
Aku membaca surat ini saja aku seakan nafasku
terhenti secara pelahan. Ibuku masih sempat menulis ini disaat ajalnya menumui
nya. Aku bagaikan anak yang tidak tahu diri, bahkan aku memaki nya di depan
pusaranya. Karena takdir yang mempermainkan kita, aku semakin penasaran dengan
ibuku yang akan menceritakan figur ayahku yang selama ini kucari. Aku membuka
lagi kotak itu untuk mencari buku yang dimakasud oleh ibuku, dan menemukan buku
itu, warnanya sudah usang dan sudah hampir menjadi serpihan yang kurang enak
dipandang.
Aku mebuka buku itu dengan perlahan, dan membaca
lembar demi lembar yang menceritakan diamana ibuku menjalani hidupnya untuk
mengais rejeki yang menghidupinya. Sampai pada lembar yang ke 10 aku melihat
nama yang sangat asing di pelihatan dan pendengaranku, MARDIAN SMITH itulah awal kertas kesepuluh dituliskan. Aku
mebuka dan membacanya.
“ aku bertekad untuk bekerja dikota ini dan mengais rejeki
yang halal untuk anak anakku. Aku pergi dan datang ke kota B pukul 6 pagi dini
hari, aku sudah mengantongi sebuah alamat yang menerima aku untuk bekerja
sebagai seorang pelayan di restorsn siap saji. Meskipun hanya pelayan tetapi
gajinya lumayan untuk menghidupi anak anakku. Aku pun bekerja tanpa mengnal
lelah dan mengirimkan hasilnya kepada ibuku untuk membiayai anak anakku.
6 bulan aku bekerja sudah di kota ini, sampai aku
bertemu dengan seorang laki laki yang duduk menyender di tiang listrik yang ada
di depan restoranku bekerja. Dia seperti kesakitan dan menahan nyeri didaerang
dadanya. Aku pun mendekati dia dan ketika melihat ekspresi nya yang sudah pucat
dan tidak kuat menahan sakitnya dia.
Aku pun berteriak untuk meminta pertolongan agar
pria ini dibawak ke rumah sakit. Ketika laki laki itu dibawak ke rumah sakit
terdekat, aku pun melanjutkan pekerjaanku untuk melayani pelanggan yang biasa
untuk sarapan pagi.
Setelah 3 bulan kejadian dimana laki laki itu
pingsan, ada seseorang yang mencariku di tempat bekerjaku. Aku pun dipanggil
oleh pemilik restoran untuk menemui tamu yang ingin menemuiku. Aku pun keluar
dan menuju meja yang memang ada seorang laki laki yang menungguku, aku berjalan
bersama pemiliki restoran ini.
“bang…. Ini perempuan yang abang cari pas abang
pingsan kemarin.!!” Manjereku menepuk pundak laki laki itu. Dan berkata
sedemikian, aku mengekerutkan dahiku dengan bingung.
Ketika laki laki itu berbalik badan aku pun kaget
dan spontan menutup mulutku. Karena dia adalah laki laki yang aku tolong
beberapa bulan lalu. “tuan…. Anda yang pingsan waktu itu kan…?” aku bertanya
sambil memundurkan langkahku.
“iya aku adalah orang yang kamu tolong waktu itu, dan aku ingin mengucapkan
terimakasih kepada kamu. Tentang waktu
itu tapi aku tidak pernah menemukan kamu di sekitar sini, tanpa sengaja kamu
masuk kerestoran ini dan ternyata bekerja didalamnya.”
Singkat cerita aku mulai dekat dengan sosok laki
laki ini. Aku memanggilnya dengan sebutan bang dian, lalu kami pun selalu
__ADS_1
intens untuk bertemu. Tanpa tau dia dari mana, dan bekerja apa, aku hanya
berfikir aku nyaman dan dia tidak kurang ajar sudah cukup bagiku.
Sampai dengan kita memiliki sebuah hubungan dan akan
melakukan pernikahan aku dan dia saling terbuka, meskipun aku sudah lebih
melakukanya dulu kepada dia tentang masa laluku, aku seorang janda dengan anak
4. Bahkan aku juga sudah menceritakan keluargaku\, bagaimana status sosial ku\,
semua sudah aku ceritakan.
Ketika dia mulai cerita ternyata dia adalah pemiliki
restoran aku bekerja. Jujur aku kaget seperti inikah dia sampai hal sepenting
ini dia tidak bercerita, dan aku berfikir bahwa dia menilai aku seorang wanita
yang metrealistik. Tapi aku tak terlalu peduli dengan itu terpenting adalah dia
mau menerima aku dan anak anak ku.
Sampai aku bertemu dengan keluarganya, semuanya baik
dan menerimaku dengan tulus tetapi itu tidak bertahan lama sampai kita memiliki
seorang putra. Barulah mereka menunjukkan sifat sebenarnya.
Aku merasakan hinaan setiap harinya, bahkan suamiku
tak tahu akan hinaan dan perilaku mereka memperlakukan aku sama dengan pembantu
dirumahku sendiri. Bahkan putraku pun diperlakukan selayaknya anak pembantu.
Ketika suamiku pergi bekerja maka aku akan jadi bulian dan hinaan di rumahku
oleh mertua dan adik iparku.
Sampai dimana aku sudah tidak kuat dan mengadu
kepada suamiku tapi dia tidak percaya, malah aku dikatakan fitnah ibunya
sendiri. Aku memendam semua itu dengan tahan dan tidak mengeluarkan keinginaku
untuk pergi dari rumah ini. Ketika mas dian pergi keluar negeri untuk menjemput
Aku baru mengetahui bahwa aku hami anak kedua kami,
aku menunggu mas dian begitu lama dan tak kunjung datang dari hari yang
ditentukan, sampai kehamilanku yang ke 8 bulan aku mendengar bahwa suamiku
sudah menikah lagi di negara tersebut.
Aku tambah membulatkan niatku untuk pergi dari rumah
ini, aku bagaikan pembantu yang tak ada harganya sendiri, aku tidak begitu
bodoh karena selama ini aku menyimpan uang dari mas dian untuk keperluanku.
Uang ini aku gunakan untuk pulang ke kota J agar idak ada yang tahu aku pulang
kerumah dengan sembunyi sembunyi.
Sampai pada hari dimana aku memesan tiket untuk
pulang dengan sembunyi sembunyi, aku pergi dengan putra sulungku diantu oleh
bibi amoy untuk melarikan diri. Aku sempat menerima kekerasan akibat aku tetap
kekeh untuk keluar untuk menemani anakku ketaman depan komplek.
Aku tetap keluar meski mendapatkan lebam diperut
hamilku ini, aku membawa putraku yang menangis meraskan pukulan ibu mertuaku,
aku benci dengan mereka aku bersumpah tidak akan pernah kembali kerumah neraka
itu. Aku pun sampai dirumah bibi amoy, dan memberitahukan segalanya kepadanya.
Aku menangis dan memmohon kepadanya agar tidak memberitahukan kepada mas dian
kemana aku pergi dan alasan apa.
Aku pun pergi pukul 3 sore waktu setempat, aku
sempat berpapasan dengan mobil suamiku tapi keberuntungan masih berpihak
kepadaku aku tidak terlihat olehnya. Sampai aku menaiki kapal itu, aku
__ADS_1
mendudukan putraku dengan tenang disebelahku, aku memiliki tekad tidak akan
kembali kepada nya meski maut didepanku. Aku mulai mengenang kembali masa masa
dimana semua yang awalnya indah harmonis dan aku sangat menggantungkan hubungan
ini kepadanya. Tapi apa aku malah tersakiti lagi untuk kesekian kalinya, aku
mulai merasakan perutku yang mulai terasa akan lebam di sebagian tubuhku, aku
merasakan kram yang membuat mulutkan mengluarkan ringisan sakit. Putraku yang
melihat aku menahan sakit, dia hanya memanggil aku dengan memegang tanganku
meminta duduk dipangkuanku,
“mamak ….. mamak….. mamak….. “ sambil meretangkan tangan nya kepadaku. Aku pun
menerima tangan mungil putraku, dan ku dudukkan di pangkuanku, aku merasakan
hangatnya dekapan putraku di perutku.
Mungkin putri bayi dalam kandunganku mengerti bahwa
kakak nya sedang menenangkan dia di perutku. Sampai dimana aku diturunkan
ditujuanku, aku segera mencari tranportasi untuk melakukan perjalanan kerumah
orang tuaku. Aku sampai dirumahku pukul 2 dini hari, yang memang menganjurkan
untuk menaiki beberapa tranportasi untuk sampai dirumah.
Aku pun mengetuk dengan pintu dengan menahan sakit
kram di perutku, dan tangan satunya untuk menggendong putraku. “
assalammualaikum………” panggilku di ketukan ketiganya.
“mba,,… ini arum mba, …. Buka pintunya…!!!”
“arum datang mba…..”. setelah pintu dibuka aku pun merasa beban dihidupku pun
sirna seketika.
Aku pun langsung duduk bersimpuh didepan kaki
kakakku, dan aku menangis memeluknya.
“mba aku sudah gak kuat lagi…. Aku sudah tidak kuat untuk menahan ini mba…”
mba aci pun shock melihatku seperti ini, dan langsung memelukku dengan erat.
“nduk… ayok masuk dulu dan ngomong di dalem. Biar
kamu istirahat kasian putramu.” Aku pun dibawa masuk oleh kakakku, dan kami
berganti baju dan bersih bersih, kakakku terkejut melihat keadaanku yang sangat
mengenaskan. Bahkan dia memeluk dengan erat dan menangis seakan dia tahu bahwa
aku sangat kesakitan dan menderita disana.
Dan ketika aku bercerita tentang semua yang aku
alami, mba aci hanya bertanya “apakah suami mu tahu tentang kamu pergi kesini…?”
aku hanya menggelengkan kepala. Setelah beberapa hari di sini perutku merasakan
kotraksi seperti lahiran dan aku pun melihat disekitar kakiku ada darah yang
mengalir dari jalan lahir bayiku.
Aku pun dibawa ke kamar karena memang tidak ada
bidan ataupun dukun bayi yang ada karena aku melahirkan disaat hari raya. Aku pun
hanya mengeluh sakit dan tidak kuat untuk terus meraskan sakit ini ….
Pov senja
Aku tidak dapat melanjutkan lagi membaca ini, aku
harus cari dimana bu…. ? aku tidak menyalahkanmu untuk semuanya. Jika takdir
memang berbuat kejam terhadapku tidak apa, jika boleh aku memohon… aku akan
memohon tidak dilahirkaan olehmu jika akan berakhir seperti ini. Apa yang ahrus aku katakan kepada ayahku bu
jika bertemu kembali, apa aku akan benci bu,,,, apa aku akan marah…. Atau akupun
sama melakukan hal sama denganmu meninggalkannya…? Beri aku semua jawabanya bu…..
__ADS_1