
Aku Alana, usiaku sudah 20 tahun aku mengambil jurusan seni. Dunia kuliahku di penuhi warna layaknya sebuah lukisan yang dilukis dengan banyak cat berwarna. Kehidupan kuliahku lancar meski sekali dua kali aku kehabisan ide untuk menunjukkan karya terbaruku. Tapi ibu bukan masalah besar kedua sahabatku dan Raka banyak membantuku mengajakku berkeliling kota setiap aku mulai kehabisan ide bahkan bepergian ke luar daerah untuk mencari hal hal baru yang belum pernah terlukiskan seniman lainnya.
Di tahun ini, aku diberi kesempatan berharga untuk menunjukkan karya seniku dalam sebuah galeri seni. Karyaku di pajang bersanding dengan karya seniman nasional dan juga internasional. Rasanya bagai mimpi bisa memajang karyaku di sebuah galeri seni. Apalagi disandingkan dengan seniman idolaku. Inilah awal sebuah mimpi dari impianku.
Dalam pameran itu aku diberikan kesempatan memajang dua karya terbaikku. Aku memajang lukisan matahari tenggelam dengan seorang gadis yang menatapnya, yah itu adalah aku. Yang kedua aku memajang pintu tertutup dengan kedua rantai membentang menutupi seluruh pintu. Pintu gelap yang kehilangan kuncinya yang ditutup rapat tanpa dapat dibuka. Itu ibarat hatiku, di pameran itu aku diberikan tiket untuk 3 orang. Orang itu tentu saja Ayah dan ibu. Dan yang satu lagi sebenarnya hendak ku berikan kepada Ale tapi dia menolak di bilang pameran tidak akan seru jadi dia menolak. Dennis tidak bisa di ada acara di kampus. Karenanya aku memberikan kepada Raka. Itu karena ide dari ayahku, tapi ku pikir itu bukan ide yang buruk jadi ku berikan kepadanya. Dia menatapku senang mendapat tiket itu.
Hari itu, dia datang dengan balutan jas hitam dia tampak sangat menawan. Ayahku juga sama sedangkan ibuku memakai dress simpel selutut.
Ayah dan ibu mereka sangat bangga kepadaku mereka terlihat tersenyum sepanjang acara. Mereka berdua juga terlihat antusias melihat lukisan lainnya. Dia berjalan bersamaku, ayah memyuruhku menemaninya. Dia sejak tadi menatap dengan diam lukisan yang terlewati. Hingga dia akhirnya berhenti di lukisanku lukisan matahari tenggelam dengan gadis yang menatapnya.
__ADS_1
"Lukisan ini karyamu kan?" tanyanya antusias
"Heemm"
"Apa filosofi lukisan ini?"
"Menunggu"
"Seseorang yang di harap kembali"
__ADS_1
"Lukisan pintu ini juga karyamu?" aku mengangguk
"Karyamu menarik Alana"
"Terimakasih"
Saat itu aku tidak menyadari aku mengatakan dengan jelas isi hatiku yang sudah ku pendam begitu lama. Aku juga tidak menyadari ketika dia begitu paham isi lukisan itu.
Sejak saat itu karyaku mulai disukai banyak orang, aku sering berpartisipasi dalam pameran memajang karya terbaruku. Sedikit demi sedikit namaku mulai dikenal orang, tapi hal itu justru menjadi beban tersendiri bagiku. Banyak orang menanti karyaku, aku hampir selalu kehabisan ide untuk jadi bahan karya selanjutnya. Disaat begitu dia dengan penuh pengertian seakan mengerti kecemasanku dia mengajakku selalu berkeliling kota. Menatap warna lain dari kota yang belum tersorot banyak orang.
__ADS_1
Kehidupan yang selama ini selalu ku anggap tidak menarik, ternyata semata mata karena aku tidak mensyukuri ini semua. Betapa banyak orang di luaran sana yang menginginkan kehidupan layak seperti yang ku lalui tapi aku seakan selama menutup mata bahwa yang ku jalani selarang sudah lebih dari cukup untuk di syukuri. Entah soal masalah ekonomi maupun keluarga atau teman semua patut di syukuri. Aku kini tahu bukanlah tidak tahu dirinya aku yang selalu meminta lebih padahal yang ku miliki sudah sangat di lebihkan.