Waktu Yang Terlampau

Waktu Yang Terlampau
7.Kehidupan SMA Alana 3


__ADS_3

Selayaknya matahari, apapun situasinya aku tak lupa tersenyum. Tapi senyum kali ini berbeda, senyum canggung yang pertama kali ku rasakan. Ardan (si dingin) ini berhenti di depanku menanyakan tugas kelompok yang harus dikerjakan bersamaku. Awalnya aku pikir akan membuatnya sendiri dan menyertakan namanya, toh guru tidak akan tahu kalau tidak ada yang melapor bukan. Dia anak pintar tentu aku tahu ide konyol itu tidak akan dia setujui tapi apa boleh buat aku malas harus bertanya. Di seberang sana Ardan justru sedang memikirkan cara untuk nengajakku berkerja kelompok. Tapi dia bingung harus mulai dari mana setelah apa yang terjadi sebelumnya, yang ada dipikirannya hanya menyelesaikan tugas sesuai ketentuan dan dateline. Akhirnya dia memutuskan bertanya seadanya karena dia pikir lebih baik sudah bertanya daripada dia berinisiatif tapi malah memperumit urusan.


"Alana"


"Ya, apa?"


"Soal tugas tadi gimana, kapan kamu bisa?"


"Gini aja deh, aku buat sendiri gak apa kamu tinggal terima beres aja. Tenang aja nama kamu bakal aku cantumin kok"


"Maaf bukannya aku sombong ya, tapi emang kamu bisa ngerjain sendiri? Bukannya kamu paling malas ya sama mapel ini."

__ADS_1


"Jangan sok tahu, aku bisa kok cuma biasanya emang agak gak minat aja bukan apa apa"


"Kerjain aja bareng, aku gak mau main curang"


"Ya udah kalau gak mau aku yang buat, gimana kalau kamu aja terus aku yang terima beres?"


"Boleh, tapi berarti nama aku aja yang ditulis kan aku yang buat ngapain repot"


"Dasar! Nyebelin banget si. Oke kapan buat bareng!" seru ku sebal


"Oke"

__ADS_1


Hari itu perasaan sebal membuatku berpikir aku harus bisa mengalahkan dia untuk menutup mulut sombongnya. Aku juga harus bisa membuatnya mengakui aku bukan orang yang bisa diremehkan seperti katanya tadi.


Pukul 07.45 Minggu


Aku sengaja datang lebih awal supaya dia tahu aku bukan orang yang suka jam karet dan aku juga akan membuktikan kalau siapa sebenarnya yang harus sadar siapa yang terlambat. 10 menit berlalu ku pikir aku bisa dengan bangga mengungkap fakta yang terlambat siapa, tapi dia bukan sembarang orang yang bisa dilawan dia datang tepat tepat jam 8 dan itu adalah fakta yang membuatku marah.


Hari itu,


hari dimana dia dan aku mulai saling mengubah kesan pertama yang buruk.


Dia menunjukkan hal yang tidak seorangpun teman sekolah tahu, sifat bagaimana baik dan sopannya dia terhadap orang lain bukan sifat dingin yang selalu melekat pada dia ketika di sekolah. Sifat penyayangnya dia terhadap orang lain yang memang membutuhkan. Hari itu tugas kami selesai cepat hanya butuh waktu 1 jam menyelesaikannya. Hari itu aku sangat penasaran apa yang akan dia lakukan setelah itu, jadi aku diam diam mengikutinya dan di situlah aku melihat sosok lain darinya. Dia datang ke tempat pemukiman pemulung sebagai guru sukarelawan di sana. Banyak anak anak riang menyambut kehadirannya, dia mengajarkan pelajaran yang dipelajari di sekolah. Mereka adalah anak yang tidak bisa mengenyam pendidikan formal layaknya banyak orang, keterbatasan ekonomi membuat mereka terpaksa harus membantu orang tuanya mencari uang sekedar untuk bisa menyambung makan esok harinya. Sebutir nasi tidak mereka sisakan karena tahu betapa sulit bagi mereka untuk mendapatkannya sedangkan kita orang yang bahkan terkadang membuang banyak nasi yang sangat sulit mereka dapatkan.

__ADS_1


Berkat Ardan anak anak itu tahu cara membaca, menghitung, dan menulis. Tahu mana yang baik dan mana yang jahat. Berkat Ardan pula mereka merasakan yang di namakan bersekolah, sekedar itu pun sudah membuat mereka senang. Tidak uang yang Ardan incar tapi Kebahagiaan. Menang tidak setiap hari dia datang, tapi setiap kedatangannya selalu disambut hangat oleh mereka. Dia yang selalu dingin tak ku sangka punya sifat sebaik ini.


Aku mengamati dari jauh, Hatiku terpukul teramat dalam. Betapa tidak bersyukurnya aku sudah menperoleh hidup selayak ini tapi masih selalu mengeluh.


__ADS_2