Villain Viewpoint

Villain Viewpoint
Bab 011 - melawan para pengkhianat kerajaan bagian 2


__ADS_3

Tap tap tap


Suara langkah kaki berlari.


Aku dan Dae saat ini sedang berlari kearah Ashton berada untuk mengetahui kondisi nya.


"Kira kira gimana keadaan komandan Ashton ya paman?"


Tanya Dae kepadaku dengan wajah penuh cemas.


"Tenang saja. Walaupun aku barusan bertemu dengan nya, akan tetapi aku rasa bahwa ia adalah orang yang cukup hebat dan tidak akan mati dengan mudah."


Jawabku kepada Dae untuk menyakinkan bahwa Ashton saat ini masih hidup.


"Baiklah kalau begitu bila paman yang mengatakan nya."


Sahut Dae dengan wajah penuh senyuman menghadap ke arahku.


"....!"


"Dae!!!"


Teriakku menyebutkan Dae.


Syungg syungg syungg


Sebuah hujan anak panah datang ke arah kami secara membabi buta.


Trang


Dae mengangkat perisai besarnya dan menghadapi nya kedepan.


"Silahkan paman."


Ucap Dae memberikan aku izin untuk masuk berlindung ke belakang nya.


Tanpa pikir panjang aku langsung segera melompat ke belakang Dae dan berlindung dari serangan hujan anak panah yang membabi buta.


Tang tang tang


Suara perisai Dae yang menahan hujan anak panah yang membabi terus menerus menyerang kami.


"Ini pasti gara gara kamu menyerang teman nya, makanya teman nya yang lain murka dan mengamuk. Dae kamu harus bertanggung jawab atas hal ini!"


Ejek ku kepada Dae untuk mencairkan suasana.


"Eh mana bisa gitu."


Jawab Dae dengan terbata bata sambil menahan serangan hujan anak panah.


Tarik


Aku menarik holder ku dan melihat koin kristal yang bisa digunakan untuk situasi saat ini.


Jika aku menyerang secara langsung itu nama nya adalah bunuh diri atau mungkin mati konyol.


Lagipula aku masih bisa untuk menangkis beberapa anak panah akan tetapi jika sebanyak ini. Aku sama sekali tidak bisa untuk menangkis nya.


Ini adalah bunuh diri, bunuh diri, bunuh diri, bunuh diri.


Gumamku dengan wajah penuh keringat.


"Dae gimana kondisinya sekarang?"


Tanyaku kepada Dae untuk mengetahui kondisi sekarang karena saat ini. Aku sedang mencari koin kristal yang cocok untuk digunakan kondisi saat ini.


"P-paman aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi."


Ucap Dae dengan lemas nya karena menahan serangan hujan anak panah yang sudah berlalu lama.


"Tunggu sebentar ya, saat ini aku sedang mencari jalan keluar nya. Kumohon tunggu sebentar lagi."


"Baik paman!"

__ADS_1


Teriak Dae yang semangat membara.


Trungs trungs


Dae perlahan maju kedepan sambil menahan serangan hujan anak panah yang tiada henti nya.


Anak ini… benar benar di luar dugaan. Dia tiba tiba saja menjadi semangat dan maju kedepan secara perlahan tanpa memikirkan resiko nya.


Senyum mengembang muncul di muka ku.


Ah akhirnya ketemu juga.


Aku telah menentukan koin kristal yang cocok untuk digunakan saat ini.


"Baiklah, sudah saatnya untuk memulai permainan utama di panggung besar."


Ucapku dengan semangat membara sama seperti hal nya dengan Dae.


GIVE, GIVE, GIVE, GIVE ME YOUR SOUL


PALADIN TANKERS


"Eh itu kan…"


Ucap Dae yang menoleh ke belakang dengan wajah terkejut.


Sebuah armor zirah yang terpasang pada badan ku dengan motif kuda yang tampak gagah.


"Dae tetap fokus!"


Tegas ku pada Dae untuk tidak mengurangkan kewaspadaan nya.


"Ah iya iya ma-maaf paman."


Sahut Dae yang kembali fokus pada hadapan nya.


"Dae kamu tetap maju secara perlahan. Jika waktunya sudah tepat, aku ingin kau segera menembakan anak panah pada suatu tempat sesuai dengan perintah ku."


Perintah ku kepada Dae untuk tetap maju kedepan sambil menunggu waktu yang tepat.


Syungg syungg


Sleret


Aku mengangkat pedang ku dan memotong anak panah itu menjadi dua dengan cepat nya.


"Paman kamu tidak apa-apa?"


Tanya Dae dengan khawatir.


"Tetap fokus Dae!"


Teriakku kepada Dae untuk tetap fokus dan tidak usah mengkhawatirkan diriku.


Perlahan tapi pasti.


Kami berdua maju secara perlahan dan sudah hampir saatnya waktu telah tiba.


Sedikit lagi, sedikit lagi, ayo sedikit lagi.


Gumamku yang sudah bersiap untuk memberikan aba aba kepada Dae.


Sudah saat nya!


Tak


Aku melempar batu kerikil kecil ke arah kepala Dae dan mengenainya sebagai tanda aba aba.


Dae yang langsung mengerti akan aba aba yang telah saya berikan, langsung mundur kebelakang dan menyerahkan perisainya kepada saya.


Aku memegang erat perisai dengan kukuh.


Dae bersembunyi di belakangku dan menyiapkan busur dan anak panah yang tersisa sedikit.

__ADS_1


"Gimana udah siap?"


Tanya ku kepada Dae yang sedang menyiapkan peralatan senjatanya.


"Sudah paman."


Jawab Dae dengan keras.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan terus maju kedepan secara perlahan dan kamu harus menebak seseorang sesuai dengan arah yang aku perintahkan."


Ucapku yang maju secara perlahan kedepan.


"Sebelah kanan dekat batu besar sebelah situ."


Perintah ku pada Dae segera untuk menebak.


Syungg


Aarrgghh


Satu anak panah berhasil mengenai target melalui kepala nya.


"Kerja bagus. Selanjutnya sebelah kanan tepat bagian sebelah kanan mayat itu, itu adalah musuh yang menyamar menjadi mayat."


Syungg


Dae menembakkan anak panah nya.


Anak panah Dae berhasil mengenai target nya dengan sempurna, tepat bagian mata nya menembus ke belakang.


Dua musuh yang sebelumnya menembakkan anak panah kepada kami pun telah mati dan tidak ada gangguan sama sekali sekarang.


Bagus, sekarang tinggal yang ada di depan sana!


"Paman gimana kamu tahu ada seseorang yang bersembunyi dibalik batu dan menyamar menjadi mayat?"


Tanya Dae dengan mata berbinar binar.


"Itu… adalah insting dari seorang villain yang berpengalaman."


Jawabku dengan sedikit tertawa.


"Uwahh kalau begitu aku juga ingin menjadi seorang villain seperti paman."


Ucap Dae dengan kagum nya


"Yakin?


Tanyaku kepada Dae yang percaya dengan apa yang ia katakan barusan.


"Tentu saja dong, aku ingin terlihat keren seperti paman dan selalu tahu akan banyak hal. Seperti tadi ketika musuh sedang bersembunyi di balik baru atau berpura-pura menjadi mayat."


Jawab Dae dengan percaya diri sambil menepuk dada nya.


Anak ini… padahal kita berdua belum lama bertemu dan tidak terlalu mengenal satu sama lain, akan tetapi ia menggangumi ku seperti ini?


Sepertinya ada yang salah dari ini anak.


Aku menatap Dae dengan kebingungan terhadap sikap percaya diri nya.


"Paman fokus paman fokus!"


Ucap Dae yang menyadarkan ku akan situasi yang kami hadapkan saat ini.


"Ah… Dae makasih banyak telah menyadarkan paman saat ini, paman terlalu banyak pikir sehingga tidak memikirkan situasi sekarang."


Ucap terima kasihku kepada Dae yang telah menyadarkan ku dari terbengong nya diriku terhadap sikap nya.


"Ayo selesaikan ini dan segera kita berdua menyusul ketempat Ashton berada."


Tegas ku kepada Dae untuk segera bergegas menyelesaikan serangan hujan anak panah yang tiada hentinya secara membabi buta.


"Baik paman."

__ADS_1


Jawab Dae dengan keras sambil memegang erat busurnya.


__ADS_2