
aku pun melangkahkan kaki kedalam
kamar untuk mengambil pembukuan pengeluaran selama anak kakakku diusir dari
rumah mereka bahkan keluar kata kata kasar dari mulu mereka mengantar
kepergian mereka. hingga putri kakakku berumur 11 tahun baik itu makan,uang
jajan,uang sekolah aku tulis dengan rapih beserta tanggal dan hari nominal .
"ini adalah bukti dimana aku
sebagai wali dari cucu anda mencatat semua pengeluaran dari semua kebutuhan
cucu anda . aku heran dengan anda, anda bilang kakak saya penipu karena banyak
hutang nya , tapi itu semua yang memicu untuk hutang adalah anak anda sendiri
yang tidak dapat mengkalkulasi semua keuangan kantornya untuk selalu jalan tanpa
adanya penurunan profit pada pendapatan kerja. berarti disini yang tidak pantas
mengemban hak asuh siapa?"
mantan mertua kakakku hanya diam dan
menatap tajam kepada ku .
“\=\=\=\=\=\=\=”
Dengan angkuhnya mantan mertua kakakku mengatakan
“ meskipun kamu menulis secara rinci pun itu uang yang kuberi kepada cucuku untuk membiayai semua kebutuhannya” dengan senyum
kebanggaannya yang meremehkan kami.
Aku pun yang geram langsung menarik tangan anaknya dan mendudukkan disebelah anaknya dan menatap tajam kepadanya
“ apa harus aku lagi yang mengatakan yang sebenarnya, bahwa uang yang digunakan untuk kebutuhan anakmu itu adalah uang ibu mu yang sangat banyak itu?” dengan melihat ekspresi
mantan kakak iparku yang sudah pucat pasih dan tidak dapat melihat mataku
dengan sombong lagi.
Aku pun dengan senyum meremehkan kepada mantan kakak iparku,
“bahkan uang yang anda kirim untuk cucuku tidak pernah sampai kepada cucu anda
dan tidak seperti kata kata sombong anda yang mencukupi kehidupan cucu anda”
aku sudah geram keluargaku selalu di salahkan dalam semua aspek dan selalu di
cemooh dalam tindakannya.
“apa yang dikatakan oleh dia itu benar adanya…?” dengan
memandang anak laki laki nya yang menunduk “jawab pertanyaan ibu wan?”
dalam tatapan sombongnya dia langsung meredup dan merasa seakan hidupnya telah
menelantarkan cucu perempuannya.
Aku hanya melihat keangkuhan yang masih ada didalam tatapan kepada kakakku,
“ apa ini sudah bisa untuk menurunkan kesombongan dan celaan mulut anda kepada kami, yang sudah dengan hati yang baik dan menerima untuk tidak menuntut balik akan kejadian ini, dan tidak untuk melaporkan kepada
pihak pengadilan dikarenakan kelalaian dalam memberi nafkah kepada anaknya. “
Dengan keadaan malu dan marah ibu mantan mertua kakakku keluar dari rumahku dan
sempat mengatakan “ aku akan mengambil alih hak asuh ini agar cucuku bisa
bersamaku “ dan membanting pintu rumahku dengan kerasnya. Kakakku yang melihat
__ADS_1
respon mantan ibu mertuanya yang kan mengambil alih hak asuh anaknya,semakin
menangis dan memohon untuk tidak melakukan hal itu. “bu april mohon jangan bawa
anakku, dia separuh hidupku, ibu boleh membenciku tapi jangan dengan memisahkan
aku dengan anakku” yang dengan bersimpuh di bawahnya berlinang air mata hanya
untuk tidak di lanjutkannya proses pengambilan hak asuh ini.
Wanita tua itu hanya menghentakkan kakinya untuk menghindar dari pegangan kakakku. Aku heran dan jengah dengan semua hal yang membuat orang kaya ini tidak sadar dan mau mengakui kesalahannya dan membenahi akhlak ibu dan anaknya untuk lebih mengerti dengan semua keadaan yang membuat psikis anaknya
terganggu. Orang orang ini tidak sadar bahwa aku berjuang dan menutupi ini untuk menyelamatkan mental anaknya agar tidak melihat kejadian seperti ini membuat dia tahu bahwa keluarganya tidak sama seperti teman teman lainnya.
SEBULAN KEMUDIAN ……
Setelah kejadian itu pihak pengadilan dan komisi
perlindungan anak datang ke rumah kami, aku yang tidak terkejut lagi dengan hal
ini, hanya bersikap tenang dan mengikuti semua kegiatan yang ada.
“permisi…. Apa benar ini rumah ibu APRILIA ALIYANA?”
“iya benar ini dengan rumah ibu aprilia?, anda siapa ya …?” aku bertanya dengan
tenang dan terlihat biasa.
“ kami dari PENGADILAN DAN KOMISI PERLINDUNGAN ANAK BU….?”
Sambil mengkerutkan alisnya serta mengulurkan tangan kepadaku. Seakan aku mengerti dan menjabat tangannya “nama saya SENJA “ setelah itu saya perkenannkan untuk duduk dan memberikan sedikit cemilan yang memang sedanya.
“bapak dan ibu ini ada maksud kedatangannya dengan hal apa?”
aku memandang semua mata yang menatapku ini. Dengan mengeluarkan beberapa
berkas yang ada didalam tas masing masing dan menjelaskan maksud kedatangannya
yang dimulai dengan seorang wanita yang berbicara .
untuk masalah asuh yang di bagi rata.”
Dan laki laki yang selalu memandangku tanpa hentinya mulai aku membuka pintu hingga pembicaraan ini dia tak berkata dan baru kali ini dia mengatakan,
“ aku pernah melihat warna matamu yang sama persis dengan seseorang, tapi dimana?”
aku bingung dengan kata kata nya aku pun sempat mengingat aku pernah melihat laki laki ini dimana. “maaf maksudnya apa ya pak?”
“nama saya Arkana Diansyah, saya dari pihak komisi perlindungan anak dan ditugaskan untuk memantau psikis anak serta bimbingan
konseling untuk orang tua dan anak dalam hal pengalihan asuh ini.
” Aku hanya memandang matanya dan aku mengingat warna mata ini seperti warna bayi 2 tahun yang sempat mengalami luka bakar. Aku merespon dengan berkata “
aku pernah melihat warna matamu pada seorang bayi laki laki yang sangat merindukan kasih
sayang orang tua nya. Namanya pun sama seperti nama belakang anda Diansyah , “
DEG…..
“apa itu anak anda yang bernama Aiko Diansyah…?” aku tetap memandang mata itu yang sudah menatap tajam kepadaku.
“apa kamu mengenal anak itu ?”
Pov Arkana
“Bagaimana wanita ini mengenal iko putraku yang selama ini hanya aku dan keluargaku yang tahu. Apakah wanita ini yang selalu menggendong
putra ku ketika menangis dalam kesakita nya..?” aku ingin melihat bagaimana dia menceritakan putra ku
Off pov arkana
“pak arkana apa perlu sesi konseling orang tua terlebih dahulu?” rekan wanita yang menanyakan kepada laki laki itu
__ADS_1
“ tinggalkan aku dengan ibu ini dan aku akan menghubungi mu nanti dengan hasilnya.!!” Sambil terus menatap ku .
“ baiklah pak arkana saya akan menemui klien kita yang lain, kalau begitu saya permisi dahulu “ sambil meninggalkan aku dan pak arkana yang saat ini terus memandangku tanpa henti .
sehingga aku merasa tidak nyaman untuk pandangannya.
“tolong ceritakan anak kecil yang anda temui serta warna matanya yang sama persis sepertiku…?” mengatakan itu dengan melihat aku serta
menyamankan posisi duduknya .
“maksud anda aiko?” dia menjawab dengan anggukan.
“tapi kalau boleh tahu anda mengenal anak itu atau bagaimana…?” aku bertanya
sambil memicingkan mataku kepadaa dia.
“anak itu adalah putra ku yang lama aku hindari karena keterpaksaan perjodohan dengan ibunya.”
menjawabnya dengan sendu dan mata berkaca kaca.
“baiklah aku akan menceritakan nya meskipun itu dilarang dan disumpah untuk
tidak mengatakan keadaan pasien kepada siapa pun, karena anda adalah ayah
kandungnya maka aku akan mengatakannya.”
flash back AIKO Diansyah…
Anak kecil itu
merengek untuk meminta susu, dengan suara yang lemah menahan sakit akibat luka
bakar yang sudah ditangani. Aku mendengar rintihan tangisan bayi yang menahan
sakit. Aku ingin melihat dan menenangkan nya , karena aku sudah terbiasa dengan
tangisan bayi ketika aku merawat anak kakakku. Aku mengintip celah gorden yang
menutup anak kecil itu, aku melihat dia sorang diri dan menangis mencari asi.
Aku dekati anak kecil itu dan mem pukpuk bokong bayi itu,dengan bersenandung aku
meniup niup, anak kecil itu membuka mata nya .
Dan ketika bayi itu membuka matanya, seperti dejavu yang menghantam
dadaku serta relung kemanusiaan ku, aku sampai menitihkan air mata dan melihat warna matanya yang sungguh indah dan membuat siapa saja langsung jatuh cinta kepada bayi ini. Setelah bebrapa saat ada seorang ibu tua memasuki ruangan pemulihan pasca operasi itu dan ibu tua ini mengatakan
“ anak ini bayi dari majikan saya, karena keegoisan semua orang dan mementingkan kehidupan mereka tanpa memikirkan bayi ini butuh cinta dan perhatian”
Aku terus mendengarkan ibu tua itu yang menceritakan kepiluan bayi ini, aku muak dengan orang kaya yang selalu mengedepankan materi
dan membinasakan namanya kemanusiaan meskipun itu darah daging nya sendiri. Maka
mulai itu aku selalu menjenguk bayi itu di nicu bayi, aku sangat menyayangi
bayi ini. Aku melakukan rutinitas ku bekerja setelah jam istirahat aku
melangkahkan kakiku di ruangan bayi itu dan menggendongnya, dan menyanyikan
lagu anak untuk mengurangi pilu hatinya akan sakit yang di rasakan anak itu.
.
.
.
JANGAN LUPA LIKE
JANGAN LUPA KOMENTAR
JANGAN LUPA SUBSCRIBE
__ADS_1
JANGAN LUPA BERI GIVE UP ON NEW EPISODE