
"Ar, ngajarinnya pelan-pelan dong. Gak ngerti ni" berang Dita pada seseorang.
Ar yang di panggil Dita itu adalah Arka, lengkapnya Arka Yudhistira teman sekelas Dita sekaligus tetangga Dita juga.
Jadi mereka berdua sekarang lagi berada dirumah Arka. Dengan kepintaran yang di miliki Arka sehingga Arka bisa menjadi mentor untuk Dita di segala jenis matapelajaran, terutama yang berbau hitung-hitungan, seperti Fisika saat ini.
Pletak
Satu sentilan mendarat di kening Dita dan membuat ia meringis.
"Makanya otak itu kalau kemana-mana di bawa, jangan di tinggal" ucap Arka dengan pedasnya.
"Uuuh pedes" balas Dita tak mau kalah membuat cowok itu menatapnya dengan sinis.
"Assalammualaikum" salam seseorang yang baru masuk kedalam rumah, membuat Arka mengurungkan niatnya membalas ucapan Dita.
"Waalaikumsalam" ucap Arka membalas salam tersebut.
Tidak seperti Arka, Dita malah bengong dengan mulut terbuka melihat siapa yang datang.
Cowo cakep, dengan kulit putih serta rambut yang dikuncir rapi ke belakang. Baru kali ini Dita bisa suka melihat cowok yang rambutnya sedikit panjang tapi di kuncir rapi begitu. Walau Dita bisa liat, di bawah tengkuk cowok itu sengaja di potong pendeknya sedikit menyerupai anak rambut.
Dan tak kalah mengejutkan lagi, Dita ingat betul siapa cowok ini, walau penampilannya sedikit berbeda dari beberapa hari yang lalu waktu mereka ketemu.
Cowok yang berdiri dihadapannya ini, yang sekarang lagi menatapnya dengan pandangan lurusnya adalah, cowok yang ia jumpa di taman waktu itu.
Dita lupa bernafas guys.
"Dit, mingkem woi" tegur Arka membuyarkan fantasi liar Dita dan itu membuat gadis itu cemberut.
"Abang masih dikamar Masval, langsung aja naik" ucap Arka kembali yang dianggukin cowok yang dipanggil Masval tersebut.
"Masval keatas ya. Yang rajin belajarnya" timpal Noval meninggalkan kedua orang tersebut, Tanpa sedikitpun menoleh pada gadis yang ada disebelah Arka.
"Sumpah muka lo malu-maluin Dit" ucap Arka kembali menghadap Dita. Sementara Dita tak menanggapi ucapan Arka dan sibuk memandangi punggung cowok cakep itu.
"Woi, lo dengerin gue gak?" Berang Arka mengetuk kening Dita dengan pena yang ada ditangannya.
"Apa sih?! Ganggu aja" berang Dita bersungut-sungut membuat Arka terkejut.
"Balik lo sono! Kesel gue" balas Arka tak kalah kesalnya.
Medengar perintah Arka, Dita langsung membalikkan badannya hingga sekarang memunggungi cowok itu.
"Ngapain lo?" Tanya Arka keki.
"Lo bilang balik, ini gue udah balik" jawab Dita dengan santainya.
"Allah Dit" lirih Arka membentur-bentar kan kepalanya diatas meja.
Dita kembali menghadap ke arah Arka lagi dengan tatapan bingungnya pada cowok itu.
"Kenapa lagi sih? Salah mulu. Heran deh".
"Ya emang salah" geram Arka ingin menyekik Dita, "gue bilang balik itu lo pulang. Bukan balik badan, pinteeeeeeeer" keselnya tak tertahankan.
"Ngomong dong yang jelas Ar, gue kan gak ngerti" balas Dita tanpa rasa bersalah telah membuat Arka darah tinggi.
Arka mengembuskan nafasnya secara kasar "lo ngertinya sama apaan sih Dit, heran gue".
Dita tersenyum yang membuat Arka menatapnya dengan sinis.
"Cowok cakep gue ngerti Ar. Contohnya om-om tadi" jawab Dita gregetan.
"Om-om? Yang mana?" Tanya Arka bingung.
Dita berdecak "yang tadi ngomong sama lo. Ih kok lo lemot gitu sih Ar. Kesel" sewotnya.
"Eh" panggil Arka mentoyor kening Dita "kayak gitu rasanya jadi gue selama ini ngadepin upil dugong kayak lo!" Timpal Arka membuat Dita mencibir.
"Om-om yang mana? Perasaan gue dari tadi gak ngomong sama siapa-siapa kecuali lo terus ... Masval" ucap Arka bingung, lalu beberapa dekit kemudian ia menggeprak meja cukup keras membuat Dita terperanjat dari duduknya merasa terkejut.
"woi itu Masval, sahabatnya Abang. Enak aja lo panggil om-om, mata lo udah rabun ha? Masih muda gitu lo panggil om-om" sambung Arka dengan sewotnya.
Ngomong sama Dita emang nguras energy, untung cuma Satu Dita yang punya sifat ngeselin kayak gini, coba ada dua uda mati berdiri kali Arka ngadepinnya.
"Dih kok lo jadi sewot gitu. Habis gue jumpa kemarin gayanya gak kayak sekarang, walau tetep aja sama cakepnya" sinis Dita dengan santainya.
"Ya lo bilang Masval om-om. Terus apa kabarnya sama Abang gue" jelas Arka memutar matanya kesal.
Dita mengerutkan keningnya seperti lagi berfikir. Padahal mana pernah gadis itu mikir, untuk soal hitung-hitungan saja ia lebih memilih ngarang bebas dari pada mikir.
"Oh Abang kalau jadi om-om pun bakal jadi om-om terhot Ar, sebelas dua belaslah sama Masval tadi hihi" jawab Dita cengengesan mengingat bertapa gantengnya dua orang itu.
Dita membenarkan duduknya menghadap Arka dengan tampang seriusnya.
"Eh, kok gue baru tau Abang punya temen cakep gitu Ar? Jarang main kesini ya?" Tanya Dita.
__ADS_1
"Lo aja yang gak tau, setiap pagi Masval sama temen Abang yang namanya Kayo sering mampir kesini. Lo gak lihat tu dibelakang lo photo mereka terpampang nyata segede gaban" jelas Arka menunjuk beberapa figure yang menempel didinding.
Dita ikut menoleh melihat figure tersebut "lah iya, pantes kemarin gue rada familiar sama wajahnya. Tapi lupa dimana, eh ternyata temennya Abang".
"Wait, lo jumpa sama Masval?" Tanya Arka baru sadar dengan kalimat Dita sebelumnya, dan dijawab anggukan dari Dita.
"Dimana?" Lanjut Arka bertanya.
"Ditaman".
"Taman kompleks?" Tebak Arka.
"Taman kota" Dita mulai jengah dengan pertanyaan Arka.
"Kok bisa?" Tanyanya kembali.
"Ya bisa lah, kan jodoh. Apa sih didunia ini yang gak bisa selagi tuhan berkehendak, Ar" jawab Dita membuat Arka mulai kesal.
Susah kalau ngomong sama Dita, Hal gak penting aja bisa dia ngomong dengan jelas. Coba hal penting, muter-muter dulu baru paham dia.
"Terus lo ngehnya cowok yang lo temui sama dengan temennya abang dari mana?" Lanjut Arka yang masih merasa penasaran, Pasalnya Masval yang ia kenal itu typical orang yang gak suka jalan sendirian ditempat keramaian.
"Tampangnya cakep Ar, jadi sulit dilupain. Udah gitu tatapannya yang tanpa ekspresi sama tahi lalat di bawah matanya. Gue tanda banget".
"Giwlaaaak ya cewek, cepet banget ingetnya" ucap Arka yang tampak takjub "salut gue sama lo, Hal gituan ingat walau udah lewat. Coba gue kasih rumus, semenit kemudian udah lupa lagi. The best lo Dit" lanjutnya geleng-geleng.
Dita nyengir dengan bangganya, padahal kalau dia sadar dari kalimat Arka tadi ada kata sindiran yang tersirat. Tapi emang dasarnya lemot, dan malas mikir mana sadar dia sama hal gituan.
"Namanya jodoh sih Ar" balas Dita dengan bangganya.
"Jodoh sama siapa?" Kali ini bukan Arka yang bertanya, melainkan Raka yang baru saja turun dari tangga diikuti dengan Noval di belakang nya.
"Belajar yang bener. Mikirin jodohnya ntar aja" sambung Raka mengacak rambut gadis itu.
"Tuh denger" timpal Arka memojokkan Dita.
Dita yang merasa terpojok mengangguk mengiyakan dengan cengiran polosnya. Sementara matanya sengaja melirik keteman abangnya Arka yang tidak menoleh padanya sedikitpun.
"Abang mau kemana?" Tanya Dita yang dibuat seimut mungkin agar punya image yang baik, ia ingin bertanya langsung sama cowok disebelah Raka tapi nyalinya cium melihat tampang flat cowok itu.
"Mau cari jodoh" jawab Raka asal membuat Dita merengut dengernya.
"Abang boleh cari jodoh, masa Dita nggak" protesnya.
Raka tertawa kembali mengacak rambut gadis itu "Kalau anak kuliahan semester akhir kayak kita, cari jodoh itu bukan hal pasangan aja, Dita. Cari dosen pembimbing juga sama dengan cari jodoh bagi kita" jelas Raka dengan tertawa.
Arka yang melihat senyum itu memeletkan tidahnya ingin muntah. Bukannya manis menurutnya, yang ada pahit seperti muka Dita sekarang ini.
"Yaudah, Abang berangkat dulu ya. Belajar yang bener. Adek, jaga rumah ya. Bentar lagi mama balik, jangan berantem" pesan Raka pada adik kesayangannya.
"Iya bang" jawab Arka.
"Hati-hati ya bang" timpal Dita dengan sok imut.
Raka menoleh dan membalas senyum gadis itu "iya, terima kasih Dita" jawabnya.
"Masval juga hati-hati ya" sambung Dita pada cowok yang dari tadi diam saja itu.
Noval tak menjawab ia noleh lalu tersenyum singkat dengan senyum tipisnya.
Entah Dita lihat atau tidak senyum itu. Pasalnya senyumnya sangat tipis dan begitu singkatnya.
"Udah pergi jauh Dit, mau lo liat sampai kapan?" Tanya Arka pada Dita yang masih memandang kearah pintu.
"Ar, Abang sama Masval itu cakep banget ya" lirih Dita terkagum-kagum tanpa mengalihkan pandangannya "kalau gue jadi calon kakak ipar lo, lo mau gak?" Tanyanya penuh harap yang membuat Arka memandang geli pada gadis itu.
"Jangan mimpi lo Dit. Ogah tujuh turunan gue sama lo iparan" jawab Arka dengan sinisnya.
Dita cemberut, lalu dengan cepat wajahnya berubah ceria kembali "kalau gitu comblangin gue sama Masval, gimana? Setuju dong?" Lanjutnya.
Arka memutar badannya menghadap Dita dengan tangan terlipat didadanya.
"Lo denger ya, Masval itu udah dewasa. Mana mau dia sama cewek SMP yang polos kayak elu" ucapnya mentoyor kening Dita.
Dita yang tak terima lalu berdiri "lo liat, badan gue udah tumbuh sempurna ya depan maupun belakang. Walau belum segede Miabe, tapi ntar juga bakal berkembang. Jadi bagian mananya lo bilang masih polos ha?" Balas Dita tersulut emosinya.
Arka menepuk jidatnya yang tak bersalah. Dasar Dita lemot, padahal bukan kesana arah dari kalimat Arka tadi.
"Bukan kesana maksud gue Dita lemooooooot" ucap Arka yang sudah hilang kesabaran.
"Polos yang gue bilang itu, cara berfikir lo. Ya Allah Dit, lo keseringan main sama siapa sih? Bisa konslet gitu. Malu-maluin tau gak. Gimana bisa Masval suka sama lo" lanjut Arka dengan tajamnya.
"Iya-iya sorry" jawab Dita kembali duduk.
"Banyak-banyak istighfar Dit, biar otak lo sehat. Pantes semua rumus yang gue kasih gak pernah lengket. Ternyata gitu" ucap Arka berdecak sinis pada temannya itu.
Dita mendengus kasar, ngomong sama Arka pasti banyak ceramahnya. Hal yang selalu Dita rasain selama ini, tapi tidak pernah diserapnya.
__ADS_1
"Ayo lah Ar, bantu gue sama Masval" bujuk Dita memohon.
"Mau bantu gimana? Perasaan orang kan gak bisa di paksa, Dit".
"Ya bantu deketin kek, atau setiap ada Masval kesini lo kabarin gue. Biar gue bisa tebar pesona gitu" usul Dita yang membuat Arka menatapnya tajam.
"Gue cuma kasih kabar aja ya Dit, urusan kedepannya itu masalah lo" ucap Arka yang gak mau ikut kedalam misi Dita.
Dita mengangguk dengan semangat, setidaknya ia bisa melangkah lebih maju buat deketin cowok itu.
"Iya-iya, makasih ya Arkaaaaaa. Gue janji, dapet Masval gue bakal giat belajar" janjinya.
"Kalau gak dapet?" Tantang Arka.
Dita cengengesan "berarti kapasitas otak gue gak mampu, Ar".
Arka berdecak geleng kepala "Bukan otak lo yang gak mampu, emang niat lo yang gak ada" sindir Arka, kembali berhadapan dengan buku kesayangannya.
Capek ngomong dan kasih motivasi sama gadis yang ada disebelahnya itu, gak bakal pernah di terima. Ada saja jawaban yang buat Arka kesal.
"Oya Dit" ucap Arka menoleh pada gadis itu "bisa lo dapetin Masval, gue acungin jempol, lo emang hebat" ucap Arka yang membuat Dita tampak bersemangat.
Ini merupakan tantangan baginya dari Arka.
"Lo tenang aja" balas Dita tampak tenang membuat Arka tersenyum miring melihatnya.
"Kita liat seberapa lama lo bisa luluhkan batu" batin Arka.
ππππ
Dari Dita kelas satu SMP sampai sekarang dita sudah masuk SMA, tidak sekalipun cowok yang Dita taksir itu merespon balik kodeannya atau menanggapi notice dari dirinya.
Lantas hal itu membuat Dita hampir berputus asa. Dari Dita yang agresif hingga sekarang jadi lebih kalem lagi karena usianya yang terus bertambah, tetap saja cowok yang tidak lain tidak bukan bernama Noval itu tidak pernah meliriknya sedikitpun atau sekali saja.
"Ar" panggil Dita tak bersemangat.
Semenjak mereka lulus SMP, mereka jadi jarang bertemu di karenakan sekolah mereka yang berbeda.
Tapi Dita selalu menyempatkan berkunjung kerumah Arka untuk menanyakan pelajaran yang tidak dimengertinya atau hanya bermain bertukar cerita seperti sekarang ini.
"Kenapa lagi?" Sahut Arka yang sibuk bermain dengan adik kecilnya.
"Gue jelek ya?" Tanyanya tiba-tiba membuat Arka reflek menoleh pada gadis itu.
"Kok lo nanya gitu?" Tanya Arka dengan kening berkerut.
Dita tak langsung menjawab ia menendang-nendang kakinya yang mengenai rumput di gazebo rumah Arka.
"Iya dari dulu gue ngincar Masval sampai sekarang, dia gak pernah ngelirik gue sekalipun. Sejelek itu ya gue Ar?" Tanyanya kembali menoleh pada Arka yang ada di belakangnya.
Arka menggendong adiknya dan membawanya duduk disebelah gadis itu.
"Bukan masalah jelek atau nggak Dit. Lo cantik, semua cewek cantik. Yang jadi masalahnya itu sekarang, lo suka sama orang yang jauh dewasa dari lo. Kan gue udah bilang dari dulu-dulunya, Masval gak suka sama cewek yang polos kekanak-kanakan kayak kita. Apa lagi dia punya adik cewek juga yang gak jauh di atas kita umurnya" jelas Arka.
Dita menatap Arka dengan tampang sedihnya, Hal itu jelas membuat Arka merasa kasihan sebagai sahabat yang selama ini salalu mensupportnya dari belakang.
"Jadi, gue nyerah aja?" Tanyanya yang tak yakin dengan ucapannya itu.
"Lo yakin emang?"
Dita menggeleng.
"Cinta pertama gue Ar" jawabnya dengan bibir melengkung kebawah.
"Kalau lo mau kejar, ya kejar. Kalau lo mau nyerah, ya nyerah. Hak lo, pilihan ada ditangan lo sendiri. Gue cuma bisa kasih support" balas Arka membuat Dita sedikit dilema dengan perasaannya.
"Gue mau ngejar. Tapi masalahnya yang mau di kejar itu gak pernah noleh ke gue, Ar" ucap Dita kembali, "jadi kayak pengorbanan gue selama ini tu sia-sia, gak ada hasilnya" lanjutnya mengadu dengan nasib yang dialaminya beberapa tahun mengejar cinta Noval.
"Lo pernah denger gak, batu yang keras kalau sering terkena air bakal hancur juga. Jadi gue rasa Masval bakal gitu juga" ucap Arka memberi semangat pada sahabatnya itu.
Tapi sayang semangat yang diberi Arka tidak dicerna dengan jelas oleh Dita yang lemotnya sudah sampai ke darah daging.
"Hubungan batu sama Masval apa?" Tanyanya polos dengan tampang tak bersalahnya.
Arka memutar matanya, hilang sudah rasa respect pada gadis lemot itu "Udah lupain Dit. Lo gak bakal paham" ucap Arka malas menjelaskan, "jadi lo maunya gimana?".
"Sampai darah penghabisan pokoknya gue harus jadi sama Masval. Gue gak boleh nyerah, gue udah melangkah jauh banget Ar. Yakali gue putar balik kan. Lo tau sendiri gue udah nunggu berapa lama, masa ---" ucap Dita terpotong karena adik kecilnya Arka menepuk mulut cerewet Dita.
"Gue nyerah" lanjut Dita tak semangat membuat Arka tertawa karena ulah adiknya itu.
"Zeka pusing denger suara cempreng lo Dit" timpal Arka membuat Dita kesel.
"Bodo ah, adik sama Abang sama aja. Sama-sama ngeselin. Gue balik" ucapnya pamit lalu mencubit pipi gembul Zeka dan berjalan menjahui Abang beradik tersebut.
"Ntar Masval sama Kayo kerumah loh" teriak Arka memanas-manasin Dita.
"Gue kirim salam aja Ar, gue mau bersemedi dulu" jawabnya tanpa menoleh membuat Arka tertawa terbahak-bahak karena Arka tau pasti teman kecilnya itu merasa kesal.
__ADS_1
Nextπ