
23.55
#Dattebayo
#DiRumahAja
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Duh Ar, pusing gue. Udah ah gue nyerah" ucap Dita pasrah pada sahabatnya yaitu Arka.
Sekarang ini Dita lagi dirumah Arka seperti sore biasanya, yaitu meminta Arka untuk mengajarinya pelajaran yang tidak dipahaminya disekolah yang pada dasarnya juga percuma karena Dita tetap tidak akan paham.
Sia-sia.
Mendengar itu Arka yang duduk bersama Dita diambal tebal itu langsung menoleh dari bukunya ke wajah Dita dan memandang gadis itu dengan tatapan sinisnya.
"Soal segampang ini aja lo nyerah?" Tanyanya menyerngitkan keningnya "Giliran ngejar Masval sampai keujung Dunia aja lo gak pernah nyerah" sindirnya kemudian.
Dita membalas melirik dengan sinis "ya jangan lo samain lah ni soal sama Masval" ucapnya menepuk buku yang ada diatas meja "Itu beda, ingat B E D A !" Jelasnya menekankan kata terakhirnya.
Arka mendorong kening gadis itu dengan jari manisnya "Bacot lo."
"Ih ngomong kasar, gak suka" ucap Dita buang muka dengan melipat tangannya didada.
Arka mencibir "Gak ngarep juga disukain sama lo, lemot!"
Dita kembali menoleh ke Arka dengan wajah merengut "Kok jadi ngatain gue gini? Lo kalau gak ada Lala emang kampret banget ya, Ar" berangnya.
"Ya lo duluan" balas Arka tak peduli.
"Kok gue?" Sengit Dita menaikkan intonasi suaranya.
"Ya masa gue? Gak mau lah" balas Arka tak mau mengalah.
"Awas ya lo" geram Dita melayangkan tenjunya didepan wajah Arka.
"Bodo" cuek Arka.
Dita yang merasa kesal merengutkan wajahnya melihat tampang nyebelin cowok yang didepannya saat ini.
Merasa menang telah berhasil membuat Dita kesal Arka melebarkan senyumnya dengan memeletkan lidahnya, tentu hal itu membuat Dita makin terlihat kesal.
Salah satu keahlian Arka, buat orang kesal.
Tak selang berapa lama keributan yang terjadi diantara kedua kaum adam dan hawa tersebut, datanglah Noval dan Gio dengan pakaian kantor mereka, dengan Noval yang menggendong Zeka.
"Tu adek sama Kadit berantem mulu, Masval" adu gadis kecil itu kepada Noval.
Mendengar suara tersebut, Dita reflek noleh dan mendapati cowok tersebut kini sedang berjalan kearah dirinya dengan menggendong Zeka dan juga Gio yang berada disamping cowok itu.
"Masval, lihat ni Arka. Ngata-ngatain aku masa" adunya dengan tampang cemberut.
Arka dan Gio kompak mencibir bersama, Zeka yang tidak tau urusan orang dewasa tersebut malah asik mencium-cium pipi Noval.
"Ngatain apa emang?" Tanya cowok itu yang kini sudah duduk disamping Arka dengan memangku Zeka dipangkuannya. Sedangkan Gio lebih memilih jalan kedapur.
"Aku dikatakan lemot" ambeknya.
"Terus Dit terus, ngadu aja terus" timpal Arka sewot dengan sinis.
Dita kembali menoleh pada Arka "Dih emang gak boleh? Sama pacar sendiri juga. Makanya pacaran sana, jangan cuma suka-sukaan" sewot Dita tak mau kalah.
Giliran Arka yang merengut, kesal terhadap Dita.
Noval yang sudah paham dengan keributan itu tak mau ambil pusing, baginya cukup mendengarkan saja dan jangan mau ikut campur. Gak bakal kelar-kelar dan ujung-ujungnya pasti bakal salah.
"Butuh pisau gak? Biar Kayo bawain ni" sahut Gio dari dapur menawarkan pisau kepada kedua orang itu.
"MA KAYO NI, MASA ADEK SAMA DITA DITAWARIN PISAU" teriak Arka.
"Kayo" tegur Nana yang turun dari tangga bersama dengan Hadi disampingnya.
Tuh kan bener. Emang paling baik tu diam dan jangan ikut campur.
"Lah kok jadi Kayo sih" tanyanya dengan tampang bingung berjalan keruang keluarga dimana semua pada ngumpul.
"Tadi yang nawarin pisau siapa?" Tanya Arka.
"Kayo" jawab Dita cepat.
"Terus yang ribut tadi siapa emang?" Tanya Gio juga.
"Kita" jawab Dita dengan polosnya menunjuk dirinya dan Arka.
Arka langsung memutar bola matanya males melihat kepolosan gadis itu.
"Naaah, jadi yang salah siapa?" Tanya Gio kembali dengan santainya.
Nana dan Hadi yang sudah duduk disalah satu sofa yang ada diruangan itu hanya mendengar perdebatan yang terjadi antara anak muda itu.
"Kayo lah" jawab Arka cepat, tak memberi kesempatan untuk Dita menjawab pertanyaan itu.
Dita memutar badannya menghadap Arka dan menepuk paha cowok itu "Kok Kayo sih Ar? Kita lah kan kita yang ribut. Lo gimana sih" timpal cewek itu.
Noval dan Gio yang mendengar dan melihat kepolosan gadis itu menahan tawanya agar tidak lepas. Sementara Hadi dan Nana saling tatap lalu menggelengkan kepalanya.
"Jadi siapa yang salah, Dit?" Tanya Hadi pada gadis itu dengan tenang.
"Dita sama Arka, om" jawabnya santai tak peduli dengan tatapan yang diberikan oleh Arka.
"Tuh, emang Dita orangnya paling jujur sih, Kayo suka" timpal cowok itu memainkan alisnya menatap genit dengan gadis itu dan dibalas dengan tatapan melotot dari Dita.
"Tapi aku gak suka sama Kayo. Aku sukanya sama Masval" balasnya malu-malu melirik Noval, " Kayo ganjen" Lanjut Dita melirik Gio.
Mendengar itu Gio langsung memelototkan matanya menatap Dita.
Semua yang ada disana tertawa mendengar kepolosan gadis itu tak termasuk Gio, yang kesal dikatain ganjen.
"Oya, Val" panggil Hadi pada Noval setelah tawa mereka berhenti "Ada yang mau ayah bahas mengenai gambar yang Noval kasih tadi. Boleh ikut ayah bentar?" Lanjutnya.
Noval mengangguk lalu menurunkan Zeka dari pangkuannya dan meletakkan gadis kecil itu di sofa yang diduduki Nana, kemudian mengikuti Hadi jalan dibelakangnya menuju ruang kerja bapak beranak tiga itu.
"Kenapa om manggil Masval?" Bisik Dita pada Arka yang ada disebelahnya.
"Lo gak denger papa gue ngomong apa?" Balas Arka berbisik juga.
Dita mengangguk "denger lah lo kira gue budek" nyolotnya.
Pletak.
Satu sentilan mendarat dikening Dita.
"Lo denger, terus ngapain nanya, ceunah?" Kesel Arka yang merasa geram dengan kelemotan yang makin hari makin menjadi menurutnya.
Dita mengerutkan keningnya "Gue Dita, bukan ceunah. Lo typo ya?" Tanyanya santai.
Arka menarik nafasnya dalam lalu dikeluarkannya secara kasar "Bodo ah Dit bodo, serah lo dah. Gue cape, kesel, mumet lama-lama ngomong sama lo. Pelajaran hari ini sampai sini" ucap Arka beranjak dari duduknya meninggalkan Dita yang terbengong mendengar ucapan cowok itu.
"Lah aneh, udah salah malah nyolot lagi. Pms lo?" Sindir Dita sedikit berteriak membuat Nana dan Gio uang masih ada disana menoleh pada gadis itu.
"Kenapa, Dit?" Tanya Gio, biasa sifat kepo yang tertular oleh mbak-mbak kompleksnya kumat.
"Arka tu aneh" adu Dita menunjuk punggung Arka yang telah hilang menaiki anak tangga.
"Aneh kenapa?" Tanyanya lagi, Nana yang merasa tertarik mendengarkan pembicaraan kedua orang itu.
"'Lo denger, terus ngapain nanya, Ceunah' gitu. Terus aku bilang dong typo, kan nama aku Dita bukan Ceunah. Eh dia malah nyolot, ninggalin aku. Kan aneh, bikin kesel aja" jelasnya cemberut dengan bibir udah maju beberapa meter.
Gio maupun Nana diam tak berkomentar atau bertanya kembali. Tapi dalam diamnya mereka tampak jelas di raut wajahnya seperti mengatakan 'hadeuh, nyesel dengernya. Bikin kesel'.
🍂🍂🍂🍂
"Duduk, Val" ucap Hadi mempersilahkan pemuda itu untuk duduk setelah berada diruangan kerjanya yang ada dirumah.
"Gambarnya ada yang salah ya, Yah? Atau ada yang perlu Noval ubah?" Tanyanya setelah duduk sesuai perintah Hadi.
Hadi menggeleng dengan melebarkan senyum ayah kepada anaknya, senyum yang penuh kasih sayang yang tulus.
Sebenarnya Hadi sengaja memanggil Noval karena ada hal yang perlu dan harus dibicarakannya dan ini diluar masalah perkerjaan seperti yang diomonginnya tadi.
"Loh tadi katanya ayah mau bahas gambar yang Noval kasih tadi" ulangnya kembali ucapan ayahnya itu.
Hadi membenarkan posisi duduknya yang ada didepan Noval "Gini Val, sebenarnya ada yang mau ayah bicarain. Dan ini diluar pekerjaan kantor" jelasnya.
Noval mengerutkan keningnya masih bingung arah tujuan pembicaraan ayahnya itu.
"Noval anggap ayah ini apa?" Tanya pemuda yang sudah berusia lanjut itu.
"Ya Noval udah anggap ayah dan bunda kayak orang tua Noval sendiri. Kenapa? Ayah gak beranggapan sama seperti noval?" ucapnya kembali bertanya.
Hadi tersenyum lalu menggeleng.
"Sama, ayah dan bunda juga udah menganggap baik Noval ataupun Gio itu sebagai anak sendiri, sama kedudukkannya seperti Raka dan Arka ataupun Zeka."
Noval mengangguk paham mendengar pernyataan itu, betul yang dikatakan ayahnya itu. Walaupun dia dan Gio tidak anak atau keluarga yang berasal dari Yudhistira tapi mereka berdua sudah dianggap keluarga sendiri di keluarga ini. Tidak pernah membeda-bedakan anak-anaknya dengan dia dan Gio.
"Maaf kalau ayah terlalu ikut campur sama urusan pribadi Noval. Tapi karena seperti yang ayah bilang sebelumnya, ayah udah anggap Noval sebagai anak, maka ayah rasa gak malah kalau ayah bicara seperti ini sama Noval".
Noval masih diam menunggu kelanjutan dari ucapan lelaki yang udah dianggapnya seperti ayahnya sendiri.
"Ayah tau Noval dan Dita udah menjalin hubungan. Dan jauh dari sebelum ini ayah juga sadar kalau Noval ada rasa sama Dita" ucapnya yang membuat Noval menunduk, menyembunyikan pipi merahnya.
"Benar setelah lulus mau ngelamar Dita?" Tanya Hadi membuat Noval mengangkat kepalanya lagi membalas tatapan lelaki itu.
Noval mengangguk "benar, Yah. Noval gak mau kehilangan untuk kedua kalinya" jelasnya.
Hadipun mengangguk menerima jawaban pemuda itu.
__ADS_1
"Bisa janji sama ayah, menjelang itu jaga baik-baik Ditanya. Ayah selalu berpesan ini sama anak-anak ayah. Karena Noval udah ayah anggap anak, jadi ayah juga berhak mengatakan ini. Ayah gak peduli Noval mau denger atau nggak, yang jelas kewajiban ayah sebagai orang tua harus mengingatkan kalau anak-anaknya agar tidak jalan kearah yang salah" tegas lelaki itu.
"Noval udah dewasa, udah mapan kalau mau melanjutkan kejenjang yang serius. Tapi untuk saat ini Ditanya masih seorang pelajar masih remaja kalau ayah kira. Ayah tau gimana gaya pacaran orang dewasa dan gimana gaya pacaran anak sekolahan, itu jauh berbeda, walau zaman sekarang udah tidak ada perbedaan antara orang dewasa ataupun anak remaja. Tapi ayah rasa Noval tau maksud ayah" jelas Hadi menatap lurus kearah mata Noval.
Noval mengangguk, mendengarkan kalimat tersebut.
"Karena Noval mempacari anak yang masih duduk dibangku sekolah dengan kata kutip masih bocah dan labil, Noval bisa janji gak sama ayah buat ngejaga Dita sebagaimana emas permata yang berharga yang benar-benar harus dijaga, jangan dirusak sekecil apapun."
"Catat ya, bukan karena Dita masih sekolah makanya harus dijaga, berarti wanita lainnya yang gak sekolah gak di jaga. Bukan seperti itu maksud ayah, ya intinya untuk semua kaum yang berjenis wanita. Jaga perasaannya, jaga fisik dan mentalnya. Hargai sebagaimana kita menghargai ibu dan saudara perempuan kita."
"Mungkin kalau Noval itu Abang atau adek, pasti bakal bilang 'pa, please udah tau. Udah ngerti, udah hafal sama kalimat itu' itu karena ayah sangking seringnya memperingati hal seperti itu, terutama waktu Raka sama Yuki dulu. Sampai berbuih ni bibir ayah ngelafalkan kalimat itu, dan itu semua ayah lakuin karena ayah sayang sama kalian. Ayah gak mau kalian buat kesalahan yang bakal kalian sesali ntarnya" sambungnya membuat Noval menyunggingkan senyumnya mendengar kalimat yang dirasanya lucu.
"Sampai disini Noval paham gak sama ucapan ayah? Atau kalimat ayah terlalu terbelit-belit?" Tanyanya kembali.
Noval duduk dengan tegap lalu menggeleng dengan bibir yang melengkungkan senyum manisnya.
"Noval paham kok apa yang ayah sampaikan. Terima kasih secara tidak langsung ayah udah mengkhawatirkan Noval" jawabnya tersenyum kembali yang dibalas anggukan dari Hadi.
"Ayah boleh pegang janji Noval, Noval gak bakal mengalakukan hal yang lewat dari batas normal" ucap Noval tegas dan penuh yakin.
Hadi tersenyum walau tipis.
"Iya ayah percaya kok. Walau kemarin malam ayah lihat Noval dan Dita jalan pulang dari arah taman dan masuk kemobil yang terparkir didepan rumah Dita, terus keluarnya lama. Tapi ayah tetap percaya kok" timpal Hadi kini melebarkan senyumnya. Lebih tepatnya senyum yang mengartikan intimidasi untuk Noval.
Tapi tidak untuk Noval, cowok itu mengerutkan keningnya untuk sesaat lalu setelahnya tertawa lebar dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Tiba-Tiba bibir Hadi yang melengkung karena tersenyum lebar tadi berubah menjadi datar dan juga keningnya ikut berkerut mendengar tawa Noval yang secara tiba-tiba seperti itu, padahal tidak ada yang lucu menurutnya atas ucapannya tadi itu.
"Jangan bilang ayah mikir yang nggak-nggak" tebak Noval di selah tawanya dengan memicingkan matanya.
"Nggak, ayah gak mikir gitu. Ayah cuma bilang. Soalnya kemarin itu ayah ada keluar rumah bentar, terus lihat deh" bela Hadi berusaha terihat tenang.
Flashback
"Mana, katanya mas mau cium aku" tagih Dita dengan santainya dan tampang tak berdosa ketika sudah berada dimobil Noval yang terparkir rapi depan rumahnya.
Noval memutar badannya sepenuhnya menghadap Dita yang berada di kursi penumpang disebelahnya lalu menggeleng takjub melihat kepolosan gadis yang telah berhasil mencuri hatinya itu.
Tak dapat respon dari Noval, Dita berinisiatif memajukan badannya agar mendekat "Cium disinikan?" Tunjuk Dita ke bibirnya, belum sempat menempel dan hanya tinggal beberapa jengkal saja, Noval langsung mendorong kening gadis itu dengan jari telunjuknya.
"Ih katanya mau cium, kok aku di toyor gini sih, Mas" protes Dita dengan tampang kesalnya.
"Gak ada cium-cium, Tata. Mas becanda. Mas cuma mau kasih ini" balas Noval menoleh kejok belakang dan mengambil satu kantong plastik yang kemudian diserahkannya kepada Dita.
Dengan wajah merengut Dita menerima kantong plastik tersebut.
"Itu mukanya kenapa gitu?" Tanya Noval mencubit pipi gadis itu.
Dita menepis tangan Noval yang ada dipipinya lalu menoleh keluar jendela mobil.
Diraihnya tangan gadis itu lalu di kecupnya punggung tangan Dita.
"Marah sama, Mas? Iya?."
Dita mengangguk tapi masih enggan menoleh ke Noval.
"Kalau ngomong itu lihat orangnya dimana, Tata" timpal Noval menarik dagu Dita agar menoleh padanya, tapi tangan satunya lagi masih menggenggam tangan Dita.
"Iya, tadi katanya mau cium disini" tunjuk Dita kebibirnya "Aku tagih eh taunya malah kasih ini" Lanjutnya membuka isi plastik tersebut, "apaan isinya susu sama coklat. Stok kemarin aja masih ada, Mas. Masa ini kasih aku susu lagi. Ini lagi coklat aku gak begitu suka coklat" Jelasnya masih cemberut.
Noval diam mengamati raut wajah dita yang menurutnya sedang marah begitu masih terihat imut dan lucu, apa lagi bibirnya yang bergerak begitu cepat.
Tahan, pikirnya.
Dita menatap mata Noval "Aku gak mau susu atau coklat, aku maunya itu Mas Noval!" Tegasnya.
Noval tersenyum lalu mengusap pucuk kepala gadis itu dan kemudian dikecupnya keningnya Dita hingga berakhir gadis itu didalam pelukan Noval.
"Mas, juga maunya kamu. Tapi Mas gak mau ngelakuin hal kayak kemarin lagi" timpal Noval.
Dita berusaha melepaskan badannya dari pelukan Noval.
"Kenapa? Kan cuma ciuman aja. Mas gak mau ciuman sama aku lagi? Apa ciuman aku kurang berasa? Aku bisa belajar kok, makanya Mas ajarin aku" balas Dita kembali mendekatkan wajahnya.
Dan Noval kembali memundurkan kepala gadis itu agar mejauh darinya dan membuat Dita mebelalakkan matanya.
Sebenarnya ada satu hal kenapa Noval gak mau mencium bibir gadis itu lagi. Bukan karena Dita tidak pandai atau bagaimana, wajar menurut Noval kalau gadis itu tidak pandai, karena itu pertama kalinya baginya.
Tapi yang gak wajar itu adalah perlakuan Dita kemarin saat Noval mencium gadis itu. Dita dengan santainya meraba-raba badan Noval yang membuat kepalanya pusing dan hampir kehilangan akal sehat. Entah dapat dari mana dan siapa yang mengajari ke Dita saat melakukan itu harus meraba-raba.
Mengingatnya saja sudah membuat kepala Noval pusing.
"Mas sayang banget sama kamu. Tapi please jangan pancing-pancing, Mas" mohon Noval dengan menggenggam kedua tangan Dita.
Dita yang tadinya melotot tiba-tiba menyenduhkan matanya.
"Aku gak punya pancingan, Mas. Gimana aku mau mancing coba" balas Dita yang membuat Noval menghembuskan nafasnya secara kasar lalu menghempaskan punggungnya kesenderan kursi tersebut.
"Maksud Mas bukan gitu" ucapnya tanpa bersemangat lagi memijit keningnya.
"Jadi?."
Dita mengangguk kencang yang membuat Noval melebarkan senyumnya merasa legah "Aku cium Mas kan? Aku suka bibir Mas. Rasanya manis, kayak aku habis ngemut permen udah gitu lembut banget kayak lagi ngemut yupi. Mas tau gak?."
Senyum Noval seketika lenyap. Menggantikan wajah datarnya.
Mendengar kata-kata seperti itu dari bibir gadis itu membuat kepala Noval benar-benar pusing.
Adek bener, gue yang terlalu menganggap sepele gadis ini. Batinnya merutuki kebodohannya itu.
"Bukan itu, Tata, pacarnya mas, kesayangannya Mas, calon istri Mas, ibu dari anak-anak Mas. Bukan itu maksud, Mas" ucapnya lembut, tanpa sadar telah membuat pipi Dita merona memerah mendengar kalimat seperti itu.
"Mas suka bibir kamu, lembut manis. Apa lagi Mas yang pertama merasakannya. Tapi mas gak suka tangan ini" tunjuknya mengangkat tangan Dita keatas "meraba-raba badan Mas, kamu tau, dada itu daerah sensitive bagi Mas" jelasnya diakhiri menunduk kepalanya, rasanya malu banget dia mengatakan kelemahannya itu.
Dita diam cukup lama mencerna kata-kata tersebut.
"Meraba? Kayak gini?" Ucap Dita mempraktekkannya, meraba daerah dada Noval.
Noval menggeram memejam matanya lalu meraih tangan itu dan disingkirkannya dari dadanya.
"Jangan pancing-pancing Mas, Dita. Mas manusia normal bukan malaikat yang tidak tergiur dengan perlakuan seperti ini. Mas, sayang sama kamu. Sayang banget, jadi tolong jangan buat Mas menyesali kelakuan Mas ntarnya" jelas Noval dengan pelan dan menyenduh.
"Kalau aku gak ngeraba, aku boleh cium?" Tanya Dita dengan polosnya menatap tajam mata Noval.
Noval membalas tatapan gadis itu.
Gak sadar kalau keselamatannya sebagai seorang wanita sedang di pertaruhkan.
"Mungkin" jawab Noval ragu-ragu. Tidak yakin dengan jawabannya.
"Yaudah cium dong, Mas. Aku janji gak ngapa-ngapain" pinta Dita mengedip-ngedipkan matanya.
"Lain kali ya, jangan sekarang" tolak Noval lembut mengusap kepala gadis itu begitu lembut dan sayangnya.
"Sini. Mas cium disini aja" lanjutnya menarik kepala Dita agar dekat dengannya dan dikecup kening gadis itu.
Dita merengut "yaudah deh" jawabnya pasrah.
Jadi malam itu Dita tidak merasakan manisnya bibir Noval kembali, mereka hanya menghabiskan malam itu dengan ngobrol ditemani susu yang Noval beli untuk Dita, dan Noval terpaksa memakan sendiri coklat yang dibelinya.
Flashback end.
"Noval gak ngapa-ngapain seperti pemikiran, Ayah. Cuma kemarin mau kasih beberapa belanjaan, tapi yaitu kelamaan karena asik ngobrol" jelasnya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Hadi mengangguk, sebenarnya dia tidak ingin berfikir yang aneh-aneh terhadap pemuda itu, hanya saja sedikit memancingnya.
"Kan udah ayah bilang, ayah gak mikir apa-apa" balas Hadi bersikeras.
Noval mencibir menatap ayahnya yang sudah buang muka itu "iya gak mikir apa-apa, tapi pernyataan ayah tadi secara gak langsung mikir ada apa-apa" Jelas Noval santai.
Hadi kembali menatap pemuda itu dengan senyum khas Bapak ke anak "Jadi gak ngapa-ngapain kan?" Tanya Hadi berterus terang.
"Ya nggak lah" jawabnya cepat, "Noval ingat pesan ayah bunda. Noval ingat kalau Noval masih punya adik cewek, Noval ingat kalau perasaan cinta itu tidak dibarengin dengan nafsu. Walau kenyataannya Noval yang jadi korban disini" jelas Noval kembali dengan suara mengendu di akhir kalimatnya.
Hadi mengerutkan keningnya mendengar ucapan terakhir pemuda itu "maksudnya?" Tanyanya bingung.
"Ah gak maksud apa-apa, Yah" jawab Noval cepat dengan gugup.
"Ada yang mau ayah omongin lagi?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Hadi berfikir sebentar lalu menggeleng "kayaknya udah cukup. Ayah cuma mau bilang itu aja."
"Noval bakal ingat pesan ayah. Kalau gitu Noval boleh keluar, Yah?."
"Buru-buru banget, mau malam mingguan ya?" Goda Hadi.
Noval menggeleng cepat "nggak, bukan gitu, Yah. Noval mau istirahat, tadi habis ikut Gio survey ke Bandung" jelas Noval.
Hadi mencibir lalu menyunggingkan senyumnya "yaudah sana pulang, jangan lupa istirahat" timpalnya yang dianggukin Noval lalu jalan keluar dari ruangan itu setelah berpamitan pada ayahnya itu.
Setelah keluar dari ruang kerja ayahnya itu, Noval kembali keruang keluarga dimana Dita dan yang lainnya ngumpul.
"Bun, Masval pulang ya" pamitnya kepada Nana.
"Loh gak makan disini, Val?."
"Gak deh bun, Noval cape banget seharian ini ngikutin Gio survey ke Bandung."
Nana cemberut "yaudah, hati-hati pulangnya. Jangan lupa makan malem, ntar sakit" pesan wanita berumur itu yang dianggukin oleh Noval dan berjalan melangkah keluar rumah.
"Masval, ikut. Tante, Dita pulang ya" timpal Dita ngikuti Noval dari belakang.
"Lah Val, gue pulang sama siapa mbing?" Panggil Gio yang baru datang dari arah dapur.
Noval membalikkan badannya menghadap Gio, begitupun dengan Dita yang ada disamping cowok itu.
"Naik grabkan bisa" balas Noval yang dianggukin oleh Dita.
__ADS_1
Gio cemberut "takut di culik Val. Lo kan tau gue ganteng" balas Gio membuat seisi ruangan meringis geli mendengarnya termasuk Nana yang ada disana.
"Gi, jangan sampai ya ini sendalnya Dita melayang ke kepala lo" ancam Noval.
"Kayo mau?" Tanya Dita ikutan menantang.
Gio mencibir menatap sepasang kekasih itu dengan sinis "oh gitu ya Val, semenjak sama Dita lo lupain gue. Lo gak ingat apa yang kita laluin di setiap malam minggu di apartment lo" ucapnya dengan wajah pura-pura memelas.
Kali ini giliran Noval yang mencibir, sementara Dita sudah membelalakkan matanya mendengar ucapan cowok itu.
"Emang Kayo sama Masval ngapain?" Tanyanya penasaran.
Gio kembali pura-pura pasang tampang sedihnya "susah di jelasin Dit, gue gak tega ceritainnya" jawabnya memeluk dirinya sendiri.
Nana yang tau kalau Gio sedang bercerita hal bodoh hanya menggelengkan kepala saja, ikutan menikmati tampang Dita yang kemakan sama ucapan cowok itu.
Sementara Zeka yang dari tadi sudah pergi dari kerumuman orang dewasa itu lebih memilih bermain dengan kucing kesayangannya.
"Ih apa sih, kasih tau. Aku penasaran, Kayo" rengek Dita yang sekarang sudah berada disamping Gio.
Gio tersenyum tipis.
"Gue--"
"Ayo pulang" ajak Noval menarik tangan Dita, tak memberi kesempatan Gio untuk melanjutkan ucapannya, "sekali lagi lo ngomong yang aneh-aneh, gue pastiin lo bakal nunggu lebih lama lagi buat nikahi, Bee" lanjutnya yang membuat Gio lemas mendengarnya.
Sementara Nana mengigit bibirnya menahan tawa, sedangkan Dita sedang mencerna ucapan pacarnya itu.
"Bun, Noval pulang" ucapnya sekali lagi dengan menarik tangan Dita dan berjalan keluar rumah.
"Woi Val, elaaaah *** gue becanda nyet" teriaknya setelah Noval benar-benar keluar dari rumah itu.
"Susah kalau kanebo kering dikasih nyawa" sindir Gio.
"Susah kalau bon cabe di kasih nyawa" sindir Nana melirik Gio dari ujung matanya.
🍂🍂🍂🍂
"Kita mau kemana mas?" Tanya Dita setelah berada diluar rumah besar itu.
"Pulang, ayo naik biar Mas anter pulang" ajaknya menarik tangan Dita menuju mobilnya.
Dita melepaskan pegangan tangan itu dari tangannya.
"Gak mau pulang" ucapnya.
"Kenapa? Biar sekalian aja, Mas juga mau pulang."
Dita menggeleng "ikut sama Mas" ucapnya mengedip-ngedipkan matanya, "Kan malam minggu, mau satnite aku tu" Lanjutnya.
Noval menyingkirkan rambut yang mengenai mata gadis itu "Mas baru balik dari luar kota, Mas cape. Mas butuh istirahat, sayang" ucapnya pelan meminta pengertian dari gadis itu.
Dita melebarkan senyum dibibirnya "Gimana kalau aku ikut Mas pulang" usulnya mengedip-ngedipkan matanya, "kita satnite di apartment Mas" Lanjutnya kembali.
Noval menggeleng, tidak mau masuk kedalam lubang yang sama.
"Ayolaaah Mas" rengeknya menggoyang-goyangkan tangan Noval, "dirumah gak ada orang, mama sama kakak lagi pergi. Mas tega tinggalin aku dalam kesunyian malam?" Tanyanya dengan tampang memelas berharap cowoknya itu mengasihaninya.
Noval menghembuskan nafasnya secara kasar "oke-oke ikut Mas pulang" jawab cowok itu ngalah.
"Yes" teriak Dita kesenangan dengan melayangkan tenjunya ke udara lalu bergegas naik kemobil cowok itu.
"Semogah iman gue kali ini kuat" lirihnya ikut naik kemobilnya.
🍂
"Tunggu disini ya, Mas mandi dulu. Gerah" timpal cowok itu yang dianggukin oleh Dita, "Kalau mau minum ambil aja dikulkas, ada susu juga tu disana" Lanjutnya.
"Cepet ya Mas" balas Dita dengan cengirannya lalu berjalan menuju pantry.
Tak berapa lama, Noval keluar dari kamarnya dengan pakaian santainya dan juga rambutnya yang masih basah jalan mendekati Dita yang tengah fokus menonton tv yang menyiarkan acara cartoon Disney.
"Mirip Zeka banget suka nonton acara ginian" timpalnya duduk disebelah gadis itu.
"Aku tu ketularan Zeka suka sama acara cartoon gini" jawabnya tanpa menoleh.
Noval mengangguk mengusap pucuk kepala gadis itu lalu mendaratkan ciumannya dikepala Dita, dan setelahnya mendaratkan punggungnya ke sandaran kursi ikut menonton seperti Dita.
Sedang asik menonton Dita menoleh ke sebelahnya ternyata Noval sudah memejamkan matanya dengan kepala yang mengandar kesandaran kursi tersebut.
Tapi ketika itu tanpa sengaja mata Dita tertuju pada pinggang Noval dimana kaos sebelah kanan cowok itu terangkat keatas. Melihat ada sesuatu yang aneh, Dita memajukan kepalanya dan menyentuh kulit pinggang itu.
"Eh" ucap Dita kaget menatap cowok itu dimana tangannya yang menyentuh kulit itu dipegang oleh Noval.
"Ngapain?" Tanya cowok itu dengan mata yang memerah karena menahan kantuknya.
"I...ini a...ak...aku mau lihat ini, ini apa?" Tanyanya gugup kembali menunjuk pinggang cowok itu.
Noval memejamkan matanya sebentar lalu menoleh kearah tunjuk Dita.
"Ini tattoo" jawabnya dan membenarkan kaosnya kembali hingga tattoo tersebut tertutup oleh kaos Noval.
"Mas punya tattoo?" Tanyanya tak percaya.
"Kenapa? Gak suka cowok yang bertattoo?" Tanya Noval mendaratkan kepalanya dibahu Dita dengan memejamkan kembali matanya.
Dita menggeleng kencang "suka, aku suka. Keren! Gila sih aku baru tau Mas punya tattoo" ucapnya terlihat terkesima dengan cowok itu.
Tanpa sadar bibir Noval melengkung tipis mendengat pernyataan gadis itu.
"Itu tadi gambar apa?" Liriknya kembali ke pinggang Noval yang sudah tertutup.
"Gambar galaxy."
Dita mengerutkan keningnya "galaxy? Kenapa milih galaxy?" ucapnya sedikit memiringkan kepalanya melihat wajah Noval.
Noval mengidikkan bahu "gak tau, dulu waktu mau buat cuma kepikirannya sama itu. Lagian ini juga terpaksa buatnya" jelas cowok itu membuka matanya yang kini rasa kantuknya tadi benar-benar hilang entah kemana.
"Loh kenapa?."
Noval mengeratkan tangannya ke pinggang Dita "Dulu waktu kuliah, Mas udah berhenti ikut academy, tapi masih sering di panggil sebagai pengajar pengganti sama Raka juga. Jadi waktu mau turun ke kolam, gak sengaja pinggang Mas kegores sama keramik pecah yang ada dipinggiran kolam, jadi ya gitu buat nutupi luka yang ngebekas gitu Mas kasih tattoo" jelasnya kembali.
Dita diam beberapa saat mencerna ucapan cowok itu "Jadi kita boleh pakai tattoo kalau kita punya bekas luka?" Ucapnya menyimpulkan kalimat Noval tadi, "ih kalau gitu aku mau dong Mas" Lanjutnya tampak bersemangat membuat Noval terpaksa mengangkat kepalanya dari bahu Dita dan menatap cewek itu dengan tatapan tak terbaca.
"Gimana ya, aku buat luka apa ya biar pergelangan tangan aku ada tattoonya juga" ucapnya memikirkan sesuatu ide.
Noval geleng-geleng kepala dengan pemikiran gadis yang ada disampingnya ini.
"Maksud Mas bukan gitu, Tata. Kamu salah tanggep" ucap Noval memberi penjelasan atas kalimat sebelumnya, "Bukan karena kamu punya luka jadi kamu bebas bikin tattoo. Mas bikin juga karena ada alasan, Mas waktu itu kurang percaya diri dengan bekas yang ada dipinggang Mas, sementara Mas harus tampil tanpa atasan kalau lagi ngajar. Jadi Raka dan Gio nyaranin buat nutup lukanya pakai tattoo, biar lukanya itu tersamarkan" sambungnya.
Mendengar itu membuat Dita cemberut, gagal sudah kesempatannya untuk memiliki tattoo.
"Kok cemberut sih?"
"Aku kan pengen punya tattoo juga, biar samaan kayak Mas" jawabnya masih dengan cemberut.
"Emang mau bikin tattoo apa?" Tanya Noval memainkan jari-jari tangan Dita.
"Nama Mas, disini ni. Di pergelangan tangan aku" jawabnya menunjuk pergelangan tangannya dengan tangan yang bebas dari tangan Noval.
Noval tercengang, jelas hal itu membuat dia terkejut "nama Mas?" Tanyanya tak percaya.
Dita mengangguk "ho'oh, biar orang-orang tau kalau Mas punyanya aku. Apa lagi tu mantan Mas yang amnesia itu" ucapnya sedikit menyindir seseorang.
Noval tertawa dengan menarik badan Dita kedalam pelukannya "tanpa kayak gitu orang-orang juga udah tau kok kalau Mas punyanya, Tata " timpalnya mengusap punggung gadis itu dengan lembut dan sayang, "emang kurang banyak ya Mas upload photo kamu di social media, Mas? hmm?" Lanjutnya kembali.
Dita meringis "kurang banyak apaan, orang-orang tu jadi mikir kalau aku yang upload sendiri di akunnya Mas"
"Gak usah dengerin orang. Terus soal Bella, ini cerita kita! Bella gak berhak ada disini, jadi jangan bahas-bahas dia lagi ya, ngerti?" Tanyanya cowok itu mengeratkan pelukannya.
Dita mengangguk kencang dengan semangat, emang dari dulu dia berharap si Bella Bella itu tidak ada di cerita kehidupannya yang bisa merusak moodnya.
"Ah satu lagi" timpal Noval melonggarkan pelukannya menatap lekat bola mata hitam milik Dita "Mas suka kamu yang begini, polos apa adanya. Jangan ngerubah satu hal apapun dari diri kamu yang sekarang ini, jadi jangan pernah buat mikir nambah-nambah tattoo, Mas suka kamu yang begini dan akan selalu suka" ucapnya dengan tulus mengusap pipi gadis itu.
"Mas udah pernah bilang ini belum?" Tanya Noval membuat Dita mengerutkan keningnya menunggu kalimat selanjutnya dari Noval "love you" bisik cowok itu ke telinga Dita.
Bukannya tercengang atau ngeblushing seperti di sinetron-sinetron atau drama Korea yang pernah Noval tonton bersama Bee, adiknya, Dita malah diam menatap lurus kearah Noval.
"Kenapa?" Tanyanya bingung.
"Cium" jawab Dita polos memajukan bibirnya.
"Hah?"
Dita memutar bola matanya " Di film yang aku tonton terakhir, cowok yang sesudah mengucapkan kata seperti itu dia berakhir dengan ngecium bibir ceweknya" jelas Dita dengan smeangat.
"Terus?" Tanya Noval masih bingung.
"Ya gak ada terusannya, aku juga mau Mas ngelakuin hal yang sama kayak cowok di film yang aku tonton."
"Tapi di sinetron yang mas tonton gak ada adegan kayak gitunya" ucap Noval mulai terihat panik, gimana tidak panik gadis itu mulai memancing-mancing dirinya.
"Sejak kapan di sinerton ada adegan kayak gitu?" Sinis Dita dengan cemberut, "yang ada keburu disensor sama KPI" Lanjutnya kembali.
"Makanya Mas nonton film aja, disana banyak adegan sweetnya" sambung Dita dengan pipi yang bersemu memerah.
"Cium ya Mas, Mas gak kasihan lihat aku malam minggu gini gak dapet jatah?" Timpal cewek itu kembali yang membuat Noval mendengarnya langsung merasa panas di area pipinya.
Kenapa dia yang merasa malu dengan Dita ngomong seperti itu, pikirnya.
"Atau aku yang cium?" Tanya Dita memajukan kepalanya melihat tidak ada reaksi dari Noval.
Tidak mendapati penolakan seperti biasanya berupa toyoran dikeningnya membuat Dita memberanikan dirinya menempelkan bibirnya kebibir merah cowok itu.
"Manis" timpal Dita dengan cengiran bahagianya setelah berhasil menyicipi rasa bibir itu.
Noval diam, entah apa yang dipikirkan cowok itu hingga semenit kemudian ditariknya leher Dita mendekat dengannya "Udah Mas bilang jangan mancing-mancing, Dita. Iman Mas gak kuat" bisiknya lalu menempelkan kembali bibirnya ke bibir Dita "yang kamu mintakan?" Tanyanya disela ciumannya dan menarik kedua tangan Dita keatas agar tidak menyentuh bagian sensitivenya.
__ADS_1
Next 🍂
14-04-2020