
Matahari mulai naik aku yang sedang kesal hanya duduk diam memainkan hpku. Terlihat beberapa siswa sudah mulai ramai memasuki gerbang. Beberapa teman dekatku juga sudah berangkat dengan wajah penuh ceria. Menyapa dengan riang gembira, bercanda denganku melenyapkan sejenak kekesalan yang ku alami pagi ini.
Pukul 12.10 Siang
Jam istirahat mulai denting
Beberapa siswa dengan semangat segera membereskan alat tukisnya, mereka sudah kelaparan menanti jam istirahat. Guru di depan juga bergegas menyelesaikan tulisan di papan tulis tugas pertemuan selanjutnya.
"Oke, anak-anak minggu depan silakan selesaikan tugas kelompok yang ibu tuliskan di papan tulis. Untuk kelompoknya ibu sudah tentukan, nanti silakan tanya ke ketua kelas siapa teman kelompok kalian. Dan ingat ibu tidak mau keterlambatan tugas dan pergantian anggota kelompok paham? Selamat siang semua"
"Wah wah benaran gila nih perasaan baru kemarin tugas kelompok yang berlembar lembar baru kelar, udah dikasih lagi. Pusing ah" begitulah gumam salah satu teman sekelasku.
"Semoga kita sekelompok ya lana, seru nih kalau kita sekelompok sekalian main nanti" teman perempuanku Ale terdengar antusias.
__ADS_1
"Ya, pasti seru kalau kalian sekelompok apalagi kalau ada gue pasti lebih seru" timbal Dennis
"Ogah ah sekelompok Dennis mana ada seru makan ati iya kali, pokoknya amit amit semoga gak sekelompok deh" Timbal Ale dengan penuh bercanda.
"Apa si, yaudah kalau gak mau sekelompok sama gue. Lo bakal nyesel nanti loh, eh kalau jadinya lo sama gue sekelompok tahu rasa lo. Bakal gue bikin lo frustasi. Hwek" Ledek Dennis
"Udah gak usah ribut, sekelompok sama siapa aja gak papa yang penting mau kerjasama. Gak peduli siapapun kalau orangnya mau kerjasama pasti seru lah. Yang penting tugas kelarkan" Timpalku menengahi kedua temanku.
Aku, Ale dan Dennis berjalan beriringan menuju kantin Ale berdiri di samping kiriku menyapa satu dua kenalannya dan aku berada ditengah fokus berjalan juga menyapa satu dua teman. Dennis di samping kananku hanya berjalan tanpa menyapa siapapun dia sedari tadi menatap wajahku dari samping. Entah apa yang ada di pikirannya. Setiba di kantin, aku bertemu dengan dia, si dingin tanpa teman. Dia berdiri di antrian, sibuk memesan makanan. Kami tepat berada di belakangnya. Dia tampaknya sudah memesan dari tadi, bu kantin menyodorkan pesanannya. Dia berjalan meninggalkan tempat memesan mata kami tertemu, aku menatapnya dengan tajam layaknya pisau yang siap memotong sebuah tulang. Sedangkan dia menatap datar tanpa ekspresi, wajah seperti biasa yang dia lakukan.
Jam istirahat telah usai, semua sudah kembali ke kelas menunggu guru mapel lain datang. Selagi menunggu guru datang, ketua kelas mengumumkan daftar kelompok pelajaran tadi. Dan aku sangat terkejut melihat namaku sekelompok dengan si dingin itu. Rasanya aku mau memaki guru yang sudah membuatku harus sekelompok dengan dia. Tapi apa boleh buat, guruku tidak menerima protes dalam bentuk apapun. Tapi itu, sangat menjengkelkan hanya ada aku dan dia di kelompok itu. Sedangkan yang lain ada tiga orang.
"Lihat deh sial banget gue, masa benaran sekelompok sama Dennis si. Ah apaan nih, gak adil banget deh. Enak banget lana sekelompok sama murid pinter sedangkan gue sama murid apaan tuh si Dennis. Ngerti aja enggak dia, huft"
__ADS_1
"Tuhkan lihat, makane jangan jelekin gue kewujudkan omongan gue"
"Udah syukuri aja kelompoknya, lagian apa enaknya jadi gue kalau bisa tuker mau kali gue tukeran" Wajahku masam
"Iya juga ya, dia kan cuek abis bakal susah juga buat ngobrol sama dia bakal garing banget pasti. Gue udah bisa bayangin si gimana suasananya. Sabar ya lana" Ale tampak lebih ceria dengan kalimat penuh ejeknya dan aku hanya membalas dengan tatapan intimidasi.
Aku sebenarnya gemas banget sama pembicaraan kedua temanku tapi aku sekarang bahkan tidak bisa tersenyum bahagia dengan celotehan mereka, ketika aku sedang ditimpa kesialan yang lebih besar dibanding yang di alami Ale. Rasanya semua kesal, sudah menumpuk di ujung lidah mau ku ucapkan tapi aku bahkan tidak bisa memakinya. Banyak temanku iri aku bisa sekelompok dengan dia tapi aku bahkan lebih iri dengan mereka yang tidak sekelompok dengannya. Ketika mereka semua setiap ada kerja kelompok berebut agar bisa sekelompok dengan dia. Tapi aku bahkan tidak ada niatan begitu. Sekelompok begini saja sudah membuatku malas dan malah sebal.
Pukul 15.30 Sore
Seperti biasa aku menunggu jemputan ojek online yang ku pesan. Mungkin sekitar 10 menit biasanya ojek online sampai setelah pemesanan tapi entahlah hari ini lebih lama dari itu. Membuatku bosan dan tak sengaja bertemu dia di depan gerbang. Dia berjalan melewatiku yang masih menunggu. Aku masih kesal sekali dengan dia, melihat wajahnya saja rasanya emosiku mulai meluap luap. Tapi aku mencoba tidak mengeluarkan emosi dalam bentuk apapun dan membiarkannya berlalu seperti angin lewat.
Tapi tidak dengannya, dia berhenti di depanku hendak mengatakan sesuatu. Apakah yang akan dikatakannya sebuah permintaan maaf? Sebuah ajakan belajar bersama? Ataukah dia akan berbalik mengambil barangnya di kelas?
__ADS_1