
Chapter 4
Kemana lagi aku harus mencari Daniel. Aku memikirkan kemungkinan ia berada sambil menangis, mungkin Daniel dan Michael masih dihutan. Aku berjalan kehutan sambil berfikir. Mengapa hal ini terjadi padaku, apa karena telur itu? Nathan bilang itu adalah telur ALIEN dan ia akan mengubah anak kecil menjadi, HAH ? Jadi dia sudah dewasa? Tapi bagaimana mungkin?
Wait ! Seperti ada yang mengikutiku, apa aku harus lari? Mungkin aku harus lari! Ah.. siapa dia mengapa dia mengikutiku, “Aakh….. tolong ada orang aneh”teriakku tangannya menggapaiku dan memeluku, oh God I am so afraid
Dia mendudukkan ku dibawah pohon, dan ia mendekat dan memegang wajahku yang tergores sambil menangis, apa yang dia inginkan, aku takut. Lalu ia mundur dan seperti mau mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ini timming yang pas, aku harus lari. **\** bajuku tertarik. “ Aa ……… tolong ” teriakku dengan nada melengking, tiba\-tiba ia melepaskanku dan menutup telinganya, aku langsung berlari keluar hutan dan menuju jalanan, “ Tolong tolong ada orang aneh ”teriakku sambil menangis.
Itu mobil ayah ! “ Ayah … ayah …. Ada orang aneh, selamatkan aku, aku takut huaaaaa ! ! ! ! ! ! ! ” teriakku “ Hah mana orangnya ? Masuk mobil ra ! Kunci pintunya dan telepon polisi ”perintah ayahku dengan raut wajah geram
Polisi datang, dan menyisir hutan, tapi tak menemukan siapapun.
“ Kami tak menemukan apapun, mungkin dia orang iseng / orang cabul, ketika kau teriak dia langsung melarikan diri. Tapi kami menemukan ini \(menunjuk pada buku tebal merah\) tak ada tulisan disini, hanya ada coret coretan mungkin ini punya mu Rachel ” kata pak polisi
Ah ini seperti “ Iya ! Ini buku ku, terimakasih pak ” aku menyambar bukuku dan lari kerumah.
Ini, ini adalah buku yang ku berikan pada Daniel, mengapa buku ini ada dihutan dekat rumahku ? Ini persis puisi pertama yang Daniel tuliskan padaku, aku menangis sambil membuka halaman halaman bukuku.
Ah, ini sepertinya bukan tulisanku, tapi siapa yang menulis ini ? Kan yang mengerti kode bahasaku Cuma aku dan Daniel. Apakah Daniel ?
(tulisan dibuku tersebut menggunakan kode bahasaku, jadi ini hasil terjemahan tulisan Daniel)
Ra ini aku, Daniel ada kekacauan tak terduga terjadi pada kami bertiga.
“ Udahlah, pecahin aja, gua penasaran tau ” kata Michael. “ Apakah sebaiknya kita tunggu Rachel ? oke, lihat baik baik dalam hitungan tiga akan kupecahkan telur ini ” kata Daniel krak ! !
Telurnya hanya pecah dan tidak mengakibatkan apapun, lalu ada angin yang mendorong kami bertiga sampai jatuh. Kami belum merasakan keanehan, tiba tiba telinga kami berdengung, karna sepi sekali, tidak ada frekuensi apapun.
Kami kaget terhadap apa yang terjadi pada hari itu, lalu aku khawatir padamu Ra, jadi aku turun kebawah dan melihat kamu berdiri diam dan tak bernafas, aku kaget Ra. Kau tahu betapa khawatirnya aku, lalu dibawah telingamu ada keringat yang jatuh dan terhenti didekat leher, seperti butiran air hujan.
Disaat itulah aku sadar ternyata waktu kalian berhenti, dan waktu kami bertiga berjalan. Kami pikir ini seru karna kami bisa makan apapun dan pergi kemanapun, semuanya terhenti, kami berjalan ke danau, dan gelombang nya berhenti. Indah sekali. Kami pergi ke pusat belanja dan memakai baju yang kami mau. Ini keren !
Kami duduk didepan lemari es, wah… segarnya. Sampah sampah melayang, benda\-benda diam seperti dunia kami sendiri. Lalu Michael pergi untuk mengambil makanan dan tak kunjung kembali, sedangan Nathan kesakitan dan sepertinya asmanya kambuh, kami butuh tabung oksigen.
__ADS_1
“ Nathan tunggu disini aku akan mencari tabung oksigen dan akan kembali dengan Michael. ” kataku, Daniel
Aku menemukan tabung oksigen tapi dimana Michael ? Ketika lewat toko buku aku melihat Michael dengan buku buku melayang didepannya.
“ Daniel ! ! Lihat seru sekali membaca seperti ini jadi kau tak perlu memegang bukunya ha ha ha, serunya. Cobalah ! ” kata Michael
Wah ini seru, komik yang kami inginkan, hal yang kami harapkan terjadi disini. Tapi tunggu sepertinya aku melupakan sesuatu, ah …
“ Hei Michael ! Temanmu sedang kesakitan dan kau bisa bisanya membaca buku?” tegor ku lalu lari kebawah tanpa membawa tabung oksigen tersebut. Aku terdiam lalu Michael datang dan membawakan tabung oksigennya sambil terengah engah.
“ Nathan, Nathan kenapa kau duduk diam saja ? Lihat banyak minuman dingin ” aku mengatakan sambil mendorongnya dari kursinya lalu ia melayang ah.. ini tidak mungkin seperti yang aku pikirkan kan?
“ Aaaaargh….. Nathan, apa yang kau lakukan bergerak lah ! apa yang terjadi, kau mau apa ? Mau roti ku ? Ambil ambil semuanya, tapi jangan tinggalkan kami ! ” teriak Michael yang menghalangi pikiranku. Untuk pertama kali aku melihat Michael nangis, dia sangat sedih, jika Michael menangis aku tidak boleh menangis, aku harus kuat, jika kami berdua menangis, siapa yang akan menenangkan suasana ?
Aku dan Michael pergi membawa Nathan seperti menarik balon, mengenakan tali, Nathan mengambang bagai tak ada gravitasi. Sepanjang perjalanan Michael hanya menangis, dan air mata itu tidak jatuh melainkan tertinggal melayang diudara. Kami mengubur Nathan ditanah di tepi danau dekat hutan. Dan meletakkan baju Nathan didepan rumah orang tuanya, sedangkan Nathan mengenakan baju dari pusat perbelanjaan.
Lalu kami tidur dan tinggal dirumah tua yang berada dihutan, meski malam tak kunjung datang jam berhenti dipukul 2 siang, tak ada yang bergerak. Aku hanya benghitung bulan yang berubah silih berjalannya waktu.
Akhirnya kami bosan karna semua terlalu sunyi
Akhirnya kami mencoba dan walah… hasilnya, kami malas karena tak ada kendaraan untuk berangkat kesana, tidak bergerak kemana pun, kalau jalan butuh berapa lama ? Lagipula kami tak bisa meninggalkan Rachel dipohon itu.
Hah ….. (menghela nafas). Untuk jaga jaga ketika waktu berjalan lagi kami mengumpulkan uang dari dompet orang orang, tapi tenang saja, kami hanya mengambil 20.000 dari setiap dompet. Itu takkan membuat pemiliknya rugi. Kami bertumbuh tinggi dan berambut panjang seleher, seperti layaknya gembel yang tak terurus.
Makan, minum, membaca buku, ambil uang, tidur dan mengukir wajah Rachel adalah pekerjaanku setiap hari, di tembok rumah tua, aku mengukir wajahnya agar aku ingat padanya, Rachel I love u.
Aku mencatat berapa kali bulan penuh muncul, dan ada kurang lebih 96 kali.
“ Hei Michael, kau tau cara membagi ini ? 96 dibagi, berapa yah ? Kau tau rotasi hitungan revolusi bumi ? Aku ingin tahu kita sudah berapa lama sampai aku sudah setinggi ini ? malah tidak bisa bercermin lagi ”tanyaku
“ Cukup Daniel, aku muak dengan kesunyian ini, aku tau kita tidak kelaparan, tapi aku mulai lelah aku harus melakukan sesuatu, ini memuakan sekali. Semua karena aku, aku yang menyuruhmu memecahkan telur itu, seharusnya kita mendengarkan Nathan, Nathan meninggal karena aku ”teriak Michael sambil menangis lalu berlari.
“ Mic… Michael, tunggu, aku tidak mau kehilangan kau, ini terlalu sunyi untuk ku sendiri”teriakku sambil berlari. Lalu ia menjatuhkan dirinya ke air. “ MICHAEL!!!!!!!!!” teriakku sambil menangis.
Ra, kau bisa bayangkan? Kau jatuh kedalam air yang tidak bergerak, aku pikir itu sama saja kau minum air danau itu didalam air danau. Ini bukan seperti yang aku inginkan, apa yang aku harus lakukan Ra?
Aku pulang ke rumah tua, dan tidur melihat bulan itu, tunggu,ah? Bulannya! Aku melihat bulannya semakin terang, tanda semakin malam. Berarti waktu akan mulai berjalan, apa yang harus aku lakukan, ah….
__ADS_1
Aku ingat buku yang kau berikan padaku, aku langsung menuliskan semua kata kata ini dalam bukumu. Aku tak mengerti tapi ada cukup waktu untukku menulis semua ini, lalu semua serpihan ukiranku jatuh ke lantai dan ada suara burung burung, akh… telingaku tidak biasa dengan semua ini.
Aku tak percaya dengan apa yang terjadi disini, semua ini sulit ditelaah. Aku langsung pergi menuju ke rumah tua itu, sambil menangis dan membawa bukuku, ketika sampai dirumah tua itu, aku melihat hasil ukiran wa WAJAHKU? Ada didinding rumah ini. Astaga yang diceritakan Daniel benar!
Aku mencarinya diseluruh rumah dan dia tidak, oh iya diatas! Pintu terbuka diatas dan aku mendengar suara tangisan yang sangat sendu, itu, ITU DIA
Aku terdiam selama beberapa detik, dan melihat bekas luka itu!!, iyaaaa…. Itu diaaaa…. Dia Daniel. Dia Daniel yang sama. Daniel yang berjanji akan menyukaiku selamanya. Aku memeluknya dengan erat, ah… apa ini aku kangen banget, ah… rasanya sesak setelah semua penderitaan ini!, dihina oleh para orang tua, dianggap pembunuh, tidak dipercaya lagi. Aku benci semua itu, dan saat memeluknya semuanya hilang, tak ada yang tahu betapa bahagianya aku.
Sesampainya dirumah, ayah memarahiku, “ Kau ! Kau tau ? Kau disangka gila, karena kau berkata bahwa anak anak itu menghilang apakah kau tidak tau ? Bagaimana seseorang bisa menghilang begitu saja seperti ditelan bumi, kau membuatku malu! Dasar anak pungut! Sini kau! Kau tidak boleh keluar dari kamar ini selama seminggu itu hukumanmu, jadi terimalah!”teriak ayahku dan langsung menyeretku ke kamar dan mengunci kamarnya.
Apa yang harus aku lakukan, Daniel pasti kelaparan. Huaaaa … . \(tangisku\) bagaimana ini, aku baru bertemu dengannya, masa, harus berpisah lagi ? Ah Daniel, tolong aku ! ! “AKU TAKKAN MAKAN SEBELUM KAU MEMBIARKAN KU PERGI, AAAAAA…” TERIAKKU tanpa memperdulikan betapa seraknya suaraku.
Aku melihat ke jendela dan APA ! ayah jahat itu pergi dengan acuh tak acuh a~ a~ a~ tolong tolong, aku terperangkap. Tiba tiba Daniel datang dan membuka pintu belakang lalu mendobrak pintu kamarku. Aku dan dia langsung pergi ke rumah tua dan bermain seperti biasanya. Kami berbincang banyak, bermain masak masakan lalu dia mengantarku pulang karena langit sudah terlalu gelap.
Ketika sampai dirumah, dan aku ingin menyampaikan selamat tinggal. Tiba tiba ayah ada dibalik pintu dan memukulnya, lalu Daniel terjatuh dan ayah langsung memotret Daniel, apa yang mau ayah lakukan? Aku langsung menarik ayahku dan membiarkan Daniel pergi.
Keesokan harinya aku bangun pagi, memasak beberapa masakan dalam rantang dan langsung kerumah tua itu, karna libur semester. Aku membuatkan makanan untuknya, dia pasti suka.
“ Hm….. wangi Ra, em… terimakasih ” kata Daniel BRAK ! ! Makanannya tumpah.
“ Am … maaf Ra, aku belum terbiasa dengan hal hal jatuh, biasanya makanan itu akan mengambang dan tidak akan basi, maaf Ra bukan maksudku untuk membuang ini ” katanya sambil menangis dan merapihkan makanan yang tumpah
“ Tak apa aku dapat mengerti kok, sepertinya mulai sekarang kau harus ganti baju yang lebih sesuai dengan umurmu, karna baju yang kamu pilih itu seperti anak kecil, dan juga kamu harus memotong rambutmu ” saran yang kuberikan pada Daniel sambil memegang wajahnya yang besar.
Kami berbelanja bersama, memilih baju, makan cilung, dan lihat proses pembersihan ikan dipasar. Lalu kami langsung kerumah tua dan menjalankan proses pemotongan rambut yang ah, sulit dijelaskan.
“ Baiklah, percayakan semuanya padaku, aku ahli dalam potong memotong huh … \(menghela nafas\) ” kataku. “ Em … kau yakin Ra, aku belum pernah melihatmu memotong sesuatu, dan aku ragu kau bisa melakukan ini. Kita ke pangkas rambut saja, aku kan punya banyak uang. ” alasannya. Aku menggeleng.
“ Oke kita mulai ….. ” emm…. Panjang sebelah. Potong lagi nih yang sebelah sini, eh kok jadi kaya cewe, kurang pendek ya ? Apa gimana sih, yaudah asal aja deh. “ Dah, jadiiiiii ~ berbangga lah pada ku ! Lihat bagus kan ? ”
“ Kalau kamu menyukainya aku akan menerimanya dengan percaya diri ” rayunya “ Darimana kau belajar merayu ? ”tanyaku “ Ya dari bukulah sayang, selama waktu mu berhenti, aku menyempatkan diri untuk membaca buku tau .. ” jawabnya.
“ Ah iya lupa, ini ukiran wajahmu, yang dulu belum bisa kuambil karena lengan ku masih pendek ” katanya sambil memberikan lilin ukiran tersebut “ Wah .. terimakasih ” kataku sambil memeluknya. Terlihat seperti seorang ayah yang mencintai anaknya. “ Em … Daniel, apakah kamu mau ke panti untuk bertemu dengan bunda ? ” Tanyaku
“ Sepertinya bunda juga tak akan mengenaliku, kamu saja tidak mengenaliku sejak bertemu bagaimana beliau ? ” kata Daniel. Ada benarnya juga sih, tapi aku tau dia pasti merindukan bunda pantinya.
“ Oke, besok kita pergi kepanti asuhanmu ya, tak ada salahnya kan untuk mencoba ? ” kataku dan ia hanya mengiyakan perkataanku
__ADS_1