
Semenjak pertemuan terakhir kali. Raka lebih sering datang sekedar hanya mengantarku pulang kuliah atau mengajak makan. Mengunjungi satu persatu barisan restoran di kotaku. Membahas masalah kehidupan sehari hari. Terkadang kami bahkan menghabis kan waktu bersama berjalan melewati kawasan tempat rekreasi sekedar melepas penat dari kesibukan sehari hari. Awalnya hubungan kami hanya sebatas teman. Itulah kesepakatan awalnya tapi seiring berjalannya waktu kami lebih nyaman sebagai kakak beradik mengingat jarak umur 5 tahun bukanlah sedikit dia juga lebih pantas ku anggap kakak karena memang selalu mengingatkan dan menasehatiku layaknya perlakuan kakak kepada adiknya.
Semua orang mulai terbiasa dengan keberadaaannya bahkan kedua sahabatku Ale dan Dennis juga sudah mulai membuka hati lebih bersahabat. Awalnya mereka menetang keputusanku untuk mengenalnya tapi mereka hanya sahabat yang hanya bisa memberi saran. Ale nampaknya juga senang di dekatnya, dia suka sekali menggodanya. Ale bilang sayang muka tampannya nganggur gak ada yang punya. Tapi memang begitulah Ale sikapnya ada ada saja setiap harinya.
Tapi tidak mudah bagi Dennis menerimanya ketika kami berempat berkumpul Dennis lebih sering mangabaikannya dan menanggapnya tidak ada tapi mereka sesama laki laki punya hobi yang sama membuat keduanya menjadi cukup dekat. Hingga akhirnya mereka layaknya perangko dan surat dimana ada Raka disitu pasti ada Dennis. Dennis menjadi lebih sering mengunjungi tempat Raka kerja, niatan mengajak bermain.
"Hai hai dokter"
"Dennis ada perlu apa di sini?"
"Apalagi kapan dokter sibuk ini pulang kerja? Bermainlah denganku"
"Sebentar lagi selesai hanya tinggal 2 pasien"
__ADS_1
"Cepat selesaikan dan main denganku"
"Tidak bisa, aku ada janji tahu. Pulanglah"
"Janji dengan siapa? Tidak bisa begitu aku sudah sampai sini mana mungkin aku menterah begitu saja. Batalkan janjimu main saja denganku"
"Pulang, tidak dengar ya aku ada janji. Lagi pula siapa suruh kemari tidak bilang dulu"
"Memangnya bakal di balas kalau aku tidak kemari mana mungkin bisa mengajak main, hp secanggih itu dipakai apa sih setiap kali aku mengirim pesan saja diabaikan. Katakan dengan siapa janjimu, biar aku yang membatalkannya"
"Hah! Alana. Oh dia ternyata, tak mungkin kamu bisa membatalkan janji dengannya bukan. Tidak, bukan tidak bisa kamu yang tidak akan pernah membatalkan apapun yang berhubungan dengan Lana bukan"
"Benar, apapun itu"
__ADS_1
"Berjuanglah, ini sudah waktunya"
"Ikutlah denganku, tunggu di sini sebentar akan segera ku selesaikan pasienku dulu"
"Tunggu sebentar, kenapa aku harus ikut? Aku tidak mau menjadi penengah kalian ya. Lebih baik aku tidur daripada menengahi kalian"
"Ikutlah bukan hanya aku dan Alana. Ada Ale juga, Alana baru saja mengirim pesan untuk mengajakmu dia bilang Ale sedang sedih. Jadi dia mengajak Ale ikut bersamanya"
"Oh begitu, yasudah aku ikut. Cepat selesaikan pasienmu ya"
"Iya iya"
Malam itu kami berempat berkumpul menghabiskan waktu di kafe pinggiran kota dengan suasana langit malam yang indah. Kami bercakap cakap ringan sambil layaknya persahabatan pada umumnya. Ale yang sedang bersedih tampak membaik seiring mengalirnya obrolan. Dia lebih sering mengundang gelak tawa dengan leluconnya. Dia memang lebih tua dibanding kami tapi dia bisa bersikap layaknya seusia dengan kami tanpa canggung. Dennis dan aku tidak mahir membuat lelucon hanya selalu menimpali.
__ADS_1
Dia selalu terlihat menatapku dengan seksama, tatapan penuh kasih sayang yang selalu dia berikan 2 tahun terakhir ini. Tatapan yang ku artikan sebagai tatapan sosok pelindung. Setiap kali aku tersenyum atau tertawa dia bahkan ikut merasakannya. Begitu juga sebaliknya ketika aku sedang bersedih atau murung dia juga merasakannya. Dia akan selalu memelukku dalam diam ketika aku sedang bersedih. Dia tak pernah tanya alasan kesedihanku. Dia akan menunggu aku mengatakannya. 2 tahun terakhir ini dia sudah menunggu lama, tapi dia bahkan tak pernah berhenti menunggu.