
Tembakan terdengar menggema. Suara bom yang menggetarkan bangunan nampak akan roboh sebentar lagi.
"kak ayo kak, kita bisa keluar dari sini ayo" gadis kecil itu berusaha menarik lelaki yang dipanggilnya kakak.
"matamu" ucap lelaki itu melihat salah satu bola mata adiknya yang terkena tembakan.
"ayo kak ayo" tarik gadis itu bergetar. Dia tak takut akan kematian dirinya sendiri, yang dia takutkan ketika gedung ini roboh dan melihat kakaknya mati karena dirinya. Dirinya yang keras kepala ingin menaiki di lantai ini. Sudah berlagak sok paling kuat sampai berani menginjakkan kaki disini.
"kakak gabisa jalan lagi, kamu keluar" kata lelaki itu dengan tersenyum. Dia berusaha membuat suaranya tetap tenang dan pada nadanya. Walaupun salah satu kakinya tertembak dan punggungnya robek besar atas pedang.
"bisa, aku bantu. Sini kak sini ayo" ajak sang adik. Lalu terdengar kembali suara bom. Gedung itu roboh. Dengan cepat sang kakak melindungi adiknya, memeluknya menjadikan dirinya perisai kuat bagi tubuh adiknya. Tak peduli apa yang terjadi pada tubuhnya. Seharusnya dia bisa menang dalam pertandingan ini. Bukan malah seperti ini.
~
2 tahun lalu~
"Na, yang pedes ya!!" teriak Fabian dari arah ruang komputernya.
"kan Zanna gasuka pedes kak!" balas si Zanna berteriak sambil bernada kesal karena kakaknya tidak mengerti kemauannyalkm
"ada es di kulkas" ucap Fabian.
Zanna pada akhirnya membuat es jeruk. Karena hanya ada itu di kulkas. Selain itu orangtua mereka selalu sibuk bekerja di luar kota. Entah karena merasa sanggup, Fabian menolak mentah-mentah jika mereka mengirimkan jasa pembantu. Toh Fabian bisa melakukan segalanya sekarang, meskipun meminta bantuan adiknya. Terlepas dari itu sang adik juga tidak ingin pembantu.
Sangat seru ketika menjemur dengan kakaknya, atau mencuci bersamanya. Membagi tugas setiap waktu dan uang sewa pembantu bisa mereka gunakan untuk membeli dua alat game ini.
Ya, mengisi waktu luang mereka memainkan game yang nampak nyata.
Vr atau virtual reality adalah teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer, suatu lingkungan sebenarnya yang ditiru atau benar-benar suatu lingkungan yang hanya ada dalam imajinasi.
Menyangkut informasi tentang Vr, game yang mereka mainkan hanya ada dalam imajinasi. Game bunuh membunuh antar player. Jika mempunyai squad bertotalkan minimal 5 anggota dan 10 anggota untuk maksimalnya. Disini juga ada status sosial dimana masing-masing player dapat mendapatkan status entah itu pasangan, orang penting, kerabat atau teman dekat.
Status sosial yang Fabian dan Zanna cantumkan bukanlah kerabat melainkan pasangan. Didalam game mereka berpasangan. Apapun karakter yang mereka pilih pasti memiliki pasangan. Ketentuan dari game ini, ketika player memilih hero, di sarankan untuk menggunakan hero berpasangan karena menambahkan damage sebesar +20 nampak sedikit jika di lihat dengan angka. Namun nampak besar efeknya ketika mengenai musuh.
"nih, astaga aku tadi nyoba ini dan rasanya emm enak banget. Pedesnya nagih, ya walaupun pedes sih tapi tu enak gituloh ga kayak makananku yang ku bikin kemarin kemarin. Untung aku bikin banyak" oceh Zanna yang didengarkan Fabian dengan cermat. Lelaki itu mengambil 2 potong kentang lalu memasukan kedalam mulutnya. Iya, memang enak. Ketika rasa pedas, manis dan asin bersatu dalam mulutnya. Ketimbang kentang di mall atau hotel. Ini lebih mantab.
"enakkan?" kata Zanna menikmati kentang dengan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"ga enak wle" ejek Fabian.
"yaudah klo ga enak, aku aja yang makan" rebut Zanna dari paha kakaknya.
"Astaga itu aku bercanda. Mana ada makananmu ga enak. Ya ampun bahkan entah ini keberapa kalinya. Kamu tetep aja kayak gini" ucap Fabian.
Pasalnya Fabian sering mengusili adiknya yang polos itu dengan hal yang serupa. Tapi kenapa kekesalan adiknya juga seolah sama.
"lagian kakak juga gitu" seolah memorinya kembali kebelakang. Kalimat itu akan bergema berkali-kali karena seringnya sang adik berkata demikian ketika ia jahili.
Namanya adik kakak, tidak seru jika hanya ada keakuran dan keakraban tiap saat. Untuk itu Fabian melakukan hal menyebalkan tiap saat dan tiap waktu. Entah sampai membuat adikknya menangis atau bahkan tanpa sengaja membuatnya terluka.
"enak sumpah" ucap Fabian merebut mangkuk miliknya.
"dah kubilangkan" timpal Zanna.
Gadis itu asik memakan kentang punyanya sendiri sampai tandas hingga dia melihat sang kakak yang berlari terbirit ke arah pintu karena ada yang memencet bel. Dan dengan bangganya Fabian menaruh dua kardus persegi panjang sedang dihadapan Zanna.
"apaan tuh?" tanya Zanna.
__ADS_1
"game Vr" jawab Fabian menyeringai.
Hanya melihat senyuman kakaknya Zenna jadi tertarik dan mendekat. Ketika dibuka memunculkan dua vr dengan warna hitam. Ini adalah Vr pertama kali yang ada didunia. Setidaknya dengan hal yang nampak sangat nyata. Jika vr sebelumnya menampilkan dunia realistis namun belum sempurna karena masih terlihat seperti kartun. Kali ini benar-benar seperti dunia nyata.
"ayo kita coba" ajak Zanna bersemangat.
"gamenya dirilis besok. Ini vrnya kakak booking duluan soalnya banyak banget yang ngincer" jelas Fabian.
"pasti harganya lebih mahal" kata Zanna.
"engga, kita sering beli game di perusahaan itu dan nama kakak udah tercantum disana berkali-kali jadi harganya tetep sama kayak yang lain"
Zanna hanya membulatkan bibirnya sambil berkata "o"
"hari ini kakak mau dateng reunian SMA. Kamu mau sendirian disini atau...."
"ikut! Nanti kakak digodain sama kak Rise" potong Zanna. Fabian terkekeh geli melihat adiknya langsung memeluk lengan dengan erat sambil menatap matanya.
"yaudah sana ganti baju, kita berangkat jam 5 sore soalnya" kata Fabian.
"ini jam 4 oke aku mau mandi terus pake baju habis itu dandan"
"gausah dandan, apasih kamutu"
"kakak kan tau aku gabisa dandan" ucap kesal Zanna cemberut, dia berjalan menghentakan kakinya ke kamar mandi.
"KENAPA PAKE KAMAR MANDI KAKAK SIH?!" teriak Fabian kesal.
"SERAH AKULAH!" balas Zanna.
Bukan masalah dia adiknya jadi boleh, tapi masalahnya adalah dia akan keluar hanya dengan handuk saja. Dan itu membuat Fabian mati-matian bersikap biasa saja. Pasrah sudah jiwa lelakinya jika keluar begitu melihat tubuh polos adiknya.
Ketika terlihat Zanna online banyak temannya mengirimkan chat secara pribadi. Menyuruhnya agar datang ke acara itu. Karena bingung, Fabian akhirnya hanya mengirimkan foto tangannya diatas keyboard komputer kemudian mengirimkannya di story whatsapp.
Kendaki berharap bahwa temannya diam justru malah makin berkomentar. Seperti contohnya 'kamu punya pacar?' 'itu pacarmu?' dan ya sejenis itu.
Zanna akhirnya keluar kamar mandi melihat kakaknya memainkan ponselnya maka dia acuh menaiki tangga untuk ke kamarnya.
Memakai baju dress berwarna red violet dan sepatu heels serupa, karena satu set jadi dia memakai pita di salah satu pergelangan tangan juga kalung. Malas untuk mengucir rambut, dia hanya membiarkannya tergerai. Eyeliner yang nampak menghias di matanya, lebih menunjukkan garis mata juga maskara yang menimbulkan lentik di bulu mata, taburan tipis bedak, dan juga blush on di sekitar pipi dan hidung. Setelah siap dia berjalan ke kamar kakaknya.
"hai sayang, ratumu datang untuk menjemputmu. Apakah aku nampak tampan sore ini?" tanya Zanna dengan suara menirukan ala pangeran. Iya, suara berat. Dia menirukannya tapi justru terdengar aneh.
"astaga, tampilanmu lucu, cantik terus kamu bersuara kayak om-om gitu. Posisimu juga kayak lagi ngapel anak perawan! Udah gila kamu?" kata Fabian tak percaya. Dia sambil membenarkan dasi namun selalu gagal.
"emangnya dress codenya harus formal ya?" tanya Zanna.
"iya, kamu kayak ini keliatan casual bukan formal. Tapi ya gakpapa, cocok sama jas ku" kata Fabian yang blak-blak an.
"kak, keknya aku suka deh sama kamu" ucap Zanna nampak berpikir. Dia mendekati Fabian lalu pura-pura terjatuh.
"hehe, cuman mau liat kakak dari bawah, ternyata ganteng juga. Pantesan si kak Rise juga suka" ucap Zanna mendatarkan wajahnya karena kesal.
"his, udah ayo cepet. Ini jam 5" kata Fabian mengambil kunci mobil.
Berkelok-kelok karena memang beginilah jalannya. Lagipula hotelnya ada dipuncak,. Zanna membuka ponselnya, menggulir keatas dan kebawah. Membalas semua pesan temannya karena dia memanglah sosok yang friendly bukan sok ngartis sekalipun dia keluarga yang.... Sudahlah.
"ih kakak mah kenapa bikin story kakak di storyku sih? Tuhkan banyak yang chat, terus ini si Satria dia ngoceh mulu tauk. Dahal aku dah bilang aku gasuka sama dia, kenapa dia ngejar terus dan coba lihat nih, dia bilang klo aku suka orang liat fisiknya" omel Zanna membuat Fabian tertawa puas.
__ADS_1
"yaudah bilang aja, kakakku lebih ganteng dari kamu, coba berubah jadi ganteng dulu baru ntar aku terima hahaha" balas Fabian nampak menjengkelkan.
"kakak!!!" panggil Zanna kesal. Dia mencubit pinggang kakaknya sedang. Tak pelan dan tak kencang.
"ah sakit tau" kata Fabian tapi melanjutkan tawanya.
Merekapun sampai di hotel tempat reuni. Dengan nuansa elegan, warna "dark" sesuai dengan tema. Bahkan ketika masuk, hidangannya pun berwarna gelap. Seperti pudding, atau cake atau justru apa ini? Cumi? Sehitam ini? Astaga.
"hei Yan" panggil Eren. Fabian tersenyum menanggapi mereka mengobrol ringan. Ya seperti pertanyaan pada umumnya "kuliah dimana?" "kerja dimana?" "jurusan apa?". Banyak juga dari mereka yang memamerkan kekasihnya masing-masing. Entah secara materi ataupun fisik.
Andrean, Eden, Dehaan adalah temannya masa SMA dulu. Jelas tentu mereka sering ke rumah Fabian, selain luas. Makanan adiknya juga enak untuk dilahap.
"buset apa kabar lu?" sapa Dehaan. Memberikan tos singkat.
"baik, lu semua gimana? Gila parah masih aja jadi satu terus" ucap Fabian sambil memberikan tos pada kedua sahabatnya yang lain.
"baik bro" jawab Eden.
"kayak yang lu lihat" Andrean lalu melirik gadis disamping Fabian yang menatap area minuman.
"itu jus jambu, klo lu mau gua ambilin. Dikasih pewarna item gitu jadi ya nampak menjijikan" kata Andrean.
"widih, cakep juga. Cewe lu?" tanya Eden. Saat Fabian ingin menjawab, Zanna pun menjawabnya duluan.
"iya aku pacarnya, emang kenapa? Gak cocok ya?" tanya Zanna.
"cocok, banget malah. Lu insecure ngeliat pasangan yang lain?" tanya Dehaan.
"lu sama Fabian cocok anjir. Banget malah" kata Andrean.
"lu ngeliat dia ya?" tanya Eden. Fabian akhirnya melihat sorot pandang mereka berdua.
Quenaa dan Wizz. Baju yang nampak sepasang, serasi dimana cantik dan tampan.
"yaelah, orang sini juga pada tau klo si Wizz itu seleranya yang kayak elu. Lucu-lucu gimana gitu, sedangkan si Quenaa lebih dewasa gitu mukanya" jelas Dehaan.
"lu emang selalu suka sama yang bocil ya? Eh btw nama lu siapa?" tanya Eden.
"gila dikata bocil cewe gua" ucap Fabian namun terkekeh
"aku Anna" jawab Zanna.
"hai Bian, lama ga liat kamu. Gimana kuliahmu?" tanya seorang gadis. Ya siapa lagi kalau bukan si Rise. Lihat saja sudah berani memeluk lengan Fabian dengan manja. Zanna jadi jijik.
Gadis mungil itu emosi, namun dia tahan. Lagipula sang kakak juga terlihat tak tertarik. Untuk menjawabnya saja Fabian malas. Sedikit menggeliat tanda risih namun Rise masih saja tak mengerti.
"elu ga liat si Fabian ada cewe? Atau elu yang gatel? Oh ya bukannya tadi elu ngenalin cowok lu ya? Oh dia gada bandingannya sama Fabian jadi elu kesini?" sindir Eden. Lelaki ini doyan sekali memberi pertanyaan menusuk.
"maaf, dia pacar saya bisa jauh-jauh?" tanya Zanna. Dia bahkan sampai pindah posisi tapi justru si Rise malah ke sisi dimana Zanna tadi berdiri. Emang tidak tahu malu.
"gua cabut. Eneg gua" kata Fabian pergi, dia menarik lembut tangan adiknya.
"bentar, aku mau makan puddingnya" kata Zanna.
"aku beliin nanti dijalan"
"sekarang"
__ADS_1
"di.ja.lan." kata Fabian penuh penegasan namun masih terdengar ramah ditelinga Zanna.
Meski mendengar suara ketua osis Fabian tetap melajukan mobilnya.