
Pada hari itu adalah hari idul fitri dan kami susah
mencari bidan ataupun dukun beranak karena memang hari besar dan bannyak yang
tutup. Sampai ada tetangga kita yang memilki tamu kebetulan dia seorang bidan
dan membantu ibumu untuk melakukan lahiran normal yang darurat itu. Kamu
terlahir ketika adzan subuh yang tepatnya lahir setelah 1 hari dari idul fitri.
Ibu sangat menyesal ketika itu, ibu tidak bisa
membantu ibumu untuk membawa dia ke rumah sakit. Dia merintih dan mengeluh
bahwa dia kesikitan dan sudah tidak kuat.
“ mba aku sudah gak kuat…. Bawa aku kerumah sakit, aku gak kuat mba….”
Ibu hanya bisa menyeka keringatnya dan menjawab
dengan menangis pilu didepannya “ mba gak punyak uang nduek untuk kamu berobat,
apalagi mamak sudah menjual gelang
pemberian bapak untuk kamu pulang kesini, maafkan mba nduek gak bisa membawa
kamu kerumah sakit.” Ibu hanya bisa memeluknya dalam maut yang siap untuk
merengkuh badan rapuhnya. Dia hanya tersenyum dan beusaha untuk berbicara
dengan susah dia berbicara
“mba anakku perempuan kan… to..long, rawat dia dan
jauhkan dari jangkauan ayahnya. Bawak anakku sejauh mungkin. Dan rawatlah semua
putra putriku dengan hati mu mba, salamkan keputriku ketika dewasa nanti bahwa
ibunya tidak bermaksud untuk meninggalkanya. Dan bilang kepadanya bahwa aku
akan selalu bersama langkahnya dan aku akan berdoa dan memohon di sela ajalku
ini aku tidak menyesal melahirkannya dan aku tidak menyesal menikah denagn
ayahnya sampai adanya dia dan kakaknya, aku berdoa ahar dia selalu menjadi
senja yang mengawali semua kebaikan untuk semua orang di sekitarnya. Mba tolong
ketika dia tanya ayahnya, jawablah apa adanya dan kesiapan hati dan fikiranya
mba. Katakan aku sangat mencintai nya sampai nafas terakhirku”. Ibu mu pun
menghembuskan terakhirnya dengan tenang dan damai senyum nya.
Jika kamu tanya kepada ibu bagaimana ayahmu ketika
ibumu waktu itu, jawabnya ada di surat surat kecil yang dituliskan oleh ibumu
untuk mu nak.
Off Pov ibu aci
Aku menatap pusaran ibuku dengan mata yang tanpa
henti mengeluarkan air mata. Dan hatiku sedikit lega akan kejelasan tentang
ayahku yang memang masih ada dan bukan sengaja ataupun tidak menerima aku,
melainkan takdir dan keadaan yang terjadi yang memang harus di lakukannya.
“bu aku pamit dulu, maaf aku selalu mengutarakan
amarahku kepadamu seperti ini. Aku tidak tahu aku harus meluapkan kepada siapa
ketika seperti itu. Bu …. Jika memang didalam suratmu aku tidak diperbolehkan
bertemu dengan ayah maka aku akan pergi dari hidupnya dan menata ulang hatiku
yang hancur ini denagn perlahan.”
Aku berjalan mendahului bu aci yang masih dia
didepan pusaran ibuku. Bu aci mengusap batu nisan ibuku dengan menyiratkan
sesuatu di wajahnya .
__ADS_1
“nduek lihatlah…. Anak perempuanmu menjadi sosok yang kuat dan tak mudah rapuh
begitu saja, aku akan membuka tabir yang selama ini kamu tutupi kedapa semua
orang leawat tangan anakmu, tabir dimana kamu datang dan pergi begitu saja
ketika itu.”
“bu ayo… kita pulang keburu malem dan kita masih
belum menyiapkan semua nya , anak anak menunggu kita.”
Author pov..
Tanpa mereka sadari sekarang ada yang memantau
mereka dari arah lain dan orang iru tak pernah beranjak dari awal senja datang
hingga bu aci datang. Dia mengambil semua gambar setiap gerakan senja dan bu
aci. Dan mengirimkan kepada seseorang yang memang menyuruhnya untuk tetap
selalu memantau makam tersebut.
“bos … saya sudah mengirimkan semuanya. Hari ini ada
seorang gadis dan ibu ibu paruh bayah.”
……. ….
“iya bos… saya samar mendengar dan mengkros check ke
penjaga makam bahwa mereka adalah senja dan bu aci, keluarga dari nyonya arumi.”
….. …..
“baik bos saya akan menyelidiki ini segerah”
Off author
RUMAH SENJA…
Kami pun sudah bersih bersih dan melakukan kegiatan
dan memberi apapun yang dia berikan kepada kami. Setelah itu aku dipanggil oleh
bu aci untuk memberikan surat kecil yang di tuliskan oleh ibuku.
Aku pun menerima itu dengan mata berkaca kaca. Dan bu
aci pun merangkulku dengan erat. “nak… apapun yang ada di dalam surat itu
berdamailah dengan masa lalu mu dan memulai dengan yang baru dan lebarkan hatimu
utuk menerima siapapun didalam hatimu.”
Lalu ibu aci keluar dari kamarku dan menutup pintu
kamarku, aku menatap kotak itu dengan tangan gemetar aku membuka kotak itu yang
bertuliskan “UNTUK PUTRIKU”.
Aku membuka kotak itu dan langsung melihat foto ibu
dan foto seorang anak laki laki yang selama ini ku cari keberadaannya. Foto itu
adalah kakaku, yang lama terpisah dariku. Aku pembuka surat kecil dari ibuku
yang berisi,
“utnuk
putriku……..
anakku, ketika kamu pertama kali membuka surat ini, ibu berdoa agar hatimu
sudah berdamai dengan keadaan dan berbesar hati untuk semuanya. Ibu akan
menceritakan kepada mu tentang ibu ayahmu dan juga kakakmu. Tetapi sebelum itu
ibu mau mengatakan bahwa ibu memohon pengampunanmu, memohon belas kasihmu untuk
mendoakan ibu disini dan selalu untuk mengingat ibu dalam setiap tarikan
nafasmu. Maaf ibu tidak ada didalam pandanganmu,maaf ibu tidak bisa melanjutkan
__ADS_1
hidup ibu maaf juga ibu tidak dapat memberikan pendidikan pertama kepadamu maaf
ibu tidak bisa ada untukmu berkeluh kesah, maaf ibu tidak bisa menjadi orang
pertama untuk memelukmu dalam keadaan engkau rapuh, tapi ibu sudah mencari
orang yang tepat untuk dirimu ibu menitipkan engkau kepada ibu keduamu, yaitu
kakak kandung ibu nak. Kamu boleh mebenci kamu boleh menutup hatimu untuk maaf
ibumu ini. Tapi kamu harus tahu ibu tidak menyesal melahirkan kamu dan ibu
bangga kamu menjadi seorang wanita hebat dan selalu tegar untuk semua ini.
Ibu tidak akan lupa dengan ini semua, dan jika kamu ingin tahu ayahmu diamana,,..
ibu bisa menjawabnya dengan buku yang ibu taruh menjadi satu dengan surat kecil
ini.
Anakku,ibu sangat mencintai dirimu dengan segenap hatiku
anakku, ibu rela mati demi kehidupanmu
anakku, ibu …. Pergi,dan tak kan kembali, tapi ibu akan selalu ada didetiap
langkahmu dan tarikan nafasmu. Anakku aku sangat mencataimu…..
Menjadilah wanita kuat dan pintar serta berhati tulus kepada siapapun.
Terima kasih sudah mau berjuang dengan ibu pada saat ini.
Anakku ibu pergi…..
Cinta Arummi
Aku membaca surat ini saja aku seakan nafasku
terhenti secara pelahan. Ibuku masih sempat menulis ini disaat ajalnya menumui
nya. Aku bagaikan anak yang tidak tahu diri, bahkan aku memaki nya di depan
pusaranya. Karena takdir yang mempermainkan kita, aku semakin penasaran dengan
ibuku yang akan menceritakan figur ayahku yang selama ini kucari. Aku membuka
lagi kotak itu untuk mencari buku yang dimakasud oleh ibuku, dan menemukan buku
itu, warnanya sudah usang dan sudah hampir menjadi serpihan yang kurang enak
dipandang.
Aku mebuka buku itu dengan perlahan, dan membaca
lembar demi lembar yang menceritakan diamana ibuku menjalani hidupnya untuk
mengais rejeki yang menghidupinya. Sampai pada lembar yang ke 10 aku melihat
nama yang sangat asing di pelihatan dan pendengaranku, MARDIAN SMITH itulah awal kertas kesepuluh dituliskan. Aku mebuka
dan membacanya.
“ aku bertekad untuk bekerja dikota ini dan mengais
rejeki yang halal untuk anak anakku. Aku pergi dan datang ke kota B pukul 6
pagi dini hari, aku sudah mengantongi sebuah alamat yang menerima aku untuk
bekerja sebagai seorang pelayan di restorsn siap saji. Meskipun hanya pelayan
tetapi gajinya lumayan untuk menghidupi anak anakku. Aku pun bekerja tanpa
mengnal lelah dan mengirimkan hasilnya kepada ibuku untuk membiayai anak
anakku.
6 bulan aku bekerja suadh di kota ini, sampai aku
bertemu dengan seorang laki laki yang duduk menyender di tiang listrik yang ada
di depan restoranku bekerja. Dia seperti kesakitan dan menahan nyeri didaerang
dadanya. Aku pun mendekati dia dan ketika melihat ekspresi nya yang sudah pucat
dan tidak kuat menahan sakitnya dia.
__ADS_1