
01.00
#DiRumahAja
ππππππππππππππ
Pagi ini Dita datang kesekolah dengan tampang kusutnya, kalau saja hari ini dia tidak ingat ada ujian praktek mungkin hari ini dia tidak akan datang kesekolah.
Lala yang sedang membaca buku dimejanya menatap aneh kearah temannya itu. Dia sudah biasa melihat tampang kusutnya Dita kalau berangkat kesekolah, tapi tidak biasanya temannya itu tidak menyapanya seperti pagi ini.
"Woi, kenapa? Lo gak lihat disini ada makhluk Tuhan paling seksi?" Sindir Lala.
Mendengar sindiran tersebut membuat Dita membalikkan badannya kebelakang menghadap meja Lala dengan tampang kusutnya.
"Dih muka lo kenapa? Kayak kain gak di setrika, kusut banget, ****" timpal gadis itu.
"Hubungan kain gak disetrika sama muka gue apaan?" Tanyanya polos.
Lala menepuk jidadnya, lupa kalau temannya ini manusia ajaib, gak bakal ngerti sama istilah seperti itu. Tapi kalau bahas delapan belas plus plus jangan tanya, Dita jagonya.
"Skip, Dit. Gue tadi ngomong sama laler, bukan sama lo" balas Lala males, yang dianggkuin oleh Dita.
"Ngomong dong, La, biar gue gak nyahut" timpalnya santai dengan tertawa kecil.
Lala yang udah paham dengan sifat lemot temannya itu tak berkomentar apa-apa lagi, dia lebih memilih malanjutkan baca bukunya yang tadi sempat terhenti.
"GueΒ mau cerita" rengek Dita kembali.
"Menurut lo dari tadi lo ngapain kalau nggak cerita? Ngedongeng? " Sindir Lala tak mengalihkan matanya dari buku yang dibacanya.
Dita cemberut "Gue serius nyet" sewot gadis itu.
"Ya terus gue ngapain? Ngelucu?" Balas Lala sewot tak mau kalah.
Dita tak berkomentar lagi membalas ucapan Lala.
"Masval, La" rengek Dita melengkungkan bibirnya kebawah.
Lala menaikkan alisnya sebelah, bingung mengintip dari buku yang dibacanya "Kenapa sama Masval? sakit?."
Dita menggeleng lemah.
"Terus?" Tanyanya mulai penasaran yang terlihat sedikit khawatir.
"Masval beberapa hari ini kayak berubah gitu sama gue, seperti ngehindar terus gak mau kissing gue, masa" jawab Dita dengan rengekan kecilnya.
Mendengar kalimat tersebut membuat Lala yang awalnya khawatir berubah menjadi tampang datar dengan tatapan dinginnya ke arah Dita setelah mendengar kalimat terakhir cewek itu.
Sementara Dita yang gak sadar dengan perubahan raut wajah dari sahabatnya itu masih sibuk merengek-rengek menyebut nama Noval.
"Allah, Dita. Masalah gak di kasih kiss aja udah buat lo ngerengek begini? Mestinya lo tu ngerengek kalau dapet nilai rendah. Penasaran gue, isi kepala lo itu apaan" sewot Lala menggelengkan kepalanya.
"Pakai nanya lagi apa isi kepala gue, ya Masval lah. Itu aja gak tau" balas Dita dengan santainya.
"Tau ah, bodo amat. Pergi lo, kesel gue nanggepin lo" berang Lala yang merasa geram dengan kelemotan cewek yang ada didepannya itu.
Dita cemberut "ih kok gitu sih, La. Gue belum cerita, lo udah usir gue. Ini katanya temen? Temen lagi susah bukan dihibur malah di campakin gini" ucap Dita sewot dengan ngedrama.
Lala memutar bola matanya males "menurut lo kalau gue gak inget temen ngapain gue bertahan sama lo selama ini, hah? Ngapain?" Sewot Lala tak mau kalah juga.
Dita nyengir melebarkan senyumnya, yang membuat Lala mendengus kasar.
"Lagian cuma masalah kissing doang udah buat lo heboh gini. Kalem coba, Dit, jadi cewek itu. Contoh gue ni, udah lama nggak, Biasa aja tu, gak ada rengek-rengek kayak lo gini".
Dita menatap sinis kearah Lala "gak usah ngebacot, lo pikir gue gak tau apa yang lo lakuin sama Arka?."
"Apa?" Tanya Lala menantang.
"Lo juga udah kissing kan sama dia? Sementara lo berdua belum jadian. Ck gue gak nyangka aja anak manja kayak Arka bisa cium lo" balas Dita dengan tangan yang terlipat didada dan punggung yang nyender di sandaran kursi dan tak lupa senyum mengejeknya untuk Lala karena telah berhasil membuat sahabatnya itu diam dengan mata melebar.
"A...ap...apaan, gak usah sok tau deh" sewot Lala dengan gugupnya menyangkal ucapan Dita.
Dita mencibir "Lo pikir gue gak lihatΒ memar dibibir lo kemarin? Itu karena ulah Arka kan?."
"Hah?".
"Iya, itu bekas gigitan Arka, kan" ucap Dita menjelaskan.
Mendengar ucapan yang dilontarkan Dita membuat Lala yang tadinya tercengang tiba-tiba tertawa lebar hingga perutnya terasa sakit.
"Dari mana lo bisa mikir kayak gitu?" Tanyanya masih tertawa.
"Mikir gimana?"
"Iya mikir, memar dibibir gue itu karena Arka?"
Dita diam menunduk malu memainkan jari-jarinya "Gue kan baru pertama, gak ngerti gituan, La. Jadi yaitu, bibir Masval ke gigit sama gue. So, gue kira bibir lo memar karena itu juga" jelasnya malu-malu.
Lala geleng kepala gak habis pikir, kenapa bisa temannya ini sepolos itu sampai menceritakan hal yang menurutnya privacy begitu. Dia jadi teringat dengan ucapannya tentang ena-ena waktu itu, jangan bilang sabahatnya ini bakal anggap serius dengan ucapannya untuk memberi taunya tentang ena-ena yang akan dirasainnya setelah menikah ntar.
"Kenapa lo diam? Benerkan tebakan gue?"
Lala berdecak "ck jangan sok tau lo. Gue itu mainnya bersih, mana mau gue ninggalin jejak yang bisa kecium sama lo gini" sinisnya.
Dita mengibaskan tangannya dengan mulut mencibir "halah gak usah ngeles deh. Kayak sama siapa aja lo bohong gitu."
"Bohong apaan? Itu bibir gue memar karena gue main ponsel sambil rebahan, terus ponselnya jatuh. Bukan karena ke gigit sama Arka seperti pikiran lo itu" sewot Lala mentoyor kening Dita.
"Masa?" Balas Dita tak percaya akan penjelasan Lala.
"Iya lah. Lagian lo gak tau aja gimana jagonya Arka kissing. Walaupun pertama, tapi menurut gue dia udah ok" balas Lala sedikit berbohong untuk menyombongkan orang yang selalu membuat dia seperti merasa naik roller coaster jika mengingat nama itu.
Gimana dia bisa tau Arka jago atau nggak, sementara dia baru sekali ciuman sama cowok itu, udah gitu itupun hanya kecupan singkat. Apa bisa kecupan seperti itu dibilang ciuman? Bahkan dia sendiri udah lupa gimana rasa dan lembutnya bibir itu sangking singkatnya.
Dita sendiri mendengar ucapan Lala seperti itu sempat tercengang, dia gak menyangka kalau teman semasa kecilnya itu bisa jago juga. Gak heran sih, lawannya siapa, Keyla Erlangga. Cewek yang sudah beberapa kali pacaran, dan udah berapa kali juga ngerasain manisnya bibir cowok.
"Terus-terus, gimana rasa bibirnya, manis? Lembut?" Tanya Dita penasaran dengan memajukan badannya mendekat kearah Lala.
Lala menyerngitkan keningnya. Pertanyaan macam apa itu.
"Apa sih nanya-nanya, kepo banget" protes Lala memalingkan wajahnya yang sudah memerah hanya karena mendengar pertanyaan seperti itu.
"Ye, nanya doang juga" balas Dita cemberut.
Lala tak menyahuti ucapan Dita kembali. Dia lebih memilih baca bukunya kembali yang sudah dua kali terhenti itu.
"La, menurut lo kenapa ya Masval gak kissing gue lagi? Apa gue gak menarik? Gue akuin sih gue belum sejago cewek lain atau mantannya itu. Tapi gue bisa belajar kok" Dita kembali bertanya dengan tampang memelasnya.
Lala tak menggubriskan keluhan temanya itu "Mana gue tau, emang gue cenayang" Jawab Lala cuek.
"Lo kan induknya cenayang, La" balas Dita dengan tawa khasnya yang cempreng dengan memukul meja.
Lala mengalihkan kembali tatapan sinisnya dari buku yang dibacanya ke arah Dita yang sekarang sedang menertawakannya.
Dimana letak lucunya, ya Allah. Pikir Lala, miris melihat humor temannya itu yang begitu rendah.
"HA HA HA"timpal Lala tertawa hambar mengikuti Dita.
"Lo tau gak kenapa cowok lebih suka cewek Asia ketimbang Barat?" Tanya Lala dengan tampang serius.
Tawa Dita berhenti, kini dia membalas tatapan serius dari Lala.
"Karena cewek Barat mainnya berisik?" Jawab Dita santai dengan polosnya.
Lala tercengang hingga mulutnya terbuka lebar.
"Siapa yang kasih tau lo kayak gitu?" Tanya Lala kaget dan juga rasa penasaran.
"Bagas" jawabnya enteng, "Bagas bilang dia lebih suka lihat cewek Jepang, cewek Jepang lebih lembut mainnya dari pada cewek Barat, berisik. Gitu katanya."
Lala tercengang untuk kedua kalinya atas jawaban yang diberikan oleh Dita.
"Skip sama pertanyaan gue tadi" ralat Lala cepat membuat Dita cemberut.
Salah lagi, pikir Dita.
"Gue cuma mau bilang, cowok itu suka cewek polos lemah lembut kayak cewek Asia pada umumnya, ketimbang cewek Barat yang lebih agresif. Makanya cowok lebih gak kuat sama godaan cewek polos dari pada cewek agresif."
"Jadi menurut gue mungkin karena itu Masval gak mau kissing sama lo lagi. Pertama, lo itu polos banget, Dit. Udah polos, terus lebih agresif lagi. Dan gue yakin, apapun ucapan atau tindakan yang lo lakuin ke Masval, lo pasti gak ngerti akibat yang ditimbulkan kan?" Lanjut Lala.
"Kedua, lihat body lo. Lo itu punya body semok. Tau kan? Semok? Depan belakang berisi. Ketiga, Masval itu pria dewasa, udah waktunya buat nikah. Dan lihat lo yang polosnya kebangetan dan ditambah lagi yang agresif begini terus body lo yang ngedukung gitu, pasti buat Masval pusing tujuh keliling buat nahan hasratnya. Nah menurut gue dengan Masval jauhin lo begini tu salah satu bentuk dia ngelindungin lo, Dit. Bukan karena lo gak jago kissing atau apa" Lanjut Lala menjelaskan dengan sabar. Semogah apa yang dijelasinnya itu dapat dicerna dengan baik oleh Dita.
Dan dilihat dari tampang Dita yangΒ serius mendengarkan penjelasan Lala, membuat Lala merasa lega.
"Satu lagi, beruntungnya lo deket sama Masval, cowok baik-baik yang gak manfaatin kepolosan dan keluguan lo. Coba lo deketnya sama cowok lain yang brengsek, bejat dan gak ada otak? Gue rasa saat lo tunjukin sifat kepolosan lo, mungkin saat itu juga lo udah gak ada harganya lagi" sambung Lala kembali.
Dita diam dengan tatapan kosongnya.
"Dit, lo ngertikan maksud ucapan gue?" Tany Lala.
Dita nyengir dengan polosnya "nggak" jawabnya santai yang membuat Lala membelalakkan matanya.
"What? Gue ngomong panjang lebar sampai ni mulut gue berbuih lo jawab nggak? Waaah emang the best lo jadi manusia, Dit" berang Lala beranjak dari bangkunya dan berjalan keluar dari kelas dengan tampang kesalnya.
"La, mau kemana lo?" Teriak Dita memanggil Lala yang jalan seperti orang kesetanan.
"Mau makan orang" jawabnya jutek tanpa menoleh.
Dita bengong "makan orang?" Lirihnya, lalu beberapa menit kemudian dia tersadar sesuatu.
"KEYLA ERLANGGA, SEJAK KAPAN LO JADI KANIBALISME?" Teriaknya heboh hingga seisi ruangan menoleh padanya dengan tatapan aneh.
Tapi setelah dia berteriak seperti itu, Dita langsung diam dengan tampang menyenduh, memikirkan ucapan Lala yang baru disadarinya sekarang.
"Gue gak pernah mikir gimana perasaan dan apa yang dipikirin, Masval" lirihnya pelan dengan menunduk.
ππππ
"Val, gue sama Gio mau makan siang. Lo ikut gak?" Tanya Raka yang sekarang berada diruangan Noval bersama Gio.
Noval yang tengah sibuk dengan laptopnya enggan mengalihkan tatapannya kearah kedua sahabatnya itu "lo dua aja, gue belum laper. Lagian kerjaan gue masih numpuk" jawabnya.
Raka jalan mendekat kemeja kerja sahabat seperjuangannya itu "kerja mulu gak bakal bikin kenyang, Val" ucapnya.
Gio mengangguk menyetujui "bener tu, kalau iya kerjaan bisa bikin kenyang, gue jabanin deh kerja mulu" sahutnya dengan santai menyandar pada meja Noval dan tak lupa tangan yang berada di kantong celananya
Nova menoleh dengan bibir yang mencibir "lo pikir lo punya uang dan bisa beli makanan sampai lo kenyang itu karena apa? Karena nyemedi di Goa?" Sewot Noval dengan sinisnya.
Gio memutar bola matanya malas, sementara Raka menahan bibirnya untuk melepaskan tawanya. Karena ulah ucapannya, malah Gio yang kena.
"Susah ngomong sama cucu Albert Einstein. Hal simple gitu dipikirin pakai rumus."
"Maksud gue dan Gio itu bukan gitu, Val" bela Raka membenarkan maksud omongannya tadi.
"Jelaskan, Ka" suruh Gio dengan gaya bossynya.
"Berasa boss ya, Gi, lo main perintah gitu" sewot Raka mendang kaki pemuda itu.
Gio nyengir menunjukkan gigi rapinya.
Noval sendiri menatap kedua orang itu dengan tatapan datarnya, udah mood lagi gak baik dan sekarang malah di hadapi dengan ulah kedua sahabatnya yang gak pernah sekalipun kasih dia kesempatan untuk merasakan ketenangan hidup.
"Lo berdua kalau mau ribut bisa di pending dulu gak? Gue lagi gak mood jadi wasitnya kali ini" ucapnya tak bersemangat, seperti hidup segan mati tak mau.
__ADS_1
Mendengar itu membuat Gio dan Raka saling lirik dan berakhir dengan gio mengikut lengan Raka "dia kenapa?" Tanyanya dengan pelan.
Raka mengidikkan bahunya lalu berjalan kesamping Noval.
"Lo kalau ada masalah cerita, jangan di pendam. Gue tau lo bukan type orang yang suka berkoar-koar tentang masalah apapun yang lo alami. Tapi kalau rasanya lo emang gak sanggup buat pendem sendiri dan butuh telinga buat dengerin masalah lo, lo taukan sama siapa lo bisa datang?" Raka menepuk pundak Noval, "Ada gue dan Gio yang siap dengerin apapun masalah lo kapanpun lo butuh" jelasnya.
"Ya walau kalau lo cerita sama Gio juga percuma sih, ni anak kan otaknya suka gak stabil" sambung Raka yang membuat Gio mengumpat kasar merasa dihina seperti itu, sedangkan Noval bisa sedikit tertawa mendengar lelucon murahan dari Raka.
"So, masalah lo apa?" Kali ini Gio yang bersuara, "ada hubungannya dengan Dita?."
"Dari mana lo tau?" Tanya Noval merasa terkejut.
Gio menyunggingkan senyum tipisnya "bukannya masalah cowok itu gak lepas dari masalah cewek ya?" Tanyanya dengan tampang songong bin nyebelinnya.
Noval berdecak kasar, sementara Raka mencibir tak terima dengan ucapan cowok itu.
"Sok tau lo, gue gak pernah tu ada masalah tentang cewek" protes Raka.
Gio menatap sinis kearah Raka "yakin? Terus itu yang lo uring-uringan waktu Yuki hamil apaan?".
"Lah itu mah beda, Yuki bini gue" balas Raka masih tak terima disamain.
"Beda apaan? Bini lo cewek jugakan? Atau tanpa sepengetahuan gue sama Noval udah berubah?" Tanyanya yang langsung dapat gepokan yang kuat dari Raka di lengan Gio, Noval sendiri mendengar bunyi gepokan itu merasa sedikit meringis apalagi Gio yang mengalaminya langsung.
Perih, pikir Noval.
"Sakit, ****" protes Gio mengusap lengannya yang memerah bekas gepokan itu yang tanpa hambatan sama kain.
"Makanya lain kali kalau ngomong itu di filter" balas Raka tanpa rasa bersalah.
"Gue nanya, Ka. Nanya! Ya Allah, pms lo? Sensi bener hari ini."
"Bodo ah" sewot Raka memilih menjauh dari meja Noval dan duduk di sofa yang ada diruangan tersebut.
"Udah ributnya?" Tanya Noval dengan tatapan dinginnya.
Raka dan Gio saling lirik dan langsung menunjukkan cengiran mereka.
"Itu tu salah satu cara kita ngehibur lo, Val. Mestinya lo seneng dong, jangan tegang gitu. Ntar masuknya susah loh" timpal Gio dengan santainya tapi membuat Raka langsung melempar bantal sofa yang ada dideketnya dan mengenai kepala cowok itu.
Noval sendiri hanya bisa menanggapin celotehan gak penting dari temannya itu dengan gelengan kepala.
"Salah mulu gue, heran" Gio memeles berjalan mendekati Raka dan duduk didepan cowok itu.
"Makanya ngomong itu yang bener" sewot Raka melirik dengan sinisnya.
Gio cemberut.
Noval sendiri kini lebih memilih diam dan tak bersuara. Percuma ngomong pikirnya, toh kedua orang itu tetap ada saja bahasan yang gak penting yang akan diributinnya.
"Jadi masalah lo apa sama Dita?" Raka kembali bertanya setelah selesai dengan adu argument yang tidak penting bersama Gio.
"Nah iya. Apaan, ***?" Timpal Gio ikut penasaran menoleh kebelakang kemeja Noval.
Noval menarik nasafnya dalam dan menyenderkan punggungnya dengan lemes.
"Adek bilang lo ngehindarin Dita, bener?" Kali ini Raka yang buka suara.
Noval mendengus dan melirik Raka dari ujung matanya.
"Kenapa?" Gio bertanya pada Raka yang dijawab gidikan bahu oleh cowok itu.
"Val, kenapa?" Gio kembali bertanya, kali ini pada si pelaku.
"Gue cuma mau kasih Dita waktu buat belajar, beberapa minggu lagi kan dia bakal ujian" jawab Noval dengan menatap lurus langit-langit ruang kerjanya.
"Ya gak mesti di hindarin sih, Val" sahut Gio kembali yang sekarang sudah memutar selurih badannya menghadap kearah naval "mestinya lo tu ada di saat-saat dia butuh support gini, bukan malah ngehindar" sambungnya.
Raka mengangguk "Apa yang dibilang Gio itu bener, Val. Bukan kita sok tau, atau ngenyalahin tindakan lo".
Noval berdecak dengan tampang yang tampak gusar "lo berdua gak tau masalah apa yang gue hadapin sampai gue milih ngejauh gini".
"Ya gimana kita bisa tau, lo sendiri gak pernah cerita. Sekali aja coba, Val, lo cerita ke kita. Lo hargai keberadaan gue dan Raka. Gue yakin gak bakal buat harga diri lo jatuh."
Raka mengangguk kembali menyetujui ucapan yang dilontarkan oleh Gio.
Noval ngalah, ditatapnya kedua sahabatnya itu bergantian.
"Gue gak kuat ngadepin Dita" ucapnya ngegantung buat kedua sahabatnya itu menatap Noval dengan tampang bingung, menunggu kelanjutan ceritanya.
"Dita polos banget, yang kadang bikin gue hilang kontrol kalau lagi sama dia" Lanjutnya lagi dengan memelas.
Gio yang tampak ingin menyela ucapan Noval, tak jadi karena tendangan dari kaki Raka.
Gio menoleh ke Raka, "Bentar" ucap Raka tanpa suara.
"Gue gak punya pilihan selain gue ngehindar atau gue bakal ngelakuin hal yang gue sesalin kemudiannya. Lagian gak bakal lama, bentar lagi Dita lulus, tinggal beberapa minggu dan gue bakal ngelamar dia."
"Ya tapi menjelang itu lo gak mungkin kan gak ketemuan sama dia, mustahil orang yang punya hubungan bisa ngejauh gitu sama pasangannya" sambung Gio.
"Kenapa gak bisa, Gi?" Tanya Noval dengan tatapan seriusnya, "lo lupa gue pernah LDR beda Negara? Gue bisa, bahkan bertahun-tahun gue bisa."
Gio diam, temannya itu benar. Masalah ginian jangan diragukan lagi kemampuan dan kesabaran Noval. Cowok yang tahan menjalin hubungan LDR dengan jarak yang beribu-ribu mil.
"Dari awal Dita deketin gue dulu. Gue udah tau gimana sikap dia. Dita yang agresif tetapi secara bersamaan memiliki sifat yang polos juga, bahkan amat teramat polos buat gue cowok yang umurnya jauh diatasnya" ucapnya tersenyum tipis membayangkan wajah polos gadis itu.
"Dan hal itu yang buat gue mikir dua kali untuk nanggepin tingkahnya yang selalu notice gue, dulu. Bukan karena gue gak suka atau gak tertarik. Gue suka! Dita lucu, imut, cantik gak ngebosenin, walau kadang bersikap kekanakan dengan pemikiran polosnya, yang gak tau kenapa bisa bikin gue geleng kepala ngelihatnya."
"Terus sekarang kenapa lo deketin?" Raka bertanya.
Noval memejamkan matanya sejenak menenangkan perasaan kalutnya yang beberapa hari ini dirasakannya.
"Gue pikir gue bisa nunggu sampai Dita lulus sekolah. Nyatanya nggak, denger Dita deket dengan cowok lain udah buat hati gue panas, dan juga karena dorongan lo semua dengan terpaksa gue ambil langkah cepat buat minta Dita jadian sama gue" jawabnya.
"Sebenarnya gak pernah ada di plan gue buat jadiin Dita pacar atau ajak Dita pacaran. Dari awal gue emang udah niat untuk deketin dia setelah lulus dan ngelamar dia.
Noval menaikkan alisnya tak paham dengan arah pertanyaan Raka.
"Kenapa sebelumnya lo gak mau menjalin hubungan sama Dita?" Jelasnya.
Noval tersenyum tipis "karena gue gak mau hilang kontrol nanggepin sifatnya yang ajaib itu. Tapi pada akhirnya gue ngerasain juga sekarang. Gue pusing, gue gak tenang, gue pengen Dita" jawabnya menangkupkan wajahnya pada kedua tangannya yang sikutnya bertumpu diatas meja.
"Gue pengen Dita seutuhnya. Awalnya gue yakini diri gue kalau gue bisa tahan sama sikap dan sifatnya Dita untuk beberapa bulan kedepan. Tapi ternyata gue salah lagi untuk kedua kalinya, gue gak bisa tahan. Dan akhirnya gue memilih untuk ngejauhi Dita sekarang ini."
"Gue cuma gak mau ngerusak dia dengan fikiran bejat gue" sambungnya kembali.
"Kita ngerti maksud lo baik, Val, buat ngelindungi Dita. Tapi kalau gue bisa kasih saran, kenapa lo gak omongin baik-baik sama Ditanya? Biar Dita gak mikir lo kenapa-kenapa" ucapnya yang di setujui oleh Gio dengangguk.
"Lo juga perlu ingat Val, cewek itu type manusia yang kalau udah punya satu masalah pasti fokusnya bakal kesita di masalah itu, dan segala bentuk sebab akibatnya pasti bakal dipikirin, yang kemudian menghasilkan pemikiran yang aneh-aneh dan berakhir dengan masalah baru lagi. Lo mau punya masalah lagi, sementara masalah lo ini belum kelar?" Sambung Raka menjelaskan dan bertanya dengan tatapan seriusnya kepada Noval.
Noval menggeleng lemah.
"Makanya kalau gak mau,Β hadapai masalahnya, jangan kabur gini. Gak gentle banget. Percuma umur bertambah, tapi pikiran masih aja bocah main kabur-kabur" sewot Gio yang akhirnya kebagian bicara.
Mendengar itu, pena yang ada di meja Noval melayang ke kepala Gio.
"Sakit, sat. Bangke emang lo" balas Gio mengelus kepalanya.
"Bodo ah, gue cabut" timpal Noval tak menghiraukan omongan Gio lalu melangkah berjalan keluar.
"Val, woi? Belum kelar gue ngomong ****. Udah main cabut aja lo" teriaknya pada Noval yang sudah keluar dari ruangan itu,.
"Tu anak ya, Ka, makin gede makin gak ada akhlaknya menurut gue" sewotnya lagi pada Raka yang membelakangi pintu masuk dan tak tau disana berdiri Noval.
Raka tak menanggapin ucapan itu.
"Ngomong apa lo barusan?" Tanya Noval mentoyor kepala Gio.
Gio menoleh gelagapan "ap...apaan? Gue gak ngomong apa-apa" alibinya sok polos, "kenapa lo balik lagi?" Tanya Gio mengalihkan obrolan.
"Kunci mobil gue ketinggalan" jawabnya berjalan menuju meja kerjanya.
"Gue juga mau cabut" Raka berdiri dari duduknya.
"Lah, terus gue?" Tanya Gio menunjuk dirinya.
Raka dan Noval saling lirik.
"Pakai nanya lagi. Ya lo balik lah keruangan lo" sewot Noval.
"Kerja, Gi. Kerja, gabut mulu" balas Raka ikutan sewot.
Gio berdecak "Gue kalau gak lo telfon juga gak bakal disini ya nyet" timpalnya menendang kaki Raka.
"Yaudah sana balik" usir Noval.
"Aku tu gak bisa ya diginiin Mas. Setelah kau puas bersama ku, sekarang kau campakkan aku seenak mu" drama Gio pura-pura menangis.
"Yuk, Ka" ajak Noval tak menghiraukan drama yang diciptakan Gio dan berjalan meninggalkan cowok itu.
Sementara Raka yang berjalan disamping Noval tertawa ngakak melihat tampang dari Gio.
"Bee, Bee. Untung Kayo sayang sama kamu. Kalau nggak, udah Kayo tendang Mas mu kekandang semut" ucapnya dengan mengelus dadanya berjalan keluar menyusul kedua orang itu.
ππππ
"Aku beneran gak ada kesempatan lagi ya?"
Noval yang berjalan santai sendirian di lobby yang ingin keluar kantor di cegat oleh seorang wanita yang berparas cantik seperti wanita dewasa pada umumnya.
Noval menggeleng "jauh sebelum ini, aku emang gak pernah ada niatan kasih kamu kesempatan."
"Kenapa?" Tanya Bella.
Ya, wanita yang ada dihadapan Noval saat ini adalah Bella, mantan kekasihnya Noval yang dipacarinya dari SMA dan harus kandas ditengah jalan ketika mereka melanjutkan pendidikan kejenjang berikutnya.
"Kamu masih bisa tanya kenapa? Kamu lupa dengan apa yang kamu lakukan ke aku? Kamu duain aku Bell" jelas Noval mengingat kembali luka lama itu.
Bella meraih tangan Noval yang langsung di tepis cowok itu "Aku pikir, selama aku disini kamu baik ke aku, kamu perhatian ke aku dan perlakuan manis kamu sama aku itu tanda kalau kamu kasih aku kesempan" lirihnya.
"Aku udah berapa kali bilang ini ke kamu? Aku gak ada rasa apa-apa lagi ke kamu. Dan semua yang aku lakuin itu hanya bukti kalau kita udah dewasa" balas Noval dengan dinginnya.
"Dan aku harus bilang ini sekarang, aku udah punya pasangan yang akan aku lamar gak lama lagi" sambung Noval cepat.
Mendengar itu membuat seluruh aliran darah Bella seperti terhenti tiba-tiba. Tapi beberapa detik kemudian dia tertawa hambar.
"Kamu bilang ini biar aku ngejahuin kamu kan? Kamu bohong sama aku kan?" Tanyanya tak percaya.
"Kenapa kamu gak percaya?" Noval balik bertanya.
"Aku tau kamu, Val. Kamu bukan type cowok yang gampang deket sama cewek lain"
Noval menyunggingkan senyum miringnya "kamu lupa kita udah berakhir berapa tahun?."
Bella tercengang menatap nanar wajah Noval "Jadi bener yang dibilang, Bee?" Lirihnya dengan suara bergetar.
"Aku gak tau Bee ngomong apa aja sama kamu. Tapi yang jelas aku sekarang bukan pria yang bisa kamu ambil lagi setelah kamu campakkan" ucapnya yang membuat Bella berasa kalah telak.
"Kalau kamu masih bahas kejadian beberapa tahun lalu, aku bisa kasih alasannya, Val."
"Aku juga bisa kasih alasan kenapa aku gak bisa balik ke kamu. Pertama, aku gak terima dengan yang namanya pengkhianatan. Kedua, aku udah gak cinta no bukan gak cinta, tapi udah gak ada rasa sama sekali baik cinta, sayang, suka, atau apapun itu yang namanya perasaan sama kamu. Aku udah gak ada rasa. Dan ketiga, aku udah punya pacar eh bukan, calon. Aku udah punya calon istri".
Mendengar kalimat yang begitu kasarnya membuat perasaan Bella hancur. Dia gak menyangka orang yang dulu selalu mengatakan hal-hal manis kepadanya sekarang berubah menjadi menyakitkan seperti ini.
__ADS_1
"Aku rasa kamu ngerti dan paham sama yang aku ucpain, Bell. Mustahil cewek sepintar kamu gak ngerti maksud aku" jelasnya dengan memaksakan senyum ramahnya.
"Aku gak nyangka kamu bisa berubah sejahat ini" Bella bergumam dengan menunduk menahan tangisnya yang akan pecah.
Noval yang berdiri dengan santainya didepan wanita itu sedikit merasa menyesal telah mengucapkan kata-kata kasar seperti itu. Ini pertama kalinya baginya melakukan hal seperti itu.
"Terus yang kamu lakuin dulu itu apa Bell?" Tanya Noval masih berusaha tampak tenang walau perasaannya udah berguncah penuh emosi.
"Kamu mau balas dendam sama aku? Iya? Kamu dendam sama aku?" Tantang Bella dengan sorotan tajam matanya.
"Bukan dendam, Bell. Aku gak pernah perfikiran untuk balas dendam atau apapun itu namanya. Cuma, rasa yang terakhir kamu tinggalin dulu masih membekas sampai sekarang" jawabnya.
"Terus aku sekarang harus apa, Val? Biar kamu balik lagi sama aku" tanyanya meraih kembali tangan cowok itu.
Noval tersenyum lalu melepaskan tangannya yang ada ditangan Bella "kamu gak perlu ngelakuin apa-apa, toh kita juga gak bakal balikan. Cukup kamu jalanin hidup kamu sendiri dengan bahagia dan begitu juga dengan aku".
"Oke, aku bakal ngelepas kamu. Tapi kasih aku alasan kenapa aku harus ngelepasin kamu"
"Aku udah jawab pertanyaan ini di tiga point yang aku ucapkan tadi."
"Oke aku terima jawaban kamu, tapi disana kamu gak ada menyebutkan kalau kamu cinta atau sayang sama gadis itu."
Noval tersenyum yang membuat Bella menyerngitkan keningnya "ngapain aku harus bilang kayak gitu didepan kamu? Aku bukan orang yang suka pamerin atau ngumbar-ngumbar kata sayang atau cinta aku, ke orang lain, Bell. Aku harap kamu beneran nepati omongan kamu tadi."
"Maaaaaas" teriak seorang cewek yang berlari kearah Noval.
Noval dan Bella menoleh kearah cewek yang berseragam SMA itu.
"Loh Tata, udah pulang?" Tanyanya setelah Dita sampai disebelahnya dengan tangan yang mengapit lengan Noval, "Mas baru aja mau jemput".
"Kenapa gak bilang?."
"Mau kasih surprise dong. Ucapan maaf Mas ke kamu" jawab Noval mengacak rambut Dita dan mendaratkan kecupan di kening gadis itu.
Bella yang masih berdiri disana dan melihat keakraban itu membuat hatinya makin hancur. Dulu dia yang selalu merasakan perlakuan manis yang dilakukan cowok itu, sekarang cewek lain yang merasakannya.
"Bell, ini Dita. Calon istri aku" ucap Noval memperkenalkan Dita pada Bella.
Dita tersenyum begitu ramahnya. Walau dia tau siapa wanita yang sekarang ada di hadapannya itu.
"Dita Priastomo" ucap Dita mengulurkan tangannya yang terima oleh Bella.
"Bella Hanggini" balas gadis itu.
"Mas, aku mau ngomong" sambung Dita dengan manjanya pada Noval.
Diraihnya tangan Dita lalu di genggamnya "kesini sama siapa?" Tanya Noval.
"Sama supir, tapi udah aku suruh pulang duluan"
"Yaudah ngomongnya sekalian jalan aja ya, biar Mas anter pulang" ucap Noval yang dijawab anggukan dari Dita.
"Bell, aku duluan ya" pamit Noval.
"Mbak Bell, kita duluan ya" pamit Dita ikutan dengan senyum manisnya.
Dengan terpaksa Bella membalas senyum itu "ah iya hati-hati" balasnya.
"Sakit banget ya Allah" lirihnya pelan memegang dadanya melihat kepegian sepasang kekasih itu, "rasanya seperti baru dihantam dengan pisau yang begitu tajam" sambungnya dengan meneteskan air mata yang dari tadi coba ditahannya.
"Sakit kan?" Tanya seseorang yang ada dibelakang Bella membuat gadis itu membalikkan badannya dengan mengusap kasar pipinya.
"Gio?" Ucapannya pelan.
"Sakit yang lo rasain sekarang gak sebanding dengan rasa sakit yang dirasain Noval waktu lo tinggalin, Bell. Ditinggal saat lagi sayang-sayangnya" Lanjut Gio melangkah mendekati Bella dengan tatapan dinginnya.
"Kalau lo masih punya harga diri sebagai wanita yang berpendidikan tinggi apa lagi lulusan dari luar, gue rasa lo tau langkah apa yang akan lo ambil. Jangan karena ngikutin ego, lo jatuhin harga diri lo" sambung Gio dan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Bella yang tertegun mendengar ucapan tajamnya tadi.
ππππ
"Tadi mau ngomong apa?."
Dita yang asik memakan ice creamnya menoleh dengan tampang cemberut kearah Noval yang tengah fokus dengan jalanan.
"Gak jadi, udah lupa" jawabnya jutek.
Noval noleh sekilas "Tadi manis banget, kenapa sekarang jadi jutek gini? Padahal udah Mas beliin ice strawberry-nya".
"Mas pikir mood aku bakalan baik gitu aja setelah aku ngelihat Mas ngobrol lagi sama ne--"
"Ne apa?" Potong Noval kembali fokus dengan jalanan.
Dita nyengir "hehe nehi nehi acah acah" jawabnya asal.
Noval geleng kepala "Udah Mas bilang ucapannya di jaga. Gak enak kalau didengar orangnya ntar".
Dita kembali cemberut "iya-iya maaf, gak lagi-lagi" balasnya.
"Bener ya?."
"Iya bener, Mas bisa cium aku kalau aku bohong" usul gadis itu memainkan alisnya.
"Itu sih maunya kamu" balas Noval tanpa menoleh tapi tangannya meraih tangan Dita lalu di genggamnya.
Dita tertawa "terus maunya Mas kapan?."
Noval menoleh dengan mata yang disipitkan. Tumben lemot pacarnya itu belum kumat, pikirnya.
"Maunya Mas sih lebih dari cium" jawabnya.
"Hah? Apa itu?"
Noval tertawa menghadap jalanan "ntar ya kalau udah nikah taunya, sekarang jangan dulu".
Dita yang sekarang sudah menghadap Noval sepenuhnya mengerutkan keningnya "berarti tinggal beberapa minggu lagi dong?" Tanyanya.
Noval mangangguk.
"Nikah sama Mas beberapa minggu lagi?" Tanya Dita dengan mata berbinar-binar tak bisa menutupi rasa bahagianya.
Kali ini Noval tertawa mengacak rambut gadis itu dan seperti biasanya meninggalkan kecupan dikening gadis itu.
"Ngelamar dulu, Tata. Terus tunangan, kalau di terima baru kita bisa nikah".
"Pasti lah, pasti aku terima. Aku kan sayang banget sama Mas" jawabnya cepat mengedip-ngedipkan matanya.
Noval menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Dita lalu memutar badannya menghadap gadis itu.
"Iya, Mas tau kok".
"Terus kalau udah tau kenapa tunggu diterima lagi?"
Dicubitnya pelan pipi gadis itu "Kan Mas harus lewatin mama papa kamu dulu, minta izin anaknya bisa Mas bawa pulang atau nggak"
"Lama lagi dong kalau gitu".
"Emang mau buru-buru banget?"
"Iya lah" jawab Dita cepat yang membuat Noval sedikit terkejut.
"Kenapa?".
"Biar Mas gak bisa balik lagi sama Mbak Bella" jawabnya kali ini dengan menyebutkan nama mantan noval dengan sebutan yang sopan.
"Ya kirain emang udah pengen nikah sama mas, taunya karena itu" timpal Noval pura-pura sedih.
Melihat tampang Noval seperti itu membuat Dita ikutan sedih "itu juga, tapi yang aku omongin tadi juga salah satu alasan aku pengen cepet nikah" jawabnya mencoba meyakinkan.
"Dengerin Mas ya" ucap Noval meraih kembali kedua tangan Dita "Mas udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama Bella selain temenan dan rekan kerja. Terus Mas juga udah gak ada rasa apa-apa lagi, jauh sebelum mas deket sama kamu, Mas udah gak ada rasa sama dia. Tadi Mas ngobrol cuma mau bilang kalau kita akan nikah, itu aja" jelasnya lalu mengecup punggung tangan Dita, "Dita yang Mas kenal gak cemburuan begini" sambungnya lagi.
"Emang aku gak cemburuan" protes Dita.
"Terus tadi apa?".
"Aku gak cemburu Mas deket sama mbak Bella. Tapi aku ngerasa kesel aja sama dia" jawab Dita dengan cemberut.
"Kesel? Kenapa? Dia gak pernah ganggu kamu kan?"
Dita menggeleng "kesel dia ninggalin Mas gitu aja" jawabnya yang membuat Noval langsung tergelak tawanya.
"Mestinya kamu seneng dong, sayangnya mas" ucap Noval dengan lembut mencubit pipi gadis itu, "Kalau Bella gak ninggalin Mas, mungkin sekarang kita gak bakal deket gini" sambungnya.
"Iya juga ya, terus aku mesti ucapin terima kasih dong ke Mbak Bella" ucapnya polos.
Noval tertawa kembali, lemot pacarnya sudah mulai kambuh.
"Gak gitu juga, Tata."
"Ya terus apa dong?" Tanyanya bingung.
"Ya gak ada terus-terusnya. Udah ya, skip tentang Bella. Sekarang Mas mau minta maaf sama kamu" ucap Noval mengalihkan pembicaraan tentang gadis itu.
"Minta maaf buat apa? Lebarankan belum, Mas. Mas salah kalender ya? " Tanya gadis itu yang kembali ke sifat dasarnya, lemot.
Noval gelengan kepala lagi takjub dengan sifat ajaib pacar ya itu "Minta maafkan bukan untuk lebaran aja, Tatanya Mas yang paling Mas sayang" ucap Noval dengan sabarnya.
Sementara mendengar itu membuat pipi Dita bersemu memerah.
"Mas minta maaf ya udah ngejahuin kamu beberapa hari kemarin. Mas gak bermaksud apa-apa, Mas cuma pengen ngelindungin kamu, itu aja."
Dita menatap lurus mata Noval lalu melebarkan senyumnya yang membuat cowok itu membalas menatapnya dengan tatapan bingung kepala yang dimiringkan.
"Aku juga minta maaf udah buat Mas pusing sama tingkah aku. Maafin aku ya Mas gak ngertiin perasaan Mas" balas Dita.
Noval tercengang, sejak kapan pacarnya itu bisa sedewasa ini.
"Sama-sama minta maaf ya" timpal Noval kembali yang dianggukin Dita.
"Sini Mas peluk dulu, mas kangen" sambungnya menarik tangan Dita yang dari tadi digenggamnya, "kangen banget ya Allah."
Merasa pelukannya gak dibalas membuat Noval melonggarkan pelukannya "kamu gak kangen sama mas?" Tanyanya sedikit menunduk.
"Kangen lah, kangen banget malah" jawab Dita cepat.
"Terus kenapa pelukan Mas gak dibales?."
Dita cemberut "ntar kalau aku bales Mas nya pusing gak?."
Noval diam, lalu beberapa detik kemudian dia tertawa keras " Allah, sayang" geramnya menarik kedua pipi Dita, "gak semua skin-ship buat Mas pusing. Kamu pikir Mas cowok apaan."
"Jadi gak pusing?" Tanya Dita dengan polosnya.
"Ya nggak lah" jawab Noval cepat.
Mendengar jawab itu membuat Dita langsung memeluk Noval dengan eratnya "dari tadi kek bilangnya Mas. Tau gak, aku tu udah nahan-nahan lo dari tadi. Aku kangen banget huhu, kangen Mas banget banget banget tau gak sih" jelasnya panjang lebar yang membuat Noval tertawa lagi.
"Sayang, Tata" bisik Noval.
"Bilang cinta dong Mas" protes Dita.
"Ucapan cinta Mas yang kemarin aja sampai sekarang belum dibalas" ambek Noval mengingat beberapa waktu lalu dia mengucapkan kata cinta tapi gak dibalas oleh gadis itu.
Dita melepas pelukannya dengan kening berkerut menatap Noval.
__ADS_1
Lalu dengan cepat ditempelkannya bibirnya ke bibir Noval "love you too, Mas nya aku" ucapnya setelahnya dengan senyum lebar dan juga jari yang membentuk huruf V "peace" sambungnya.
Nextπ