Waktu Yang Terlampau

Waktu Yang Terlampau
Eps. 10 Si Cinta Pertama


__ADS_3

Apa kalian ingat Ardan? Benar, dia teman SMA-ku dulu. Kami bertemu melalui salah paham. Dulu aku pernah sangat membencinya, tapi memang benar kata orang jangan terlalu membenci seseorang nanti malah jadi cinta. Karena cinta dan benci itu memang dekat. Awalnya kami hanya dekat karena sebuah kerja kelompok. Tapi setelah hari itu, aku jadi lebih memperhatikan dia. Bukan karena aku benci, mungkin karena penasaran. Penasaran itu mulai tumbuh menjadi cinta tanpa aku sadari. Aku suka apapun yang dia lakukan. Aku bahagia melihatnya menikmati harinya. Aku sedih melihat dia sedih. Begitulah awalnya, bukan hal istimewa yang membuatku jatuh hati kepadanya melainkan hanya hal sepele berkat kebaikan hatinya.


Hari itu, sejak terakhir kali kita ke cafe bersama. Dia lebih sering mengajakku ke cafe. Awalnya ku pikir dia hanya sedang kesepian. Jadi aku pun tanpa pikir panjang menyetujuinya. kupikir itu bukan hal istimewa jadi aku tak pernah menolaknya. Hatiku mulai nyaman di dekatnya, Aku selalu menanti ajakannya. Sejak saat itu aku tau aku mulai jatuh hati padanya. Dia si tipe orang yang dingin bukankah aneh jiwa tiba-tiba berubah menjadi orang hangat. Aku sempat berpikir dia mungkin melakukan ini karena suka padaku. Aku pun sebenarnya sangat berharap lebih. Tapi dia tak kunjung mengungkap perasaannya.

__ADS_1


Aku selalu sabar menantinya seperti layaknya teman aku berlindung di balik derasnya perasaanku. Kami sudah cukup dewasa untuk memulai kisah ini. Tapi ada apa dengannya? bukankah mudah mengungkapkan perasaan pada orang yang selalu ditemui. kenapa dia menunggu selama ini. Hari itu perasaanku sudah memuncak, aku sudah tak tahan menjalani hubungan yang entah apa namanya. Hari itu aku menyatakan perasaanku. "Ardan, aku mau kita lebih dari sekedar teman"


"Hancur sudah harga diriku, aku menyatakan perasaan kepada laki-laki ini", Begitu pikirku. Tapi dia membalas dengan senyuman. Hatiku mencair seketika, apa ini? Dia juga suka padaku tau apa. Tapi dia tidak menerima maupun menolak. Hanya satu kata yang dia katakan "tunggu aku". Hari itu dia mengatakan dia harus pergi ke luar negeri. Kabar mendadak yang langsung mengugurkan perasaanku. Dia akan terbang besok, dia harus banyak menyiapkan barangnya. Dia pergi tanpa kata lain bahkan setelah mendengar ungkapan hatiku. Dan perasaan itu masih bertahan sampai hari ini. Disaat umurku bukan lagi umur anak SMA yang dulu.

__ADS_1


Aku sudah lelah menunggu, dalam berapa tahun aku menunggu tiada kabar apapun darinya yang ku terima tapi hatiku masih tetap sama. Sudah banyak hari ku lewati penuh keputusasaan tapi tiada kata yang mampu ku membuatku berhenti bertahan.


Aku akan selalu di sini menanti pun sudah berulang kali ku ucapkan tapi aku sudah terlalu muak mengucapkan meski hanya untuk sekali lagi.

__ADS_1


Disaat kesabaran ini telah habis, kabar kepulangan mulai terdengar ditelinga.


Tapi percuma saja aku senang, dia memang pulang tapi aku bahkan tak bisa menemuinya. Dia tak pulang ke rumahnya di sini. Melainkan hanya pulang kunjungan dinas bahan kuliahnya. Sungguh ironis kisah cinta ini.

__ADS_1


__ADS_2