Virtual Game

Virtual Game
Rencana


__ADS_3

Flashback


"kak, kak, kak bangun kak" Zanna menggoyangkan pelan tubuh kakaknya. Tak lama dia tersadar.


"naa, kamu gakpapa?" tanya Sang kakak bangkit memeluk adiknya.


"gakpapa, tapi kita ada di klan SB" ucap Zanna.


"emang gada otak mereka, ngapain si? Udah ditolak ga sadar diri berengs*k" umpat Fabian bangkit ingin membuka pintu namun pintu terbuka dengan sendirinya.


Senyum lebar terlihat dari bibir Gustian. Bersama dengan pemimpinnya bernama Elizabeth.


"gua mau balik. Gua akan nerima tawaran lu gimanapun lu maksa gua. Lu paham kaga si? Lu harusnya tau malu, lu harusnya punya etika. Klan yang bisa dibilang gede tapi sama sekali ga punya moral etika" umpat Fabian.


"udah?" tanya Elizabeth dengan wajah dingin.


"dan lu gausah sok adem gitu dah. Gua tau yang lu incer itu gua kan? Ngapain adek gua ikut disini?" tanya Fabian emosi. Dia ingin memukulnya kuat-kuat namun ditahan oleh sang adik.


"huftt, gua bakal lawan temen lu, pasukan gua gabisa lawan mereka. Lu tau kan kelemahan mereka?" tanya Elizabeth menunjukkan ekspresi asli setelah menghela nafas.


"jangan pura-pura gatau. Klan yang punya nama Weird World. Disana ada Wahid, gua gabisa lawan dia sendirian" kata Elizabeth.


Fabian baru tau bahkan Zanna yang pandai mengorek informasi. Karena punya niat tersendiri akhirnya Fabian menyetujuinya walaupun sedikit drama dia tunjukkan.


Gustian dan Elizabeth akhirnya pergi.


Zanna yang paham otak kakaknya hanya menurut, gadis itu memeluk pinggang kakaknya. Bukan karena takut, tapi karena dia tak nyaman dengan sekelilingnya.


Hari ke 2


Zanna jadi pelatih para anggota klan begitupun Fabian. Karena kecantikan Zanna tak jarang anggotanya sering menggoda. Bahkan didepan Fabian. Tapi lelaki itu tak memikirkan, ya bagaimana mau berpikir cemburu kalau Zanna langsung menghabisi di depan mata kakaknya.


"gua udah bilang, gua punya pacar. Lu gabisa liat pacar gua disana? Lu ga takut apa diliatin dia terus lu dibunuh mentah-mentah? Heh bogeman gua ini cuman gini doang aja lu udah meringis. Keenakan lu ha? Enak lu? Nih rasain!" Zanna semakin menarik tangan lelaki itu kebelakang tubuhnya membuat lelaki berteriak kesakitan.


Dari jauh Elizabeth melihat sambil tertawa terbahak. Walaupun cemburu, gadis itu suka dengan tingkah Zanna. Tanpa aturan, tanpa malu, tanpa mau tau apa kata orang. Peduli setan dengan keanggunan.


Hari 3


"permisi, saya Floryn ingin mengajukan permohonan masuk ke dalam klan" kata seorang wanita. Wanita yang nampak lebih tua daripada Elizabeth. Menunjukkan grafik gamenya dan semua informasi tentang dirinya.


"coba kamu lawan dia. Klo bisa menang, kamu masuk sini" kata Elizabeth menunjuk lelaki di dekat Zanna. Namun justru yang dilihat Floryn adalah Zanna.


"baik" kata Floryn menyerang Zanna tiba-tiba.


Karena insting kuat Zanna menoleh segera menghindar. Fabian menoleh melihat kearah Zanna yang langsung lari menghampiri sang adik.


Panah itu meleset tak kena sasaran. Padahal biasanya selalu mengenai sasaran, siapa dia? Kenapa bisa? Batin Floryn.

__ADS_1


"apaan si, lu punya masalah sama gua?" tanya Zanna namun diacuhkan oleh Floryn. Dia kembali membidik.


Fabian dengan cekatan melindungi sang adik namun Zanna menepis busur dengan mudah.


"oh lu mau gua ajarin pake itu? Sini gua ajarin. Jangan begitu anjir, jan malu-maluin cewek. Eh elu udah tua ya klo dari deket. Iya cok kek janda" kata Zanna.


Fabian justru terkekeh pelan atas mulut adiknya yang terlalu barbar.


"nih gini" Zanna mengajari posisi yang baik, lalu memberitahu seberapa besar kekuatan, jarak, dan kecepatan. Semua itu bisa diatur.


Panah melesat, melewati salah satu anggota lalu persis terkena sasaran kayu dibelakang anggota itu.


"gitu, ngerti ga?" kata Zanna.


Floryn mengedipkan kedua mata berkali-kali disambut oleh tawa terbahak dari Elizabeth dimana dengan polosnya Zanna terperanjat ketakutan. Nyatanya manusia lebih menakutkan ketimbang monster. Memilih melawan naga daripada nenek lampir yang tertawa ini.


"SAYANG! ADA NENEK LAMPIR KETAWA. DIA BAWA TONGKAT, MAU NGUTUK AKU. LINDUNGI AKU!!!" teriak Zanna lari ngacir ke Fabian.


Gadis itu bersembunyi di belakang Fabian.


Hari ke 4


Di taman bunga berwarna ungu seperti lambang klan SB. Bosan dengan kegiatan Zanna memilih untuk duduk sendiri. Memetik beberapa bunga ditangan kemudian dia cabut tiap kelopak ke kolam air mancur.


"naa" panggil Fabian disampingnya ada Floryn. Zanna mendongak dan kembali menebarkan bunga.


"oke aku setuju" kata Zanna menatap dingin wanita itu. Fabian duduk di samping adik. Memeluk dari belakang melihat adiknya terus saja menyebar bunga.


Hari 5


Pergi ke butik? Entahlah, Elizabeth aneh. Melawan klan saja harus punya baju bagus untuk dipamerkan ke lawan. Alasannya agar musuh iri.


"gada baju yang lebih simpel? Yakali pake gaun. Ntar gua gabisa gesit kesana kemari. Berat ini cok" kata Zanna membuang gaun itu sembarangan.


"maaf nyonya, apa nyonya mau memilihnya sendiri? Untuk gaun yang biasa ada di lantai dua" kata NPC wanita.


"dah kubilang gakmau aku gaun. Yg biasa aja. Nih ya ku kasih tau. Yang lengannya pendek, panjang gpp deh asal ga ribet. Terus pake celana aja gada gaun-gaun" kata Zanna.


"baik nyonya, silahkan ikut dengan saya" kata NPC. Dia menunjukkan rak sesuai dengan yang Zanna ucapkan. Banyak sekali rupa baju.


"yang satu set sama cowonya ada?" tanya Fabian.


"ada tuan silahkan kemari" ucap NPC. Namun sebelum menunjukkan arah datang Elizabeth.


"gak, gada yang begituan. Cari yang gaun biar anggun" katanya tak bisa diganggu gugat. Bahkan saat Zanna ingin mengoceh, Fabian memberikan kode agar adiknya tetap diam.


"baik nyonya, kemari ikut dengan saya" kata NPC. Setelah naik ke lantai 2 terlihatlah banyak dress diatas lutut. Ada yang berpasangan ada juga yang tidak, jas juga ada. Seolah lengkap tersedia.

__ADS_1


"yang ini" kata Elizabeth.


"yang ini atau ga sama sekali" ucap Zanna memilih pilihannya.


"oke yang itu" ucap Elizabeth setelah itu dia yang membayar.


Hari 6 dan 7


Hari yang terus berputar seperti biasanya. Tidak ada hal menarik lainnya karena itu saya pun bingung mau melukiskan bagaimana. Toh Zanna masih sama tengah melatih panah para anak buah Elizabeth. Sedangkan Fabian melatih pedang. Berbeda dengan Floryn yang entah kemana perginya.


Gustian? Dia seolah makan gaji buta karena duduk berdua bersama dengan Elizabeth.


Bahkan ketika bel istirahat berbunyi, hal yang biasa dilakukan adalah makan. Atau ketika malam, ya bercerita tak jelas sebelum tidur. Tentu saja mereka ditempatkan satu kamar. Ingat, itu sudah biasa bagi mereka. Masih tidak mengerti siapa yang ku maksud? Ayolah gunakan otakmu wahai pembaca.


Flashback off


Kembali ke sosok Ryan yang terbangun. Menguap begitu lebar sambil merenggangkan badan. Terlalu cepat dia bangun, atau terlalu lama temannya bangun? Melihat jam menunjukkan pukul 9 pagi.


"BANGUN WOY BANGUN ADA BELLA DATENG" teriak Ryan membangunkan Aiden dan Andre begitu juga yang lain.


"paan si gila" umpat Albert ingin kembali tidur.


"udah jam 9 bangsat, lu gakmau bangun gitu? Setidaknya ngeliat matahari dulu kek" kata Ryan.


"matahari juga matahari boongan" timpal Andre.


"ga jelas dia mah. Lanjut tidur ges" ajak Albert dituruti rekannya.


"yaudahlah" Ryan menyerah.


Notifikasi muncul.


Sistem: pertarungan antar Klan Weird World vs Klan Squash Blash acara akan segera dimulai. Siapakah pemenangnya?


"wah ada acara menarik ya... Ada yang jual maka langsung dibeli. Ya, Weird World menantang Squash Blash untuk bertanding, menurutmu siapa yang menang?. Disisi Weird World sendiri terdiri dari 2 player yang memiliki title juara di klasemen internasional dan juga 5 pemain di klasemen nasional. Sedangkan disisi Squash Blash memiliki 1 player title juara klasmen internasional dan 2 player pemain nasional. Dilihat dari pengalaman pertandingan, Weird World memiliki KD (Kill Death) yang bagus yaitu dengan total 39 pertandingan kill 39 death 0 sedangkan untuk Squash Blash memiliki KDA total 42 pertandingan kill 35 death 6. Wow perbedaan yang mencolok bukan? Saksikanlah para player klasemen terbaik di negara ini!"


Sistem: share location


"eh lu sem...." ryan yang ingin memberitahu temannya mendadak terdiam saat menoleh karena temannya ternyata mendengarkan.


"gas ga sih rusuhin?" tanya Albert.


"jangan gegabah" tegur Deon. Lelaki ini seolah benar-benar menggantikan posisi Fabian.


"kita maju bukan tanpa rencana kan" ucap Albert.


Merekapun akhirnya menyusun rencana.

__ADS_1


__ADS_2