VALIT ( Noval dan Dita)

VALIT ( Noval dan Dita)
Kembali


__ADS_3

00.09


Yang masih melek mana suaranya? 🀣


#Dattebayo


#DiRumahAja


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pernah dengar gak kebahagian selalu datang bersamaan dengan kesedihan. Begitulah yang dirasakan Dita saat ini.


Baru beberapa minggu dia merasa begitu bahagia karena akhirnya menyandang status taken dengan orang yang selama ini ditunggu dan diharapkannya, yaitu cinta pertamanya Noval Alkatiri. Tapi sekarang rasa bahagia itu hilang berganti dengan kekesalan yang berakhir dengan kesedihan untuknya.


Tadi siang Dita pergi jalan ke salah satu pusat perbelanjaan sendirian karena ada yang ingin di belinya. Dan disalah satu cafe yang terletak di pusat perbelanjaan itu Dita melihat Noval, pacarnya yang baru beberapa minggu ini dipacarinya sedang ngobrol santai dengan seorang wanita cantik. Catat! Wanita, bukan seorang gadis yang seusia dirinya.


Dita yang pada dasarnya tidak cemburuan biasa saja melihat itu, rekan kerja pikirnya. Tapi setelah wanita yang bersama Noval itu sedikit menoleh dia baru sadar kalau wanita itu adalah orang yang dimasa lalu pacarnya, yap! Mantan pacar Noval.


Jangan tanya Dita tau dari mana kalau wanita itu adalah mantan pacarnya Noval, yang dulu mencampakkan lelaki itu demi lelaki lain. Dita ngestalking semua social media Noval jauh sebelum mereka dekat seperti ini, dan juga Dita punya informants yang akurat yaitu Bang Raka dan juga Arka. Oh tolong jangan ragukan cewek kalau lagi stalking, mungkin FBI bisa ngerekruit para kaum hawa sebagai agent mata-mata mereka.


Dita tertawa hambar mengingat kejadian tadi siang.


Sebenarnya sebelum jadian, Dita juga pernah beberapa kali melihat Noval jalan sama wanita itu, awalnya hanya sebagai rekan kerja tapi setelah Dita telusuri, wanita itu berniat untuk kembali dengan Noval.


Tapi untungnya pacarnya itu gak segampang itu untuk mau balikan dengan wanita murahan itu. Dan hal itu membuat Dita sedikit merasa legah, pasalnya sudah beberapa kali wanita itu ingin kembali tapi Noval selalu menolak.


Tapi yang membuat Dita kesal hari ini adalah, pacarnya itu dengan entengnya mengusap pucuk kepala wanita itu dan juga bibirnya selalu mengembangkan senyum manisnya.


Mengingat kejadian itu benar-benar membuat mood Dita hancur.


Bahkan susu strawberry yang biasa diminumnya untuk ngembaliin moodnya tidak bekerja semestinya, padahal sudah dua kotak diminumnya habis.


"Cewek *******" umpatnya membuang sembarangan kotak susu yang baru saja habis diminumnya.


"Setelah lo campakin dan sekarang mau lo ambil lagi?" Sinis Dita membayangkan wajah wanita itu, "lo pikir yang udah jadi milik gue bisa lo ambil lagi? Gak usah ngarep, ****!" Kesalnya menendang-mendang guling yang ada di bawah kakinya.


Dita benar-benar kesal, selama ini dia tidak pernah memikirkan wanita itu karena dia tau pacarnya itu selalu menolak wanita itu, tapi tadi siang dilihatnya sangat diluar perkiraannya.


"Kenapa udah jadian baru kejadian hal gak penting gini sih?" Kesalnya kembali mengguling-gulingan badannya dikasur dengan merengek-rengek tidak jelas seperti anak kecil.


Tiba-tiba Dita yang sedang rebahan langsung duduk dengan bibir yang naik sebelah "awas aja kalau Mas bisa kepincut lagi sama wanita kampret itu. Pokoknya yang udah jadi milik gue gak boleh lepas" tegasnya.


Setelah mengucapkan kalimat itu Dita terdiam dengan melirik kalender yang berada di atas meja belajarnya. Dia berjalan mendekati meja dan mengambil kalender tersebut.


"Dua bulan lagi ujian" gumamnya memperhatikan tanggal-tanggal yang tertera di kalender tersebut, "berarti kurang lebih dua bulan lagi gue bisa nikah" ucapnya selanjutnya dengan bibir menyunggingkan senyum liciknya.


"Dit, sabar ya. Dua bulan lagi gak lama kok" gumamnya menyemangati dirinya sendiri.


"Tapi kalau menjelang itu Mas keburu kepincut sama wanita kampret itu gimana?" Lirihnya kemudian.


Dita diam cukup lama memikirkan sesuatu.


*Kayak bisa mikir aja sih Dit.


"Kalau hamil dua bulan udah gede gak ya perutnya" ucapnya tanpa sadar.


"Astaghfirullah, Dita. Dih najis liar banget lo" timpalnya mengetuk-ngetuk otaknya yang konslet itu.


Dita menggeleng keras "nggak, gak boleh gitu. Gue cantik, harus main cantik juga dong. Ya kali main cara murahan gitu. It's not my style" sewotnya sendiri.


"Lagian kayak tau aja caranya gimana" ucapnya kerkikik sendiri membayangkan hal yang iya-iya itu.


"Yaaaang, itu dibawah ada Masval" ucap mamanya Dita membuyarkan khayalan liarnya.


Dita menoleh dengan tampang cemberut pada mamanya "gak mau ketemu ah ma, bilang aja Tata udah tidur" jawabnya.


"Yakin? Gak nyesel? Masval cakep banget loh hari ini. Pakai kaos hitam dengan celana pendek kain warna coklat, terus pakai topi lagi" jelas mama Dita dengan mendekripsikan apa yang dipakai cowok itu tadi.


Mendengar ucapan mamanya itu membuat mata Dita seperti keluar lambang love lalu berjalan mendekati mamanya.


"Beneran? Mama gak bohong kan sama Tata?" Tanyanya menggoyang-goyangkan lengan mamanya tak sabaran.


"Kapan mama bohong sih? Kebawah gih, kasihan Masvalnya kelamaan nunggu Tatanya" Lanjut mamanya itu.


Tanpa berfikir lama Dita langsung berlari keluar kamar menuruni anak tangga, dan benar diruang tamu ada cowok itu seperti yang dijelaskan mamanya tadi.


Sebelum sampai didepan cowok itu, Dita berusaha merubah raut wajahnya yang tadi kegirangan menjadi datar seperti sekarang.


"Mas telfon kok gak diangkat? Mas chat juga gak dibalas, kenapa?" Tanya Noval setelah Dita sudah duduk disampingnya dengan muka datar tanpa ekspresi.


"Gak tau ada telfon atau chat, gak kedengaran" bohongnya.


Tentu dia tau ada panggilan atau chat masuk dari Noval, ponselnya kan tertata rapi didepan matanya. Tapi karena merasa kesal dia tak mempedulikan itu.


"Kok bisa? Emang ponselnya di letak dimana?"


"Ya letak ditempatnya" jawab gadis itu tanpa menoleh, tapi melirik melalui ujung matanya.


Bener-bener cakep parah ni orang, kalau gak lagi mode badmood udah gue peluk dari tadi sumpah.


Noval tersenyum tipis "iya, tempat letaknya dimana?" Tanyanya kembali.


"Dibawah bantal" bohongnya lagi.


"Lain kali jangan taruh ponsel dibawah bantal, gak baik sama radiasinya apa lagi kalau data selulernya aktif. Jangan diulang lagi ya" ucapnya mengusap pucuk kepala gadis itu.


Dita langsung menoleh menatap mata Noval dengan sedikit memajukan kepalanya dan juga mata yang mengedip-ngedipkan seperti mengodekan sesuatu.


"Apa?" Tanya Noval bingung dengan tangan masih berada di atas kepala Dita.


"Cium" ucapnya cemberut menyodorkan keningnya pada Noval.


Noval salah, sudah jadi kebiasan gadis itu beberapa belakangan ini apabila kepalanya diusap, maka selanjutnya adalah gadis itu akan menagih kecupan untuk dikeningnya.


Noval tertawa pelan mengacak rambut Dita membuat gadis itu makin cemberut melihat kecupan untuknya tidak juga datang.


Noval raih tangan Dita lalu dikecupnya jari telunjuk dan tengah gadis itu secara bersamaan lalu diletakkannya tepat dibibir gadis itu.


"Udah kan?" Tanya cowok itu.


"Apa ini?" Tanya gadis itu bingung mengusap bibirnya yang tak terasa apa-apa.


"Ciumankan?"


"Biasanya gak gini" timpal Dita cemberut.


"Bisa langsung nikah hari ini kita kalau mama ngelihat mas cium kamu" jawab Noval.


"Gak bisa langsung juga Mas. Udah malem gini kantor KUA mana yang masih buka" balas Dita.

__ADS_1


Noval tersenyum melihat gadis itu. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.


Noval memutar badannya menghadap ke Dita "Udah gak badmood lagi?" Tanyanya.


"Siapa juga yang badmood. Nggak tu" jawab Dita jutek.


Noval mengacak rambut Dita kembali dan dengan cepat mendaratkan satu kecupan dikening gadis itu.


"Kamu lah, kecium ni bau susunya" Lanjutnya membuat Dita ikut menghadap ke cowok itu.


"Mas tu ha."


"Kenapa sama mas? Mas gak ngapa-ngapain."


Dita melirik tajam "gak ngapa-ngapain katanya? Terus tadi ngapain usap-usap kepala mantan?" Sindirnya.


"Hah?."


"Tau ah, males. Kesel, sebel" kesel Dita kembali buang muka.


"Tata" panggil Noval mendekatkan wajahnya ke Dita.


Reflek Dita terkejut dengan panggilan itu langsung menoleh dan betapa terkejutnya dia kalau jarak antara dirinya dan pacarnya itu hanya tinggal beberapa centi meter.


Dita diam membeku.


"Yuk keluar bentar sama, Mas" ajak Noval.


"Kemana? KUA?" Tanya Dita dengan polosnya.


Noval tersenyum tapi tarikan nafasnya begitu dalam.


"Kan katanya jam segini udah tutup" jawab Noval dengan sabarnya.


"Terus kemana?."


"Ketaman yuk, sekalian jajan malam"


Dita langsung mengangguk dengan cepat "hayuk, aku pengen makan kue cubit" ucapnya berdiri menarik tangan Noval dan berjalan keluar rumah.


Noval nurut aja ditarik seperti itu dengan membalas genggaman gadisnya.


"Mas udah pernah belum coba kue cubitnya?" Tanya Dita yang dijawab gelengan dari Noval.


"Duh nyesel loh ntar, Mas. Ini tu enak banget, gak terlalu manis. Terus bisa reques boleh lebih kering atau sedikit basah, apa lagi yang rasa green tea, enak banget gak pahit. Ah Pokoknya kue cubit ini tu the best deh" jelasnya panjang lebar mengacungkan jempol tangannya yang bebas.


Noval yang berjalan beriringan dengan bergandengan tangan cuma mendengarkan kebawelan pacarnya itu dengan seksama, sesekali ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Dita.


"Mas baru tau Tata suka green tea, kayak Yuki" komentar Noval menoleh pada Dita.


Dita diam kembali membeku, menghentikan langkahnya. Lantas hal itu membuat Noval merasa bingung tapi ikutan berhenti juga.


"Loh kok berhenti, kenapa?" Tanyanya.


Dita mendangakkan kepalanya keatas agar matanya bisa melirik langsung kemanik mata Noval.


"Mas dari tadi panggil aku Tata. Aku shock tau gak" protesnya.


"Loh kenapa? Mas suka panggilannya. Simple" balas Noval sedikit menunduk dengan kening berkerut.


"Iiih" rengeknya mengehentakkan kakinya ke jalanan, "Itu tu panggilan dari orang rumah. Aku tu malu kalau orang lain tau panggilan aku kayak gitu" jelasnya cemberut.


"Lucu?" Tanya sedikit tak suka, "Mas samain aku sama badut?."


"Emang Mas ngomong gitu?."


Dita menggeleng.


"Nah terus siapa yang bilang badut tadi?."


"Aku" jawabnya menunjuk dirinya.


"Jadi yang salah siapa?" Tanya Noval menahan tawanya.


"Aku" jawab Dita lagi.


"Yaudah, gak usah minta maaf. Udah Mas maafin" timpal Noval, segera buang muka tak tahan menahan tawanya yang dari tadi ingin lepas melihat tampang polos gadisnya itu.


"Terima kasih" balas Dita dengan polosnya yang dianggukin oleh Noval. Dia tak bisa bersuara karena harus menahan tawanya yang ingin lepas itu.


"Kamu duduk disana, biar Mas yang pesen. Yang dipojok itu kan?" Dita mengangguk, "Mau rasa apa? Green tea? Kering atau basah?" Tanya Noval.


"Iya green tea sedikit basah ya, Mas" jawabnya.


"Yaudah tunggu ya" ucap Noval selanjutnya meninggalkan Dita dikursi taman yang tersedia di kompleks tersebut.


Tak menungga lama, Noval datang dengan membawa pesanan Dita dan juga dua botol minuman ditangannya.


"Terima kasih Mas" ucap Dita menerima pemberian Noval itu.


"Sama-sama, Tata" balas Noval.


Dita langsung merengut menatap Noval.


"Itu kenapa mukanya gitu?."


"Jangan panggil Tata" rengeknya.


"Loh kenapa? Mas kan mau kayak orang dirumah kamu juga. bukannya ntar Mas juga bakal jadi bagian keluarga? Atau udah gak minat lagi sama Mas?."


"Mau lah, mau banget. Malah tadi aku mikir mau hamil duluan biar Mas gak bisa lari dari aku" jelas Dita yang membuat Noval tercengang mendengar pernyataan itu.


"Hamil?" Tanya Noval.


Dita mengangguk, "Iya hamil" jawabnya.


Noval diam menatap Dita yang tengah menikmati kuenya, sementara Noval masih merasa terkejut mendengar hal diluar dugaannya itu.


Beberapa menit kemudian. Ingat, M E N I T Dita baru sadar dengan ucapannya itu.


Dita langsung menghentikan makanannya dan menoleh pada Noval yang juga sedang menatapnya.


Mereka saling tatap.


"Bukan, bukan gitu maksud aku mas. Aduh gimana ini" panik Dita tak tenang.


"Terus maksudnya gimana?" Tanya Noval memiringkan kepalanya menatap mata Dita.


Dita buang muka, mengalihkan tatapannya dari mata cowok itu.

__ADS_1


Jujur hingga detik ini dia masih belum terbiasa dengan perlakuan Noval yang selama ini tidak pernah terbayangkan olehnya.


Yang dia tau selama ini, Noval itu itu adalah cowok kalem yang sedingin kutub. Tapi nyatanya setelah mereka menjalin hubungan first impression nya terhadap cowok itu berubah. Noval sekarang yang ada bersamanya adalah seorang lelaki yang suka secara tiba-tiba melakukan hal-hal manis. Jika mengingat hal apa saja itu, mungkin dita tak akan sanggup. Dia akan segera berubah meleleh seperti coklat dan caramel yang telah mencair jika mengingatnya.


Lemah\~


Ya, Dita kalau berbuhungan dengan yang namanya Noval selalu lemah. Entah pesona apa yang dipancarkan cowok itu hingga dia bisa merasa terkagum seperti itu.


"Nggak, gak maksud apa-apa" jawab Dita berbohong.


"Tata, Mas disini. Bisa lihat kearah mas?" Tanyanya.


Dita menoleh dan menatap Noval dengan tampang cemberut.


"Coba jelaskan maksudnya apa? Mas tau kamu gak seliar itu kan?."


"Tadi aku jalan ke mall sendiri, terus lihat mas sama mbak Bella. MANTAN YANG UDAH NYAMPAKIN MAS" jawab Dita sengaja menekankan kalimat terakhirnya biar cowok itu sadar kalau dia kesal dengan wanita yang bernama Bella itu.


"Kenapa jalan sendiri? Kenapa gak nelfon Mas? Mas kan bisa nemenin kamu" balas Noval meraih tangan Dita dan digenggamnya erat.


"Aku bukan cewek yang apa-apa minta di temenin sama pacarnya, Mas. Aku tau kesibukan Mas" jelasnya.


Dita kembali merengut, begitupun dengan Noval yang melihat ikutan mengerutkan keningnya.


"Yang jadi permasalahan disini itu bukan kenapa aku jalan sendiri. Yang jadi masalahnya itu, kenapa Mas bisa jalan sama Mbak Bella? Terus tadi pakai acara usap-usap kepala lagi."


"Ih aku gak suka tau gak. Aku tu Bukan type cewek cemburuan ya. Mas,usap kepala Kaki atau Lala aja aku biasa aja. Mas, jalan sama rekan kerja Mas, aku biasa aja. Gak mempermasalahin. Tapi gak tau kenapa, lihat Mas usap kepala tu orang buat darah aku tu langsung baik keubun-ubun tau gak" Kesalnya sedikit melupakan emosinya yang dari tadi ditahan-tahannya.


"Apa lagi aku tau kalau dia ada maksud deket sama mas, minta balikan, kan?. Dih apaan, udah ngecampakin gitu, terus sekarang dateng-dateng mau ngambil lagi. Dipikirnya aku bakal ngelepas Mas gitu aja?" Sinis Dita


Noval masih diam dengan tenang mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir gadis itu.


"Gak bakal. Gak bakal aku ngelepasin Mas buat tu orang. Enak aja, aku udah nunggu lama eh dia dateng mau ngambil. Gak bisa! Gak boleh!" Geramnya kesel menghentakkan kakinya ketanah yang beralaskan rumput hijau.


Noval tau betapa kesal gadisnya sekarang ini, terlihat dari buku-buku tangan Dita yang digenggam oleh Noval berubah warna menjadi memucat dan juga tangan Noval sedikit merasa sakit karena tenaga gadis itu terlalu kuat menggenggam jari-jari tangannya.


Sangking geramnya Dita, tangan Noval dibuat memerah karena tangannya yang dipegang oleh Noval tadi.


Dita menarik nafasnya dalam lalu dibuangnya secara kasar.


"Ah kesel" timpalnya.


"Udah keselnya? Atau mau


Mas beliin susu?" Tanya Noval lembut.


Dita kembali menarik nafasnya secara dalam lalu dikeluarinya dengan kasar.


"Gak mas, aku udah minum dua kotak tadi" tolaknya.


"Terus kenapa moodnya gak baikkan juga?."


"Tadi udah baik. Tapi kalau inget kejadian itu buat aku kesel lagi. Aku gak mau Mas ninggalin aku, terus balik lagi sama nenek lampir itu."


"Eh language" tegur Noval.


"Kenapa sama bahasa aku? Mas gak ngerti? Bahasa Indonesia loh ini aku gunain, masa gak ngerti sih" Tanya gadis itu dengan kening berkerut.


Noval tertawa menarik leher Dita dan menyandarkan kepala gadis itu didadanya dengan dagu Noval bertengger dikepala Dita.


"Gak boleh ngatain orang kayak gitu."


"Mas telat, aku dari tadi udah ngatain Mbak Bella. Dari wanita kampret, cewek ******* terus tadi nenek sihir. Aku bingung mau kasih julukan apa sama dia" jelas Dita yang masih berada dipelukan Noval.


"Lain kali gak boleh ngomong gitu didepan mas. Kalau dibelakang terserah itu hak kamu" timpalnya membuat Dita mengembungkan pipinya.


"Namanya juga kesel, Mas" belanya tak mau disalah kan.


Noval mengendurkan pelukannya. Ditatapnya mata gadis itu "kenapa kesel? Kan tau kalau Mas gak bakal mau balikan sama dia. Mas tau rasanya dicampakin itu gimana, gak mungkin mas ngelakuin hal yang sama seperti itu juga" jelas Noval mengusap pelipis Dita.


"Ada yang rela nungguin mas bertahun-tahun, kenapa Mas harus kembali ketangan orang yang udah campakin, Mas? Mas gak sebodoh itu, sayang" Lanjutnya kembali yang membuat Dita merasa lemas dengan kata terakhir diucapkan Noval.


'Sayang'


(Teet! Via vallen!.)


(Bener!)


(Yeeeah)


Pertama kalinya sepanjang sejarah, pikirnya.


Noval yang tak sadar dengan ucapannya tadi itu membuat Dita merasa sport jantung, masih bersikap biasa aja. Gak lihat Dita udah sulit bernafas dibuatnya hanya karena kata 'sayang' seperti judul lagu Via Vallen.


"Udahan kan keselnya?" Tanya Noval mengusap bibir Dita yang manyun.


Dita diam, dan hanya menjawab dengan anggukan.


"Tapi Mas janji ya, gak bakal tinggalin aku" ucap Dita akhirnya.


Noval menangkupkan kedua telapak tangannya ke pipi Dita "iya. kamu juga tu jangan pernah mikir yang aneh-aneh."


Dita merengut kembali "Kok aneh-aneh sih, Mas. Aku gak pernah mikir yang aneh-aneh" bela Dita membalas tatapan Noval.


"Itu hamil apaan?" Tanya Noval.


"Itu bukan aneh-aneh, Mas" jawab Dita dengan tenang.


"Jadi?."


"Iya-iya" Lanjutnya tersenyum lalu menggigit bibirnya melihat tampang Noval yang berubah dingin tanpa ekspresi kembali.


Dita terkejut sedikit memundurkan kepalanya memihat Noval memajukan wajahnya menatap kearah bibirnya.


"Bisa sakit bibirnya kalau digigit gitu, tu lihat udah merah" bisik Noval.


"Kalau mau yang enak, sini Mas yang gigitin" lanjutnya membuat Dita diam mematung dengan wajah yang memerah.


Dengan pencahayaan yang terang begitu, tentu Noval ngelihat jelas perubahan warna dipipi Dita.


Akhirnya Noval tertawa lalu mengusap pucuk kepala gadis itu devgan begitu lembutnya dan mendaratkan ciumannya dikening Dita, seperti hal yang selalu dilakukan dan selalu ditagih kalau Noval lupa melakukan itu.


"Gak mungkin Mas cium ini" ucap Noval mengusap bibir Dita yang memerah tadi dengan ibu jarinya, "ditempat umum seperti ini" Lanjutnya.


Mendengar kalimat itu jelas membuat Dita merasa legah. Setidaknya dia tidak mengamali kehilangan akal sehat seperti waktu itu lagi.


"Tapi ntar dimobil" Lanjut Noval membuat Dita diam tercengang.


NextπŸ‚

__ADS_1


11-04-2020


__ADS_2