Waktu Yang Terlampau

Waktu Yang Terlampau
Eps. 11 Tentang Raka


__ADS_3

Raka adalah mutiara terpendam yang berhasil ku temukan. Dia sangat berharga hingga aku bahkan takkan mampu membuangnya. Aku terpilih sebagai salah seorang teman di dekatnya sudah sangat bersyukur.


Sifatnya selalu tenang dan lemah lembut. Diamnya berarti ada hal yang serius yang akan diungkapkannya. Dia dikenal orang yang sangat ramah bahkan dengan teman SD saja dimasih berhubungan baik semua. Bukan hanya seorang yang tampan dia juga orang berkepribadian baik. Siapapun nanti pemilik hatinya adalah gadis beruntung yang berhasil memenangkan mutiara yang hanya ada satu dilautan.


Wajah tampannya begitu populer tidak jarang banyak gadis yang bahkan menggodanya walaupun di sampingnya ada aku. Tapi dia selalu menanggapi godaan dengan baik tanpa menyinggung lawan bicaranya. Tidak heran jika banyak gadis yang tergila-gila kepadanya.


Aku yang awalnya hanya bersifat sekedar teman saja seiring berjalannya waktu akhirnya mulai merasa nyaman kepadanya bukan hanya sekedar teman mungkin tapi lebih dari itu. Dia sering mengajak jalan jalan meski hanya menatap keramaian jalanan atau hanya sekedar makan jajanan pinggir jalan. Tapi itu hal yang berkesan untukku. Dia berbeda tampilannya mungkin terlihat seperti elegan tapi dia tidak malu untuk menyusuri jalan kumuh sekalipun. Dia orang yang punya kepribadian sosial yang tinggi. Dia orang yang penyayang, mungkin karena dia dokter anak jadi pasti itu kebiasaannya.


Dia terkesan jarang menanyakan hal pribadi tentangku, tapi dia tahu semuanya seiring berjalannya waktu. Dia pengamat yang baik.


Aku terkadang bertanya apa kesukaannya, kebiasaanya atau sesuatu mengenai pekerjaannya. Dia dengan senang hati selalu menjawab dengan baik.


"Boleh aku tanya?"


"Silakan Alana, kamu boleh tanya kapanpun kamu mau tanpa perlu izinku"


"Kenapa kamu tidak pernah bertanya hal pribadi kepadaku?"


"Aku tidak ingin memaksamu untuk menjawabnya"


"Tapi bagaimana kamu tahu kesukaanku dan yang lainnya?"


"Aku mengamatimu"

__ADS_1


"Bagaimana kamu yakin uang kamu amati benar kalau kamu tidak bertanya langsung dengan yang bersangkutan"


"Aku hanya yakin, lagipula kamu orang yang mudah ditebak Alana. Apa kamu lupa aku seorang dokter?"


"Apa hubungan pertanyaan ku dengan profesi dokter?"


"Hubungannya karena dokter pasti paham psikologi meskipun hanya dasar"


"Ah benar juga, tapi ini tidak adil bagimu bukan"


"Apa yang tidak adil?"


"Aku selalu bertanya banyak hal pribadi tapi kamu tidak bertanya apapun bukankah tidak adil"


"Benarkah? Tidak apa aku sering bertanya?"


"Tentu saja, Alana"


"Raka"


"Ya, Alana"


"Apa kamu pernah menolak perjodohan kita?" pertanyaan ini sempat membuatnya tersentak tapi dia segera menjawab dengan tegas.

__ADS_1


"Tidak"


"Kenapa?"


"Bolehkah tidak ku jawab, akan ku berikan jawabanku ketika aku siap" aku mengangguk


"Alana, boleh aku bertanya juga?"


"Silakan"


"Apa yang membuatmu menunggu"


Menunggu? Aku sempat berpikir sejenak apa artinya pertanyaan ini.


"Kunci, bukankah kita tidak bisa masuk di pintu yang terkunci. Karenanya aku menunggu, kunciku hilang. Butuh waktu untuk menemukannya."


"Apa kunci itu belum kamu temukan?"


Aku hanya diam. Sebenarnya aku tahu jawabannya tapi aku tahu jawaban ini akan melukai perasaan Raka. Aku memutuskan tidak menjawabnya dan Raka sendiri tahu aku yang tidak menjawab artinya memang tidak perlu dipertanyakan lagi.


"Baiklah, tak apa. Aku mengerti mungkin sulit untuk menjawabnya"


Begitulah Raka sifatnya selalu penuh pengertian tidak pernah dia memaksaku menjawab pertanyaan yang tak mau ku jawab. Meskipun aku tahu sebenarnya Raka menginginkan jawabannya tapi aku terlalu sulit mengatakannya. Dari sifatnya itu sedikit aku mulai merasakan getaran tapi aku terlalu buta untuk mengetahui perasaanku. Aku yang bodoh ini selalu menunggu orang yang tak ada di depan mata dan malah lupa dengan orang yang tepat ada di depan mata.

__ADS_1


__ADS_2