VALIT ( Noval dan Dita)

VALIT ( Noval dan Dita)
Gerak Cepat


__ADS_3

01.00


Yang masih on jam segini mana suaranya wkwk


#DiRumahAja


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Ka, lo lihat Noval gak? Gue ada perlu sama tu anak" Tanya Gio yang kini sudah berada di ruang kerja milik Raka.


Setelah lulus kuliah di kampus yang sama dan Fakultas yang sama, mereka bertiga sepakat melanjuti karir mereka ditempat yang sama juga. Yaitu bekerja di Perusahaan Property milik keluarga Yudhistira.


Walaupun perusahaan itu milik keluarga sahabatnya Noval dan Gio yaitu Raka, tetap saja dulu mereka bertiga masuk di Perusahaan itu harus melalui tes terlebih dahulu dan diawal bekerja mereka juga harus melewati proses sebagai karyawan biasa hingga sekarang mereka sudah memiliki jabatan dimasing-masing divisinya dan juga memiliki tim sendiri untuk menangani suatu proyek.


Noval dan Raka yang bekerja sebagai architecture, dengan job desk sebagai perancang bangunan sampai yang memutuskan material apa saja yang akan digunakan. Sementara Gio dengan Lulusan teknik sipil memiliki job desk sebagai membuat perencanaan kegiatan engineering hingga mengontrol kegiatan engineering. Sehingga mereka bertiga bisa bekerja di Perusahaan yang sama karena pekerjaan mereka berhubungan antara satu dan lainnya.


"Tadi sih ada diruangannya, gak tau sekarang" jawab Raka mengintip sebentar keruangan yang ada didepannya melalui kaca besar transparan yang berfungsi sebagai menutup dinding milik ruangan Raka.


"Panjang umur tu anak" ucap Raka, dan langsung meneriaki nama cowok itu "Val, dicariin Gio ni" lanjutnya yang membuat Noval menoleh dan mengurungkan niatnya yang hendak masuk keruangannya lalu berjalan mendekati ruangan Raka dimana kedua sahabatnya itu sedang ngumpul.


"Apa?" Tanya Noval dengan tampang datarnya yang akan selalu kelihatan datar dan makin hari makin datar seperti papan gilingan. Lalu ia berjalan dan memilih duduk di sofa yang terdapat diruangan tersebut, sementara Gio masih setia berdiri di samping meja Raka.


"Lah buset, muka lo kusut amat. Kenapa?" Tanya Gio yang selalu mau tau urusan temannya, dan bukan Gio namanya yang bisa melihat raut wajah bad mood dari temannya.


Raka yang ada diruangan itu bersama kedua sahabatnya tak berkomentar, ia sudah tau apa yang terjadi pada sahabatnya yang bernama Noval itu.


Jangan tanya Raka tau dari mana, siapa lagi kalau bukan dari Arka adiknya, yang selalu mengabari perkembangan tentang hubungan sahabatnya itu dengan teman adiknya.


"Gak usah kepo kayak mbak-mbak kompleks" balas Noval sinis.


"Dih sensi, temen lo kenapa sih, Ka? Aneh banget" ucap Gio menoleh pada Raka yang memperhatikan kedua orang dewasa tersebut.


Raka tersenyum tipis "makanya main-main lo kerumah Mama Gi, biar tau apa yang terjadi" ucap Raka memberi kode pada pemuda yang ingin tau itu.


Gio menunjukkan tampang bingungnya "gue ada ketinggalan berita ya?" Tanyanya pada Raka lalu kemudian menoleh pada Noval.


Noval yang melihat rasa kekepoan temannya itu makin meningkat membuat ia menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Eh bentar-bentar" ucap Gio berjalan mendekat kearah Noval dan menatap cowok itu secara seksama.


Jelas hal itu membuat Noval risih dan mendorong badan kekar Gio menjahuinya.


"Ngapain lo?" Tanya Noval.


Sementara Raka hanya menikmati keributan yang dibuat oleh temannya itu dengan tenang dimejanya.


"Kok gue ngerasa ada yang beda ya sama lo, tapi apa ya?" Tanya Gio bingung dengan tangan mengusap-usap dagunya untuk berfikir dan matanya yang masih menatap lurus ke Noval dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Apaan? Gak ada yang beda, mata lo rusak" sinis Noval menendang kaki Gio agar menjauh darinya.


Merasa tidak mendapati jawaban dari Noval, Gio memutar badannya kembali menghadap Raka.


"Ka, lo ngerasa gak sih, ada yang beda dari ni anak?" Tanyanya dengan menunjuk Noval lalu dianggukin dengan santai oleh Raka.


"Tuhkan bener, tapi apa ya?" Tanyanya kembali masih memikirkan hal itu.


"Rambutnya, lebih pendek dari biasanya. Lo lihat tu, gak ada kuncirannya lagi" jawab Raka.


"Lah iya ****!" Ucapnya kaget lalu menepuk bahu Noval keras membuat cowok itu reflek mengumpat kasar mendapati perlakuan tiba-tiba seperti itu.


"Kenapa lo potong? Bukannya lo pernah bilang itu style lo?" Tanya Gio yang tampak penasaran.


Pasalnya rambut dengan gaya yang dapat dikunciran seperti itu merupakan style yang digunakan Noval dari zaman kuliah dulu, dan dia meng-clime kalau style seperti itu menggambarkan dirinya.


"Pengen buang sial. Btw, lo bawel banget ya, Gi" sinis Noval melirik pemuda kepo itu.


Mendengar kata bawel yang diucapka Noval membuat Gio tak terima.


"Eh biawak" panggil Gio Noval dengan tangan yang berada dipinggang, "lo kalau bukan teman gue, gue juga gak bakal bawel gini. Harusnya lo seneng dong, bisa gue perhatiin" timpal Gio dengan bangganya dan tak lupa tampang songongnya yang membuat Noval berdecak.


"Gak butuh juga gue lo perhatiin" balas Noval seenaknya yang membuat Gio mencak-mencak gak jelas. Sementara Raka sendiri sudah tertawa lepas melihat kelakuan kedua temannya yang gak pernah berubah itu.


"Ni anak kenapa sih, sensi banget. Kayak lagi panas gitu hatinya" sewot Gio asal tak terima dijutekin dari tadi dan membuat Noval menegang mendengarnya merasa tertohok.


Kelihatan banget emang?, batin Noval, berusaha kembali menunjukkan wajah santai dan tenangnya, ralat wajah datar dan dinginnya.


That's right!


Sementara Raka sendiri mendengar celetukan Gio itu membuat ia tertawa makin keras hingga perutnya merasa kram dan juga pipinya yang terasa menegang.


"Astaghfirullah ngakak gue" timpalnya masih tertawa.


"Sumpah gue saranin ntar lo ikut Noval deh Gi, biar lo tau apa yang terjadi" sambung Raka ditengah tawanya.


Noval tak menghiraukan ucapan Raka, ia dengan tenang duduk disofa dengan memejamkan matanya. Beberapa hari ini mood dan pikirannya benar-benar tidak baik. Dan semua ini berawal dari beberapa minggu lalu di sebuah restauran makanan cepat saji.


Jika mengingat itu entah kenapa tiba-tiba membuat moodnya rusak begitu saja.


Bahkan untuk meringankan pikirannya ia bela-belain memotong rambut yang selalu menjadi gaya andalannya.


"Nah itu makanya gue mau ngomong" ucap Gio melirik ke Noval, "gue mau ajak lo ikut lihat perkembangan bangunan yang lo rancang itu" lanjutnya menjelaskan tujuan awalnya.


Mendengar ucapan Gio, Noval langsung membuka matanya kembali "kapan-kapan aja, gue lagi sibuk" jawab Noval menolak dengan tak bersemangat.


"Sibuk apaan? Gue lihat lo pulang cepat mulu. So, dimana kata sibuknya?" Tanya Gio kembali yang mulai kesal dengan kelakuan temannya itu.


Raka tertawa "nah disitu tu letak sibuknya Gi, kan udah gue bilang lo ikutin aja si Noval balik ntar" timpal Raka mengompori Gio yang makin merasa penasaran.


"Ka, lo gak punya kerjaan ya? Heran dari tadi ngomporin gue mulu" sindir Gio yang membuat Raka makin tertawa kencang.


"Ya Allah, gue pengen ngomong. Tapi yaudahlah ini bukan porsinya gue. Lo tanya aja langsung sama temen lo itu" ucap Raka menunjuk Noval dengan dagunya, hal itu membuat Gio ikut menoleh pada Noval.


"Val, apa sih? Penasaran gue ****" rengek Gio yang sudah duduk disamping Noval dengan menggoyang-goyangkan tangan temannya itu.


"Apa sih? Kepo banget. Kerja lo sonoh! Makan gaji buta aja bisanya" balas Noval menyingkirkan tangan Gio yang ada di lengannya.


"Ini gue juga lagi kerja saaat! Kebanyakan makan boncabe lo, omongannya jadi pedes" sinis Gio berdiri dari duduknya menjahui cowok berhati es itu.


"Udah kan gak ada yang mau diomongin lagi? Gue mau balik ke ruangan gue, mau kerja! Gak kayak lo makan gaji buta" ucapnya ketus dan berdiri dari duduknya lalu menyindir Gio yang membuat pemuda itu menatapnya sinis.


"Ka, suruh kerja yang bener ni anak. Jangan main ponsel mulu bisanya" lanjut Noval membuat Gio mengerucutkan bibirnya.


Yang diomongin Noval itu ada benarnya, pasalnya setiap Noval melewati ruangan Gio pasti saja anak itu sedang asik memainkan ponselnya, entah apa yang dilihatnya diponselnya itu.


Raka tersenyum "Wajar Val, namanya juga punya pasangankan. Ada seseorang yang menunggu kabarnya" bela Raka, Noval yang mendengar itu menghentikan langkahnya melirik kebelakang kearah kedua temannya itu.


"Tuh denger sohib gue ngomong" ucap Gio menepuk bahu Raka, merasa bangga di bela "makanya cari pacar lo sonoh" timpal Gio membuat Noval mendengus.


Tak menghiraukan ucapan Gio, Noval kembali melangkahkan kakinya keluar rungan, baru sampai diambang pintu tiba-tiba langkahnya terhenti kembali karena mendengar ucapan Gio pada Raka.

__ADS_1


"Ka, Dita udah punya pacar? Gue kemarin lihat dia di mall sama cowok, seusia dia juga sih kalau gak salah" ucap Gio pelan, tapi masih bisa didengar oleh Noval.


Merasa penasaran dengan ucapan Gio, Noval kembali mengurungkan niatnya untuk keruangannya, dan berjalan kembali masuk ke ruangan Raka.


Melihat itu membuat Gio mengerutkan keningnya "lah gak jadi balik lo? Bukannya tadi mau kerja? Biar gak makan gaji buta?" Sindir Gio mengejek dengan membalikkan ucapan Noval tadi.


Noval yang tak peduli dengan sindiran yang tertuju padanya, dengan tenang dan santai kembali duduk di tempatnya semula.


"Gue lupa kerjaan gue udah kelar" bohong Noval, "ruangan lo adem ya, Ka. Gue mau istrahat disini dulu. Kalau kalian mau ngoborol oh silahkan saja, gak usah hiraukan gue. Gue gak ganggu kok" jelasnya memejamkan matanya yang membuat Raka tersenyum geli dengan geleng-geleng kepala.


Bohong!


Noval bukan ini tidur atau istirahat. Ia hanya ingin mendengarkan cerita yang dibicarakan Gio tadi, tapi ia terlalu gengsi untuk ikut mendengarkannya.


Kok mereka gak ngobrol lagi sih, batin Noval mengerutuki kedua sahabatnya itu.


"Gak usah pura-pura tidur, Val. Gue tau lo balik kesini lagi mau dengar cerita kita tentang Ditakan?" tebak Raka membuat Noval menghembuskan nafasnya kasar lalu membuka matanya dengan malas.


"Gak usah mikir aneh-aneh, ngapain gue mau tau cerita tu bocah. Bukan urusan gue" jawabnya jutek lalu buang muka.


Gio mendengar itu langsung mencibir, sementara Raka masih tersenyum geli.


Walau Gio tak sepeka Raka, tapi ia tau perasaan temannya itu terhadap gadis yang bernama Dita. Sama halnya dengan Raka, ia tau apa yang dirasakan temannya itu, hanya saja temannya itu terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya.


"Yakin gak mau tau?" Goda Gio dengan tampang nyebelinnya.


"Masa gue kemarin lihat Dita gandengan sama cowok, mesra banget ****" sambung Gio memanas-manasi temannya itu.


Ya, sebenarnya yang dikatain Gio itu benar, ia melihat Dita jalan sama cowok gandengan. Tapi bukan berdua, bertiga sama Lala yang di ketahui sebagai sahabatnya Dita yang sekarang lagi dekat sama Arka.


"Gue kira dia masih ngedeketin lo. Eh taunya udah move-on. Ya bagus sih, lagian ngapain sih dia pernah ngejar-ngejar lo" lanjut Gio memancing kekesalan Noval.


Mendengar itu sontak membuat Noval menatap tajam kearah Gio "Emang kenapa kalau dia ngejar-ngejar gue?! Gue cakep, gue mapan. Apa lagi yang kurang?" Tanyanya yang akhirnya terpancing juga dengan omongan Gio.


Mendengar itu Raka dan Gio kompak tersenyum tipis sekaligus mengejek.


Nice, batin mereka.


"Kurang lo cuma satu Val" timpal Raka, "lo terlalu gengsi buat ngakauin perasaan lo" lanjutnya membuat Noval tertegun.


"Lo bilang lo punya segalanya, terus apa yang buat lo ngerasa gengsi, ha?" Kali ini giliran Gio yang bertanya.


Merasa terpojokkan, Noval mengalihkan tatapannya keluar ruangan menghindari tatapan tajam dari teman-temannya.


"Kita semua diam, bukan berarti kita gak merhatiin lo. Kita tau batasan kapan kita harus ikut campur atau tidak" ucap Raka.


"Dan kali ini gue sama Raka harus ikut campur, lo udah kelewat batas buat mendem perasaan lo sendiri" sambung Gio yang dianggkuin Raka.


Noval mendengus melirik Gio yang tak jauh berdiri dari duduknya.


"Lo nolongin gue bukan karena lo udah putus asa kan buat nyuruh gue nikah, agar lo bisa nikahi Bee" sindir Noval tajam.


Bukannya tersinggung Gio malah tertawa, lebih tepatnya tertawa mengejek.


"Sengebetnya gue pengen nikah, gue gak pernah punya niatan buat ngumpanin sahabat sendiri. Gue tau lo juga suka sama Dita, jadi salah kalau gue nolongin temen gue?" Jelasnya dengan tampang dingin yang jarang ditunjukkannya didepan kedua sahabatnya.


"Gue belum ada ya bilang suka sama tu bocah, gak usah menyimpulkan sendiri seenaknya gitu" balas Noval yang masih belum mau ngaku sama perasaannya.


Raka berdiri dari kursinya lalu berjalan dan bersandar dengan meja kerjanya dengan tangan yang teripat di dada, tepat disamping Gio dengan menatap lurus kearah Noval.


"Iya ntar kalau Dita beneran move-on dari lo, baru lo sadar kalau lo suka sama dia, gitu?" Tanya Raka santai.


"Lo selama ini terlalu santai Val, mikir kalau Dita bakal selalu ngejar lo. Sampai lo lupa kalau Dita bisa ngerasa bosan dan berakhir menyerah. Gue cowok aja pernah berfikir untuk menyerah karena ketidak pastian, apalagi dia yang cewek" jelas Gio mengingatkan pengalamannya.


Noval tak berkomentar kembali, ia memikirkan kata-kata yang diucapkan kedua temannya itu ada benernya.


"Belum lagi kata adek, Dita lagi deket sama temen sekolahnya. Lo mau kalau Dita jatuh ketangan cowok lain?" Timpal Raka kembali membuat Noval tampak memikirkan ucapan temannya itu.


"Bangke emang lo berdua" timpal Noval dengan wajah merah padam melempar bantal sofa kearah kedua sahabatnya itu, lalu dengan buru-buru melangkah keluar ruangan.


Melihat kepergian Noval membuat kedua temannya itu saling bertos ria, karena telah berhasil memancing perasaan Noval.


"Ka, btw emang Dita lagi deket sama cowok ya? Gue malah gak pernah mikir kalau tu anak masih tertarik sama cowok lain selain Noval" Tanya Gio dengan tampang polosnya.


Raka menatap pemuda itu dengan tatapan malasnya, Gio kalau lagi **** ngeselin.


"Ya enggak lah" jawab Raka cepat, kembali kekursinya lagi.


"Terus yang dibilang adek itu bener?".


"Ya benerlah, kan emang dia deket sama temen sekolahnya, namanya juga sekolah" jawab Raka santai yang membuat Gio langsung mengumpak kasar.


"*******" ucapnya pelan tapi masih didengar oleh Raka dan tertawa.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Seperti beberapa hari belakangan ini, Noval selalu rutin menyempatkan untuk mampir kerumah orang tuanya Raka, dengan alasan memberi jajanan dan mainan atau apapun itu untuk Zeka.


Padahal dibalik itu semua ia punya maksud terselubung seperti yang sekarang ini terjadi.


"Loh, Masval kok berdiri disitu? gak masuk?" Tanya Dita pada pemuda itu yang tengah berdiri dipinggir jalan disamping mobilnya yang berada didepan rumah orang tua Raka.


Jangan heran kenapa Dita bisa bicara sesantai itu dengan cinta pertamanya. Sesuai dengan pertambahan umurnya, dan juga karena pengalamnya selama ini, ia berubah menjadi cewek kalem. Yang tidak terlalu melihatkan perasaannya walau di hatinya masih terukir nama Noval.


Eaaaaa dangdut banget gak sih, Dit wkwk.


Ia hanya ingin jadi cewek dewasa yang kalem seperti yang selalu di ucapkan oleh Arka. Bahwa Masval suka cewek dewasa yang tidak kekanak-kanakan seperti dirinya.


"Udah masuk kok tadi, ini mau balik" bohong Noval, ia belum sama sekali masuk kerumah itu. Dia ingin berjumpa dengan Dita, yang ia tau bahwa gadis itu pasti setiap sore selalu datang main kerumah itu untuk bertemu Arka membahas pelajaran yang tak dimengertinya.


Dita mengangguk "Kalau gitu aku masuk ya Masval, mau jumpa Arka" ucapnya pamit.


Belum Dita sempat melangkah, tangannya langsung diraih oleh Noval, yang membuat gadis itu diam membeku. Pasalnya ini kali pertama sepanjang hidupnya tangannya di sentuh seperti itu oleh cinta pertamanya.


"Saya bisa ngomong sebentar sama kamu?" Tanya Noval masih menyentuh tangan Dita.


"Bukannya dari tadi Masval udah ngomong ya sama aku?" Tanya gadis itu dengan tampang polosnya.


Noval tersenymu tipis. Walau ia jarang berinteraksi langsung sama Dita, tapi ia tau bahwa gadis ini merupakan gadis yang ajaib.


"Ngomong yang lebih penting dari ini" ucap Noval.


"Yaudah yuk ngobrol didalam, barengan sama Arka. Masa kita ngobrol disini" balas Dita yang tak paham situasi.


Mendengar kepolosan gadis itu membuat Noval melepas tangannya dari tangan Dita lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Saya mau ngomong yang penting sama kamu, berdua, dan tidak disini. Kamu ikut saya!" Jelas Noval menekankan setiap ucapannya lalu dengan cepat menarik tangan Dita menjahui rumah tersebut.


Dita pasrah saja tangannya ditarik seperti itu, ini pengalaman pertama baginya. Akhirnya ia bisa ngerasain digenggam seperti ini, batinnya dengan bibir yang melebarkan senyum manisnya.

__ADS_1


"Masval kita mau kemana?" Tanya Dita yang masih ikut kemana arah kaki Noval membawanya.


"Ke KUA" jawab Noval santai tak menoleh sedikitpun.


"KUA?" Tanyanya bingung menoleh pada Noval, "jam segini masih buka ya? Udah sore loh padahal. Keren deh mereka masih mau bekerja di jam pulang ngantor gini. Di sekolah aku jangan harap, denger bel pulang aja guru-guru udah buru-buru pengen balik" ucap Dita menyuarakan perasaannya dengan cemberut.


"Yaudah ntar saya bilang sama papa buat menambahi jam ngajar guru sampai sore, kalau bisa gak usah balik sekalian" balas Noval seenaknya. Gimana tak seenaknya, sekolah yang diomongin Dita itu adalah sekolah milik yayasan orang tua Noval.


"Nah gitu, bagus" timpal Dita menyetujui, hingga beberapa menit kemudian, M E N I T, ia benar-benar sadar dengan ucapan cowok itu dan menarik tangannya dari genggaman Noval.


"Kalau jam ngajar mereka ditambah, sama aja dong aku sama temen-temen baliknya lama" sambungnya menghentikan langkahnya yang diikuti oleh Noval.


"Seperti yang kamu mintakan?" Tanya Noval santai dan tenang.


Mendengar itu membuat Dita menyesali ucapannya tadi, ia lupa kalau ia sedang berbicara dengan anak pemilik Yayasan.


"Gak gitu maksud aku" ucapnya cemberut menghentak-hentakkan kakinya ke aspal.


"Becanda, yuk duduk disana" ajak Noval kembali meraih tangan Dita menuju taman kompleks yang menyediakan beberapa kursi taman yang berada dibawah pohon rindang.


Setelah sampai, mereka berdua saling diam. Tak ada yang ingin memulai pembicaraan, hingga kemudian akhirnya Noval memberanikan dirinya berbicara.


"Kamu sekarang kelas tiga ya?" Tanya Noval basa-basi mulai bertanya.


Dita yang sedang memainkan kakinya ke tanah menoleh pada Noval yang sedang menatapnya hingga mereka saling pandang, sampai Dita lebih dulu mengalihkan kembali matanya menunduk.


"Iya, lagi sibuk-sibuknya belajar buat ujian ntar" jawab Dita masih menunduk.


Noval mengangguk "mau nyambung kemana ntar?" Tanyanya kembali.


Kali ini Dita kembali memberanikan diri menoleh pada Noval "pengennya gak mau lanjut, mau langsung nikah aja sama Masval. Tapi Masval kan gak pernah notice aku, gimana bisa kita nikah ya" jawab Dita dengan senyum lebarnya menampakkan gigi bersihnya.


Mendengar jawaban polos gadis itu membuat Noval mengerutkan keningnya dan menatap lurus kearah gadis itu.


"Kalau gitu kenapa kamu gak nikah sama temen satu sekolah aku aja?" Tanya Noval memulai pancingannya.


"Ha?" Tanya Dita bingung.


"Itu yang kemarin bareng kamu ke McDonald's" Jelas Noval kembali dengan tampang sinisnya. Kesal jika mengingat kejadian waktu itu yang membuat hatinya hatinya masih terasa panas jika mengingatnya.


"McDonald's?" Tanya Dita masih bingung, "oooh Bagas?" Tanyanya memastikan yang dijawab gidikan bahu dari Noval, pura-pura tidak tau.


"Dia temen aku, ngapain aku nikah sama dia?"lanjut Dita pada Noval.


"Kata adek kalian lagi dekat".


"Ya emang deket, Masval, kan temen sekelas" balas Dita.


Noval memejamkan matanya lalu menggeleng "dekat dalam artian pacaran" Jelas Noval mengeram tangannya, merasa kesal pada dirinya sendiri.


Mendengar itu membuat mata Dita membelalak lalu memutar badannya menghadap kearah Noval sepenuhnya.


"Aku pacaran sama Bagas? Upil onta? Ya Allah Masval yang bener aja. Gak mungkin lah, Bagas itu sahabat aku sama Lala. Lagian dia juga udah punya pacar satu sekolahan sama Arka. Lagian mau aja di bohongin sama Arka" jelas Dita menatap tampang cengo dari Noval.


Shit, bisa-bisanya gue kena kibul. Batin Noval mengumpat.


Tapi setidaknya ia bisa merasa lega mendengarnya, bahwa gadis yang sedang dihadapannya ini masih bisa di milikinya.


"Lagian kan aku sukanya sama Masval, masa aku nikahnya sama cowok lain sih" sambung Dita pelan menunduk dengan memain-mainkan jarinya.


Noval tak terkejut ataupun merasa risih, ia sudah biasa mendengar celotehan polos ataupun sikap agresif dari gadis itu. Walau dulu diawal sempat merasa risih, tapi makin kesini ia makin terbiasa.


"Dari dulu kamu selalu ngomong seperti itu, kenapa?" Tanya Noval yang tampak tenang menatap Dita dengan tangan terlipat didadanya.


Dita mengangkat kepalanya menoleh pada Noval "Masval cinta pertama aku" jawabnya sedih, sedih karena hingga saat ini ia belum bisa mendapati hati cowok itu.


"Kenapa kamu suka sama saya?" jelas Noval kembali.


"Masval ganteng. No itu bukan point utamanya sih" jawab Dita keras membuat Noval sempat merasa terkejut menatap gadis itu.


"Yang lebih penting, Masval itu cool. Susah didapetin, buat aku jadi lebih tertarik buat ngedapetinnya" lanjutnya lagi, mendengar itu Noval sempat menyunggingkan senyum tipisnya. Baru kali ini ada orang yang suka padanya bukan dilihat dari fisiknya.


"Jawaban kamu diterima. Tapi kamu sadar gak usia kita itu jauh berbeda" sambung Noval kembali.


Dita tak langsung mejawab, ia diam berfikir sejenak "Iya ya, Masval udah tua ya" timpal Dita polos yang membuat Noval memutar bola matanya, malas jika sudah membahas umur seperti ini.


"Terus masih mau suka sama saya?" Lanjutnya lagi. Masih penasaran jawaban apa yang akan diberikan gadis itu.


"Kata mama, cari pasangan yang usianya diatas kita. Jadi aku rasa Masval cocok seperti yang dibilang mama aku. Papa sama mama aku, mereka usianya juga jauh berbeda. Om Hadi sama tante Nana juga jauh beda. Jadi gak ada masalah dong" jelas Dita dengan cengirannya.


"Masval kenapa nanya gitu? Udah beruba pikiran ya? Udah mulai naksir aku?" Goda Dita mendekatkan wajahnya denganmenaik turunkan alisnya membuat Noval merasa tak nyaman dan menjahui wajahnya dari gadis itu.


"Gak usah gr" timpal Noval berusaha tenang.


Mendengar itu membuat Dita menjauhkan kembali wajahnya dengan bibir cemberut "Kenapa sih, kenapa Masval gak suka sama aku? Aku kurangnya apa coba? Mama bilang aku cantik, tapi Masval gak juga suka sama aku" ucapnya yang tampak sekali kesal dengan pemuda itu.


"Bukan tidak suka, saya hanya merasa takut" jawab Noval.


"Takut kenapa?" Tanya Dita merasa tertarik dengan ucapan Noval.


"Saya takut, jika saya suka kamu. Terus saya berkeinginan memiliki kamu, tapi kamu tidak" jawabnya menyendu.


"Apa-apaan itu" ucap Dita kencang dengan sinisnya, "kalau aku gak mau sama Masval ngapain aku bertahan sampai sekarang? Aduuh Masval, biarpun aku bisa dibilang lemot, aku gak mudah percaya dengan alasan seperti itu".


"Jadi kamu maunya apa?" Tanya Noval.


"Mau Masval lah, mau apa lagi" jawab Dita cepat dengan tampang songongnya.


Noval tersenyum tipis mendekatkan wajahnya lalu meraih pucuk kepala Dita.


"Kalau kamu mau saya, saya ajak langsung nikah setelah lulus, mau?" Tanya Noval dengan serius.


Dita diam.


Dita tak langsung jawab.


Dita mencerna secara perlahan ucapan Noval.


"What? Aku di lamar?" Teriak Dita histeris.


NextπŸ‚


29-03-2020


3505 word guys❀️


Pokoknya kali ini main cepat ya Masval. Takut di tikung lagi :')


Happy reading guys❀️

__ADS_1


__ADS_2