
Kami berdua saat ini sedang berjalan bersama walaupun berjaga jarak.
"A-anu sebenarnya, kemanakah kita akan pergi?"
Tanya orang itu dengan gugup.
"Pasar budak."
Jawabku dengan nada sedikit tinggi.
"Untuk apa?"
"Untuk menjual dirimu lah, agar aku mendapatkan uang pensiunan untuk bersantai di rumah baruku."
"Ehhh, aku akan dijual!"
Teriak anak itu dengan penuh kaget karena mendengar perkataan ku barusan.
"Tentu saja."
Aku membalik badan ku dan menghadap ke belakang melihat orang itu. Orang itu lebih muda dari ku sehingga aku akan memanggil nya sebagai nak.
Pandangan kami berdua saling bertemu. Aku menatapnya dengan tatapan penuh intimidasi agar membuat dirinya ketakutan. Jika dirinya ketakutan akan mudah untuk mengaturnya sehingga ia tidak akan melawanku nantinya.
Anak itu melihat ku dengan penuh gemetaran.
Padahal aku cuman sekedar menatap tajam kearah dia namun tidak kusangka bahwa akan mengeluarkan suara intimidasi juga. Jadi seperti ini ya aura nya villain, memang sangatlah mengerikan.
"A-aku sebenarnya anak orang kaya."
Anak itu walaupun dia gemetaran ketakutan namun dia masih berani untuk berbicara.
Menarik.
"Lanjutkan."
Ucap perintahku untuk meneruskan pembicaraan nya.
"Jika kamu membutuhkan uang, aku bisa memberikan uang kepada mu secara percuma tapi…"
"....!"
Sruk sruk sruk
Suara yang berasal dari semak semak. Sepertinya ada seseorang yang sedang mengumpat di semak semak.
Aku segera berlari kearah anak itu.
"E-eh ampunilah aku."
Wajah anak itu langsung pucat ketika aku berlari ke arahnya.
Aku langsung memegang tangan nya kemudian berlari.
"Kenapa?"
Tanya anak itu dengan penuh kebingungan.
"Ada musuh di sekitar sini."
Jawabku menjawab pertanyaan anak itu.
"Musuh?"
Srek srek srek
Muncul dua orang dari semak semak secara tiba-tiba.
Kami berdua seketika berhenti berjalan karena mereka berdua menghadang jalan kami.
"Hehehe mau kemana kalian huh?"
Tanya dua orang dengan wajah penuh senyuman seolah-olah mereka sedang memangsa kami berdua.
Mereka berdua mengeluarkan pedang belati yang ada di dalam baju kemudian menodongkan senjata belati ke arah kami.
Tanpa pikir panjang aku mengeluarkan pedang ku kemudian berlari ke arah mereka.
__ADS_1
"Wah kamu berani juga, baiklah kalau begitu. ayoo!"
Ucap salah satu orang itu kemudian mereka berdua berlari ke arah saya secara bersamaan.
Slash Slash
Aku menebas mereka berdua dengan mudahnya.
Srek srek
"Penyusup! Teman kita telah dikalahkan oleh penyusup, tangkap mereka sekarang juga."
Salah satu dari rekan mereka yang telah aku bunuh muncul dan memberitahukan posisi kami kepada rekan mereka lainnya.
"Paman, ayo sebelah sini!"
Anak itu menunjukkan arah dan kemudian berlari, sepertinya ia tahu posisi jalan yang bagus.
Aku mengikuti anak itu dengan berlari sekencang mungkin.
Step step step
Aku berhenti tepat didepan anak itu.
"Itukan…"
"Ayo paman kita naik segera, sebelum mereka menemukan kita dan membunuh kita."
"Ya."
Ternyata anak ini memiliki gerobak beserta kuda di depan nya. Aku masuk kedalam gerobak sedangkan dia yang mengemudikan kudanya.
Ketika aku menaikkan ke atas gerobak. Rasanya seperti de javu, seolah ada sesu-
Syungg
Sebuah anak panah tepat tertembak namun sayangnya itu melesat dan tidak kena.
"Sekarang."
"Baik!"
Hikhikhik
Segera kuda bergerak dengan secepat tenaga.
Aku merasa sesuatu yang menebarkan, seolah-olah ada sesuatu hal yang akan terjadi nantinya.
Bercucuran air keringat turun dari mukaku kebawah. Rasanya hari ini tiba-tiba saja menjadi panas padahal sebelumnya sejuk.
"...."
Kemampuan ku saat ini telah berkembang pesat. Tiap jam tiap menit, terus berkembang tanpa adanya usaha keras.
Ini adalah status ku sebagai villain.
Sebelumnya aku adalah manusia biasa pengangguran yang bisa menghabiskan uang dalam waktu sekejap saja. Dan sekarang aku saat ini villain yang memiliki kekuatan di atas rata-rata manusia umumnya atau lain nya.
Tapi sebagai gantinya, rasa kemanusiaan ku akan berubah. Jadi aku tidak akan merasakan hal sesuatu yang akan terjadi pada manusia umumnya. Sebaliknya aku akan merasa biasa saja seolah-olah biasa saja.
Contohnya adalah ketika melihat mayat. Umumnya manusia akan ketakutan ketika suatu mayat. Sedangkan saya yang sebagai villain akan melihat nya biasa saja dan tidak ketakutan sama sekali.
Aku juga memiliki kekuatan tambahan dari koin kristal yang beragam untuk digunakan. Aku sama sekali tidak tahu jelas dari mana asal usul dan juga hubungan dengan pedang ini.
Karena pedang ini dan koin kristal ini memiliki sesuatu hubungan yang tampak nya istimewa. Sepertinya ini adalah hadiah kompensasi karena telah menjadikan diriku sebagai villain oleh Dewi.
Ketika aku sedang merenung hal tersebut tiba-tiba ada sesuatu hal yang tidak terduga terjadi.
Sekumpulan orang dengan menaikkan kuda saat ini mengejar kami.
Jumlah mereka tidaklah sedikit namun… sangatlah banyak!
Saking banyak nya tidak bisa dihitung seberapa banyaknya.
"Ketua, mereka berdua lah yang telah membunuh rekan kita."
"Jadi mereka ya.. kurang ajar sekali! Habiskan mereka tanpa ampun demi rekan kita yang telah mereka bunuh."
__ADS_1
"YAAA."
Mereka bersorak dengan keras sehingga terdengar jelas disini walaupun jarak mereka antar kami berbeda.
Anak itu menoleh kebelakang karena penasaran. Apa yang sedang terjadi dari belakang.
"I-itukan… tidak mungkin!"
Anak itu menggigit bibirnya ketika melihat gerombolan bandit tersebut yang banyak.
"Kenapa, ada sesuatu yang tidak bisa kamu tangani?"
"Bandit itu, mereka adalah crazy hunter killer yang dikenal sebagai bandit yang membunuh siapapun tanpa pandang bulu bahkan rekan mereka. Mereka adalah bandit yang memiliki ikatan yang kuat sehingga jika ada seseorang yang berhasil membunuh rekan mereka makanya nyawa orang yang telah membunuh rekan bandit itu akan dipastikan mati."
"...."
Aku cuman bisa diam saja karena aku telah mengetahui akan hal itu. Namun karena penjelasan panjang yang barusan ia katakan, telah membuang rasa tegang yang barusan terjadi.
Tiga orang mulai mendekat kearah kami dan bersiap untuk melompat ke gerobak kami.
Aku juga telah bersiap. Aku telah mengeluarkan pedang ku sambil memegangnya erat kemudian memasang kuda kuda. Bersiap untuk menebas mereka seperti daging hewan yang telah dijual di pasar oleh pedagang.
Mereka bertiga secara kompak langsung melompat secara bersamaan. Namun sebelum mereka mendarat ke gerobak kami.
Slash Slash Slash
Aku telah menebas mereka sehingga tidak memberikan mereka kesempatan untuk mendarat ke gerobak kami.
Brukk
Mereka telah terjatuh ke tanah dengan cukup keras.
Seharusnya sih aku menjadi seorang samurai jika aku tahu bahwa kekuatan ku akan seperti ini.
Aku tersenyum sendiri ketika memikirkan bahwa aku adalah seorang samurai bukanlah seorang swordsman.
"Masih belum!!!"
"...!"
Seorang perempuan bertelinga panjang yang sepertinya ia merupakan ras elf saat ini sedang mendekat kearah kami.
"Tidak ada pilihan lain ya nona, selain hal ini."
Perempuan segera melompat dan akan mendarat kegerobak kami namun sebelum ia mendarat.
MEDUSA'S EYES
Tring!
Seketika mataku mengeluarkan sebuah cahaya laser yang langsung mengenai dirinya
"Apa!"
Perempuan itu terkejut karena badannya perlahan menjadi batu.
"Tidak m-mungkin."
Akhirnya perempuan itu membatu sepenuhnya dan mendarat tepat di gerobak kami, berada di hadapan ku dengan posisi bersiap bertarung.
"Hei nak. Segera hentikan gerobaknya sekarang."
"T-tapi..."
"Udah turuti aja."
"Baik!"
Gerobak kami langsung berhenti dengan mendadak sehingga membuat diriku terlempar keatas kemudian terjatuh kebawah.
"Auh."
"Paman kamu tidak apa-apa kan? maafkan aku yang langsung berhenti secara tiba-tiba."
"Tidak apa-apa, aku baik baik saja saat ini. Nah mari kita balikan kondisi kita saat ini."
Aku berdiri dengan memegang kepala dengan sedikit rasa sakit. Kemudian berjalan keluar dari gerobak menuju gerombolan para bandit yang mendekat kemari.
__ADS_1