalan. Ini gak, ibadah kalau ada maunya doang. Terus usahanya juga gak ada, kebanyakan nyebat lo, Gas" sambung Dita menceramahi cowok itu.


"Wah gue speechless lo bisa ngomong kayak gitu, Dit. Kepentok dimana kepala lo tadi?" Balas Bagas yang membuat Dita mengumpat kasar depan cowok itu.


"Yang diomongin Dita itu bener, Gas" timpal Lala membu Dita mengangguk, "Lo pengen nilai bagus tapi usaha lo gak ada. Doa aja kalau tanpa usaha ya percuma, Gas. Gue rasa di agama lo juga ngajarin seperti itu kan?".


Bagas mengangguk lemah.


"Tau tapi gak dilakuin" sinis Dita yang langsung di plototin oleh Bagas.


"Gas-Gas, untung bokap lo kaya raya. Jadi lo bebas masuk kemana yang lo mau".


"Gak gitu juga, La. Gini-gini gue masih tau malu kali" balas cowok itu.


"Halah, paling urat malunya gak seberapa. Kalau iyapun ada itu juga tinggal tunggu putus aja, senggol dikit putus deh" ucap Dita santai yang membuat Bagas langsung merangkul cewek itu dan menjitak kepala Dita sampai minta ampun.


"Ampun gak?" Tanya Bagas.


"Nggak!"


"Oke gue kencengin ya"


"Woi sakit bangke! Lepas gak?!" Teriak Dita.


Melihat kedua orang itu membuat Lala menarik nafasnya dalam, kenapa dia harus dihadapi dengan dua orang itu.


"Gak mau!  bilang ampun dulu"


"Anjiiiiir! Ampun!" Balasnya.


"Yang bener, Dit" timpal Bagas tak mau kalah.


"Bagas! Ampun!" Ucap Dita yang akhirnya dikepala kan oleh Bagas, "kambing lu!" Sambung Dita selanjutnya.

__ADS_1


"Udah berantemnya?" Tanya Lala tanpa ekspresi kearah dua orang itu.


"Udah" jawab Dita dan Bagas kompak.


"Yaudah ayo keluar, ngapain masih diri disana?!" Kesel Lala yang membuat Dita dan Bagas kompak jalan menyusul Lala keluar kelas.


"Loh kok bisa tiba-tiba hujan gini sih" sewot Dita, melihat lebatnya hujan yang turun saat itu.


"Lo balik sama siapa, Dit?"


"Sama Masval, tapi belum jemput kayaknya. Belum nelfon juga. Lo balik sama Arkakan?"


"Iya. Tapi rada telat jemput katanya, ada acara di sekolahnya dulu" jawab Lala.


"Kalau gue bawa mobil gue anter lo kesekolah Arka, sekalian jemput cewek gue. Ini gue malah bawa motor hari ini" timpal Bagas yang ada diantara kedua orang itu.


"Gak usah ngomong kalau gitu, Gas" sahut Lala yang membuat Dita tertawa.


"Tawa lo" bentak Bagas.


"Dih bodo" balas Dita tak peduli.


"Setelah lulus kita bakal kangen gak sih sama moment-moment begini?" Tanya Dita menatap lurus kearah lapangan yang memperlihatkan derasnya hujan.


"Gak tau, gue gak pernah ngebayangin kalau kita bakal ngalamin yang kayak beginian" jawab Lala dengan tatapan kosongnya memandang anak-anak yang berlarian menghindari hujan tersebut.


"Lo Gas, gimana?" Tanya Dita masih tanpa menoleh.


Bagas menghembuskan nafasnya kasar lalu tersenyum tipis "gak bakal gue kangen sama lo berdua. Yang ada gue seneng bisa jauhan dari lo dan lo" jawabnya mentoyor kepala Dita dan Lala bergantian.


"Dih si kampret ngerusak suasana, ****" maki Dita.


"Lo emang minta digebukin kayaknya deh, Gas" balas Lala menoleh ke cowok itu.


"Lagian apaan suasanya udah melow gini, bahasannyapun melow juga."


"Cape emang ngomong sama toa mesjid yang dikasih nyawa" sinis Lala.


"Gimana caranya La, toa mesjid di kasih nyawa?" Tanya Dita polos yang membuat Lala menjatuhkan bahunya melemas. Sementara Bagas sudah tertawa melihat polosnya temannya itu.


"Eh bentar-bentar" ucap Dita merogo tasnya.


"Ya, halo Mas?"


"Mas udah didepan ni, kamu dimana?"


"Aku masih didepan kelas, Mas, nunggu hujan redah. Aku gak bawa jaket sama payung" jawabnya.


"Sama siapa disana? Masih ramai gak?"


Dita menoleh kekiri dan kekanan melihat keadaan sekolahnya saat ini.


"Ini sama Lala sama Bagas juga. Ya lumayan sih Mas, masih ada beberapa yang nunggu redah juga".


"Mas samperin ke kelas, mau?"


"Beneran? Tapi ini lebat banget loh. Atau aku aja yang kesana, aku bisa kok lari"


"Gak usah, biar Mas aja kesana ya. Mas bawa payung kok ini"


"Yaudah, aku tunggu ya Mas. Terima kasih Mas"


"Iya, mas tutup ya telfonnya"


"Oke" jawabnya malu-malu, merasa sedikit tersipu dengan tawaran cowok itu.


Bagas menyikut lengan Lala "kenapa sama tu anak?" Tanyanya melirik kearah Dita yang tengah senyum-senyum sendiri.


"Biasa ampernya lagi mereng" jawab Lala ngasal.


Bagas mengangguk menerima saja jawaban dari Lala.


Tak berapa lama, di kejahuan terlihat seseorang yang menggunakan payung berwarna biru dengan celana panjangnya yang di gulung seperempat kaki dan juga hanya menggunakan sendal jepit untuk alas kakinya.


"Maaf ya Mas lama" ucapnya setelah sampai dihadapan cewek itu.


"Iya gak apa-apa, kenapa gak tunggu hujan redah aja sih, Mas. Kan jadi basah gini" omel Dita menepis-nepis pakaian Noval yang basah.


"Kan pakai payung"


"Percuma pakai payung kalau masih basah gini. Ini juga bawa jaket tapi gak dipakai" omelnya menunjuk jaket yang ada ditangan Noval.


Noval tersenyum mendapati omelan seperti itu lalu mengacak rambut gadis itu "gak apa-apa, ini jaketnya dipakai" balas Noval menyerahkan jaket yang ada ditangannya pada Dita.


Seketika Lala dan Bagas sukses menjadi nyamuk diantara kedua pasang kekasih itu yang lagi mengumbar kemesraannya.


Mesrah apaan, La, Gas. Orang lagi ribut gitu juga -__-


"Balik sama siapa, La?" Tanya Noval mengalihkan pandangannya kearah Lala.


"Sama Arka, Masval"


"Belum datang?"


Lala menggeleng "Bentar lagi kayaknya. Lagi ada urusan dulu katanya disekolah".


Noval mengangguk "pulang sama kita aja mau? Mas anter" tawar Noval selanjutnya.


"Iya pulang sama kita aja, La. Biar si Gas beracun tinggal sendiri" timpal Dita setelah selesai memakai jaketnya.


Bagas merapatkan bibirnya agar umpatannya gak keluar untuk cewek itu.


"Gak deh, makasih Masval, Dit, tawarannya. Gue tunggu aja, gak enak udah janji sama Arka tadi" tolaknya.


"Gue gak di tawarin Mas?" Sambung Bagas dengan tampang songongnya.


"Boleh, tapi duduk di roof panel nya ya" Goda Noval santai.


"Dih mending gue naik motor kalau gitu Mas, sama-sama basah juga" timpal cowok itu lagi yang membuat Noval tertawa.


"Jadi gimana mau barengan, gak?"


"Gak deh mas, makasih".


Noval menganguk "oke" ucapnya, "yaudah Masval duluan ya, La. Gas, tungguin Lala sampai Arka datang. Punya temen harus dijaga, apa lagi cewek" pesannya pada cowok itu.


Bagas berdecak keras "ck Mas, siapa sih yang mau macem-macem sama Lala, yang ada orang-orang keburu takut kali ngedeketinnya" Timpal cowok itu seenaknya.


Mendengat itu membuat Noval tertawa sedangkan Lala langsung melebarkan matanya memelototi Bagas.


"Habis lo, Gas" gumamnya pelan.


Melihat ributnya dua orang itu membuat Noval menyunggingkan senyumnya, seperti lagi melihat Gio dan Yuki yang ada disana.


"Yaudah, duluan ya" ucap Noval selanjutnya berjalan memayungi Dita yang ada disampingnya.


"Gue duluan" teriak Dita menoleh kebelakang.


"Rapetan sini, kena cipratannya tu" ucap Noval menarik tangan Dita agar lebih merapat dengannya.


"Gak meluk juga, Ta. Gak bisa jalan ini masnya" timpal cowok itu kembali.


Dengan cemberut Dita melepas kedua tangannya yang melingkar dipinggang Noval "Apa sih, Mas, salah mulu. Tadi disuruh merapat. Giliran udah merapat masih juga salah" sewotnya yang sekarang sudah menghentikan jalannya dan menghadap Noval.


"Mas bilang kan merapat, bukan minta dipeluk" jelas Noval dengan tenangnya lalu mengacak rambut gadis itu.


"Dua kali ya Mas, berarti dua kali juga ntar ciumnya" balasnya yang membuat Noval tertawa dan menarik hidung Dita.


"Jangan kan dua kali, berapa kamu mau juga bakal Mas kasih. Tapi hutang dulu ya sekarang".


Mendengar itu membuat Dita membelalakkan matanya, "Beneran? Gak bohong kan?"


Noval mengangguk.


"Tapi aku minta yang disini boleh?" ucapnya pelan menyentuh bibirnya.


Noval langsung mengerutkan keningnya, tapi beberapa detik kemudian dia tersenyum yang membuat Dita ikut tersenyum, bakalan boleh pikirnya.


"G a k b o l e h" jawabnya pelan langsung meraih tangan Dita dan menariknya jalan kembali menuju mobilnya.


Sepanjang perjalanan dari lapangan bola hingga sampai digerbang sekolah dimana mobil Noval terparkir, tampang Dita tampak tak bersahabat hanya karena jawaban yang diberikan Noval tadi tak sesuai dengan harapannya.


"Kenapa mukanya cemberut gitu?" Tanya Noval setelah berada didalam mobilnya.


"Gak kenapa-kenapa" jawab Dita cuek.


"Gak kenapa-kenapa tapi mukanya gitu" balasnya lagi, "umm Ta, Mas boleh minta tolong?" Tanya Noval.


Dita menoleh, "ya?"


"Merem bentar, Mas mau ganti baju. Ini basah banget dipundaknya".


Dita diam tak bereaksi membuat Noval menaikkan alisnya.


"Ta, Tata?" Panggil Noval menyentuh tangan Dita, "Kok ngelamun? Bisa kan Mas minta tolong?" Tanyanya kembali denfan lembutnya.


"Hah iya-iya, bisa Mas" jawab Dita dengan gugubnya. Gimana tidak, pikirannya sudah melanglangbuana kemana-mana dengan segala kenikmatan yang dipikirkannya.


"Minta tolong ya bentar" timpal Noval kembali yang dianggukin oleh Dita, lalu mengambil kaos yang ada dalam tas yang terletak di jok belakang dimana selalu disediakannya pakaian gantinya untuk keadaan darurat seperti sekarang ini.


Dita menurut saja disiruh oleh Noval untuk meremkan matanya menggunakan kedua tangannya. Tapi siapa sangkah kalau dia masih bisa mengintip sedikit adegan Noval buka baju.


Melihat itu membuat Dita sedikit kesukitan untuk menelan salivanya. Pemandangan yang hanya dapat dilihatnya didrama-drama Korea, roti sobek.


Ini beneran roti sobek yang dibilang orang-orang itu?, Batinnya menggumam.


Allah kenapa bentuk seindah ini disembunyikan sih?, Lanjutnya lagi dengan pemikiran liarnya.


Pantes waktu itu kayak ada yang keras didada sampai perutnya, karena ini toh. Batinnya lagi.


Sumpah demi apapun gue pengen nyentuh, Ya Allah, rengeknya membatin dengan melengkungkan bibirnya kebawah dibalik tangannya.


"Udah, Ta" ucap Noval setelah selesai mengganti baju basahnya dengan kaosnya.


Mendengar itu membuat Dita terpaksa menyingkirkan tangannya yang menutup wajahnya denga sedikit merasa kehilangan atas pemandangan yang begitu menggoda itu.


Dita geleng-gelengan kepala.


Sabar, Dit, sabar. Bentar lagi lo bakal dapet semuanya. Gak cuma nyentuhnya. Lo juga bakal dapet gimana rasanya. Batin Dita, yang tanpa sadar tersenyum.


"Senyum-senyum sendiri ntar kesambet loh" timpal Noval melihat gadisnya itu.


Seketika senyum Dita tadi lenyap begitu saja "Apa sih, siapa yang senyum juga" balas gadis itu memukul dada Noval.


Noval tertawa menaggepinnya "iya-iya gak senyum, ini seatbelt nya pakai dulu ya"


Selama perjalanan dari sekolah menuju rumah Dita, tak henti-hentinya Dita bercerita tentang bagaimana ujiannya beberapa hari ini. Mulai dari gimana cara dia belajar sistem ngebut semalam, sampai dengan cerita Bagas tadi yang beribadah hanya untuk mengejar nilai.


Semua cerita itu didengarin oleh Noval dengan baik, kadang jika ada hal lucu dia akan tertawa, jika Dita bertanya dia akan menjawab dan sesekali ikut melontarkan pertanyaan untuk cerita gadisnya itu.


"Jadi gitu Mas, aku sih gak mempedulikan nilai akhirnya gimana. Yang panting sama aku tu, lulus aja udah seneng banget. Terlepas dari Mas mau nikahin aku atau nggak sebelumnya, aku udah  mikir pengen lulus aja, aku juga gak pernah mikir mau kejar nilai tinggi. Ya, karena aku sadar sama kemampuan aku yang gak seberapa. Jadi ya gitu, targetnya cuma lulus aja, gak muluk-muluklah pakai nilai tinggi" jelasnya dengan cengiran polosnya.


"Kenapa gak berusaha dulu untuk ngedapetin nilai tinggi? Kali aja dengan usaha sedikit bakal ngelebihi harapan, kan" balas Noval menghentikan mobilnya didepan rumah Dita.


Dita menoleh menatap lurus cowok itu "selama ini aku gak pernah yang namanya berharap Mas. Aku ngejalanin aja sesuai jalannya, kalau dapet alhamdulillah, kalau nggak ya Alhamdulillah juga. Tapi waktu pertama kali ketemu Mas waktu itu, itu pertama kalinya aku berharap. Berharap jumpa lagi, berharap bisa dekat, berharap dijadiin pacar, berharap dinikahin. Ya harapan aku semuanya berhubungan dengan, Mas. Makanya untuk hal lainnya aku gak mau berharap" jelasnya.


Mendengar pernyataan seperti itu jujur membuat Noval merasa sedikit terharu sekaligus tersanjung. Dia gak nyangka rasa suka yang Dita tunjukkan selama ini itu emang tulus, bukan hanya rasa suka seperti anak muda pada umumnya yang hanya sekedar lewat lalu bisa hilang dimakan waktu.


"Kalau Mas punya riwayat penyakit jantung, mungkin sekarang Mas udah serangan jantung"


Dita mengerutkan keningnya "kok gitu?" Tanyanya bingung.


"Habis kata-kata yang kamu keluarin, buat Mas terkejut" balas cowok itu dengan tawa lembutnya, "terima kasih ya yang gak bosennya-bosen nunggu Mas" Lanjutnya mengusap pipi Dita, "maaf Mas lambat balasnya" sambungnya kembali.


Dita mengangguk "Jadi boleh dong sekarang cium aku disini" balas Dita dengan memajukan bibirnya.


Noval menggeleng "peluk aja ya" ucapnya menarik tangan Dita agar lebih dekat dengannya.


"Ingat loh, Mas masih punya hutang sama aku" timpalnya dalam pelukan Noval.


"Iya ntar Mas bayar. Mas masih mau kayak gini dulu" ucapnya menghidup dalam tengkuk Dita.


"Ta, tangannya bisa di amankan?" Bisik Noval pelan.


"Pengen lihat roti sobek, boleh?" ucap Dita dengan suara yang tenggelam oleh dada Noval.


"Roti sobek?" Tanya Noval bingung melonggarkan pelukannya.


Dita mengangguk dengan mata yang berbinar-binar "ini" ucapnya memasukkan tangannya kedalam kaos milik Noval dan menyentuhnya disana.


"Ditaaaaaa" geram Noval tertahankan.


Next🍂

__ADS_1


05-05-2020


__ADS_2