
Suara tembakan terdengar. Mengenai kaca hotel, dengan sigap Zanna bangun mengeluarkan skill pelindung untuknya dan untuk kakaknya. Sedangkan kakaknya perlahan terbangun lalu benar-benar membuka mata ketika melihat perisai yang Zanna buat. Berupa bulatan transparan. Fabian menajamkan mata, melihat bahwa didepannya ada sniper yang siap menembak tepat pada kepala Zanna.
"bisa teleport kesana?" tanya Fabian.
"teleport ke kamar Aiden" ucap Zanna. Merekapun berpidah ke kamar Aiden dimana lelaki itu tengah tidur dengan posisi nyaman.
Tembakan kembali terdengar. Kali ini bervariasi, shuriken nampak menancap di kaca kamar Aiden. Membuat pemiliknya terbangun lalu dengan segera Aiden terbangun dan berjaga-jaga namun dikejutkan oleh Zanna juga Fabian yang sudah bersembunyi. Zanna melambaikan tangan sambil tersenyum sedangkan Fabian melihat keadaan sekitar dan benar saja.
Gerombolan squadnya langsung masuk memenuhi ruangan Aiden.
"gua yang karakter sesuai sama lawan. Gua bakal nyoba bunuh dia. Dari sini gua lihat dia juga player. Tapi kenapa dia bisa...."
"gua nolak tawaran masuk klan" kata Fabian.
"hah????" kata Ryan dan Albert bersamaan. Ya mereka terkejut karena Fabian memilih squad ketimbang klan sebesar itu.
"gua bantu lu" kata Aiden kesal.
"elu cuman bisa main pedang anjir" umpat Deon. Ya lelaki ini memiliki kekuatan shadow kill. Bayangan yang bisa membunuh.
"disana ada 3 orang. Gua juga join. Bell, jagain kita dari belakang" pinta Fabian.
Saat melesat cukup cepat Aiden heran karena seketika dia berada dalam pertandingan bersamaan dengan Fabian juga Deon. Berdecih remeh saat sadar lawannya sangat licik. Pintar dan licik mempunyai garis pembeda yang tipis? Atau memang sama tidak ada bedanya?
"kena umpan nih" kata player bernama Satria.
"yoi ini karna ide gua" ucap temannya bernama Tio.
"wah ada ketua gede nih" puji, bukan ini ejekan. Bahkan nada mengejek itu jelas terdengar di telinga Fabian. Player ini bernama Ryz "Ris".
Fabian menyeringai, dirinya lihai menggunakan senjata apapun. Dia tau kelemahan lawan didepannya saat mencuri-curi waktu kala mereka sibuk berbicara.
Satria, dia ini player yang memiliki keahlian khusus sama seperti milik Deon. Shadows kill.
Ryz, player yang hanya mampu menyerang jarak jauh. Dia ini pemegang senapan.
Tio, ini sama halnya dengan Fabian. Dia bisa menguasai banyak senjata tapi tidak sejago Fabian. Tidak sebagus Fabian dalam cara penggunaan. Karena bisa belum tentu mampu.
"selamat datang di dunia Acme, permainan akan dimulai dalam 3.... 2.... 1.... game start"
Deon melesat cepat begitu juga Aiden. Karena lawan Aiden adalah si Ryz dia harus berhati-hati melangkah atau nyawanya hilang.
Fabian nampak tenang melihat Tio. Dia hanya menunggu lawan untuk melawannya dahulu. Karena tidak ada pergerakan Fabian pun membuka mulut.
"mau sampe kapan ngeliatin gua? Gua tau gua ganteng" kata Fabian dengan malas.
"cih, gantengan juga gua" ucap Tio berusaha percaya diri.
__ADS_1
"ngeliat gua ga bikin gua mati dan kalah" kata Fabian melirik tajam kearah Tio. Dia mengeluarkan pedang dan pistol secara bersamaan.
Tio berjaga-jaga dengan memasang kuda-kuda. Namun sepertinya lengannya sudah terkena besetan pedang dari Fabian yang malah berpindah dibelakangnya.
"yakin ga serius ngelawan gua ?" tanya Fabian melihat kearah pedang ditangannya.
Tio melirik kemudian menoleh, dia tertawa getir lalu berdecih miris.
"GUA GAKAN MATI!!!!" teriak Tio menembak Fabian kemudian secepat laser dia menebas tubuh Fabian.
"gua disini" kata Fabian tengah jongkok menatap kupu-kupu.
"SIALAN!" Tio kembali menyerang Fabian dengan beringas, memukul, menusuk, menembak. Dia akan melakukan semua hal hanya untuk membunuh musuh didepannya.
"gua bilang gua disini" ucap Fabian bertengger diatas pohon sambil makan apel.
Tio mendengus kesal, jadi itu adalah bayangan Fabian. Secepat apa lelaki itu, sekuat apa lelaki itu. Dia tidak mau mati bagaimanapun caranya.
Kembali Tio berusaha berlari sekuat tenaganya namun akhirnya keadaan berbalik menjadi Tio yang di hentikan segala aktivitasnya dengan sekali serangan. Katana ditangan Tio justru sedikit lagi membeset di leher juga pistol yang mengarah di bagian perut.
"lihai memakai semua senjata, tapi tidak mampu melakukan sekaligus. Perkuat salah satunya dulu, baru pelajari yang lain. Itu saranku. Dan aku tidak akan membunuhmu, menyerahlah aku tau kamu ketuanya" saran Fabian.
"Rize Fire menyerahkan diri, silahkan ambil hadiah para pejuang!"
"pejuang Werewolf memenangkan pertarungan, silahkan ambil hadiahmu, wah pejuang hebat! Kamu akan menjadi pewaris Dunia Acme!"
Setelah pertandingan itu, Fabian tahu kalau mereka sebenarnya suruhan para klan busuk yang kemarin sempat menghampirinya. Dengan ancaman jika tidak bisa membawa Fabian juga kekasihnya maka salah satu dari mereka akan jadi bahan uji coba.
Uji coba ini pelatihan antar anggota. Klan busuk itu telah merenggut banyak nyawa hanya untuk menciptakan kandidat paling berkelas diantara yang lain. Fabian juga tau bahwa klan itu tidak lebih dari sekedar sampah.
Bayangkan saja, sudah 1 hari berada di dunia Acme sudah membuat 150 lebih nyawa melayang sia-sia. Entah untuk uji coba ramuan yang mereka beli di market atau uji coba kekuatan anggota. Menyerang namun seseorang yang diserang hanya dikat di pilar besi kokoh. Untuk membalas saja tidak mungkin.
Fabian menjelaskan kenapa dia bisa tau. Ya jelas karena dia pernah memainkan game ini, dia juga tau pemilik klan dan klan apa saja yang bagus dan tidak.
Wahid, ini kenalan Fabian. Sesungguhnya lelaki ini mencari sosok Wahid yaitu teman lamanya di game. Mereka bermain game yang sama setiap kali rilis game baru. Entah mmoprg atau game lain. Orang yang membuat klan bernama Squash Blash. SB ini memiliki total 42 anggota yang 9 diantaranya nama mereka ada di leaderboard nasional juga 2 nama di leaderboard internasional.
"gua gabisa jamin lu selamat. Saran gua lu sembunyi di lantai Vais daripada disini lebih banyak anggota si Gustian udah jelas lu bakal jadi buronan" saran Fabian.
"rencana gua bakal kesana juga. Sorry karena serang lu gajelas" ucap Tio.
"sans" timpal Fabian memberi tos ala "lakik"
Zanna mendatangi Fabian segera melihat kondisi kakaknya yang untungnya tak terluka sama sekali. Berbeda dengan lelaki disebelah Fabian yang sedikit tergores.
Gerakan lihai membuat Tio tersungkur ditanah. Tangannya dibelakang punggung, lehernya diangkat dengan tangan Zanna yang memegang belati tajam.
"sayang, jangan kasar" tegur Fabian menghampiri Zanna. Mengelus pelan pipi sang adik kemudian menyuruhnya bangkit.
__ADS_1
Decihan kasar keluar begitu saja dari mulut gadis cantik. Matanya nampak sinis menatap ketika lelaki tak beretika. Dia kesal. Sangat.
"m-maaf kita...."
"pergi, gabutuh penjelasanmu. Ayo cabut " ucap Bella pada Tio juga mengajak temannya untuk pergi dari sana karena kecewa ditolak sebelum berkata.
Melewati gerbang kedua kembali hadir kuma-kuma sebagai tempat konfirmasi pemain. Setelah masuk dikagetkan dengan naga yang besar dan anak buah yang sama jenisnya namun lebih kecil.
Mereka bertujuh bersiap melawan serangan dadakan ini. Mau tidak mau harus maju demi ke babak selanjutnya.
Tebasan kesana kesini atas banyaknya musuh. Naga api menyemburkan api dari mulut. Suasana padas penuh pacuan adrenalin.
"Deon!" teriak Ryan saat temannya akan terkena semburan. Bella melindungi Deon dengan bola pelindung yang sudah dia siapkan. Melemparkan ramuan di lantai tempat berdiri Deon agar dapat mengisi HP (Health Point).
Fokus menghadapi serangan jarak dekat. Fabian memanjat ingin menumbangkan naga secara banyak sekaligus. Usahanya berhasil ketika dua naga tumbang atas tusukan persis diatas kepala naga itu.
Sedangkan yang lain kesusahan terlebih si Andre juga Aiden dimana mereka berdua pemain pemula. Berulang kali mereka terkena serangan, berulang kali pula Bella membantu mereka. Karena memang pada dasarnya kurang terlatih.
"gua bantu Andre lu ke Aiden" perintah Deon untuk Albert.
Saling bantu membantu dan akhirnya para naga kecil berhasil di tumbangkan. Sekarang masalah utama. Terletak dibagian naga didepan mereka yang ukurannya 10 kali lebih besar.
"gua tadi nyoba nebas kakinya. Tapi dia sembuh cepet banget" kata Fabian.
"terus gimana?" tanya Ryan ngos-ngosan.
"serang barengan gak si? Terus si Bella jadi kang healing aja" saran Albert jongkok.
"bro sorry, gua cacat banget tadi" kata Andre.
"klo pedang yang lu pake keberatan, pake katana aja" saran Ryan melirik Andre.
"gabisa make" timpal Andre.
"serah lu" balas Ryan fokus ke naga.
"ribut aja kalian. Oke rencananya gini. Gua serang bagian atas bareng Deon. Terus Ryan sama Albert di bagian sayapnya. Dan lu berdua di bawah. Sesuai saran Albert, Bella healing dari jauh" tegas Fabian matang.
Mereka semua menyetujuinya. Mulai menyerang secara bersamaan. Dengan begini kulit tebal naga susah untuk regenerasi cepat karena diserang di banyak tempat.
Kaki ataupun ekor yang tergores, juga sayap. Belum lagi pukulan di kepala untuk memecah konsentrasi naga yang dilakukan Deon juga Fabian.
Fabian terjatuh terhantam lantai namun segera Bella menggerahkan kekuatan untuknya. Sedangkan disisi lain Aiden terhempas ke sudut kiri cukup kencang oleh ekor besar sang naga. Dilanjut Deon yang oleh karena kibasan sayap.
"DIKIT LAGI!!!" teriak Ryan bersemangat. Melihat HP naga yang hanya menyisakan 10.000 dari total 50.000.
Fabian berdiri menusuk dada Naga hingga akhirnya berkurang drastis.
__ADS_1
"selamat para pejuang, anda memasuki tahap berikutnya. Ambil hadiahmu dan silahkan memasuki gerbang selanjutnya untuk mendapatkan tahta dunia Acme"