Waktu Yang Terlampau

Waktu Yang Terlampau
Prolog


__ADS_3

Angin berhembus pelan membuat pohon nyiur bak menari di terik matahari sore itu.


Nelayan hilir mudik mengangkut hasil tangkapan menuju rumah masing - masing.


Anak - anak yang berlarian di tepi pantai segera berhenti mendengar teriakan ibu mereka.

__ADS_1


Namaku Alana Saputri, aku adalah anak yang ceria. Temanku banyak dan mereka menyukaiku, mereka bilang aku bagai matahari. Matahari yang sinarnya akan tetap terlihat ceria meskipun tertutup awan. Keceriaanku dapat menular ketika aku mulai tersenyum. Begitulah katanya, tapi yah aku akui aku memang begitu. Aku selalu terlihat bahagia bahkan sampai saat aku bersedih pun tidak akan ada yang tahu, begitulah aku.


Aku masih asik memandang langit merah bercampur jingga dari kejauhan. Masih ada hal yang mengusik pikiranku, sore itu ada banyak hal yang perlu aku renungkan. Kini usiaku genap 20 tahun, satu tahun lebih tua. Tepat hari ini aku berulang tahun, ulang tahun ke - 20.


Kali ini, kami sekeluarga sedang merayakan ulang tahunku di sebuah resort milik teman ayahku. Ayahku menyewa resort temannya hanya untuk merayakannya. Resort ini berada di dekat pantai, jadi pesta digelar di tepi pantai dengan sederhana. Padahal aku tak mengharapkan perayaan seperti ini, aku merasa seperti masih kecil melihat perayaan ulang tahun ini. Seharusnya usia ini tidak memerlukan pesta perayaan. Bukankah usia 20 adalah usia dimana remaja sudah dianggap dewasa dan bisa bertanggung jawab pada diri sendiri. Tapi kenapa mereka malah membuat perayaan segala. Aku merasa ada hal ganjil yang sedang terjadi, tapi entahlah aku bahkan tak tahu apa itu.

__ADS_1


Bukan hal yang sangat spesial untukku tapi sangat spesial. Di usia ini aku hampir saya menyerah, tidak ada yang bisa ku lakukan bahkan penolakan pun terasa berat ku utarakan. Memang bukan ini yang ku inginkan tapi mereka sangat menantikannya haruskan ku hancurkan harapan mereka? Haruskan ku kabulkan harapan mereka? Atau haruskan aku utarakan keinginanku? Banyak hal yang ada dipikiranku sebenarnya tapi apa boleh buat, mereka adalah orang tercintaku tidak mungkin ku hancurkan harapan mereka hanya demi keegoisan seorang gadis muda yang bahkan belum pernah membanggakan kedua orang tuanya.


Aku selalu berharap mereka mengerti dengan sendirinya, akankah mereka mengerti pikiranku bahkan ketika tidak ku beritahu. Atau mampukah aku menunjukkan keinginanku dengan halus tanpa menyakiti hati keduanya. Semua pertanyaan mengumpal dipikiranku tanpa memiliki jawaban pasti.


Keinginanku hanyalah omong kosong yang bahkan tak perlu ku katakan, keinginanku hanyalah sebuah pisau yang dapat mengoreskan sayatan luka bagi orang tercintaku. Tapi apalah arti sebuah keingin itu yang tak lebih hanyalah sebuah rangkaian kata yang bahkan belum bisa ku wujudkan. Hanya sebuah skenario yang bahkan belum matang ku tuliskan.

__ADS_1


Apakah aku bisa mewujudkan keinginanku? Dapatkah skenario ini ku ubah menjadi cerita indah yang dapat menyentuh hati orang lain. Dan apakah ada orang yang bahkan mau membaca cerita yang ku buat?


__ADS_2