VALIT ( Noval dan Dita)

VALIT ( Noval dan Dita)
Memilikimu


__ADS_3

Seminggu setelah acara lamaran waktu itu, tepatnya pagi ini di kediaman calon mempelai wanita, yaitu Dita Priastomo telah ramai dengan para tamu undangan, yang terdiri dari kerabat dekat. Baik dari calon mempelai laki-laki maupun perempuan untuk datang menghadiri acara akad nikah, yaitu pembacaan ijab dan kabul oleh Noval di depan para saksi.


Hari ini, di hari yang special dan juga menegangkan, Noval tampak begitu keren dengan setelan jas hitam dan kemeja putihnya yang dipadukan dasi yang melingkar rapi di kerah lehernya, sehingga membuat penampilan cowok itu makin terihat lebih maskulin.


Tak berapa lama Noval duduk menunggu di meja ijab kabul. Sesosok gadis imut yang hari ini berubah menjadi wanita cantik berjalan mendekatinya dengan begitu anggun menggunakan kebaya putih yang begitu pas menempel dibadannya, serta rambut yang ditata sedemikian rapi dengan sanggul yang sederhana dan juga membuat penampilan Dita tampak begitu cantik.


Hal itu membuat Noval terpanah dan tanpa sadar melengkungkan senyumnya melihat gadis itu.


"Cantik" bisik Noval pelan ketika gadis itu sudah duduk di sampingnya.


Dita menoleh masih dengan bibir yang melemparkan senyum manisnya, "iya, kebayanya cantik, aku suka. Yang pilihinkan, Mas" balasnya pelan juga.


"Bukan kebayanya, tapi Tata. Kamu hari ini cantik" bisik Noval lebih jelas lagi.


Mendapati pujian yang terbilang sederhana seperti itu membuat pipi Dita memanas, pasalnya yang memujinya seperti itu adalah calon suaminya, orang yang begitu special di hatinya.


"Terima kasih" timpal Dita pelan sedikit menunduk malu-malu.


"Mas mau ucapan terima kasihnya dibayar lebih dari kata-kata" balas Noval kembali dengan senyum tipisnya.


"Hah, apa?"


"Ntar malam juga tau" bisiknya lagi dengan senyum genitnya.


"Bisik teroooos. Lo enggak lihat dari tadi Pak menghulu ngelirik lo mulu?" Bisik Gio dari belakang kedua calon pengantin tersebut.


"Apa, sih. Gangguin orang aja" sewot Dita menyikut perut cowok itu yang ada di belakangnya.


"Dih, mau kawin juga, masih sempat ngegas" sinis Gio tak terima.


"Kawin mata lo" tegur Noval.


Ehem.


Deheman terdengar dari arah depan ketiga orang itu, secara bersamaan Noval, Gio maupun Dita mengalihkan pandangannya ke depan, di mana Pak Penghulu yang dibilang Gio tadi tengah memelototin mereka bertiga.


"Kayo ni, ah" berang Dita cemberut.


"Lah kok Kayo sih, Dit" protesnya.


"Mau ribut atau mau berantem dulu?" Tanya Pak Penghulu serius, yang membuat Gio dan Dita kembali diam, tetapi tidak dengan para tamu yang mendengarnya, mereka malah menahan tawa akibat ketiga orang itu, "bercanda, udah bisa dimulai buat calon pengantinnya?" Tanyanya kembali.


Kompak Dita dan Noval mengangguk bersama, dan saat itu juga Papa Dita maju ke depan untuk menjabat tangan pemuda itu. Dan Gio menyingkir dari kedua pasangan itu memilih duduk di sebelah pasangan suami istri, Raka dan Yuki.


"Udah siap, Val?" Tanya Feri, Papanya Dita.


Noval menyunggingkan senyumnya lalu menganguk, "insha Allah siap, Om" jawabnya.


Feri mengangguk, "setelah ini, Papa enggak terima panggilan Om, ya" godanya yang membuat seisi ruangan tertawa mendengarnya begitupun dengan Noval yang tersenyum kikuk.


"Teman lo malu-maluin, Ka, sama camer masih juga panggil, Om" sewot Gio geleng kepala yang di lirik oleh Raka.


"Mirror please" Yuki yang menimpali.


Gio tertawa malu lalu mengangkat jarinya membentuk huruf V, yang kemudian tidak dibalas lagi oleh Yuki.


"Baik ya, Papa mulai" ucap Feri menjabat tangan Noval.


"Ananda Noval Alkatiri Bin Novrian Alkatiri Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya Dita Priastomo Binti Feri Priastomo dengan maskawin berupa satu unit Apartement senilai delapan miliar dan uang senilai dua ratus lima puluh satu ribu lima ratus lima rupiah dibayar tunai.


*Rp. 251.505,- (25-15-05)


Noval menarik nafas dalam "Saya terima nikah dan kawinnya Dita Priastomo Binti Feri Priastomo dengan maskawin tersebut di atas dibayar tunai" ucapnya dengan satu kali tarikan nafas.


Begitu Noval selesai mengucapkan ijab kabul dengan yakin dan penuh hikmat semua saksi kompak mengucapkan kata sah disertai dengan ucapan hamdalah.


Sementara Gio yang menyaksikan langsung acara sakral itu dengan berlahan mundur dari keramaian itu dengan sekilas melemparkan senyum harunya kepada sepasang kekasih yang sekarang sudah menjadi suami istri tersebut.


Yuki yang melihat pemuda itu beranjak dari duduknya lalu menoleh kepada suaminya memberi kode.


"Samperin gih, Car" ucap Raka mengelus pucuk kepala wanita itu.


Yuki mengangguk, "Bentar ya, bang. Titip Afa juga" timpalnya menyerahkan anaknya kepada suaminya.


Setelah mengikuti Gio dari belakang, pemuda itu berhenti di taman belakang yang sepi dari para tamu.


"Gi" panggil Yuki dari belakang.


Gio kaget, segera mengusap matanya lalu membalikkan badannya dan menyunggingkan senyum yang biasa selalu dia tunjukkan pada semua orang.


"Ngapain?" Sambung Yuki jalan mendekati pemuda itu.


"Kepo banget Emak-emak satu ini" jawab Gio yang membuat Yuki berdecak kasar.


"Sekali enggak usah ngegas bisa? Capek gue ngikutin lo" balas Yuki duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana yang diikuti oleh Gio di belakangnya.


"Ketahuankan udah tuanya, udah enggak ada energi lagi. Kebanyakan ngedusel, sih" timpal Gio yang langsung membuat Yuki melayangkan pukulan kerasnya di lengan pemuda itu.


"Sumpah sakit, ****!" Teriak Gio protes dengan perlakuan Yuki.


"Mulut lo sampah banget" sinis yuki tak peduli dengan keluhan Gio.


"Heran, gue salah mulu sih, Ki. Kapan benarnya coba" protes gio kembali.


"Bodo, gue enggak peduli" balas Yuki duduk dengan santai, tangan yang terlipat rapi di dadanya.


"Untung lo nyokap ponakan gue, kalau enggak" ucap Gio menjeda ucapannya ketika Yuki memelototi matanya.


"Kalau enggak apa?" Tanyanya galak.


"Kalau enggak udah gue lempar ke Sungai Amazon" jawab Gio tak takut.


Yuki mendesis sinis, "yakin? Gue pergi ntar lo sedih lagi" timpal Yuki.


"Gue sedih?" Tanya Gio takjub lalu tertawa hambar, "in your dream" Lanjutnya mengusap kasar wajah Yuki.


Yuki menoleh penuh ke Gio dengan tangan yang di letakkannya sebelah di sandaran kursi taman tersebut, "halah, Gi, gue tau lo. Gue hafal sama sifat lo. Lo pikir gue kenal lo berapa lama? Seminggu? Sebulan? Lima tahun gue kenal lo, luar dalam lo, gue udah pahamlah" balas Yuki sedikit ngegas.


"Sok tegar di depan, di belakang mewek kayak anak kecil enggak kebagian permen" Lanjut Yuki menyindir pemuda itu.


Mendengar ucapan Yuki membuat Gio tersenyum tipis tidak membalas ucapan wanita itu, yang ada dipikirannya saat ini adalah kenapa hidupnya bisa semiris ini disaat semua orang sudah bahagia dengan pilihannya masing-masing.


"Kalau ada masalah cerita, Gi. Kalau beban fikiran lo udah enggak bisa ditampung lagi, coba sharing. Jangan lo paksain mendam sendiri gini, sok bahagia di depan kita, taunya di belakang meratapi nasib. Lagu lama! Semua orang udah tau kebiasaan, lo" timpal Nana dengan sedikit emosinya melihat pemuda itu.


"Gue enggak ada masalah, gue happy. Bagian mana lo bisa bilang gue ada masalah?" Tanya Gio.


Yuki kembali berdecak lalu menggelengkan kepalanya, "mata lo merah, lo habis nangis, kan? Kurang bukti juga?"


Gio menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi lalu menoleh ke arah lain yang berlawanan dengan arah pandang Yuki, "mata gue kejatuhan bulu mata" bohong Gio.


"Gi" panggil Yuki pelan dengan nada lembutnya.


Gio menoleh, "lo selalu buat kita semua ngerasa bahagia miliki lo, tapi kenapa lo enggak ngizinin kita ngebuat lo bahagia karena bisa mikili kami?" Lirih Yuki.


"Kali ini aja lo ungkapin isi hati, lo. Gue, Abang Kak Noval capek nerka-nerka perasaan lo gimana. Kali ini aja, Gi, lo kenapa?" Lanjut Yuki.


Gio menatap lekat mata Yuki, lalu tersenyum dan mengusap kasar wajah wanita itu, "Kalau kayak gini, gue jadi sulit bedain lo sama Raka gimana" timpalnya dengan tawa yang sedikit dipaksakan.


Gio menarik nafas dalam lalu menatap ke atas di mana langit tampak begitu cerahnya.


"Gue enggak kenapa-kenapa, serius. Gue cuma terharu aja, dua sahabat gue udah bahagia sama pilihannya" jawabnya jujur.


"Merasa haru enggak perlu nangis kan?" Sindir Yuki.


Gio menoleh dan tertawa, "kata siapa kayak gitu?" Gio balik bertanya.

__ADS_1


Yuki mengidikkan bahu, "enggak tau, tapi yang jelas, mana ada cowok ngerasa haru terus nangis sampai matanya merah begitu" jelasnya.


Gio kembali menatap langit, "gue lagi lihat ke diri gue, Ki" ucapnya lalu terdiam lalu menarik nafasnya dalam "kenapa nasib gue enggak seberuntung Raka dan Noval" sambungnya yang masih setia menatap langit yang sekarang lagi berwarna biru cerah, tidak seperti perasaannya.


"Maksudnya?" Yuki balik bertanya dengan kening berkerutnya.


"Happy-ending sama pilihan mereka masing-masing. Sementara gue, dari dulu ngejar satu cewek aja susahnya minta ampun, dan sampai sekarang enggak juga happy-ending" jelasnya melemparkan senyum hambarnya.


"Bukan enggak, Gi, tapi belum. Tinggal lo tunggu aja waktunya" balas Yuki.


Gio menoleh menatap tajam mata Yuki, "Kapan? Tunggu gue benar-benar lelah terus nyerah? Tunggu gue benar-benar ngerasa kalau hidup gue enggak adil dan miris?!" Sergah Gio yang membuat Yuki merasa terkejut dengan perubahan intonasi pemuda itu.


"Gue pengen bahagia kayak kalian" lirihnya menunduk, "pengen punya keluarga bahagia juga" sambungnya yang kali ini terdengar bergetar, "gue ngiri!" lanjutnya, yang di barengin dengan setetes cairan bening jatuh mengenai tangannya, dan hal itu tidak luput dari penglihatan Yuki.


Yuki menatap cairan bening itu, benar-benar enggak tau kalau lelaki yang ada di depannya ini begitu menderitanya dengan pikirannya itu, Yuki enggak tau kalau Gio sebegitu merasa kesepiannya.


"Gi" panggil Yuki mengelus punggung tangan pemuda itu, "Lo bakal bahagia, lo tinggal tunggu beberapa langkah lagi, kan? Lo jangan nyerah gitu. Kita semua bakal bantu lo buat bahagia, kita bakal ada untuk lo, ngejemput kebahagiaan lo. Lo enggak sendiri, gue, Raka, Noval, Adek, Mama, Papa, Zeka, Afa, semua ada untuk lo. Kalaupun lo belum bahagia sama pilihan lo, ada kita semua yang bakal buat lo bahagia. Jadi lo jangan pernah mikir kalau lo enggak ngerasain bahagia itu gimana. Lo bintang utamanya, Gi" jelas Yuki panjang lebar dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan di akhiri dengan tetesan dari ujung matanya. 


"Gue capek harus nunggu, gue lelah, Ki" Gumamnya kembali dengan bahu bergetar, "gue benar-benar capek" Sambungnya kembali.


Yuki menghela nafasnya kasar, dia tidak tau harus berbuat apa, orang yang di hadapannya saat ini benar-benar kelihatan kacau, padahal beberapa menit yang lalu pemuda itu masih terlihat baik-baik saja seperti biasanya.


Diusapnya pelan bahu Gio, lalu mereka saling diam tidak ada yang bersuara lagi.


Sampai dirasa Gio sudah tenang, Yuki kembali menyuarakan pendapatnya, "gue enggak tau harus bilang apa lagi, Gi. Tapi gue cuma mau bilang, Tuhan punya banyak cara buat kita bahagia, kalau lo ngerasa sekarang belum bahagia, mungkin di depan sana nanti lo akan ngerasainnya, rencana Tuhan enggak sia-sia, Gi" ucap Yuki begitu yakinnya dan membuat Gio menoleh menatap mata lekat wanita itu.


"Lo pernah bilang, 'lo aja bisa nunggu Raka sampai happyending gini, masa gue cowok enggk bisa', dan gue harap lo nepatin ucapan lo. Percaya atau enggak, sesuatu yang di dapat dengan usaha itu lebih terasa nikmat, Gi. Lo pernah dengarkan kata-kata Papa kayak gitu, kan?" Tanya Yuki yang dianggukin oleh Gio.


"Lo cuma butuh sedikit usaha lagi untuk ngedapatin apa yang lo mau. Semangat, Gi! Ada kita semua di belakang lo" sambung Yuki yang membuat senyum Gio kembali melengkung ke atas dan membuat pemuda itu mengulurkan tangannya ke atas kepala Yuki lalu mengusapnya pelan di sana.


"Kalau lo manis kayak gini, dunia adem ya, Ki" ucap Gio yang membuat Yuki melayangkan pukulan di paha pemuda itu.


"Bacot!" Makinya yang membuat Gio tertawa keras. "Udah ah, gue ke depan dulu, pasti laki gue nyariin" ucap Yuki berdiri dari duduknya.


"Yakin banget lo? Palingan Raka lagi pedekate sama tamu-tamu lain."


Yuki melirik sinis ke arah Gio, "emang lo pikir Raka kayak lo? Buaya darat" timpalnya menendang kuat kaki Gio dan bergegas pergi dari sana.


"Sakit bangke!" Teriak Gio mengelus kakinya yang terkena tumit runcing high hell's wanita itu.


Yuki yang di teriakin seperti itu tidak peduli di hanya menjulurkan lidahnya dengan terap berlari.


"Untung gue cakep, jadi bisa sabar gini" gumamnya mengelus dadanya menahan kekesalannya terhadap Yuki.


"Eh, Kaki" ucap Beyonce yang berpapasan dengan wanita itu, "dicariin dari tadi, yang lain udah mau ke gedung" sambungnya.


Yuki nyengir, "iya tadi dari belakang, kalau gitu Kaki ke depan, ya. Itu Gio di belakang, Kaki minta tolong sekalian di panggilin ya, Bee" timpalnya mengusap bahu cewek itu dan berlalu meninggalkannya.


Sesuai permintaan Yuki, Beyonce sudah di belakang di mana tempat Yuki dan Gio ngobrol tadi. Di sana cowok itu tengah menghadap ke langit dengan mata yang terpejam.


"Kayo" panggilnya, Gio menoleh, "di cariin yang lain, udah pada mau ke gedung soalnya" Lanjutnya.


Gio mengangguk lalu berdiri dari duduknya dan berjalan melewati Beyonce yang langsung ditangkap gadis itu tangan pemuda itu yang membuat  Gio menyerngitkan keningnya, bingung.


"Kayo kenapa?" Tanya Beyonce pelan.


"Kenapa gimana, Bee? Kayo enggak kenapa-kenapa kok" jawabnya.


Beyonce menggeleng, "bohong! Bee itu hafal tiap ekspresi yang Kayo tunjukin, kenapa? Ada masalah apa?"


Gio tersenyum begitu lembutnya, menyingkirkan tangan Beyonce yang ada di pergelangan tangannya lalu sedikit menunduk dan mengusap pipi chubby gadis itu dengan kedua tangannya, "Kayo enggak kenapa-kenapa, sayang" jawabnya masih berusaha meyakinkan Beyonce.


"Bee tadi lihat Kayo nangis di depan Kaki, tapi Bee enggak dengar apa yang kalian omongin, kenapa? Kayo enggak mau cerita sama Bee? Apa semua ada hubungannya sama, Bee?" Tanyanya pelan dengan wajah senduhnya.


Gio menggeleng lemah masih mengusap lembut pipi itu.


"Bee sayang sama Kayo" ucap Beyonce kembali menempelkan tangannya di atas punggung tangan Gio, "Bee enggak mau kehilangan Kayo, Bee enggak mau ditinggal sama Kayo. Sama Bee, ya? Tungguin, Bee. Bee lagi ngeusahain tahun ini lulus. Kayo maukan tungguin, Bee? Kayo sayang kan sama, Bee?" Ucapnya lagi yang terdengar seperti putus asa.


Gio tersenyum lalu menarik tubuh lemah itu ke dalam pelukannya, "tentu Kayo sayang sama Bee, sayang banget. Pasti! Pasti Kayo bakal tungguin Bee, sampai kapanpun Kayo bakal tungguin" ucapnya penuh yakin.


"Tahun ini?" Tanya Gio melonggarkan pelukannya.


"Iya, Bee lagi usaharin tahun ini kelar studynya."


"Iya, emang enggak mau kerja dulu? Kan sayang gelar S2-nya, Bee" ucap Gio.


Beyonce menggeleng kuat, "Bee ambil S2 karena lihat Mas Novan, seru punya usaha sendiri. Terus mau puasin masa muda juga. Tapi setelah Bee tunangan sama Kayo, Bee jadi mikir ngapain kerja, calon suami Bee kan orang kaya, anak tunggal lagi terus punya usaha sendiri juga, jadi Bee mau ngabisin uang Kayo aja, buat ngurus keluarga" jawabnya dengan cengiran lebarnya yang akhirnya tertular oleh Gio.


"Ini benaran ngomong kayak gitu?" Tanya Gio tak percaya.


"Benaran lah" jawab Beyonce jutek.


"Serius? Kalau kata Zeka enggak tipu-tipu, kan?"


"Enggak, Kayo. Bee benaran, emang Bee pernah bohong sama Kayo" timpal gadis itu.


"Beneran ya? Ini udah Kayo rekam loh ucapan Bee tadi" balas Gio.


Beyonce tertawa mendengarnya, "rekam apaan, orang Kayo enggak megang ponsel dari tadi, uh bohong ni" ucap Beyonce memukul dada pemuda itu.


"Kayo rekam lewat otak lah, orang anaknya Albert Einstein gini" sombong Gio yang membuat Beyonce kembali tertawa dengan keras.


"Albert Einstein dari Hong-Kong" timpal Beyonce di sela tawanya.


"Pacaran terooooos" sindir seseorang yang tak jauh dari mereka.


Reflek Gio dan Beyonce menoleh dan melepas pelukan mereka, dan melihat Arka, Yuki dan gadis kecil Zeka tenga menatap mereka dengan tatapan lurunya.


"Udah di tungguin juga, taunya malah di sini pacaran" sambung Arka kembali.


"Kayo, enggak keren" timpal Zeka geleng kepala yang membuat Beyonce mendengarnya tertawa disamping pemuda itu.


"Kayo enggak teman Zeka hari ini" balas Gio cemberut setelah melewati ketiga orang itu.


"Benar-benar enggak keren" gumam Zeka kembali.


"Yang di sebelah lebih enggak keren lagi, Zee" lirih Lala pelan tanpa menoleh.


"Iya-iya, love you too. Entar gue kasih kiss" bisik Arka ngasal.


Mendengar kata kiss membuat Lala langsung menoleh dengan mata berbinarnya.


"Beneran?" Tanyanya tak sabaran.


Arka mengangguk lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebungkus permen rasa leci, "ni" ucapnya menyerahkan sebungkus permen itu ketangan Lala dan menarik tangan Zeka untuk beranjak dari tempat itu. 


Lala tercengang menatap bungkus permen yang bertuliskan kiss itu, "ARKA KAMBING!" Makinya yang membuat Arka tertawa mendengarnya.


🍂🍂🍂🍂


Setelah acara resepsi pernikahan diadakan di salah satu hotel besar di Jakarta, akhirnya Noval dan Dita benar-benar bisa merasakan yang namanya waktu istirahat.


Setelah acara ijab kabul selesai di rumah Dita dan berlanjut ke resepsi pernikahan di gedung Hotel, mereka berdua benar-benar tidak ada waktu istirahatnya, dari siang sampai sore menyambut tamu yang berdatangan entah dari mana.


"Capek?" Tanya Noval yang sudah menelentangkan badannya di atas tempat tidur hotel yang berukuran besar itu.


Dita yang masa seperti Noval menelentangkan badannya menoleh dengan tampang cemberutnya, "capek banget, Mas" rengeknya.


"Sini peluk biar capeknya ke transfer ke Mas" timpal Noval meraih tubuh Dita yang masih di balut gaun pengantin ke dalam pelukannya. 


"Emang bisa di transfer, Mas? Kayak uang dong, ya" balas Dita yang kumat lemotnya, dan hal itu tentu membuat Noval tertawa pelan dan makin mengeratkan pelukannya.


"Iya, baru tau ya?"


"Iya, pantes selama ini setiap aku selesai meluk Mas, tubuh aku kayak berasa ringan gitu, capenya hilang" ucap gadis itu dengan polosnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Dita seperti itu membuat tawa Noval yang tadi pelan berubah keras, sangat lucu menurutnya.


"Allah lucunya istriku" ucap Noval merasa takjub mengusap-usap ujung dagunya kekepala Dita.


"Mas, kita kayak gini aja? Enggak pakai mandi gitu?" Tanya Dita yang masih berada dalam rengkuhan Noval.


"Ngapain mandi? Masih wangi gini" jawab Noval santai.


"Iya juga ya, Mas wangi banget malah, kenapa bisa sewangi ini, sih? Bajunya aja wangi apa lagi dalamnya" ucap Dita yang membuat Noval langsung melepas pelukannya dan menatap gadis itu.


"Mau cium di dalamnya?" Tanya Noval mengusap sudut bibir Dita dengan ibu jarinya.


Dita mengangguk cepat, "boleh?"


"Mau di cium ajakan?"


Dita langsung tersenyum malu-malu, "digigit sama di elus dikit boleh lah" jawabnya mengedip-ngedipkan matanya agar lelaki yang baru beberapa jam ini sah menjadi suaminya itu luluh.


"Nanti kalau Mas jadi pengen yang lain gimana?" Tanya Noval dengan tampang di buat cemberut.


"Yang lain gimana?" Tanya Dita bingung, terlihat dari keningnya yang berkerut.


"Ya, yang lain, lebih dari kecupan, lebih dari ciuman" jawab Noval yang bingung gimana mau ngejelasinnya.


"Oh ena-ena?" Tebak Dita dengan santainya yang membuat Noval kesedak dengan salivanya sendiri, dan hal ini sudah kali kedua Noval dibuat kaget dengan ucapan gadis itu yang terbilang santai  seperti itu.


Noval bangun dari tidurnya berusaha meredakan batuknya itu.


"Hampir mati Mas" ucapnya setelah batuknya mereka. 


"Ih ngomongnya, akukan belum ngerasain ena-ena sama mas" sewot Dita yang ikutan bangun dari tidurnya.


Mendengar ucapan itu kembali membuat Noval memejamkan matanya menahan geram, bisa-bisanya istrinya itu bicara seperti itu di depannya dengan status yang baru saja mereka dapati sebagai suami dan istri yang sah.


"Mending Tata mandi dulu, ya. Pasti gerahkan? Selesai itu baru giliran Mas" ucap Noval lembut mengalihkan pembicaraan.


Dita cemberut, " yaudah iya, tapi bukain dulu ini kancingnya" balas Dita mengarahkan punggungnya ke Noval.


Noval yang melihat tengkuk kepala Dita yang putih mulus sempat kesusahan untuk menelan salivanya. Di jilatnya bibirnya yang kering dengan lidahnya dan kembali meraih kancing tersebut. Tiga kancing teratas sudah berhasil di buka oleh Noval, tinggal beberapa kancing lagi yang sampai kepinggul gadis itu.


Tapi baru sampai tiga saja, dia sudah tidak kuat dan mengayunkan tangannya menentuh tengkuk yang dari tadi sudah menggodanya.


"Mas baru tau kalau di sini banyak bulunya" ucap Noval dengan suara yang berubah lebih berat.


"Mas enggak pernah nanya" balas Dita masih terihat santai jauh terbaik dengan Noval.


"Boleh Mas cium?" Izinnya, yang membuat Dita sedikit menoleh.


"Loh tapi aku di suruh mandi" timpal Dita bingung.


"Sebentar aja, Mas penasaran dari tadi gimana rasanya" ucap Noval mengelus-elus tengkuk Dita.


"Yaudah iya boleh, tapi sebentar ya. Awas lama, aku cium ntar" ancam Dita yang membuat Noval menyunggingkan senyum tipisnya lalu melakukan aksinya mendaratkan ciumannya di sana. Awalnya hanya ciuman seperti biasanya tapi lama-lama berubah menjadi gigitan kecil yang makin lama sampai ke lehernya.  Tentu hal itu membuat Dita meram melek merasakan sensasi yang selama ini belum pernah di rasakannya.


Makin dalam kecupan dan gigitan di leher Dita membuat mereka sekarang saling berhadapan dengan kaki Dita yang sudah berada di atas paha Noval.


"Udah lama belum?" Bisik Noval di sela ciumannya, Dita yang tidak sanggup mengeluarkan suaranya hanya mengangguk lemah tak berdaya, dia merasa aneh pada tubuhnya, seperti ada aliran listrik yang begitu kencang mengalir di seluruh darahnya.


"Cium dong kalau gitu" Sambung Noval kembali, mengingat ancaman Dita beberapa menit yang lalu.


Tak menunggu lama, Dita langsung meraih bibir Noval yang sudah basah itu, bagian favorite Dita untuk saat ini, lembut dan begitu manis.


Coba yang lain, Dit. Kali aja ada yang lebih nikmat dari bibir kan, hihi🤭


Mendapat perlakuan seperti itu, tangan Noval tidak tinggal diam, dia kembali membuka kancing gaun tersebut dari depan dan satu persatu kancing itu tanggal hingga membuat Noval dapat menyentuhnya secara langsung dan hal itu membuat Dita mengeluarkan suara desahannya.


"Mas, geli" ucap Dita melepas ciumannya dengan pipi yang sudah memerah, dan selama ciuman itu berlangsung, Dita telah berhasil membuka semua kancing kemeja Noval hingga menampakkan dada bidang pemuda itu.


"Tapi enakan?" Tanya Noval yang di anggukin oleh Dita dengan malu-malu, "Mas buka mau? Biar lebih enak" sambungnya, tanpa persetujuan Dita Noval menarik tangan gadis itu keluar dari lengan gaun tersebut, hingga gadis itu hanya menggunakan bra sana di depannya.


Melihat pemandangan seperti itu membuat Noval sedikit tertegun, pemandangan langsung yang lebih menarik dari pada bentuk luarnya.


Dilihat seperti itu membuat Dita menyilangkan tangannya di depan dadanya untuk menutupi pemandangan yang di lihat oleh suaminya itu.


"Jangan dilihat kayak gitu, kan aku malu Mas" lirih dita malu-malu dengan menunduk.


Dia tidak terbiasa dilihat seperti ini, dan hal ini merupakan pengalaman pertama untuk Dita tampil terbuka di depan lawan jenisnya.


"Beautiful, I didn't think it would be this big" ucap Noval menatap ke arah dua gundukan itu.


"Kata Bagas bakal lebih besar lagi kalau sering dipegang" timpal Dita membuat Noval melebarkan matanya, tapi karena akal sehatnya lagi tidak bekerja semestinya dia malah tergoda dengan ucapan istrinya itu dan membuat Noval kembali merasakan panas lagi.


Di dekatkannya bibirnya ke bibir istrinya itu hingga lebih dalam dan tak lupa tangannya sudah bermain di dada gadis itu hingga Noval berhasil melepaskan penutupnya, lalu dibaringkannya badan gadis itu ke ranjang dengan Noval di atasnya bertumpu dengan satu tangannya.


"Mau ena-enakan?" Bisik Noval tepat di telinga Dita.


Dita mengulum senyumnya lalu mengangguk dengan mengelus-elus dada Noval hingga membuat pemuda itu harus mengigit bibirnya menahan eluhannya.


"Mas kasih" ucapn Noval dengan susah payah menahan desahannya.


Untuk menutupi desahannya dia kembali mendaratkan ciumannya dibibir Dita lalu berpindah ke leher, berlanjut ke dada dan kembali lagi ke bibir yang sudah berubah merah merkah tanpa polesan itu. Sementara tangannya yang bebas satunya lagi digunakan untuk membuka gesper yang ada dipinggangnya.


Setelah berhasil membuka gesper beserta temannya, Noval kembali menaikkan tangannya ke dada Dita dan bermain-main disana hingga gadis itu merasakan sensasi yang jauh berbeda dari tadi, kali ini ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam tubuhnya dan hal itu membuat dia menggeliat tidak jelas.


"Mas" rengek Dita membuat Noval yang tengah mengendus leher gadis itu menoleh dengan alis yang naik sebelah.


"Aku mau lebih dari ini" Sambungnya kembali memaksa tangan Noval agar lebih cepat bermain di sana.


Mendengar permintaan istrinya itu membuat Noval tersenyum lebar lalu mengecup singkat bibir merah itu, "Mas turutin, tapi tahan ya sayang, mungkin rada sakit. Tapi kalau Tata enggak kuat bilang aja biar Mas hentiin" ucap Noval berusaha melakukannya dan di anggukin cepat oleh Dita.


Tapi, belum masuk beberapa Dita langsung menjerit kesakitan yang membuat Noval harus menghentikannya.


"Ada Mas, tentang-tenang" ucap Noval menenangkan istrinya yang tengah menangis menahan sakit yang belum seberapa itu.


"Sakit, Mas" rengeknya manja merengkuh tubuh Noval merapat dengannya.


Noval melonggarkan tubuhnya menatap mata istrinya itu "Atau udahan aja? Mas enggak tega" balas Noval mengusap pipi Dita.


Dita menggeleng cepat, "nanggung, kalau aku ngerasa sakit sekarang tapi belum kelar, besok ngulang lagi pasti bakal sakit lagi, kan" lirihnya cemberut membuat Noval tertawa pelan.


"Jadi mau sekarang?" Dita menganguk, "kalau sakit lagi gimana?" Tanyanya kembali.


"Kalau sakit lagi aku boleh gigit Mas enggak?" Tawarnya.


Noval mencibir, "bukannya itu emang maunya kamu, ya?" Sindirnya mencolek hidup gadis itu.


Giliran Dita yang tertawa di buatnya, "boleh kan?" Izinya memohon.


"Yaudah boleh, mas ulang ya? Tapi kalau benaran enggak kuat, minta berhenti aja enggak apa-apa kok, oke?"


"Oke" balas Dita genit dengan melempar kedipan matanya.


Melihat itu membuat Noval merasa geram dengan memajukan bibirnya ke depan.


Setelah itu, Noval benar-benar kembali mengulang kegiatan yang sempat terundur tadi, dan dengan sekuat tenaga Noval berhasil memasukkannya,  tak lupa juga dengan Dita yang sudah menggigit dadanya untuk menahan rasa sakitnya itu.


Baru beberapa detik berhasil masuk tiba-tiba terdengar teriakan dari luar, "VAL, KOPER LO KETINGGALAN NI!"


Dengan segala maki dan umpatan yang ada di dunia ini Noval serahkan untuk orang yang ada di luar sana, "Gio *******!" Makinya tertahankan dan menjatuhkan badannya ke samping Dita.


"Maaaaaaasss!!" Rengek Dita tak ikhlas.


Next🍂


05-06-2020

__ADS_1


__ADS_2