Waktu Yang Terlampau

Waktu Yang Terlampau
Eps 3. Umur 20 Tahun


__ADS_3

Sudah ku katakan sebelumnya ada hal yang akan terjadi ketika usiaku menginjak 20 tahun. Tepatnya hari ini, hari ulang tahunku, hari bahagiaku, dan tahun ke-20 tahun aku melihat betapa indahnya dunia. kami sekeluarga sedang merayakan ulang tahunku di sebuah resort milik teman ayahku. Ayahku menyewa resort temannya hanya untuk merayakannya. Resort ini berada di dekat pantai, jadi pesta digelar di tepi pantai dengan sederhana. Padahal aku tak mengharapkan perayaan seperti ini, aku merasa seperti masih kecil melihat perayaan ulang tahun ini. Seharusnya usia ini tidak memerlukan pesta perayaan. Bukankah usia 20 adalah usia dimana remaja sudah dianggap dewasa dan bisa bertanggung jawab pada diri sendiri. Tapi kenapa mereka malah membuat perayaan segala.


Aku merasa ada hal ganjil yang sedang terjadi. Dan benar adanya memang ada hal yang harus orang tuaku sampaikan. Tidak biasanya ulang tahunku di rayakan di luar daerah begini. Biasanya ulang tahunku hanya diadakan di rumah tanpa mengundang orang lain. Bahkan ulang tahunku ke-17 saja hanya keluarga dekat dan teman dekatku yang diundang itupun diadakan di rumah dengan sederhana. Tapi kali ini sungguh mengejutkan.


Pukul 5:35 Sore


Angin berhembus pelan membuat pohon nyiur bak menari di terik matahari sore itu.


Nelayan hilir mudik mengangkut hasil tangkapan menuju rumah masing - masing. Pesta sudah usai semua tamu beberapa sudah kembali ke hotel masing-masing tersisa beberapa tamu ayah yang tersisa dan kedua sahabatku Ale dan Dennis. Aku meninggalkan tamu ayahku setelah menyapa dan mengucapkan terimakasih atas kehadirannya. Duduk di tepi pantai menatap indah senja sore itu. Ditemani dua sahabat yang selalu ada di sampingku dan mengenang seseorang yang jauh disana. Masihkan dia mengingatku dan hari ulang tahunku? Apakah dia baik baik saja? dimanakah dia berada? Sedang apa? Banyak sekali hal yang ku pikirkan tentangnya tapi tidak ada satu pun pertanyaan itu yang ku ketahui jawabannya.


"Alana, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Dennis yang sejak tadi memang menatap sendu raut wajahku.


"Bukan apa apa, aku hanya merasa ada yang salah saja"


"Salah? Apa maksudmu memang kamu mengecewakan siapa? Kayanya semua puas dan lancar deh pestanya" tanya Ale dan tampaknya Dennis juga setuju dengan yang di tanyakan Ale


"Entahlah, apa kenapa aku berpikir demikian. Tapi firasatku mangatakan akan ada yang terjadi"

__ADS_1


"Sudahlah itu hanya perasaanmu saja, mungkin kamu lelah seharian ini kan kamu menyambut banyak tamu pasti kamu lelah makanya jadi begitu. Sudah jangan di pikirkan ini kan hari bahagiamu pikirkan yang membuat happy saja"


Ale menenangkanku dan Dennis juga mengangguk setuju.


"Ayo kembali ke resort ini sudah sore, kamu juga pasti lelah istirahatlah Lana" Ajak Dennis sambil beranjak berdiri dari duduknya dan di susul Ale dan aku.


Pukul 08.15 Malam


Makan malam terhidang lezat diatas meja seakan pesta sehari penuh belum puas, di meja ada kedua orang tuaku, Ale, Dennis dan Aku.


Suasana santai segera tercipta begitu Ale melontarkan obrolan ringan penuh lawakan dan di balas tanggapan Dennis yang memicu pertengkaran lucu di meja makan sampai jamuan makan malam habis.


"Sudahlah Ale Dennis jangan berdebat, dengarkan ada yang ingin ayah dan ibu sampaikan kepada putri ayah, Alana"


"Ayah, apa yang ingin ayah sampaikan. Kenapa kepada Alana saja, katanya aku juga putri ayah huft ay.." Ale segera terdiam begitu disenggol oleh Dennis yang menyadari itu bernada serius


"Apa kalian tahu di usia berapa ayah dan ibu menikah? Tentu kalian belum banyak tahu karena kami memang belum bercerita. Ayah dan ibu menikah di umur kalian ini umur 20 tahun saat itu ibu masih kuliah tingkat 1 dan ayah di tingkat 2" suasana lenggang tidak ada yang bertanya atau memotong ayah

__ADS_1


"Saat itu, kami menikah karena perjodohan karena orang tua kami dulu dekat dan sudah saling berjanji akan menikahkan anaknya. Tapi seiring karena perjodohan, benih cinta mulai tumbuh di hati kami. Akhirnya setelah 2 bulan perkenalan kami menikah dan barulah setelah lulus kuliah ibumu mengandung kamu nak"


"Sekarang zaman memang sudah berubah, perjodohan sudah ketinggalan zaman tapi ayah mau kamu mencoba nak, mengenal seseorang anak teman ayahmu ini nak. Hanya ini keinginan ayah nak"


Suasana hening ayahku sudah menyelesaikan kalimatnya. Kalimat yang amat mengejutkan bagi semua orang yang mendengarnya. Baik aku, ibu, Ale dan Dennis. Tidak ada jawaban keluar dari mulutku, rasanya bibirku membisu tak mampu menjawab. Ayahku menghela nafas pelan, berkata penuh harapan.


"Tolong pikirkan ini dengan baik nak, apapun keinginanmu ayah akan terima" ayahku beranjak berdiri meninggalkan meja makan dan di susul ibuku. Aku masih duduk seakan tidak percaya yang barusan di katakan ayahku.


Ale dan Dennis sama terkejutnya denganku hingga hanya duduk menatap tak percaya. Tapi mereka segera sadar dan mengajakku beranjak berdiri. Ale dan Dennis mengajakku menghirup udara segar di luar. Mengajakku duduk di tepi pantai seperti sore tadi. Aku masih belum mengatakan apapun hanya diam menatap langit malam penuh bintang. Di sampingku dua orang ini juga masih saling pandang hendak menghiburku tapi enggan memperburuk suasana hatiku. 30 menit berlalu tanpa ada percakapan yang terucap. Hingga aku mulai buka suara.


"Kalian masuklah. Kalian pasti lelah bukan"


"Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian dalam keadaan begini, diamlah aku takkan bertanya apapun. Tapi terjanjilah katalah ketika kamu sudah tak mampu menyimpannya sendiri. Aku ada disini, disampingmu akan mendengarkan semua ceritamu" Ale kembali terdiam setelah mengatakan hal itu


"Aku baik baik saja, jangan khawatirkan aku dan tidurlah"


"Jangan berlagak baik baik saja, kamu sedang tidak baik baik saja, alana. Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik, akan ku pinjamkan bahuku" Dennis membalikkan badan untukku.

__ADS_1


Malam itu tangisku pecah, perasaan yang campur aduk bahkan tanpa pemaksaan sekalipun. Tangisan keegoisan seorang gadis yang belum memberikan kebahagiaan apapun pada kedua orang tuanya. Juga tangisan kerinduan kepada seseorang yang entah ada dimana. Tangisan itu sudah tidak dapat di pendam lagi. Kedua sahabatku adalah saksi dari keegoisanku.


__ADS_2