
Mereka tak melanjutkan langkah untuk ke gerbang 3 menunggu sejenak di gerbang 2 sambil melatih tubuh. Terkhusus Andre dan Aiden, mereka berdua yang dianggap paling kurang mampu untuk masuk di area pertempuran. Yang melatih mereka? Fabian sendiri. Jika tanya mana yang lain jawabannya sudah jelas terlihat.
Albert yang tengah makan di restoran bersama Deon. Sedangkan Ryan justru berkeliaran mencari senjata baru karena senjata lamanya rusak akibat bertarung dengan naga.
Zanna? Gadis itu memilih untuk makan sambil melihat kakaknya melatih kedua sahabatnya sendiri.
"pukul ini" kata Fabian memberi serangan. Aiden memukulnya namun hanya mampu membuat jerami yang dibawa Fabian sebagai pedang loyo. Bukannya terbelah seperti kemauan Fabian.
"gua contohin, yang pertama harus lu punya itu. Lu harus yakin apapun lawannya, apapun kondisinya. Yakin sama diri lu klo lu bisa"
"yang kedua, lu harus fokus sama diri lu. Peduli setan sama musuh"
"yang ketiga, kekuatan tangan disini dibutuhin. Sering-sering ayunin kesana kemari biar terbiasa"
"dan buat lu Andre. Lu coba ganti senjata pake katana"
Andre langsung pergi ke market, dan membeli katana dengan harga 1500 Bp. Katana terbaik yang ada disana.
Tak lama katana jatuh di hadapannya dari atas. Agak terkejut namun dia ambil.
"gini cara pegangnya"
Fabian menunjukkan posisi yang baik, mengeluarkan keatas lalu memegang dengan posisi katana mengarah keatas pula. Kedua tangan yang memegang "Tsuka" (pegangan diposisi bawah katana.
"posisi menusuk"
"atau posisi membelah"
Fabian merubah posisi katana.
Zanna mulai bosan dengan hal yang diajarkan Fabian pada Aiden dan Andre. Pasalnya dia juga sering kali diajarkan hal itu. Entah karena kekesalannya dia yang tak bisa lebih dari kakaknya atau justru karena kakaknya terlalu memerhatikan kedua sahabatnya.
Gadis itu melangkah turun dari bebatuan sebelumnya melihat sekelilingnya yang sepi karena berada ditengah hutan. Tengah hutan yang punya ladang rerumputan.
"kamu mau kemana?" tanya Fabian sambil memberikan satu set perlengkapan memanah untuk Andre.
"aku bosen disini" jawab Bella.
__ADS_1
"sebentar lagi, tunggu kenapa sih" kata Fabian kesal.
"kamu bilang gitu udah berapa kali?" tanya Bella ikut kesal.
"ini jam berapa?" tanya Fabian.
"jam 4 sore kau tau ha? Kalian itu daritadi cuman mainin pedang terus. Emang gabosen? Ga pengen makan? Ga laper? Gakmau istirahat? Astaga dahlah aku aja sendiri" kata Bella.
"bentar lagi, jam 4 dan kita udahan lanjut besok. Oke?" kata Fabian.
"aku cuman mau keliling sekitar sini aja sayang..... Arghhh gemas kali aku" ucap Bella.
"yaudah, jangan jauh-jauh" kata Fabian.
"kalian ini sering gini?" tanya Andre.
"dia itu Zanna" kata Fabian setelah menghela nafas masih melihat punggung adiknya itu.
"loh kok? Kalian incest?" tanya Aiden.
"ya laperlah anjir" jawab Andre.
Gadis itu menyusuri hutan, ingin melihat isi didalamnya. Tak jauh dari tempat kakaknya, dia melihat ada semak yang terus bergoyang. Mendekati perlahan dan menemukan kelinci, sayangnya kelinci itu susah sekali ditangkap. Sehingga Zanna dengan pintarnya membeli wortel yang akhirnya dengan perlahan justru si kelinci mendatangi gadis itu.
"hai, iya makanlah. Makan banyak banyak biar tumbuh besar. Tapi ini ukuran maksimalmu kan? Ya tapi tapi aku tetep berharap kamu bisa tumbuh lebih besar dari ini" kata Zanna ngoceh sendirian.
Si kelinci hanya diam memakan wortel hingga tandas. Zanna dengan gemasnya mengelus lembut atau menciumi bulu halus lembut si hewan mungil. Warna hitam polos dengan mata yang lebih hitam dari bulunya. Membuat Zanna ingin membawanya pulang karena menganggap ini kelinci langka.
"ihhh gigi depannya lucu. Idungnya gabisa diem" kata Zanna menyentuh hidung si kelinci.
Bola bulu di tangannya itu serasa lembut dan empuk. Gadis ini memiliki karakter penyayang namun tertutup oleh sikapnya yang bisa membunuh tanpa ampun.
Zanna atau Bella. Dia adalah pengendali sihir terutama di bidang kesehatan. Apapun sakitnya bisa dia obati sesuai karakter yang dia pilih di awal game. Dia sebenernya bisa membuat ramuan seolah itu obat padahal racun. Formula yang tentu membutuhkan waktu agar bisa dia gunakan suatu saat nanti.
"maaf, kamu Bella?" tanya seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Lelaki ini nampak asing bagi Bella namun tetap di sapa dengan ramah.
"iya memang...."
__ADS_1
Setelah menjawab itu Zanna berteriak meminta tolong. Suara yang keras hingga Fabian langsung menoleh ke sumber suara tak lupa dua sejoli yang ikut menoleh.
"FABIAN!!!! TOLONG!!! DEN!!!! DRE!!! TOLONGGG!!! AHHHH LEPASIN!!" Bella terus berontak. Dirinya tak mau dibawa. Cairan bius yang perlahan masuk di leher membuatnya tak sadarkan diri hingga bibirnya berhenti berteriak.
Fabian yang mendengarnya tentu mengejar adiknya yang entah kenapa bisa berteriak sebegitu kencang. Saat melihat sang adik perlahan memejamkan mata dengan salah satu tangan mencoba meraihnya.
SLUNG!
Sebuah jarum persis mengenai leher bagian belakang Fabian mengakibatkan lelaki itu reflek menarik dan kemudian jatuh tak sadarkan diri. Lelaki ini juga dibawa bersamaan. Semakin menjauh dari titik awal kemudian masuk makin dalam ke hutan.
Sedangkan disisi lain Aiden maupun Andre dibuat bingung tak tahu harus bagaimana. Mereka berusaha mengejar tapi teleportasi digunakan yang tentu tidak bisa mereka gunakan karena karakternya adalah prajurit.
Beralih pada kelima temannya, Andre langsung mengirimkan pesan via grup. Menjelaskan apa yang terjadi sekalipun akan terjadi masalah atau mungkin perpecahan.
Hingga titik temu pun terjadi.
"lu gimana sih bukannya dikejar buruan dibantu malah dibiarin. Itu gimana si Fabian sm si Bella goblok!" umpat Ryan yang emosi.
"sorry, gua gatau klo kejadiannya bakal kayak gini" ucap Aiden.
Mereka diam sesaat.
"lu juga gabisa numpahin kesalahan sama kita. Fabian sendiri yang bilang buat jangan kemana-mana. Yaudah gua turutin" kata Andre membela diri.
"ya lu harusnya langsung peka dong, udah jelas denger si Bella teriak bahkan sekenceng ini. Jarak dari lapangan sono sampe kesini gu lumayan loh. Gila lu ga peka" kata Ryan frustasi. Dia emosi mengenai kenapa dia justru berbelanja dengan enaknya padahal dia yang memberikan saran atas katana.
"feeling gua ada di klan kemaren" ucap Deon mencurahkan isi kepalanya.
"menurut gua juga gitu" ucap Aiden mengiyakan.
Mereka berunding sejenak walaupun entah apa yang selanjutnya yang terjadi tapi harap akan dipertemukan oleh Wahid karena sangat susah menghubungi orang tinggi seperti dia.
Informan di kota juga tak bisa banyak membantu sekalipun diberikan lokasi klan yang di tuju karena gelut kondisi hanya minim orang akan kalah.
Hal yang tak disangka pun terjadi begitu saja.
Sistem: squad dihapus oleh pemimpin.
__ADS_1