
Chapter 7
Uhuuk uhuuuk . . . . . ( suara batuk bapak - bapak ) eh ? Suara apa itu ? Ah . . . . . . menggangu ku yang sedang memandang sunset tanpa suara.
“ Tolong – tolong ” suara pak polisi.
“ Suara siapa sih ? ” kata ku sambil berdecak. Aku menengok ke kanan ke kiri. Ah iya lupa kan ada pak polisi itu
Aku berlari menghampiri pak polisi itu, dan ternyata itu adalah pak kepala polisi tangerang, orang yang baik dan sangat membela kebenaran kata orang. Tapi mengapa di seperti ini padaku ?
“ Bapak tidak apa apa ? bapak bisa bangun lalu duduk ? atau mau saya carikan seseorang untuk menggendong bapak ? ” kataku yang mengkhawatirkan bapak itu.
“ Tidak apa apa aku bisa duduk, dimana rekan rekanku ? ” Tanya pak polisi yang sambil merapihkan rambutnya karena banyak pasirnya “ Mungkin mereka masih mencari bapak di tepi jurang itu ” kataku sambil mengukir pasir - pasir
“ Tunggu sebentar, bukannya kita jatuh dari jurang ? kenapa kita masih hidup ? sensasi jatuh itu masih terasa, sampai merinding aku mengingatnya. Hah ? ponsel ku ? ponsel ku masih kering dan menyala, apa maksud dari semu … .. ” kata pak kepala polisi itu terjeda karena ada seseorang menelepon
‘ halo, ini saya, saya masih hidup bersama anak perempuan ini, kami berada di pesisir pantai dan kami tidak tahu ada dipantai sebelah mana, tolong minta rekan - rekan kalian untuk mencari saya dan bawa kotak P3K ( Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan ) takut ada luka luka pada anak ini, segera ya ! ’
Kami berbincang tentang keluarga ku dan beberapa hal tentang politik, bapak ini orangnya seru, dia tidak galak seperti polisi lainnya, beberapa saat kemudian dari kejauhan teman teman pak polisi berlarian datang untuk menjemput kami. Dan akhirnya kami pun selamat.
Sesampainya di kantor polisi terdekat, orang - orang langsung menanyaiku ‘ kemana manusia pedofil itu ’ ‘ apakah dia pernah melakukan kekerasan padamu ? ’ ‘ kamu kenal dia dimana ’ ‘ apakah kamu tahu kalau orang itu pembunuh ? ’
Disaat semua pertanyaan itu masuk ke gendang telingaku, seorang bapak – bapak menarikku ke dalam sebuah ruangan. “ Kamu tidak apa apa ? apa Tidak ada luka ? Kenapa kamu terlihat begitu sehat, seperti tidak terjadi apa – apa ? ” kata bapak itu.
“ Aku tidak apa - apa pak, lagi pula jika aku menceritakannya apakah bapak akan percaya ? tidak kan ? Sudahlah bapak telaah sendiri saja apa yang terjadi ” kataku dan tiba tiba bapak kepala kepolisian memanggilku ke ruangannya.
Aku bersumpah jika ada lagi orang - orang yang datang untuk bertanya aku akan menggigit lengannya sampai berdarah !
Aku masuk ke kantornya tanpa malu, lalu duduk disofa yang berhadapan langsung dengan bapak kepala kepolisian itu. “ Ada apa pak ? ” kataku sambil menaikan kakiku ke kakiku yang lain.
“ Kemarin aku sudah melihat video dari pskiater yang bertanggung jawab atas kasus kematian teman - teman mu, aku menyimpulkan bahwa kejadian kita ini ada hubungannya dengan apa yang kamu bicarakan di video itu, dan sepertinya aku mengerti dengan apa yang terjadi padamu, bisa kau jelaskan pada ku, kali ini hanya kita berdua dan tak ada yang merekamnya ” kata pak kepala kepolisian itu pada ku
“ Ah ? Seriusan bapak mengerti ? ” kataku sambil memajukan wajahku
__ADS_1
Lalu bapak kepala kepolisian itu mengangguk,
“ Jadi, ketika kita jatuh, Daniel, langsung memecahkan batunya ” kata ku “ Jadi namanya Daniel, rekan ku mengatakan namanya Ahmad ” kata pak kepala kepolisian itu “ Em … maaf aku bohong disitu ” kataku sambil tersipu malu tapi tidak senyum
“ Batu itu bisa menghentikan waktu bagi orang yang tidak melihat pecahnya batu itu, dan waktu kita berhenti pak, sedangkan waktu Daniel berjalan terus dan terus kurang lebih 8 tahun jadi, umurku dan umur Daniel awalnya sama, bisa dibilang sebaya. Tapi ketika insiden anak - anak itu meninggal digunung, umurnya bertambah dan lagi ketika menyelamatkan kita pak, dia memecahkan batu itu lagi, dan usianya pun sekarang jauh sekali dari usiaku, kurang lebih sekarang usianya 28 tahun, akh … seharusnya aku sudah berencana menikahinya sekarang, huh tapi aku masih sekolah dasar dan belum lulus, buruknya takdirku”
“ Sepertinya aku mulai menegrti dan percaya dengan ceritamu itu nak, tapi sepertinya orang orang tak akan ada yang percaya kecuali 4 pihak, pihak saya sendiri, kamu, Daniel dan Tuhan. Jadi untuk terakhir kalinya aku memohon kepadamu untuk mengatakan kalau Daniel adalah orang aneh, dari pada ia terus diburu warga ? ” kata pak kepala kepolisian sekaligus tawarannya yang sama sekali tidak membuatku tergiur
“ Tidak! Aku tidak mau berbohong, dan jika aku melakukan itu tidak ada untungnya untuk Daniel. Jadi TIDAK ! ” kata ku dengan jelas
“ Baiklah jika itu pilihanmu, untuk dua bulan kedepan kamu akan saya serahkan kepada seseorang, karena ayah mu sudah menandatangani berkas berkas untuk menyatakan bahwa laki - laki yang bersamamu itu salah ” jelas pak kepala kepolisian sambil memanggil seseorang
“ Apa maksudmu hei ! pak aku tidak mau, aku hanya mau Daniel, pak ! aku hanya mau Daniel ! ” teriakku di ruangan bapak kepala kepolisian itu
“ Bu, tolong rawat dia dengan baik ya~ saya mau langsung balik ke cipondoh, ada kerjaan ” kata pak kepala kepolisian itu sambil berjalan keluar
“ Hai adik manis, perkenalkan nama saya Mutia Suryati. Saya seorang pskiater saya akan membatu kamu untuk mengingat sesuatu, ayo ke tempat dimana teman - temanmu tinggal ” kata pskiater gila itu dengan aku
Ah ? Apa itu ? Apa yang tante itu keluarkan dari tasnya ? Ha ? Suntikan ? Untuk apa ? “ Permisi tante suntikannya buat apa ? Jangan - jangan tante mau menyuntik aku … … … ”
Hoaaaam ( menguap ) … … … … … ha ? Ini dimana ? Banyak kasur tingkat dan anak anak ? Em … tempat apa ya … … ‘ ini dimana ? ’ hanya itu yang terlintas dipikiranku. Hingga aku teringat sesuatu kalau aku diajak ke tempat teman - temanku tinggal. Jangan jangan ini tempat pskiater itu.
“ Anak anak ayo makan, sehabis makan kita ke luar ya, langsung bermain bola seperti yang kita janjikan ” kata dari seorang perembuan dewasa yang suaranya seperti sudah pernah ku dengar
“ Ah ? Ibu pskiater ! ? ” kataku yang sontak kaget
“ Ada apa Rachel ? Kenapa kamu tidak bangun dari tempat tidurmu ? Ayo, cepat rapihkan tempat tidur mu dan langsung makan ya … … oh lain kali kamu bisa memanggilku bunda imut atau bunda yati. Jangan manggil ibu pskiater, nanti anak - anak bingung ” kata bunda yati dan langsung meninggalkan aku sendirian dikamar
Terbaring lagi aku di tempat tidur, melihat ke besi besi ranjang, lalu teringat Daniel, ah ! Aku telepon Daniel ah ! em … … lah ? Telepon yang Daniel kasih sama aku mana ? mana ? handphone nya mana ? Dimana ? DIMANA ? Aku tidak bisa menemukan hand phone ku ! ah ! Ibu yati !
Aku langsung berlari keluar dari kamar tanpa merapihkan tempat tidur seperti yang bunda yati pinta, aku berlarian kesana kemari mencari dimana ruang makan dan akhirnya ketemu setelah kurang lebih 5 menit
“ Bunda ! ! ! Dimana hand phone ku ? Dimana ! ! ? ” teriak ku diruang makan sambil menangis dan berlari menuju bunda yati
__ADS_1
“ Hei ! hei jangan menangis Rachel ! Nah, makan dulu nanti kita bicarakan nanti ” kata bunda dengan halus “ ENGGAK ! Aku tidak mau ! Aku mau hand phone ku sekarang ! ” teriak ku dengan melengking
“ Sekarang pertanyaannya kamu mau hand phone mu tidak ? ” Tanya bunda yati sambil menunjukan sendok nasi ke muka ku
Baiklah untuk sekarang aku mengalah, tapi untu lain kali aku tak akan mengalah. Arrrgh ! Perutku keroncongan lagi, cari makan dimana ya ? Aku melihat dikanan dan dikiri semua orang sedang makan uuh … … enaknya …
“ Hei Rachel ! Kamu tidak mau makan ? Aku sudah memasakan lebih, kamu yakin kamu tidak mau makan ? bunda yakin kamu sudah lapar ” kata bunda yati sambil memberikan nasi kepada anak - anak lainnya
“ Baiklah aku makan ” kataku dengan murung seperti pasrah, padahal mah aku mau banget makan, soalnya udah laper banget !
Setelah makan aku langsung ke kamar, ih… capek banget main dilapangan, mendingan tidur. Aduh… yang aku bawa disini hanya tasku dan … . Ah ! Tasku ! untung saja ada tasku, disini ada baju Daniel yang kekecilan, waaah … bajunya bagus, lalu ada haaa … buku ku ah… buku tua ini, buku yang menyeritakan sejarah yang begitu menakjubkan, kisah yang tak terduga yang dialami oleh 3 teman spesialku. Tidak 2 teman spesialku dan pacarku.
Baca lagi seru kali ya ? Serasa masuk ke masa itu lagi, masa masa dimana sangat sedih kehilangan Daniel, tapi sekarang sih enggak, karena aku mempunyai nomor Daniel. Oh ! ! ! Ini puisi pertama Daniel ! Jadi kangen. Apa aku tulis kisah pemecahan batu yang ke – 2 ini ? tulis ah … lagian juga lembaran kosong nya masih banyak, mulai dari mana ya ? Hmmm … dari kita menginap di kontrakan deh !
Selagi menulis, aku dipergoki oleh bunda yati. Rasanya ingin copot jantung ku ! “ Rachel ! Kok tidak keluar teman - temanmu sedang bermain tau, em … kalau boleh tau kamu sedang menulis apa ? ” Tanya bunda yati
“ Ini bukan apa apa kok ! oh iya mana hand phone ku ? aku mau hand phone ku sekarang ! ” kataku sambil menadangkan tangan ku “ Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan ? ” kata bunda yati “ Kesepakatan apa lagi, kau ini membuatku susah saja ” kataku
“ Bagaimana kalau kau menurut padaku hanya selama dua bulan dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan, aku akan memberikan hand phone ku. Aku berjanji demi harga diriku ? ” ujar bunda yati dengan serius
“ Tidak mau, aku mau hand phone ku sekarang, bagaimana kalau Daniel mencariku nanti ? aku sangat rindu padanya aku mohon, hanya dia abang ku, kumohon ” kataku , lalu turun ranjang dan sujud dikaki bunda yati
“ Daniel pasti mengerti perasaanmu, dia juga pasti rindu sekali denganmu, bahkan mungkin rindunya melebihi kamu. Aku berjanji setelah treatment 2 bulan hanya setelah 2 bulan kamu akan mendapatkan hand phone mu lagi ” kata bunda yati sambil mengangkatku berdiri, lalu tersenyum
“ Bunda harus janji hanya 2 bulan ya ! ” kata ku yang hampir menjatuhkan air mata lalu bunda yati pun mengangguk. “ Sekarang kamu mandi ya, sudah sore. Kalau bajunya kurang nanti bilang sama bunda, bunda ke lapangan dulu ya untuk menyuruh mereka juga mandi ” kata bunda lalu mengelus kepalaku
Makan, bermain tidur adalah kebiasaanku selama disana. Demi mendapatkan hand phone ku aku rela menurut, haah … setiap hari semakin kangen saja dengan Daniel. Melamun – melamun – melamun – tiba tiba ada seorang anak memanggilku dan menyuruhku untuk pergi ke ruangan bunda yati. Apa lagi yang mau bunda lakukan untukku, ah … aku lelah. Itu yang terlintas di pikiranku
Berjalan melewati beberapa lorong, ruanganNya ada di ujung lorong berikutnya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku disuruh ke ruanganNya ketika malam hari. Ih … merinding
“ Ada apa bun ? ” Tanya ku setelah membuka pintu tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. “ Rachel, bunda mau kamu setiap hari kamis, setiap dua minggu sekali, datang ke ruangan bunda untuk konsultasi soal masalah mu, ingat juga setiap jam 4 sore ya, bunda tunggu ! Sekarang kamu boleh kembali ke kamarmu ” kata bunda yati dengan jelas, lalu aku mengangguk dan kembali
Daniel sedang apa ya ? Eh … lupa bang Daniel ! Bang Daniel lagi apa ya ? Dia sudah makan atau belum ya ? Kalau saja dia disini juga kan pasti seru. Tapi ini dimana ya ? Masih di cipondoh atau di ciledug ? Daniel pergi sejauh apa sih, sampai memberiku hand phone berkelas itu ? hah … … ( menghela nafas ) yang penting aku harap kamu tidak kesepian dan tetap ingat aku.
__ADS_1