Wajahku Tidak Secantik Hatiku

Wajahku Tidak Secantik Hatiku
EPS 12


__ADS_3

Aku membaca surat ini saja aku seakan nafasku


terhenti secara pelahan. Ibuku masih sempat menulis ini disaat ajalnya menumui


nya. Aku bagaikan anak yang tidak tahu diri, bahkan aku memaki nya di depan


pusaranya. Karena takdir yang mempermainkan kita, aku semakin penasaran dengan


ibuku yang akan menceritakan figur ayahku yang selama ini kucari. Aku membuka


lagi kotak itu untuk mencari buku yang dimakasud oleh ibuku, dan menemukan buku


itu, warnanya sudah usang dan sudah hampir menjadi serpihan yang kurang enak


dipandang.


Aku mebuka buku itu dengan perlahan, dan membaca


lembar demi lembar yang menceritakan diamana ibuku menjalani hidupnya untuk


mengais rejeki yang menghidupinya. Sampai pada lembar yang ke 10 aku melihat


nama yang sangat asing di pelihatan dan pendengaranku, MARDIAN SMITH  itulah awal kertas kesepuluh dituliskan. Aku


mebuka dan membacanya.


“ aku bertekad untuk bekerja dikota ini dan mengais rejeki


yang halal untuk anak anakku. Aku pergi dan datang ke kota B pukul 6 pagi dini


hari, aku sudah mengantongi sebuah alamat yang menerima aku untuk bekerja


sebagai seorang pelayan di restorsn siap saji. Meskipun hanya pelayan tetapi


gajinya lumayan untuk menghidupi anak anakku. Aku pun bekerja tanpa mengnal


lelah dan mengirimkan hasilnya kepada ibuku untuk membiayai anak anakku.


6 bulan aku bekerja sudah di kota ini, sampai aku


bertemu dengan seorang laki laki yang duduk menyender di tiang listrik yang ada


di depan restoranku bekerja. Dia seperti kesakitan dan menahan nyeri didaerang


dadanya. Aku pun mendekati dia dan ketika melihat ekspresi nya yang sudah pucat


dan tidak kuat menahan sakitnya dia.


Aku pun berteriak untuk meminta pertolongan agar


pria ini dibawak ke rumah sakit. Ketika laki laki itu dibawak ke rumah sakit


terdekat, aku pun melanjutkan pekerjaanku untuk melayani pelanggan yang biasa


untuk sarapan pagi.


Setelah 3 bulan kejadian dimana laki laki itu


pingsan, ada seseorang yang mencariku di tempat bekerjaku. Aku pun dipanggil


oleh pemilik restoran untuk menemui tamu yang ingin menemuiku. Aku pun keluar


dan menuju meja yang memang ada seorang laki laki yang menungguku, aku berjalan


bersama pemiliki restoran ini.


“bang…. Ini perempuan yang abang cari pas abang


pingsan kemarin.!!” Manjereku menepuk pundak laki laki itu. Dan berkata


sedemikian, aku mengekerutkan dahiku dengan bingung.


Ketika laki laki itu berbalik badan aku pun kaget


dan spontan menutup mulutku. Karena dia adalah laki laki yang aku tolong


beberapa bulan lalu. “tuan…. Anda yang pingsan waktu itu kan…?” aku bertanya


sambil memundurkan langkahku.


“iya aku adalah orang yang kamu tolong waktu itu, dan aku ingin mengucapkan


terimakasih kepada  kamu. Tentang waktu


itu tapi aku tidak pernah menemukan kamu di sekitar sini, tanpa sengaja kamu


masuk kerestoran ini dan ternyata bekerja didalamnya.”


Singkat cerita aku mulai dekat dengan sosok laki


laki ini. Aku memanggilnya dengan sebutan bang dian, lalu kami pun selalu

__ADS_1


intens untuk bertemu. Tanpa tau dia dari mana, dan bekerja apa, aku hanya


berfikir aku nyaman dan dia tidak kurang ajar sudah cukup bagiku.


Sampai dengan kita memiliki sebuah hubungan dan akan


melakukan pernikahan aku dan dia saling terbuka, meskipun aku sudah lebih


melakukanya dulu kepada dia tentang masa laluku, aku seorang janda dengan anak


4. Bahkan aku juga sudah menceritakan keluargaku\, bagaimana status sosial ku\,


semua sudah aku ceritakan.


Ketika dia mulai cerita ternyata dia adalah pemiliki


restoran aku bekerja. Jujur aku kaget seperti inikah dia sampai hal sepenting


ini dia tidak bercerita, dan aku berfikir bahwa dia menilai aku seorang wanita


yang metrealistik. Tapi aku tak terlalu peduli dengan itu terpenting adalah dia


mau menerima aku dan anak anak ku.


Sampai aku bertemu dengan keluarganya, semuanya baik


dan menerimaku dengan tulus tetapi itu tidak bertahan lama sampai kita memiliki


seorang putra. Barulah mereka menunjukkan sifat sebenarnya.


Aku merasakan hinaan setiap harinya, bahkan suamiku


tak tahu akan hinaan dan perilaku mereka memperlakukan aku sama dengan pembantu


dirumahku sendiri. Bahkan putraku pun diperlakukan selayaknya anak pembantu.


Ketika suamiku pergi bekerja maka aku akan jadi bulian dan hinaan di rumahku


oleh mertua dan adik iparku.


Sampai dimana aku sudah tidak kuat dan mengadu


kepada suamiku tapi dia tidak percaya, malah aku dikatakan fitnah ibunya


sendiri. Aku memendam semua itu dengan tahan dan tidak mengeluarkan keinginaku


untuk pergi dari rumah ini. Ketika mas dian pergi keluar negeri untuk menjemput


Aku baru mengetahui bahwa aku hami anak kedua kami,


aku menunggu mas dian begitu lama dan tak kunjung datang dari hari yang


ditentukan, sampai kehamilanku yang ke 8 bulan aku mendengar bahwa suamiku


sudah menikah lagi di negara tersebut.


Aku tambah membulatkan niatku untuk pergi dari rumah


ini, aku bagaikan pembantu yang tak ada harganya sendiri, aku tidak begitu


bodoh karena selama ini aku menyimpan uang dari mas dian untuk keperluanku.


Uang ini aku gunakan untuk pulang ke kota J agar idak ada yang tahu aku pulang


kerumah dengan sembunyi sembunyi.


Sampai pada hari dimana aku memesan tiket untuk


pulang dengan sembunyi sembunyi, aku pergi dengan putra sulungku diantu oleh


bibi amoy untuk melarikan diri. Aku sempat menerima kekerasan akibat aku tetap


kekeh untuk keluar untuk menemani anakku ketaman depan komplek.


Aku tetap keluar meski mendapatkan lebam diperut


hamilku ini, aku membawa putraku yang menangis meraskan pukulan ibu mertuaku,


aku benci dengan mereka aku bersumpah tidak akan pernah kembali kerumah neraka


itu. Aku pun sampai dirumah bibi amoy, dan memberitahukan segalanya kepadanya.


Aku menangis dan memmohon kepadanya agar tidak memberitahukan kepada mas dian


kemana aku pergi dan alasan apa.


Aku pun pergi pukul 3 sore waktu setempat, aku


sempat berpapasan dengan mobil suamiku tapi keberuntungan masih berpihak


kepadaku aku tidak terlihat olehnya. Sampai aku menaiki kapal itu, aku

__ADS_1


mendudukan putraku dengan tenang disebelahku, aku memiliki tekad tidak akan


kembali kepada nya meski maut didepanku. Aku mulai mengenang kembali masa masa


dimana semua yang awalnya indah harmonis dan aku sangat menggantungkan hubungan


ini kepadanya. Tapi apa aku malah tersakiti lagi untuk kesekian kalinya, aku


mulai merasakan perutku yang mulai terasa akan lebam di sebagian tubuhku, aku


merasakan kram yang membuat mulutkan mengluarkan ringisan sakit. Putraku yang


melihat aku menahan sakit, dia hanya memanggil aku dengan memegang tanganku


meminta duduk dipangkuanku,


“mamak ….. mamak….. mamak….. “ sambil meretangkan tangan nya kepadaku. Aku pun


menerima tangan mungil putraku, dan ku dudukkan di pangkuanku, aku merasakan


hangatnya dekapan putraku di perutku.


Mungkin putri bayi dalam kandunganku mengerti bahwa


kakak nya sedang menenangkan dia di perutku. Sampai dimana aku diturunkan


ditujuanku, aku segera mencari tranportasi untuk melakukan perjalanan kerumah


orang tuaku. Aku sampai dirumahku pukul 2 dini hari, yang memang menganjurkan


untuk menaiki beberapa tranportasi untuk sampai dirumah.


Aku pun mengetuk dengan pintu dengan menahan sakit


kram di perutku, dan tangan satunya untuk menggendong putraku. “


assalammualaikum………” panggilku di ketukan ketiganya.


“mba,,… ini arum mba, …. Buka pintunya…!!!”


“arum datang mba…..”. setelah pintu dibuka aku pun merasa beban dihidupku pun


sirna seketika.


Aku pun langsung duduk bersimpuh didepan kaki


kakakku, dan aku menangis memeluknya.


“mba aku sudah gak kuat lagi…. Aku sudah tidak kuat untuk menahan ini mba…”


mba aci pun shock melihatku seperti ini, dan langsung memelukku dengan erat.


“nduk… ayok masuk dulu dan ngomong di dalem. Biar


kamu istirahat kasian putramu.” Aku pun dibawa masuk oleh kakakku, dan kami


berganti baju dan bersih bersih, kakakku terkejut melihat keadaanku yang sangat


mengenaskan. Bahkan dia memeluk dengan erat dan menangis seakan dia tahu bahwa


aku sangat kesakitan dan menderita disana.


Dan ketika aku bercerita tentang semua yang aku


alami, mba aci hanya bertanya “apakah suami mu tahu tentang kamu pergi kesini…?”


aku hanya menggelengkan kepala. Setelah beberapa hari di sini perutku merasakan


kotraksi seperti lahiran dan aku pun melihat disekitar kakiku ada darah yang


mengalir dari jalan lahir bayiku.


Aku pun dibawa ke kamar karena memang tidak ada


bidan ataupun dukun bayi yang ada karena aku melahirkan disaat hari raya. Aku pun


hanya mengeluh sakit dan tidak kuat untuk terus meraskan sakit ini ….


Pov senja


Aku tidak dapat melanjutkan lagi membaca ini, aku


harus cari dimana bu…. ? aku tidak menyalahkanmu untuk semuanya. Jika takdir


memang berbuat kejam terhadapku tidak apa, jika boleh aku memohon… aku akan


memohon tidak dilahirkaan olehmu jika akan berakhir seperti ini.  Apa yang ahrus aku katakan kepada ayahku bu


jika bertemu kembali, apa aku akan benci bu,,,, apa aku akan marah…. Atau akupun


sama melakukan hal sama denganmu meninggalkannya…? Beri aku semua jawabanya bu…..

__ADS_1


__ADS_2