
Chapter 2
Eh, kok ada buku yang aku kasih ke Daniel di kolong ku ? HAH ! ! ! cepet juga dia hafalinnya sampe sudah bikin puisi kaya gini. Kekelas 6 - 2 ah..
“ Daniel, ini buku tuh buat kamu, buat kamu belajar, jangan baca rumusnya doang, baca juga sejarah- sejarah hantu disini, pokonya baca sampe abis ” ujarku, sambil membangga banggakan buku tulisanku
“ Udh kok Ra, coba test aja, udah aku hafalin semaleman ” jawabnya dengan nada sombong “ Giat juga kamu, yaudah nih buku buat kamu, nih. Oh ini juga baca ya” kataku sambil memberi kertas yang pake kode bahasa ku yang isinya “ daniel, pulang sekolah beli lilin sama korek, terus pikirin pertanyaan apa yang mau kamu tanyain ke hantunya, nanti kita ketemuan di depan panti asuhan kamu, ok. salam hangat rachel.”
Sesuai rencana kita ketemuan didepan pantinya Daniel, dan bikin percobaannya dirumah ku yang sepi kaya kuburan. “Nih lilinnya” ujar Daniel “Ok, pegang dulu, pertama taro cermin didepan lilin, lalu lipat dan tempel kertas pertanyaan di depan cermin, disamping kiri lilin taro segelas air minum yang udah ada tetesan darah dari jari telunjuk perawan. Lalu tutup pintu ruangan tersebut dan lilitkan benang wol merah di gagang pintu kamarnya, lalu keluar rumah dari pintu belakang ” jelasku
“ ayo ucap mantranya, hidup berjalan seperti lapangan disekolah internasional, dimana lapangan tersebut bisa digunakan untuk bermain voly, bola basket, fitsal, balet, main karet, main baseball. dan semua permainan bisa berlangsung tanpa saling bersinggugan, itulah bagaimana alurnya hidup Asteme vitocus xilenummix xafaghretias zolla”
“ Kayanya sudah, yu masuk Dan ! ” ajak ku. “ Loh kok lewat belakang ? ” Tanya Daniel “ Takut ada hantu didepan, hehe ” guyonku “ Hanya aku dan kamu yang tau dimana letak kunci pintu belakang ini, jadi ini rahasia yah” kataku
“ Yah suratku ga dijawab Daniel, apakah surat mu dijawab ? ” tanyaku “ Nih, (ngasih suratnya ke aku) ppffffffffft (nahan ketawa) ….., aku bilang kan pertanyaan, ini mah harapan Daniel, hahahahhaha, aku ingin tinggiku menjadi 185cm, punya pekerjaan yang bagus dan memiliki kekayaan yang melimpah, kalo bisa nemu uang 1 milyar ? Ha ha ha ha ha ha,” ledekku
“ Coba lihat punyamu ” pintanya. “ Eit… ga mau, ha ha ha ha ha, kepoo uuu ~ ~ ”
“ Hei aku kasih lihat surat ku, kau pun harus begitu. Hey, bermain yang adil lah. ” Jam rumahku yang menunjukan pukul 6 sore pun berbunyi.
“ Ra, aku pulang duluan ya, takut dicariin bunda panti nih, baaay ! ! ”
Kenapa gak berhasil yah ? Padahal itukan dari buku di perpustakaan berjalan, mana mungkin tulisan dari orang yang kurang berpengalaman ?, masalahnya setiap instruksi dari cerita buku itu sangat terinci. Mana mungkin itu bohongan Ah … sudahlah yang penting besok mau main sama Daniel lagi. Senangnya ~ ~
__ADS_1
Sejak hari ekspeimen kami, kami jadi sering bertemu, bermain surat suratan dengan bahasa yang telah kubuat, jadi orang orang mana tau, hi hi hi hi. Seru juga.
“ Ra, sebenarnya aku punya tempat dimana aku bisa merasakan hal lain disana, kau mau lihat ? tidak terlalu jauh hanya kurang lebih 1 km dari sisi luar hutan, ini pasti seru Ra, ingin kesana ? ” ceritanya dipagi hari membuatku menjadi lebih bersemangat. “ Gimana Ra ? kok bengong, kau tidak suka ideku, ”
“ No, no prob, I think that Is not a bad idea. ” Jawab ku dengan sumeringah
Keesokan harinya.
“ Jadi gak Dan ? ” Tanyaku ketika pulang sekolah. “ Jadi dong, aku udh izin akan pulang telat sama bunda dipanti ayooo ! ! ! !”
Sepanjang perjalanan hanya beberapa warna yang ku kenal, yaitu hijaunya daun, dan coklatnya batang-batang pohon yang tinggi. Hahah seperti buta warna. Tapi jalan berdua bersamanya membuatku merasa hangat, meski disini lumayan dingin.
“ Sepertinya ini sudah lebih dari 1 km? Kamu yakin kita enggak tersesat ? ” Tanyaku yang mulai resah. “ Kayanya sih kita salah arah, jadi muter batu besar ini dulu. ” jawab Daniel yang sok tau. “ Nah!!! Setelah pohon besar yang ada ayunan ini, jalan kearah belakang ayunannya nanti kau langsung bertemu tempat yang aku bicarakan ” kata Daniel
“ Ini diaaa!!!!........ ” seru Daniel sambil mengarahkan kedua tangannya kesebuah rumah tua. “ Ayo masuk, kau akan rasakan sensasinya! ” ajak Daniel sambil memegang erat tanganku. Hahah lucunya seperti seorang adik laki laki yang ingin menunjukan hal besar pada kakak perempuannya.
Baru masuk beberapa langkah, angin sejuk seperti menyapa kami dengan hangat, padahal dingin. Wah banyak lilin lilin balok yang siap dibakar, tapi kok gaada talinya ya ? Hmmm….
“ Jadi ra, lilin ini aku dapat dari lemari yang disana, lilin ini bukan untuk dibakar, melainkan untuk diukir. Kau mau mencoba mengukir ? Aku handal dalam hal ini ” jelasnya sambil membangga banggakan dirinya.
__ADS_1
“ Gak terimakasih, aku datang hanya untuk melihat lihat, emm …. Kau bisa ukirkan wajahku ? ” Tanyaku untuk membuktikan apakah dia benar benar bisa. Wah dia langsung mengambil lilin itu dan mulai mengukirnya, mari kita lihat hasilnya.
“ Daniel, apakah kita bisa keatas ? Aku ingin melihat pemandangan dari atas, tapi kayanya ga mungkin deh soalnya rapuh banget tangganya, malah bolong bolong lagi ” Tanyaku yang penasaran. “ Bisa kok, siapa bilang gak bisa ? Aku sudah sering keatas dan ga ada apa apa kok ”
“ Mau ku temani ke atas ? ” ajak Daniel. Lalu aku mengangguk. Kami duduk dibalkon rumah tua tersebut, sejuk, hangat dan seru. Dia masih dengan lilin ukirannya, dan akhirnya selesai.
“ Tada~~ lihat bisakan aku, ini miripmu looh ” katanya sambil memberikan lilin tersebut. “ Wah.. gila, jago juga kamu. Oh iya, buku yang ku kasih sama mu ada dimana ? ” tanyaku. “ Ada dibawah, bukumu itu selalu ditasku, jadi jangan khawatir. ” katanya sambil mengelus rambutku.
“ Lihat!, kakiku lebih panjang darimu Daniel, mengapa kau pendek sekali? Hahahahah ” ledekku dengan kaki yang masih menjulur kebawah, dibalkon atas. “ Lihatlah 6 tahun lagi Rachel, kepalamu, akan berada di dadaku, aku jamin itu ” katanya dengan percaya diri. Dan aku gak yakin bisa.
“ Ayo turun Daniel, udah mau gelap nanti kita gabisa pulang. ” ajakku
Baru turun beberapa langkah, lilin yang telah terukirkan wajahku jatuh ke dalam lubang yang ada ditangga rapuh itu, dan dengan cekatan Daniel langsung mengambilkannya untukku, tapi apalah daya tangannya belum sampai.
“ Sudahlah Daniel, kau kan bisa membuatkan yang baru untukku ” kalimat pasrahku
Setelah itu ia menarik tangannya dan tergores sangat dalam, darah bertumpahan, lukanya tepat dibagian dekat siku. Aku langsung menyeka darahnya dengan jaketku dan mengikatnya.
“ Daniel, apakah kamu menyukaiku ? ” pertanyaan bodoh yang tiba tiba masuk dan menguasai pikiranku. Lalu Daniel mengangguk dan menunduk, kami berdiri 2 anak tangga jaraknya, dia diatas dan aku dibawah. “ Meskipun aku seperti ini apakah kau tetap menyukaiku? selamanya? ” tanyaku.
“ Aku akan tetap menyukaimu, selamanya ! ” jawabnya dengan lantang !
“ Kamu harus pegang janjimu, untuk menyukaiku selamanya ” kataku. Tak lama aku mengarungi 1 anak tangga, dan memeluknya. Setidaknya dengan itu tinggi kami sama. Sejak saat itu aku berpacaran dengannya.
__ADS_1