Wajahku Tidak Secantik Hatiku

Wajahku Tidak Secantik Hatiku
EPS 11


__ADS_3

Pada hari itu adalah hari idul fitri dan kami susah


mencari bidan ataupun dukun beranak karena memang hari besar dan bannyak yang


tutup. Sampai ada tetangga kita yang memilki tamu kebetulan dia seorang bidan


dan membantu ibumu untuk melakukan lahiran normal yang darurat itu. Kamu


terlahir ketika adzan subuh yang tepatnya lahir setelah 1 hari dari idul fitri.


Ibu sangat menyesal ketika itu, ibu tidak bisa


membantu ibumu untuk membawa dia ke rumah sakit. Dia merintih dan mengeluh


bahwa dia kesikitan dan sudah tidak kuat.


“ mba aku sudah gak kuat…. Bawa aku kerumah sakit, aku gak kuat mba….”


Ibu hanya bisa menyeka keringatnya dan menjawab


dengan menangis pilu didepannya “ mba gak punyak uang nduek untuk kamu berobat,


apalagi mamak  sudah menjual gelang


pemberian bapak untuk kamu pulang kesini, maafkan mba nduek gak bisa membawa


kamu kerumah sakit.” Ibu hanya bisa memeluknya dalam maut yang siap untuk


merengkuh badan rapuhnya. Dia hanya tersenyum dan beusaha untuk berbicara


dengan susah dia berbicara


“mba anakku perempuan kan… to..long, rawat dia dan


jauhkan dari jangkauan ayahnya. Bawak anakku sejauh mungkin. Dan rawatlah semua


putra putriku dengan hati mu mba, salamkan keputriku ketika dewasa nanti bahwa


ibunya tidak bermaksud untuk meninggalkanya. Dan bilang kepadanya bahwa aku


akan selalu bersama langkahnya dan aku akan berdoa dan memohon di sela ajalku


ini aku tidak menyesal melahirkannya dan aku tidak menyesal menikah denagn


ayahnya sampai adanya dia dan kakaknya, aku berdoa ahar dia selalu menjadi


senja yang mengawali semua kebaikan untuk semua orang di sekitarnya. Mba tolong


ketika dia tanya ayahnya, jawablah apa adanya dan kesiapan hati dan fikiranya


mba. Katakan aku sangat mencintai nya sampai nafas terakhirku”. Ibu mu pun


menghembuskan terakhirnya dengan tenang dan damai senyum nya.


Jika kamu tanya kepada ibu bagaimana ayahmu ketika


ibumu waktu itu, jawabnya ada di surat surat kecil yang dituliskan oleh ibumu


untuk mu nak.


Off Pov ibu aci


Aku menatap pusaran ibuku dengan mata yang tanpa


henti mengeluarkan air mata. Dan hatiku sedikit lega akan kejelasan tentang


ayahku yang memang masih ada dan bukan sengaja ataupun tidak menerima aku,


melainkan takdir dan keadaan yang terjadi yang memang harus di lakukannya.


“bu aku pamit dulu, maaf aku selalu mengutarakan


amarahku kepadamu seperti ini. Aku tidak tahu aku harus meluapkan kepada siapa


ketika seperti itu. Bu …. Jika memang didalam suratmu aku tidak diperbolehkan


bertemu dengan ayah maka aku akan pergi dari hidupnya dan menata ulang hatiku


yang hancur ini denagn perlahan.”


Aku berjalan mendahului bu aci yang masih dia


didepan pusaran ibuku. Bu aci mengusap batu nisan ibuku dengan menyiratkan


sesuatu di wajahnya .

__ADS_1


“nduek lihatlah…. Anak perempuanmu menjadi sosok yang kuat dan tak mudah rapuh


begitu saja, aku akan membuka tabir yang selama ini kamu tutupi kedapa semua


orang leawat tangan anakmu, tabir dimana kamu datang dan pergi begitu saja


ketika itu.”


“bu ayo… kita pulang keburu malem dan kita masih


belum menyiapkan semua nya , anak anak menunggu kita.”


Author pov..


Tanpa mereka sadari sekarang ada yang memantau


mereka dari arah lain dan orang iru tak pernah beranjak dari awal senja datang


hingga bu aci datang. Dia mengambil semua gambar setiap gerakan senja dan bu


aci. Dan mengirimkan kepada seseorang yang memang menyuruhnya untuk tetap


selalu memantau makam tersebut.


“bos … saya sudah mengirimkan semuanya. Hari ini ada


seorang gadis dan ibu ibu paruh bayah.”


……. ….


“iya bos… saya samar mendengar dan mengkros check ke


penjaga makam bahwa mereka adalah senja dan bu aci, keluarga dari nyonya arumi.”


….. …..


“baik bos saya akan menyelidiki ini segerah”


Off author


RUMAH SENJA…


Kami pun sudah bersih bersih dan melakukan kegiatan


dan memberi apapun yang dia berikan kepada kami. Setelah itu aku dipanggil oleh


bu aci untuk memberikan surat kecil yang di tuliskan oleh ibuku.


Aku pun menerima itu dengan mata berkaca kaca. Dan bu


aci pun merangkulku dengan erat. “nak… apapun yang ada di dalam surat itu


berdamailah dengan masa lalu mu dan memulai dengan yang baru dan lebarkan hatimu


utuk menerima siapapun didalam hatimu.”


Lalu ibu aci keluar dari kamarku dan menutup pintu


kamarku, aku menatap kotak itu dengan tangan gemetar aku membuka kotak itu yang


bertuliskan “UNTUK PUTRIKU”.


Aku membuka kotak itu dan langsung melihat foto ibu


dan foto seorang anak laki laki yang selama ini ku cari keberadaannya. Foto itu


adalah kakaku, yang lama terpisah dariku. Aku pembuka surat kecil dari ibuku


yang berisi,


“utnuk


putriku……..


anakku, ketika kamu pertama kali membuka surat ini, ibu berdoa agar hatimu


sudah berdamai dengan keadaan dan berbesar hati untuk semuanya. Ibu akan


menceritakan kepada mu tentang ibu ayahmu dan juga kakakmu. Tetapi sebelum itu


ibu mau mengatakan bahwa ibu memohon pengampunanmu, memohon belas kasihmu untuk


mendoakan ibu disini dan selalu untuk mengingat ibu dalam setiap tarikan


nafasmu. Maaf ibu tidak ada didalam pandanganmu,maaf ibu tidak bisa melanjutkan

__ADS_1


hidup ibu maaf juga ibu tidak dapat memberikan pendidikan pertama kepadamu maaf


ibu tidak bisa ada untukmu berkeluh kesah, maaf ibu tidak bisa menjadi orang


pertama untuk memelukmu dalam keadaan engkau rapuh, tapi ibu sudah mencari


orang yang tepat untuk dirimu ibu menitipkan engkau kepada ibu keduamu, yaitu


kakak kandung ibu nak. Kamu boleh mebenci kamu boleh menutup hatimu untuk maaf


ibumu ini. Tapi kamu harus tahu ibu tidak menyesal melahirkan kamu dan ibu


bangga kamu menjadi seorang wanita hebat dan selalu tegar untuk semua ini.


Ibu tidak akan lupa dengan ini semua, dan jika kamu ingin tahu ayahmu diamana,,..


ibu bisa menjawabnya dengan buku yang ibu taruh menjadi satu dengan surat kecil


ini.


Anakku,ibu sangat mencintai dirimu dengan segenap hatiku


anakku, ibu rela mati demi kehidupanmu


anakku, ibu …. Pergi,dan tak kan kembali, tapi ibu akan selalu ada didetiap


langkahmu dan tarikan nafasmu. Anakku aku sangat mencataimu…..


Menjadilah wanita kuat dan pintar serta berhati tulus kepada siapapun.


Terima kasih sudah mau berjuang dengan ibu pada saat ini.


Anakku ibu pergi…..


                                                                               Cinta Arummi


Aku membaca surat ini saja aku seakan nafasku


terhenti secara pelahan. Ibuku masih sempat menulis ini disaat ajalnya menumui


nya. Aku bagaikan anak yang tidak tahu diri, bahkan aku memaki nya di depan


pusaranya. Karena takdir yang mempermainkan kita, aku semakin penasaran dengan


ibuku yang akan menceritakan figur ayahku yang selama ini kucari. Aku membuka


lagi kotak itu untuk mencari buku yang dimakasud oleh ibuku, dan menemukan buku


itu, warnanya sudah usang dan sudah hampir menjadi serpihan yang kurang enak


dipandang.


Aku mebuka buku itu dengan perlahan, dan membaca


lembar demi lembar yang menceritakan diamana ibuku menjalani hidupnya untuk


mengais rejeki yang menghidupinya. Sampai pada lembar yang ke 10 aku melihat


nama yang sangat asing di pelihatan dan pendengaranku, MARDIAN SMITH  itulah awal kertas kesepuluh dituliskan. Aku mebuka


dan membacanya.


“ aku bertekad untuk bekerja dikota ini dan mengais


rejeki yang halal untuk anak anakku. Aku pergi dan datang ke kota B pukul 6


pagi dini hari, aku sudah mengantongi sebuah alamat yang menerima aku untuk


bekerja sebagai seorang pelayan di restorsn siap saji. Meskipun hanya pelayan


tetapi gajinya lumayan untuk menghidupi anak anakku. Aku pun bekerja tanpa


mengnal lelah dan mengirimkan hasilnya kepada ibuku untuk membiayai anak


anakku.


6 bulan aku bekerja suadh di kota ini, sampai aku


bertemu dengan seorang laki laki yang duduk menyender di tiang listrik yang ada


di depan restoranku bekerja. Dia seperti kesakitan dan menahan nyeri didaerang


dadanya. Aku pun mendekati dia dan ketika melihat ekspresi nya yang sudah pucat


dan tidak kuat menahan sakitnya dia.

__ADS_1


__ADS_2