
Sistem: squad dihapus oleh pemimpin.
Mendapat notifikasi seperti itu membuat Albert yang kali ini meluap.
"si anjing sialan itu bisa-bisanya kekeh buat ngambil Fabian. Ga ada otak beneran itu" umpat Albert. Deon masih nampak tenang, bukannya tak peduli dia justru ingin melanjutkan apa yang Fabian ajarkan pada kedua temannya yang kurang mampu menggunakan senjata dan berada diarea pertempuran.
Deon yakin bahwa Fabian akan terlihat di muka publik dan itu jelas menunjukkan lokasinya berada dimana. Setelah itu dia akan mengambil kembali Fabian. Sebelumnya, dia harus melatih kedua sahabat Fabian agar bisa dijadikan petarung handal. Meskipun disisi lain ke empat temannya ini tengah adu debat yang tak membuahkan hasil.
"berisik! Bacot aja terus. Emang bikin Fabian sama Bella balik? Stress lu" kata Deon pergi menuju padang rumput meninggalkan mereka.
Ryan berdecih menyusul Deon begitu juga Albert yang dengan sengaja menyenggol bahu Aidan.
"bro sorry" kata Aiden kemudian mengikuti mereka bersama Andre. Walaupun Andre sempat menolak karena pada dasarnya Andre ini keras kepala.
Ya sesuai dengan rencana Deon terus jadi pelatih. Bahkan menginjak hari ke 7. Sedangkan Ryan membantu, karena dia pandai menggunakan pedang, jadi dia membantu Aiden. Sedangkan Andre dilatih Deon dengan panah. Mulai menguasai, sedikit demi sedikit agar dia terus jadi hebat. Melebihi Deon kalau bisa.
Panah melesat mengenai batang pohon meski ada dipinggir. Tidak masalah, itu sebuah kemajuan. Daripada dari kemarin hanya terus meleset.
"makan sat! Lu ga laper apa?" tanya Albert menyuguhi banyak makanan.
Ada buah, minuman, makanan berat, dan roti.
Entah monster hutan darimana yang membuatnya banyak mengeluarkan uang.
"buset, makanlah anjir laper gua" kata Aiden bergabung dengan yang lain.
"Ndre lu ga makan?" tanya Ryan.
"Aiden udah bisa pake pedang. Gua juga harus bisa pake ginian. Biar ku panah hatimu dengan busur asmaraku" kata Andre kembali membidik dan melepaskan panah. Walau meleset.
"yaelah, ntaran juga bisa. Masih pagi ini cok. Sarapan lah anying" kata Albert memakan buah apel.
"buset dah ada babi cok!!" teriak Andre lalu menggunakan panahnya.
__ADS_1
Panahnya terkena persis di perut seekor babi itu. Menimbulkan suara takjub dari temannya yang melihat. Deonpun bertepuk tangan dengan ayam di bibirnya. Matanya menyipit karena tersenyum senang.
"gila lu ndre. Lu bisa bidik tuh babi, belum lagi lu bisa bikin Deon senyum" puji Ryan diangguki Albert yang sibuk makan mie kuah.
"hwebhat Ndreh uhuk uhuk" kata Aidan terbatuk karena makan sambil berbicara.
"mampus!" kata Ryan tertawa. Andre akhirnya menyerah, toh perutnya menunjukkan bunyi menggelikan bagi telinga.
Bergabung menikmati hidangan sambil ngobrol santai. Ya, seorang lelaki memang mudah melupakan hal yang baru saja terjadi. Seperti contoh ya kejadian lalu.
Dalam 7 hari ini mereka berhasil naik ke lantai Mesaio. Berjuang menghadapi naga albino dengan api biru. Bukan 1 tapi 2. Untungnya masih level kecil yang bisa dibilang "hanya". Setelah naga ada burung elang yang sangat besar, besarnya 30 kali lipat dari ukuran aslinya. Bayangkan saja sebesar apa dia. Kepakan sayap yang sangat susah untuk di atasi, atau kukunya yang tajam siap untuk merobek kulit siapa saja yang mendekati. Paruhnya yang kuat siap mengoyak.
2 pertandingan lainnya lawannya bukan lagi monster melainkan player sesungguhnya. Ya tentu, pertarungan antar player. Mau tidak mau mereka harus melakukannya demi memanjat ke lantai tertinggi.
Sore harinya mereka kembali latihan mengasah kemampuan, tak hanya Aiden dan Andre. Melainkan mereka berempat. Menggunakan ramuan abadi yang tahan selama 15 menit. Sehingga ketika terkena serangan akan kembali pulih. Sayangnya, ramuan itu hanya bisa digunakan 15 menit saja.
Saling menyerang satu sama lain, saling terluka tapi tak masalah. Itu bisa diatasi dengan ramuan seharga 2000 Battle point. Harga yang tidak terlalu mahal untuk ramuan mujarab itu.
Saat malam menjelang, mereka memilih untuk tidur di tenda. Membeli tenda ketimbang harus terus menyewa hotel adalah pilihan yang bagus. 1 tenda bisa diisi 2 orang itupun seharga 7500 Battle point sedangkan jika dihotel harus membayar 2000 per malam.
Aiden pergi keluar, dia bosan. Membeli kopi hangat juga sebungkus rokok. Meskipun ini bukan rokok kesukaannya tapi baguslah game ini tau bahwa benda ini dibutuhkan lelaki.
Duduk diatas batu dimana Bella pernah juga mendudukinya. Melihat kearah Bulan sambil menyesap pahit manisnya kopi panas. Dia tak rindu kehidupannya di dunia nyata. Lagipula rumit jika terus dipikirkan. Harus mengurus perusahaan ayahnya ketika lulus kuliah, atau justru menuruti ibunya yang harus menerima gadis pilihan. Semua hidupnya diatur atas dasar orangtua.
"oi" tegur Deon. Aiden hanya menaikkan alis sambil menepuk tempat disebelahnya. Dia menawari rokok yang jelas diterima oleh Deon.
"dikasih rokok doang, gada korek" sindir Deon, Aidan terkekeh.
"gua kira lu gabisa diajak bercanda. Tadi aja elu ga ketawa" kata Aiden memberi korek.
"itu bercanda?" tanya Deon polos.
"ya ampun ternyata lu serius. Okelah" kata Aiden salah paham. Dia menepuk jidatnya pelan dan tersenyum tak waras.
__ADS_1
Setelahnya terdiam, seolah bergelut dengan pikiran masing-masing. Hanya memikirkan sesuatu yang tak pasti mungkin?
Malam yang tenang, angin dingin menerpa menimbulkan sensai dingin yang menggairahkan. Dingin yang membuat candu. Karena menenangkan, membuat nyaman dan sejenisnya.
" balik ke dunia nyata, si coki klo masih idup kayaknya bakal main ini game. Terus gua bakal cari dia disini. Dan ngebayangin ada orang gila yang ga percaya tuhan, jadi percaya sama developer gara-gara terperangkap di game sialan ini" ucap Aiden yang absurd.
"hah?" balas Deon.
"oh kirain lu tau. Dia ini komedian yang tahun 2021 pernah viral gara kasus nyabu. Ya katanya dia gay gara-gara dia nonton bokp gay. Menurut gua itu kebebasan dia milih genre apa karena setiap orang fetishnya beda-beda. Lu juga mungkin aja suka sama genre bdsm. Tapi bukan berarti elu orang yang kasar kan?" kata Aiden.
"oh, gua tau coki pardede kan? Si pemuda tersesat. Well, yang lu omongin bener. Baca di situs sih waktu itu ada kejadian pelecehan dari KPI terus si Saipul Jamil yang ya setaralah kasusnya. PDI, partai yang ngebikin presiden jadi bonekanya. Semua kasus itu dialihkan sama 1 kasus yaitu kasusnya si coki nyabu" ucap Deon.
"wih keren keren" kata Aiden terpukau dengan pemikiran Deon.
"lu suka sama konspirasi?" tanya Deon.
"iya suka banget, sekedar pengen tau aja tentang masa lalu kayak apa" jawab Aiden.
"sekarang dunia ga punya agama. Seolah Coki itu memerankan kita duluan. Tampang tengil yang di judge jahat. Padahal sekedar konten untuk hiburan. Kita bahkan gatau realitas hidup dia kayak apa" kata Deon.
"fyi, gua punya agama di ktp doang. Ya, sekedar formalitas aja. Lagian sekarang gereja jadi tempat hiburan, pure jadi tempat pertunjukan, vihara jadi museum, masjid jadi panggung"
Aiden menghisap rokoknya lalu melanjutkan bicara, setelah dia tertawa renyah mengerti satir yang dimaksud.
"gua gatau harus percaya siapa. Bahkan mungkin dia yang lu sebut tuhan. Mau duit ya kerja, mau pinter atau bisa ya usaha. Semua itu tergantung diri sendiri pada dasarnya. Mengenai keberuntungan itu belakangan, ini skill boy bukan hoki" lanjut Aiden.
"g30spki kayaknya kita alami sekali lagi. Ya sekedar pembunuhan massalnya aja sih... Entah tentang yang bersalah ataupun gak. Lu tau ga sih? Yang bunuh diri gara-gara depresi sama nih game udah tembus 12 juta jiwa lebih. Gua bersyukur gua bukan orangnya" kata Deon.
"gua suka sama pemilihan kalimat lu yang lebih cari aman hahaha" kata Aiden.
Ya terus saja membahas hal tak penting itu. Lelaki selalu melakukan hal itu, semua mereka bahas, politik, agama, konspirasi alah. Gabut mau gimana lagi?
Makin larut mereka kembali ke tenda, keakraban terjalin karena pemikiran yang sama. Begitulah lelaki, kalau perempuan?
__ADS_1
Benar yang dikatakan Deon. Tentang bunuh diri yang player lakukan. Berpikir karena tak sanggup terus berada disini. Atau mungkin menyerah dengan kondisi. Banyak diantaranya memilih mati karena tak punya motivasi. Dan sedikit diantaranya terbunuh karena klan Squash Blash