Waktu Yang Terlampau

Waktu Yang Terlampau
Eps 4. Dia orangnya


__ADS_3

Pukul 08.00 Pagi


Matahari menampakkan sinarnya


Sinar yang selalu ceria apapun keadaannya


Itulah Alana Pagi ini senyum sudah terukir manis di bibirku, tapi tidak dengan hatiku. Ayah dan ibu yang sudah duduk mengisi meja makan. Di sana juga terlihat dua sahabatku. Sarapan pagi ini terasa canggung tidak ada yang memulai pembicaraan hingga akhirnya Ale kembali melontarkan lawakan tawa. Tapi tidak ada yang tertawa keras seperti biasanya hanya ada tawa kecil dari ibu dan Dennis.


Setelah sarapan Kedua sahabatku mengajakku menikmati pantai. Mereka bilang kapan lagi mereka bisa menikmati keindahan pantai bersama seperti ini. Tapi aku tahu bukan hanya itu alasan mereka mengajakku keluar, mereka pasti juga di suruh ibuku menghiburku aku tahu itu. Pagi ini ku lihat ibu menatap cemas ke arahku lantas berganti menatap Ale. Aku tahu maksudnya bahkan tanpa katapun aku tahu.


Hari ini benar benar kami bertiga habiskan untuk menyusuri setiap jengkal pantai dari ujung sampai ujung. Mereka mencoba mengajakku bermain tapi aku hanya menggeleng. Begitu terus sampai sore. Sore itu kami kembali ke resort dan berdiri di depan pintu masuk ayahku yang sedang melamun. Ale dan Dennis sontak manatapku dan aku hanya mengangguk. Mereka menangkap sinyal itu dan bergegas masuk meninggalkan aku. Aku berjalan menghampiri ayahku dan ayahku terlihat tersadar dari lamunannya beranjak berdiri tapi aku segera menahan tangan ayahku. Ayah menatapku dengan tatapan bersalah sekaligus khawatir.


"Ayah, sebentar ada yang lana mau sampaikan" Ayah hanya mengangguk


"Lana, sudah pikirkan semalam. Lana pikir ..."


"Jangan terburu-buru ayah tidak akan menekanmu nak"


"Lana, tidak tertekan yah. Lana, akan mencobanya. Siapapun pilihan ayah Lana akan mencoba nengenalnya tapi bolehkan Lana meminta satu hal?"


"Benarkah? Kamu akan mengenalnya?" Aku balas mengangguk


"Katakan apa keinginanmu nak?"


"Bolehkan Lana selesaikan kuliah Lana lebih dahulu?"


"Tentu saja, ayah tidak memintamu segera menikah. Selesaikan kuliahmu, dalam 2 tahun selama kuliahmu izinkan dia menemanimu" lagi lagi aku hanya mengangguk


Pukul 21.00 Malam

__ADS_1


Kami semua mengemas pakaian besok kami sudah harus kembali ke kota kami. Penerbangan jam 8 pagi. Suasana belum sepenuhnya membaik tapi ayah terlihat lebih baik. Sudah terlihat senyuman kecil di wajahnya.


Kami tiba di bandara setengah jam sebelum keberangkatan di sana. Terlihat yang ada beberapa teman ayahku yang jam kepulangan yang sama dan dia seorang pria tampan berkulit putih. Dia terlihat familiar ku pikir dia pasti juga salah seorang tamu di pesta kemarin. Melihatnya ayahku segera mendekat kearahnya. Aku hanya sedekar melihatnya sekilas tanpa tahu ternyata dia adalah orangnya. Orang yang akan di kenalkan padaku.


Malam di hari berikutnya, dia datang membawa beberapa macam buah dan makanan. Tentu saja di sambut baik oleh kedua orang tuaku. Aku tidak tahu menahu mengenai kedatangannya tiba tiba saja begitu aku turun dia sudah ada di sana. Seketika aku langsung paham, jadi dia orangnya. Namanya Raka Wijaya, dia adalah dokter anak muda yang sangat populer. Umurnya 25 tahun dan dia anak dari seorang pekerja kantoran biasa ku dengar ayahnya sudah tiada dan ibu tidak tahu dimana. Dia hidup sendiri sejak ayahnya meninggal saat itu dia berusia 23 tahun. Wajahnya bukan main, dia sangat tampan dengan mata besar dan rahang yang tegas.Tentu saja hal itulah yang membuatnya populer.


"Lana, kemari" jemari ibu mengajak


"Ya, sebentar. Aku turun"


"Nak Raka ini Alana putri saya" ibu menepuk pundakku lembut


"Saya Raka Wijaya, salam kenal Alana" senyum ramahnya segera mengisi wajah tampannya menyodorkan tangan ke arahku.


"Saya Alana Saputri" senyumku sambil menjabat tangannya


Kami meninggalkan rumahku setelah aku mengambil tas dan dia juga tampaknya masih belum sepenuhnya beradaptasi dengan ini. Kami menaiki mobil hitam miliknya melesat membelah jalanan malam kota. Tidak ada sepatah kata pun terdengar di mobil dia hanya fokus menyetir dan sekali dua kali melirik ke samping memandangku yang hanya duduk diam memandang jalan malam. Dia berhenti di depan kafe dan mulai bertanya sebelum sepenuhnya kami turun dari mobil.


"Alana, apakah tidak apa di kafe?" lagi lagi aku hanya balas mengangguk.


Kami memasuki kafe dan memilih duduk di lantai dua disamping jendela.


"Alana, kamu mau pesan apa?"


"Jus mangga saja"


"Baiklah" Dia segera pergi menuju barista di depan memesan tubuh tinggi semampainya bahkan terlihat menawan dari belakang. Terdengar decak kagum wanita di meja yang dilewatinya.


"Jus mangga milikmu, apakah kamu mau pesan keik Lana?"

__ADS_1


"Tidak terimakasih"


"Apakah kamu memang sependiam ini Lana? Ku pikir kamu bisa mengatakan sesuatu padaku. Ungkapan kesalmu mengenai perjodohan ini juga tak apa aku akan mengerti. Aku berada di depanmu ini tidak akan memaksa atau menutut perlakuan yang baik darimu. Aku hanya mau untuk saat ini setidaknya jadikan aku temanmu" kata katanya terdengar tulus dan penuh rasa bersalah. Aku merasa tidak enak hati melampiaskan perasaan kesal pada orang yang bahkan tidak tahu menahu.


"Maafkan saya Pak Raka, saya memang tidak seharusnya bersikap demikian. Saya hanya masih belum sepenuhnya menerima ini"


"Tak apa Lana, tapi bisakah kamu berikan aku sedikit sikap ceriamu. Rasanya aku merasa bersalah melihat kamu hanya duduk tanpa ekspresi begitu dan kalau boleh bisakah panggil aku dengan nama saja. Panggilan itu rasanya lebih nyaman" senyumnya penuh harap


"Baik Raka" senyumku simpul


"Alana, tahukah kamu senyummu manis sekali. Tapi bahkan aku tidak berani melihatnya. Rasanya senyum manismu sudah berkepemilikan" Aku terkejut bukan main. Apa maksud kepemilikan itu, apakah dia mengira aku menolak karena sudah punya pacar? Tapi aku hanya tersenyum menjawabnya.


"Raka, apakah kamu punya pacar?"


"Tidak, kenapa?"


"Hanya penasaran, kamu sangat populer di manapun kamu berada pandangan akan tertuju padamu apakah benar kamu tidak punya pacar? Atau misalkan orang yang menyukaimu mungkin"


"Wah, Alana aku tidak mengira gadis pendiam tadi bisa berbicara sepanjang ini. Benar ternyata kamu seceria matahari" senyumnya cerah


"Bukan begitu, aku hanya bertanya kamu tidak perlu menjawab" wajahku padam malu rasanya orang lain mendengarku seolah orang cerewet


"Bukan pertanyaanmu yang gak mau ku jawab, Lana. Aku hanya sedang kagum melihat perubahan sikap ini tapi aku senang dengan perubahan ini" lagi lagi dia tersenyum


Aku hampir tidak sanggup terus menerus melihat wajah tersenyumnya dia sangat tampan saat tersenyum. Hampir meleleh rasanya hatiku tapi coba ku pendam sebisa mungkin. Aku ingat ada hal yang membebani hatiku mengenai perjodohan dengannya membuatku lupa betapa tampan dan baik sifatnya.


"Alana, mari berteman. Jangan pikirkan mengenai perjodohan, kamu masih punya waktu 2 tahun untuk berpikir. Untuk saat ini anggap saja aku temanmu. Tolong jangan merasa terpaksa ketika bersamaku katakan kalau kamu merasa tidak nyaman, aku akan menerimanya. Setidaknya katakan sejujurnya kamu ketika bersamaku. Bisakah ku minta hal ini Lana?"


"Aku akan mencoba bersikap sejujurnya, dan sebelum itu maaf dan tolong pahami aku kalau mungkin aku bersikap baik. Kamu juga sebaiknya jangan terpaksa berada di sampingku. Kamu bisa pergi kapanpun kamu mau" Kami berjabat tangan untuk kedua kalinya tapi kali ini berbeda perasaan yang tercipta lebih tulus dari jabat tangan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2