Waktu Yang Terlampau

Waktu Yang Terlampau
Eps 1. Kehidupan SMA Alana


__ADS_3

Embun pagi membasahi dedaunan membuat segar warna hijau sepanjang mata memandang. Sang fajar membelai lembut menerobos sela sela jendela. Kicauan burung merdu memenuhi langit pagi. Alarm bertangan lembut mulai terdengar nyaring.


Pukul 5:45 pagi


"Alana, sudah pagi bangun nanti terlambat ke sekolah. Alana...lana...lana cepat ayahmu harus segera berangkat ke kantor nak, anak meeting penting."


Begitulah ibuku, selalu saja berteriak tidak sabaran membangunkanku. Padahal aku masih mengantuk, aku terpaksa bangun karena kalau tidak ibu pasti akan berteriak sepanjang pagi kalau aku belum bangun juga.


"Hoam...hoam...hoam ada apa si buru - buru masih jam segini juga"


Langkahku masih gontai sambil menghampiri ibuku yang sedang sibuk di dapur.


"Cepat mandi, ayah buru - buru nanti tidak sempat sarapan kalau kamu tidak cepat mandi. Ayo cepat mandi sana."


"Iya sebentar, jangan dorong dorong dong. Ini juga mau mandi kok."

__ADS_1


"Yaudah sana, jangan lupa handuknya nanti kalau udah selesai dijemur loh ya. Awas aja, kalau masih di atas kasur!"


Dengan wajah kesal aku segera berjalan menuju kamar mandi. Tapi bukan aku kalau mandi dengan tenang. Aku selalu bersenandung ketika mandi, menyanyikan lagu kesukaanku.


Suara teriakan ibuku kembali terdengar kali ini bukan untuk membangunkan melainkan untuk menyuruhku berhenti bernyanyi dan menyudahi mandiku.


"Alana, sampai kapan kamu mau mandi. Cepatlah, jangan membuang waktumu untuk bernyanyi. Kau ini selalu saja bernyanyi, tidak bisakah kau tidak bernyanyi."


"Baiklah bu"


"Hati - hati yah, semoga meetingnya lancar. Dadah"


Aku melambaikan tangan seiring dengan melajunya mobil putih ayahku.Berjalan memasuki gerbang sekolah terasa membosankan sekali. Aku merasa malas untuk melangkah masuk kedalam sekolah, itulah uang sekarang ku rasakan. Tapi setelah lulus nanti aku yakin aku akan merindukan hari seperti ini.


Dari kejauhan ku lihat ada seorang teman sekelasku sedang membaca novel di kursi depan perpustakaan. Aku melangkah mendekatinya, lumayan buat teman ngobrol selagi menunggu yang lain.

__ADS_1


"Hei, kamu datang pagi ya"


Aku lihat dia tak tertarik menanggapi sapaanku. Dia Ardan teman sekelasku dia salah satu murid pintar bahkan nilainya hampir selalu sempurna. Dia juga cukup tampan, tapi dia juga amat sangat dingin. Terlebih lagi kepada perempuan. Aku tak pernah melihat dia mengobrol kepada perempuan manapun. Meski begitu aku tetap menyapanya. Dari pada diam lebih baik aku mengobrol meski dengan si dingin ini.


"Oh hai" Balas sapanya dengan wajah datar.


"Kau memang selalu datang sepagi inikah? Atau hari ini kepagian sama sepertiku. Masih sedikit sekali yang datang, tapi untung ada kau jadi ada temannya deh"


"Yang begitulah, lebih baik kamu masuk kelas saja"


"HAH! Kau mengusirku? Hei si dingin kau pikir kau siapa, aku masih baik ya mau menyapa tapi kau malah mengabaikan begini. Jangan sok ya, meskipun kau pintar bukan berarti bisa seenaknya" balasku ketus


"Aku tidak mengisurmu, aku hanya menyarankan untuk ke kelas. Lagipula, ah sudahlah lupakan"


"Oke, hei kau! Kau pikir aku sudi di sini. Bye silakan nikmati buku sampah ini"

__ADS_1


Dia bahkan tidak menjawab memang ya benar rumor yang beredar tentang dia, dia memang anak anti sosial yang dingin dan sok pintar. Lihat saja tingkahnya tadi sama sekali tidak ada niat berbaur dengan temannya. Padahal aku teman sekelasnya paling tidak dia bisakan mengobrol satu dua kata basa basi tapi dia bahkan tidak berusaha mengobrol. Sombong sekali dia. Aku memasuki kelasku dengan hati kesal, berniat baik tapi malah diperlakukan begini. Sungguh menyebalkan!!!


__ADS_2