1001 Cerita Horor

1001 Cerita Horor
Kejutan Terakhir Part 2


__ADS_3

Aku melihat kertas kecil di dekat tangga menuju balkon, aku membaca isi kertas itu. Kertas itu berisi:


Sekali lagi nak coba kamu naik ke atas dan kamu lihat ada apa gerangan? Hihihi, anak Mama pintar bisa melanjutkan petualangan surat ini!


Aku begitu penasaran, saat aku ingin membuka pintu balkon, “NENG NADIA!” panggil seseorang dari bawah, aku langsung menghentikan langkahku dan menuju ke seseorang yang memanggilku itu.


“Bibi Sumiah? Ada apa? Loh kok Bibi menangis?” kataku bingung melihat pembantu rumah tangga-ku itu menangis.


“Apakah kamu habis menyelesaikan petualangan surat dari Mama? Dan sudah sampai balkon?” tanya Bi Sumiah sambil terisak.


“Belum Bi, kan tadi Bibi menghentikanku memang kenapa?” tanyaku sangat bingung.


“Hiks, coba kamu lihat ke balkon sekarang!” perintah Bibi, aku langsung berlari menuju balkon dengan perasaan gembira dan terkejut aku melihat banyak sekali bunga dan lampu yang dihias disana, ada sebuah bunga yang dirangkai menjadi tulisan ‘HAPPY BIRTHDAY NADIA!’ sangat besar, aku sangat bahagia menerima kejutan ini. Tetapi ada sesuatu yang kurang,


“Bi, Mama, Papa, Kak Sabrina, Vianna, dan Vionna mana? Kok mereka tidak ada?” tanyaku bingung.

__ADS_1


“Hiks, Bibi sedih neng Bibi sedih,” jawab Bibi yang duduk sambil mengeluarkan air matanya itu.


“Ada apa, Bi? Bibi ada masalah? Coba cerita dulu ke Nadia,” kataku memegang tangan Bibi yang terlihat sangat sedih.


“Papa, Mama, Kak Sabrina, Vianna, dan Vionna mereka…”


“Kenapa Bi?” tanyaku penasaran.


“Meninggal dunia, tadi seorang penjahat membunuh mereka menggunakan golok tanpa sebab dan polisi sudah menemukan mereka semua,” jelas Bi Sumiah dengan sangat sedih.


“BIBI SERIUS??? BI? INI BUKAN SAATNYA BERCANDA BI!” kataku kaget, air mata langsung keluar dari mataku.


Selamat ulang tahun Nadia sayangku! Semoga kamu makin sehat, pintar, dan segalanya. Satu lagi semoga kita semua bisa bersama selamanya!


Seketika air mata membasahi pipiku,

__ADS_1


“Kenapa waktu begitu cepat? Mengapa saat pembunuhan berlangsung aku tidak dibunuh juga? Mama, Papa, Kak Sabrina, Vianna, Vionna, aku sayang kalian semua selamanya” kataku memeluk dan mengecup foto kami saat masih berkumpul dan bersama.


Kebahagiaan cepat berlalu, terima kasih atas kejutan kalian untuk ulang tahunku walaupun kalian lebih bahagia disana. Bibi menghampiriku dan memelukku dari belakang.


“Bi, Nadia mau tanya” kataku sambil menghapus air mataku.


“Tanya apa, sayang?” kata Bibi yang juga menghapus air matanya.


“Kan kata Bibi pembunuhan tadi pakai golok tetapi kenapa tadi di kamar Mama aku menemukan sebuah pisau? Lalu tadi nenek yang menunjukkan arah kepadaku siapa yang tadi naik ke atas tangga?” tanyaku bingung.


“Wanita tua itu Bibi neng, karena Mama juga mau Bibi ikut menyamar” jelas Bibi Sumiah.


“Hm, Bibi kan tadi naik ke atas kenapa tadi tiba-tiba Bibi muncul di jendela luar dan meninggalkan sepucuk surat pakai tinta merah dan menyuruhku pergi? Lalu tadi di kamar Kak Sabrina yang sedang menyisir rambut siapa, Bi? Apakah teman Bibi ikut dalam rencana ini?” tanyaku semakin bingung.


“Wah kalo soal itu Bibi tidak tahu, neng” kata Bibi, aku terdiam sangat bingung.

__ADS_1


Lalu kenapa ada pisau di kamar Mama tadi? Siapa wanita tua yang diluar itu? Dan siapa yang sedang menyisir di kamar Kak Sabrina tadi? Aku kira itu teman Bibi ternyata bukan, lalu mereka semua siapa?


**SELESAI**


__ADS_2