
Zanna tak nampak kecewa juga senang. Dia biasa saja, tidak sesuai perkiraan Fabian. Sedangkan Fabian berhenti dipinggir jalan sambil membuka ponselnya.
"ngapain?" tanya Zanna.
"masih mau pudding?" tanya Fabian.
"ga, tadi aku mau ambil itu buat di timpukin ke kak rise sih. Klo ditanya mau makan apa. Aku mau makan steak sama ramen" jawab Zanna. Lebih ke meminta.
"berarti di restoran Fubuki?" tanya Fabian.
"bukanloh, yang ada di mall itu. Jadi restorannya sebelahan gitu. Aku mau nyoba, mallnya barusan buka juga. Dan bikin cabang restoran disana" jelas Zanna.
"namanya apa?"
"rameen, sama tavern" jawab Zanna.
Tanpa basa basi Fabian melajukan mobilnya kesana. Mall yang dituju ada di pusat kota. Agak jauh dari tempatnya sekarang namun dekat dengan rumahnya. Ya dengan kata lain mereka sebenarnya membuang waktu untuk ke hotel bertemu dengan si Rise ini.
Karena mobil sport yang digunakan Fabian ini memiliki suara yang besar. Ketika memasuki area parkir nampak menggema. Bahkan ketika mereka turun banyak pasang mata melihat kearahnya seolah berkata "keren".
Mobil ini bukan pemberian orangtuanya, melainkan usaha mereka berdua. Streaming game di youtube atau aplikasi streamer. Mendapatkan fans dan gift secara besar-besaran. Jika dikumpulkan maka dapatlah uang untuk membeli mobil sebagus ini. 3 tahun setelah jerih payahnya, baru bisa membeli mobil ini. Meskipun masih ada sisa, Zanna memberi ide untuk diberi ke panti asuhan.
Kembali ke mall, Fabian melepaskan dasinya saat menaiki eskalator. Saat itu gadis tengah melihatnya namun dia tak peduli. Sedangkan Zanna melepaskan kalung di lehernya juga pita ditanfannya namun tak bisa dia lakukan sendiri. Fabian yang peka membantu adiknya lalu mengantongi pita itu kedalam saku celananya.
"ganteng banget"
"hus, cewenya ntar denger. Tapi mereka cocok"
"cogan hilang satu lagi huaaa"
"iya juga ya,huaaa"
Zanna menoleh kearah dua gadis yang seusianya lalu tersenyum.
"anjir kirain mau ngelabrak, senyumnya manis banget. Gua klo jadi cowo udah jelas jadiin dia pacar"
"kan elu cewe. Dia juga dah punya cowo"
"eh bro cakep banget tuh cewe"
"kagak cakep, dia lucu"
"parah si masa udah punya cowo aja. Padahal gua lebih cakep"
"stress, udah jelas cakepan cowonya anjir"
__ADS_1
Zanna tak peduli dengan suara para lelaki yang menggoda, atau memuji? Entahlah. Fabian justru yang merasa risih sehingga merapatkan tubuhnya dengan tubuh adiknya. Zanna yang merasakan itu mendongak keatas melihat kakaknya yang tengah menahan emosi.
Sampai di lantai 3 mereka duduk dibarisan paling ujung. Memesan 2 porsi steak ditambah 2 porsi nasi. Ya, mereka tidak akan puas tanpa nasi.
"sebel banget aku klo kamu tuh dilihat banyak cowo gitu. Dan lagi, kamu itu cantik banget klo dandan. Astaga keluar dari sini aku mau karungin kamu ajalah" gerutu Fabian menyilangkan tangan didepan dada.
"aku ga peduli mereka. Lagian kamu juga diliatin cewe-cewe loh" ucap Zanna menyiapkan kamera ponselnya lalu mendekat kearah kakaknya.
"hai semuanya. Aku lagi makan di mall pusat kota. Makanannya belum dateng sih klo udah dateng nanti aku kasih lihat. Dan ini adalah pacarku yeay" kata Zanna. Dia tengah melakukan siaran langsung instagram.
"eh liat ini komennya. Ih lucu-lucu"
"udah itu makanannya" tegur Fabian.
"bentar ya semua" ucap Zanna pamit tapi tidak mematikan siaran langsungnya.
"ini double steak chicken sama tenderloin medium rare nya. Ditambah dua porsi nasi juga minumannya ice lemon tea dua" ucap pelayan mengabsen setiap pesanan.
"iya makasih" kata Zanna.
"kembali kak. Ini untuk bill nya" kata pelayan menyerahkan kertas.
"dibayar sekarang?" tanya Zanna.
"iya kak" jawab pelayan, Fabian mengambil dompet disakunya dan mengambil kertas ditangan Zanna.
"wih gila lihat ini, nah punya si Fabian double steak chicken. Aneh dia mah lebih suka ayam" komen Zanna.
"na, makan. Diem. Jangan ngoceh terus. Hai temen-temen semuanya. Zanna nya makan dulu ya, nanti sambung lagi. Bayy" ucap Fabian lalu mematikan siaran langsung Zanna.
"okay selamat makan" kata Zanna menikmati dagingnya.
Mereka berdua terdiam. Hanya suara adu an garpu, pisau dan sendok.
Mall ini terletak di pusat kota. Sekelilingnya terdapat juga satu mall yang mewah selain itu juga ada banyak hotel bintang empat sampai lima yang mengelilingi lapangan. Iya, lapangan ini disebut lapangan pancasila. Masih terhubung dengan panca yang berarti lima. Lapangan ini menyatukan 5 jalan berbeda arah dari setiap kota. Jalur atas selatan, jalur kiri barat, jalur bawah utara dan sebelahnya ada arah timur laut dan sebelahnya lagi ada arah timur juga.
Kalau malam menjadi alun-alun kota karena disetiap jalannya diperindah yang memang layak untuk dijadikan tempat nongkrong atau berpacaran. Sekedar melihat jalanan sambil membicarakan sesuatu.
Beberapa pedagang asongan mempunyai wilayahnya tersendiri untuk berjualan. Demi keindahan dan kerapian tata letak kota. Para pedagang masih diijinkan asalkan tidak masuk kearea pinggir jalan yang menganggu aktifitas kendaraan atau malah berada didalam lapangan.
Street food memiliki tempat tersendiri yaitu berada persis didekat patung yang menjadi simbol kota. Air mancur yang mengucur.
Ada mall yang lebih mewah daripada mall yang ditempati Zanna saat ini. Mall ini bernama Horison. Mall didalam hotel ini memiliki kesan yang elegan menawan. Nampak mewah dari luar maupun dalam. Bahkan di dalam sana ada proyektor yang membuat animasi ikan seolah berada diatas kepala kita. Eskalator dengan besi mengkilat bagaikan kaca. Atau malah karpet besar yang berada di lantai satu sebagai wujud mewahnya mall ini.
Hidangan dan sajian yang di berikan selalu menampilkan harga yang wajar sesuai dengan kemewahan mall ini.
__ADS_1
"itu gamenya rilis jam berapa?" tanya Zanna.
"jam 9 pagi katanya" jawab Fabian mengambil tisu untuk diberikan ke adiknya.
"ohh, mabar kan sama aku?" tanya Zanna.
"iyalah, makanya bangun pagi" tegur Fabian. Zanna pun menyipitkan matanya tak terima. Ya memang harus begitu lagian yang selama ini bangun siang adalah kakaknya. Bukan dirinya.
"masih kuat perutmu nampung ramen?" tanya Fabian.
"masihlah" jawab Zanna menepuk perutnya tersenyum lebar. Fabian menggelengkan kepalanya. Apakah wajar gadis sepertinya makan sebanyak itu? Dan anehnya kenapa adiknya tidak mempunyai badan gendut?
"kamu ke sana duluan, kakak mau beli itu. Kamu mau?" tanya Fabian menunjuk kedai es krim.
"mau lah!" kata Zanna.
"nah kamu ngantri ya.. Soalnya itu antriannya panjang banget. Daripada gabut mending mengemil es krim" ucap Fabian.
"okay, aku rasa vanilla dan kakak rasa strawberry" kata Zanna menyuruh seolah dia adalah mama.
"iya ma" timpal Fabian terkekeh mengelus pelan pipi adiknya.
Dia berjalan santai ke area kedai es krim yang nampak sepi itu. BnQ memang sepi. Harga yang mahal dengan porsi sedikit. Sebenarnya sesuai dengan kualitas es krim tapi orang lebih memilih memakan es krim murahan ketimbang kantong kering hanya untuk sesuap es krim.
"1 vanilla oreo medium terus 1 strawberry wafer. Wafernya yang. Nahh iya itu. Medium" kata Fabian.
"udah itu aja"
Kembali, Fabian menghampiri adiknya yang menjadi posisi ke empat.
"nih, daritadi masi ke 4?" tanya Fabian heran.
"tadi ke 6 sekarang ke 4 apaan si ah" kata Zanna kesal.
Melihat adiknya menggunakan dress diatas lutut membuatnya was was ketika ada lelaki di dekat jendela terus menatap paha adiknya. Jiwa lelakinya bangkit sehingga memposisikan dirinya didepan adiknya. Melepas jas lalu melingkarkan di pinggang Zanna.
"cowo baju merah, dia ngeliatin kamu terus" kata Fabian. Zanna pun mengikuti intruksi. Karena game, dia pun sudah lihai melihat tanpa menatap. Segera dia pergi dari barisan.
"permisi kak, maaf, itu cowonya ngeliatin saya terus daritadi. Saya jadi risih" kata Zanna berkata didepan gadis yang disebelahnya entah siapa.
Fabian mengelengkan kepalanya smbil menghela nafas. Kenapa adiknya terlalu blak-blak an seperti ini.
"iya kak, maaf ya kak. Saya sibuk makan daritadi. Maafkan adik saya" kata gadis itu berdiri.
"jangan diulangi ya" ucap Zanna lalu gadis itu memukul berkali-kali adik lelakinya yang nakal. Walaupun berkali-kali pula dia membela diri.
__ADS_1
Zanna tidak nafsu lagi, dia meminta pulang kerumah untuk tidur. Lagipula ini sudah jam 8 malam.