
Chapter 6
Hari ini hari pertama sekolahku, sekolah yang tanggung sekali, aku hanya belajar selama 6 bulan lalu lulus sd, ha ha ha keren banget.
Hari berjalan begitu normal, seperti biasanya berangkat sekolah – pulang sekolah – ngajarin bang Daniel – makan – tidur. Begitu terus setiap hari dan aku tak pernah bosan, bahagia ~ sekali, aku merasa tak ada lagi yang kubutuhkan.
Tiba – tiba
Tok – tok - tok ( suara seseorang mengetuk pintu )
Aku berjalan keluar dan membukakan pintu samba bertanya “ Siapa ? ”
“ Kami dari kepolisian kota tangerang, apakah benar saya berbicara dengan Rachel ? ” kata pak polisi. “ Iya benar saya Rachel, bapak cari siapa ? ” tanyaku dengan rasa bingung.
“ Saya mencari seorang laki - laki tanpa identitas, yang pergi bersama - sama dengan dek Rachel ” kata pak polisi
Hah ? mencari Daniel ? Jangan jangan pak polisi dari tempat tinggal kami aduh aku harus bagaimana, ah iya!
“ Oh si bang Ahmad, sebentar ya aku panggilin ” kataku, yang menyembunyikan identitas Daniel
Aku jalan santai kebelakang lalu kekamar dan memanggil bang Daniel dengan berbisik. “ Bang, oy bang bangun, ada polisi didapan dan kita harus pergi keluar dan membawa barang barang ini kayanya ibu kontrakan melaporkan kita deh ” kataku
“ Ah ? Serius ? Polisi ? Mereka mau ngapain coba ? Ayo ayo bawa uang kita aja ” kata bang Daniel “ Aku bawa batunya ya bang ” kata ku
__ADS_1
Kami keluar dan lari sejauh mungkin, sejauh mungkin, sejauh yang kami bisa, sejauuuuuh jauh pokoknya.
Kami lari, hanya berlari, kemudian terlitas dipikiranku
“ Bang Daniel bagaimana kalau kita pecahkan batu itu di depan para polisi untuk membuktikan bahwa kita tuh ga salah” kata ku sambil terengah - engah
“ Jangan ! Jangan lakukan itu, kau tidak mengerti betapa sunyinya dunia tanpa suara, aku sangat menyesal memecahkan batu itu, aku kehilangan Nathan, Nathan ! Dia menderita karena aku. Aku ! Aku mohon jangan lakukan itu ” kata Daniel sambil menangis dan memegang dadanya.
ada polisi yang mengejar kami. Aduh bagaimana ini? “ Ra, lewat sini Ra ! ” katanya kami berlari dan masuk kedalam pepohonan yang berujung pada hutan lebat .
Kami berlari, lalu Daniel menggendongku. Kami berlari jauh sekali, polisi polisi itu tidak merasa lelah. Daniel tampak kebingungan sepertinya hutan ini adalah wilayah yang baru dan Daniel pun belum pernah lewat sini. Kami berlari asal dan kehilangan arah. Lalu Daniel tersandung akar pohon dan terjatuh. Uh untungnya batunya tidak pecah ! Batunya hanya menggelinding dari pelukanku. Daniel meraih batu yang menggelinding lalu kami lanjut lari dan membuat rencana untuk berpencar.
“ Ra, ketika aku mengatakan ‘sekarang’ kita ber pencar ya ” teriak daniel sambil terengah - engah
“ Sekarang ! ! ! ” kata Daniel. Baru ber pencar kurang lebih 1 meter ternyata itu AH … … tebing ! Daerah yang asing, udara yang berbeda dan dibawah kaki kami menapak ialah ombak ribut. Airnya terlihat gelap ! Kedalaman kurang lebih, dalam sekali. Aduh bagaimana ini.
Tiba tiba pak kepala kepolisian itu meraih tanganku. Aku reflek untuk menghindar dan akhirnya aku jatuh, pak kepala itu juga jatuh karna berdiri terlalu condong untuk meraihku dan kami saling berpegangan tangan. Hidupku bergantung pada pak kepala kepolisian itu.
“ Rachel ! ! ! Rachel tunggu aku akan menarikmu, tunggulah sebentar. Tahan tangan pak polisi itu ! ” kata Daniel
“ Tidak Daniel jangan turun ! Aku bisaaa ! Jangan membahayakan dirimu Daniel ” kataku
Daniel turun dengan batu itu digenggaman tangan kanannya.
__ADS_1
“ Ra ! Raih tanganku. Cepat ayolah, panjangkan tanganmu Ra ! ”teriak Daniel.
Polisi lainnya membantu dan menarik kami. Sayangnya pak kepala terlalu berat dan akhirnya. Kami ja … .
Loh, aku dimana ? Ini dimana ini ? Kok aku disini ? Bukannya aku tenggel, Ah jangan jangan ! ! ini pasti ulah Daniel. Dia pasti memecahkan batunya kedinding tebing dan dia pasti menjalani waktu sendirian lagi. Apa ini? Apa maksud semua ini ! ! Baru saja aku bertemu Daniel, baruuuu sekali. Tapi apa ini? Mengapa dunia tak adil padaku ? Apa kesalahan ku sampai aku tak bisa merasakan kebahagiaan yang cukup panjang ?
Aku hanya butuh Daniel ! Hanya Daniel ! Cuma Daniel. Hanya itu ! Lalu sekarang apa ? aaaa! ! ! ! aku sendiri. Sendiri lagi ! Dunia ini jahat, kau mengambil orang yang tak bersalah ke sisi Tuhan ! Dia yatim piatu, dia sama sepertiku. Tapi mengapa dia duluan ! Dimana aku harus mencari Daniel ?
Dunia memang jahat. Tak ada lagi yang dapat ku percaya, bunuh diri ! Ya bunuh diri adalah satu\-satunya jalan untuk bersama Daniel. Pikirku sambil menangis
“ Rachel ! ”teriak seseorang yang suaranya tidak asing
“ Daniel ! ! ! ! ! ! ! Hei, apa yang kau lakukan ? kau membuat rentang umur kita lebih jauh lagi. Kau memecahkan batu itu lagi kan ? Kenapa tidak mengajak aku, aku pun ingin ikut. Kau tau ? Aku pikir kau berakhir sama seperti Nathan. Lihat ini apa ? Apa maksud dari uban \- uban itu ? dasar bod\*h ! ” kataku sambil menangis dan mengeluh.
“ Hehe . . maafkan aku Ra, selama waktumu berhenti aku menikmati hidup ra, memandangmu setiap hari itu hal yang indah. Dan juga aku ke kuburannya Nathan, Nathan bahagia. Lalu aku mencari Michael disetiap rumah sakit, ternyata dia dikubur tanpa nama Ra, aku turut berduka soal itu dan aku menulis nama Michael pada nisan Michael. Beserta alamatnya. Aku menuliskan agar orang yang melihat nisan Michael bisa langsung kerumah Michael dan menyampaikan kalau Michael adalah anak dari keluarga yang tinggal di alamat tersebut. Selebihnya aku makan tidur dan makan tidur ” jelas Daniel
“ Ra lihat ! Yang tiduran disana adalah pak kepala, kau bisakan menjelaskan hal ini kepadanya sebagai bukti, sementara itu aku akan pergi sejauh mungkin ” jelas Daniel
“ Kau mau pergi kemana ? jangan jauh - hauh dariku ! ” kataku
__ADS_1
“ Tidak bisa Ra, dengan tubuh serapuh ini aku hanya akan menunggu ajalku, ini handphone yang sudah ada nomorku, jadi sering sering lah meneleponku ” jelas Daniel dan ia lari menjauh lalu kembali lagi dan memeluk ku dengan erat lalu ia pergi dengan uban - ubannya itu.
Setidaknya aku masih bisa berhubungan dengannya