Virtual Game

Virtual Game
Desa Western Expanse


__ADS_3

Malam harinya mereka berkumpul jadi satu. Yang terluka disini tak hanya Bella. Tangan Fabian karena memukul jadi memar. Atau lengan Andre terkena besetan. Ya walaupun luka itu akan menghilang jika meminum potion.


Memilih tempat yang jauh asing dari pemukiman, walaupun jauh jarak ditempuh, Fabian akan melakukan demi terhindarnya masalah lagi.


Toh dirinya dengan kejadian ini berhasil melarikan diri dari klan menjijikan itu.


"sayang, aku laper" kata Bella manja.


"sayang telek onta. Heh gua udah tau elu Zanna anjir" ucap Andre kesal.


"eh iyakah?" tanya Bella.


"iya" jawab Albert.


"hehe hai kak Andrean" sapa Zanna menunjukkan deretan gigi.


"najis" kata Andre.


"nyenyenye. Dahlah"


"kak aku laper loh, beliin makan ayo" pinta Zanna pada Fabian.


"mau apa kamu?" tanya Fabian.


"pasta" jawab Zanna.


Fabian melihat di market, dan menemukan ada pasta daging. Membeli 2 porsi lalu bertanya dengan temannya meminta apa. Setelah itu pesanan datang dari samping tubuhnya. Seperti hologram yang bisa di pegang dan dimakan.


Berganti ke sisi lain. Tubuh asli Fabian juga Zanna tengah berbaring di rumah sakit dengan segala perlengkapan yang dibutuhkan. Sedangkan setidaknya ada 5 juta kasus meninggal dunia akibat game yang membuat kerusakan pada otak. Cara kerja VR seperti lucid dream dimana tubuh istirahat tapi otak terus bekerja. Hal itu membuat ketegangan pada otot otak kemudian menyebabkan stress berat.


Untungnya 2 hari setelah kejadian orangtua mereka pulang dan menemukan sang anak terkapar tak berdaya dengan vr yang terpakai. Berita tak hanya tersebar di negara Indonesia, tapi banyak negara terutama Jepang sebagai pembuatnya. Banyak kecaman menuntut Jepang untuk tanggung jawab atas kasus ini. Namun tak segera di usut Jepang justru membuat pengalihan dengan mendistribusikan produk robot yang lebih ramah lingkungan.


Mesin detak jantung selalu merekam apa yang terjadi pada tubuh mereka berdua. Infus yang terpasang juga alat oksigen di hidung mereka. Semua itu pelengkap dengan ruangan VIP dua orang. Nampak luas dan nyaman.


Ketika salah satu dari mereka tengah melakukan adegan pertarungan, detak jantung mereka meningkat seiring dengan apa yang terjadi di dunia game.


Kembali ke dalam game, Fabian berniat untuk naik ke lantai Mesaio artinya lantai medium atau ketiga. Lantai yang menunjukkan dunia elf yang cantik namun dibalik kecantikannya ada penjara bawah tanah yang memiliki tawanan seperti Orc, Ghoul, Goblin, laba-laba dan Titan


"gua ga yakin sih sama kekuatan gua yang standard ini. Bisa ga tetep disini sampe level gua naik?" tanya Aidan tidak percaya diri.


Albert level 11


Deon level 10


Ryan level 9


Fabian level 15


Bella level 14

__ADS_1


Aidan level 9


Andre level 8


"heh lu hampir nyamain level gua cok. Kenapa sih, kita ini tim. Wajarlah ada yang jago ada yang goblok kek elu" ejek Albert. Dia sebenarnya memuji namun terdengar seperti kata sindiran.


"oke, jangan kelamaan naikin level. Kita harus cepet kelarin game ini karena udah 3 bulan disini. Jangan sampe namatin ginian doang setahun" tegur Fabian.


"hah sebulan? Kita disini baru berapa hari anjir" kata Albert tak paham.


"gimana sih lu 1 hari disini sama dengan 12 jam di dunia nyata. Ya menurut lu klo di itung berapa bangsat?" tanya Fabian gemas.


"oh segitu ya? Gatau ah mtk jeblok" jawan Albert malas berpikir.


Hari-hari pun dihabiskan dengan latihan dan terus latihan. Meskipun di selingi dengan bersantai. Tidak ada batasan waktu di dunia ini, mau sampai kapan player akan menyelesaikan. Si kuma-kuma pasti akan menunggu.


Karena jauh dari pemukiman, mereka hanya mengisi waktu dengan yah, berburu monster di hutan atau bermain kartu remi.


"wle wle menang aku lagi hahaha kak Albert bodoh ih" ejek Zanna saat kartunya lebih besar dari milik Albert.


"haish, gua ga ngerti kenapa nih cewe lebih jago daripada gua" kata Albert mengacak rambutnya kesal.


"hehe, kurang latian aja" ucap Zanna bangkit dari duduknya. Fabian mendongak menatap tanpa bertanya.


"mau ambil selimut, dingin" kata Zanna. Gadis itu pergi mengambil.


Melanjutkan bermain kartu, Albert mengocok shuffle lalu membagikan kartu ke tempat yang berbeda dari sebelumnya. Ryan nampak menguap lalu menyudahi. Dia masuk ke tendanya. Tersisa Albert, Deon, Aidan. Andre kemana? Dia sudah daritadi tidur. Jelas karena dia mati-matian menaikkan levelnya hingga sekarang dia selevel dengan Deon.


"males gua cok ngeliatnya" komentar Aidan kesal.


"sama, ya mau gimana lagi kan" kata Albert membuang kartu terburuknya.


"eh gua kemarin nemu cewe" lanjut Albert, Aidan menatap Albert penuh harap.


"masih muda gitu dia, keknya seumuran elu deh" kata Albert.


"dimana? Kenalin dong" pinta Aidan.


"di pasarlah. Orang dia NPC" jelas Albert membuat Fabian dan Zanna terkekeh.


"lu tau ga? Ada cewe namanya Jasmine. Dia main game ginian, terus dia bikin squad gitu isinya cewe semua" ucap Deon tiba-tiba.


"alah nipu ya lu" kata Aidan.


"yaelah, baru ngomong dikata nipu. Males dah ngasi taunya" kata Deon kesal.


"eh eh ya ampung si abang gitu doang marah ges" kata Aidan merayu.


"lah emang ada Yon?" tanya Albert.

__ADS_1


"ada, namanya Rainbow Girls kan" tebak Fabian.


"nih abang gua, semua cewe disana udah pernah dicicipin dia" kata Zanna berbohong.


"mulutnya ya...." kata Fabian gemas mencubit kedua pipinya.


"weh, liat ah" kata Aidan melihat urutan Squad di monitor. Ya memang ada, terlihat juga biodata masing-masing pemain beserta foto yang lengkap.


"buset iya cok, cakep-cakep. Gila gila. Eh liat, anjir dia lebih jago daripada gua cokkk ah gua kudu lebih jago titik. Ga debat" kata Aidan bersemangat. Dia menemukan motivasi di hidup bahwa terus naikkan level agar bisa setara dengan gadis incarannya.


"si Queen mah dah punya doi" ucap Deon.


"kok lu tau gua ngincer dia?" tanya Aidan bingung.


"keliatan cok" tambah Albert.


"doinya si Damian, temen Fabian yang gelut kemaren. Gila lu, lu harus setara sama si Fabian biar bisa bersaing" kata Deon.


"sans. Dikit lagi ini bisa" kata Aidan bersemangat.


"hahaha mangat yak Dan" kata Zanna memotivasi. Lalu dia bersandar untuk tidur.


"gua males denger nama Damian" kata Fabian sambil mengelus adiknya.


Pagi harinya Fabian berniat untuk pergi ke lokasi yang belum pernah dia kunjungi maupun yang lain. Sebuah kota kecil yang terletak di dekat gunung, dibawahnya ada danau yang luas. Sebagai sumber air banyak pemukiman mengelilingi. Nampak indah nan asri, Zanna terpukau saat melihat pemandangan dari atas gunung. Mereka berjalan setidaknya 6 kilometer jauhnya.


Saat sampai dipemukiman mereka disambut oleh warga NPC yang dermawan. Senyuman terlihat manis semuanya.


"ada perlu apa kemari?" tanya ibu tua yang membawa sekeranjang roti.


"kami cuman keliling aja bu, ngeliat liat ada apa aja disini. Oh ya, ibu jualan roti?" tanya Zanna.


"iya, toko ibu disana" kata ibu itu sambil menunjuk toko roti.


"boleh kita kesana?" tanya Zanna mengambil keranjang berniat membantu.


"iya, tentu saja. Belilah yang banyak untuk bekal perjalananmu" ucap sang ibu menepuk lengan Zanna lembut.


Mereka mengikuti sang ibu tua itu masuk kedalam toko. Didalamnya banyak aneka roti. Entah kering maupun basah. Ada pula pudding kenyal nan lembut, Zanna gemas ingin membelinya karena berbentuk kelinci. Dia jadi teringat kelinci hitam yang dia temukan di hutan.


"bu ini berapa?" tanya Zanna setelah meletakan keranjang berisi roti.


"20Bp nak" jawabnya sambil menata roti yang lain.


"wah, ini barusan jadi ya? Anget. Bu aku mau ini" kata Aidan. Dia menyukai roti strawberry yang hangat.


Membayar kemudian langsung melahapnya. Senyum terlihat di bibir sambil terus mengunyah. Karena penasaran, Zanna pun membelinya. Dan benar rasanya enak, hangat, lembut, manis, gurih menjadi satu didalam mulut.


"enak?" tanya sang pemilik.

__ADS_1


"bangett ih aku sukak. Kak kak ini coba makan" kata Zanna memberikan roti bekas ia makan. Fabian mengigit tanpa basa basi. Wajah yang nampak biasa saja. Tapi dia langsung membeli roti itu. Toh lelaki itu maniak strawberry.


__ADS_2