1001 Cerita Horor

1001 Cerita Horor
Diary Terkutuk


__ADS_3

Suasana siang ini cerah sekali. Terlihat semua murid sedang memanfaatkan waktu istirahat dengan sebaik-baiknya. Mungkin agar pada saat pelajaran selanjutnya dimulai mereka tidak akan merasa tegang. Banyak murid yang berlalu lalang di depan kelasku dengan bebasnya. Namun tidak denganku.


Hanya karena saat pelajaran pertama aku mendapat masalah, aku jadi harus berdiri di depan kelas sampai jam pulang sekolah nanti. Dan setelah hukuman ini selesai, masih ada satu hukuman lagi yang mengungguku. Dan hukuman itu adalah, membersihkan halaman sekolah. Benar-benar menyebalkan. Padahal masalah yang tadi kan bukan salahku.


“Lucy, maaf ya.” Sesal Rani sambil menatapku. “Kita kan friend. Masa mau ngambek terus?” ia menarik-narik tanganku.


“Temen sih temen. Tapi kalau kena hukuman jangan ngajak-ngajak dong!” jawabku ketus.


“Iya-iya. Maaf deh.” Rani terus menatapku dengan wajah seperti akan menangis hingga membuatku merasa iba. Sahabatku yang satu ini memang tau bagaimana caranya membuatku berhenti marah padanya.


Saat sekolah sudah terlihat sepi, aku dan Rani masih menyapu di halaman sekolah. Padahal jam di tanganku sudah menunjukkan pukul setengah dua. Tapi sampah di halaman belum habis juga. Huh! Benar-benar menyusahkan.


“Hore! Akhirnya kerjaan kita selesai juga.” Kataku dengan sangat senang setelah melihat halaman yang sejak tadi kami bersihkan telah bersih.


“Oh, iya Lucy. Aku harus pulang dulu nich. Soalnya setengah jam lagi aku ada les bahasa inggris. Kamu gak papa kan kalau harus buang sampah sendiri?” tanya Rani.


“Hm… gimana ya?” aku berpikir sejenak. “Ya udah deh. Nggak papa.” Kataku sambil tersenyum tipis.


“Ok. Kalau gitu aku duluan ya!” Rani beranjak pergi setelah mengambil tasnya di kelas.


Sebenarnya sih membawa tempat sampah ini sendirian pasti akan terasa berat. Tapi karena Rani sering membantuku, jadi aku akan menganggap ini sebagai balas budi.


Aku menjinjing tempat sampat itu menuju container. Karena containernya sedikit tinggi, aku jadi harus mengangkat tempat sampah itu agar bisa mengeluarkan isinya. Benar-benar berat. Lenganku jadi terasa sakit. Setelah tempat sampah itu kosong, aku segera melangkahkan kakiku untuk menuju kelas. Namun setelah beberapa kali, aku menghentikan langkahku. Kini pandanganku tertuju pada sebuah buku berwarna biru yang ada di dekat container. Aku meletakkan tempat sampah yang kubawa lalu memungut buku itu.


“Ini diary?” tanyaku sambil membuka satu-persatu lembaran buku itu. Sepertinya buku ini sudah dibuang. Kulihat tulisan berwarna merah yang tertulis dalam buku itu. Susah payah aku membaca tulisan itu tapi tetap tak bisa. Tita yang digunakan sangat tipis juga telah luntur seperti terkena air.


“Ya ampun. Udah jam segini!” seruku setelah melirik jam tanganku yang telah menunjukkan pukul 02.05. Aku meletakkan buku itu ke tempatnya semula lalu menjinjing tempat sampah dan berlari menuju kelas.

__ADS_1


Setelah mengunci kelas, aku bergegas pergi meninggalkan sekolah. Tapi saat sampai di gerbang, langkahku terhenti. Aku teringat dengan buku diary yang kutemukan tadi. Tiba-tiba perasaan aneh menghampiriku. Rasanya ingin sekali aku mengambil dan membawanya pulang. Tapi yang aku tau itu hanyalah diary yang telah lusuh dan terbuang.


Tanpa berpikir panjang aku segera berlari menuju container. Meski rasa lelah sudah kurasakan sejak tadi, aku tetap memaksakan diri untuk berlari lebih cepat. Namun saat sampai, aku sudah tak menemukan diary itu lagi.


“Aneh. Padahal tadi aku sudah meletakkannya disini? Apa mungkin ada orang lain yang telah memungutnya?” aku bertanya-tanya. Aku berusaha mencari diary itu disekitar tempatku meletakkannya tadi.


Akhirnya aku menemukannya. Kulihat diary itu berada di dalam tempat sampah yang ditinggalkan kelas lain. Mungkin ada orang lain yang menemukannya setelah aku pergi lalu membuangnya karena menganggapnya sampah. Jika itu benar, beruntung orang itu tidak mengambilnya.


Sore ini aku duduk termenung di dekat jendela. Ada banyak hal yang kupikirkan hingga membuat kepalaku terasa pusing. Salah satu hal yang aku pikirkan adalah tugas Bahasa Indonesia yang akan dikumpulkan besok. Tapi masalah utamanya bukan itu. Yang membuat kepalaku pusing adalah bagaimana caranya aku mengerjakan pr kalau bukunya saja tidak ada? Salahku juga sih karena tak sengaja menghilangkannnya.


“Oh, ya! Diarynya!” seruku setelah teringat dengan buku diary itu. aku mengambil tasku untuk mencarinya juga sebuah pulpen yang akan kugunakan untuk menuliskan pengalaman yang aku alami hari ini.


“Dear diary. 3 hari yang lalu aku nggak sengaja menghilangkan buku Bahasa Indonesiaku. Gimana ya? Padahal besok ada tugas yang harus kubawa. Mana gurunya galak lagi. Masa aku mau dihukum lagi kaya tadi?


Andai aku bisa, aku akan meminta agar Pak Ahmad tidak bisa datang untuk mengajar besok. Apapun alasannya aku ingin dia tidak bisa mengajar. Dan satu lagi permintaanku. Aku ingin agar bukuku bisa ketemu secepatnya.”


Hari ini kelas ramai sekali. Benar-benar mirip pasar. Kulihat teman-temanku terus mondar-mandir untuk menghampiri temannya yang ada di bangku lain. Sementara aku masih berdebar-debar sambil melihat kearah pintu karena takut kalau Pak Ahmad tiba- tiba datang dan langsung memeriksa pr-nya. Duh… nggak bisa kubayangkan human apalagi yang akan menimpaku hari ini.


“Woi! Kok bengong?” Rani berteriak tepat ditelingaku hingga membuatku kaget.


Aku menatapnya kesal. ”Ih, ganggu orang aja!” gerutuku kesal. Suda pagi-pagi stress, dikagetin lagi. Gimana gak tambah stress?


“Iya deh, aku minta maaf.” Katanya setelah duduk disebelahku.


“Oh, ya. Pak Ahmad mana? Kok dari tadi gak kelihatan?” tanyaku penasaran.


“Kamu gak tau?” Rani menatapku serius.

__ADS_1


“Apa?”


“Hari ini tuh Pak Ahmad nggak bisa ngajar. Katanya sih lagi sakit.”


Aku tertegun mendengar jawaban Rani. “Sakit?” batinku. Perasaan kemarin Pak Ahmad masih bisa mengajar di kelas sebelah. Kok sekarang tiba-tiba sakit ya? Tapi sudahlah. Bukankah itu artinya ini adalah hari keberuntunganku? Dengan begini aku tidak akan kena hukuman. Setidaknya aku masih punya waktu seminggu lagi untuk menemukan buku itu.


“Bosen nih. Main yuk!” ajak Rani.


“Main apa?”


“Pancasila ada lima dasar tapi pakai lempiran.”


“Ok. Setuju.” Aku membuka tasku untuk mengambil buku tulis untuk mendapat selembar kertas. Tapi bukannya mendapat selembar kertas, aku malah mendapatkan benda yang kucari selama ini.


“Ini kan?” tanyaku sembari menatap buku Bahasa Indonesiaku yang kini ada didalam tasku. Tapi kenapa bisa ada disini? Bukankah aku belum bisa menemukan buku ini? Ah, pasti ini hanya kebetulan saja.


Setiap hari aku terus menulis semua masalah yang aku alami dalam buku ini. Entah itu menyenangkan atau menyedihkan aku tetap tak memperdulikannya. Tapi setelah mengisi lembaran-lembaran diary ini, aku menyadari satu hal, yaitu setelah aku menulis permintaan dalam buku diary ini, maka beberapa saat kemudian permintaanku pasti terkabul. Sejak menyadari hal itu aku terus menulis semua permintaanku dalam buku diary itu. Karena aku yakin kalau permintaanku pasti akan terkabul.


Saat aku bertemu dengannya, dadaku selalu terasa berdebar-debar. Saat melihat senyumnya, hatiku terasa berbunga-bunga. Dan saat mendengar suaranya, hatiku merasakan kedamaian. Dia adalah orang yang membuat hariku menjadi indah karena dia telah membuatku merasakan cinta.


Ditempat ini aku selalu bisa melepas semua rasa lelahku. Saat melihat langit dari jendela kamar, rasanya semua rasa lelah itu hilang begitu saja. Apalagi setelah aku memiliki buku diary itu. Senang sekali rasanya kalau semua permintaanku bisa terkabul setiap hari. Hanya saja lembaran buku diary ini tidak akan bisa mengabulkan semua permintaanku yang memiliki banyak harapan ini. Tapi aku tak peduli. Meski lembaran buku ini hanya tinggal 3 lembar, tapi aku akan tetap menuliskan permintaanku yang satu ini.


“Dear diary. Sejak dulu aku menyukainya. Saat dia ada didekatku, rasanya ingin sekali aku mengatakan kalau aku menyukainya. Tapi kenapa ya selalu tak bisa? Setiap kali aku ingin mengatakannya, rasanya lidah dan bibirku jadi kaku hingga tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


Dear diary. Aku harap dia juga punya perasaan yang sama denganku. Jika itu benar, aku ingin sekali dia mengungkapkan perasaannya padaku. Dan saat dia mengatakannya, aku harap aku juga bisa mengatakan kalau aku juga menyukainya.”


Semoga harapanku yang satu ini bisa terkabul seperti harapanku sebelumnya. Tapi kenapa aku merasa tidak yakin. Padahal setiap menulis harapan yang lain, aku selalu yakin kalau harapanku itu akan terkabul. Kenapa sekarang tidak? Apa karena aku terlalu gugup?

__ADS_1


**BERSAMBUNG**


__ADS_2