
Keesokan harinya harapanku terkabul lagi. Saat pulang sekolah, tiba-tiba Alex menghentikanku sebelum aku keluar dari kelas. Awalnya dia menatapku penuh keraguan. Lalu tiba-tiba ia mengatakan kalau dia menyukaiku. Aku sungguh merasa senang. Tanpa ragu aku menjawab kalau aku juga menyukainya. Tapi tak seperti biasanya. Hari ini aku bisa mengatakan hal itu dengan sangat mudah. Kini aku merasa ini adalah hari terindah dalam hidupku. Ini semua berkat buku diary itu. Aku jadi merasa menjadi orang paling beruntung karena pernah memiliki buku diary itu.
Dengan langkah yang terasa ringan aku melangkahkan kaki menuju rumah. Itu semua terjadi setelah Alex menyatakan perasaannya padaku.
Kubuka pintu rumah. Tak seperti biasanya. Hari ini rumah kelihatan sepi sekali. Padahal biasanya ada ibu yang selalu bersantai sambil menonton tv diruang tamu. Tapi kenapa hari ini sepi sekali ya?
Aku terus menunggu di rumah. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.30 tapi tak ada seorang pun yang datang. Bahkan ayah yang harusnya sudah pulang bekerja juga belum datang. Sebenarnya mereka kemana sih? Membuatku khawatir saja.
Tiba-tiba aku mendengar suara motor dari luar disusul dengan suara pintu gerbang yang terbuka. Karena penasaran, aku segera berlari keluar untuk melihat siapa yang datang.
Kulihat ibu berlari dengan sangat terburu-buru. Sementara diluar ada seorang wanita yang tak kukenal sedang menunggu ibu dengan motornya.
“Ibu dari mana? Kok wajah ibu pucat?” tanyaku cemas.
Ibu menghentikan langkahnya. Wajahnya terlihat basah karena air matanya yang mengalir dengan deras. “Ayahmu!” kata ibu dengan suara sesak. Sepertinya ia sudah menangis terlalu lama.
“Ada apa dengan ayah?” tanyaku semakin panik.
“Ayahmu kecelakaan. Sekarang keadaannya sedang kritis.” Ibu menangis semakin keras lalu memelukku dengan sangat erat. “Ibu akan kembali ke rumah sakit.” Kata ibu setelah melepaskan pelukannya. Ia mengambil sebuah foto keluarga yang ada di ruang tamu. Setelah itu, ia berlari keluar menyusul temannya.
“Aku ikut!” teriakku berusaha menghentikan ibu. Ia tak mendengarku. Motor yang ditumpanginya telah melaju dengan sangat cepat.
“Kenapa ini bisa terjadi?” kataku sambil terus menangis. aku ingin sekali nyawa ayah terselamatkan. Tapi bagaimana caranya?
__ADS_1
“Aku ingat! Diary itu pasti bisa membantuku!” seruku. Tanpa memmbuang waktu aku segera berlari ke kamar dan mengambil diary itu. Setelah itu, aku segera menuliskan permintaan kalau aku ingin ayahku selamat.
Tiba-tiba lembaran diary itu berubah warna menjadi merah. Saat diary itu masih ada di genggamanku, tiba-tiba cairan berwarna merah membasahi tanganku. Warnanya mirip sekali dengan darah. Aku sangat takut. Tanpa berpikir panjang aku melemparkan diary itu ke lantai.
Gumpalan asap muncul di kamarku. Lama-lama bentuknya menyerupai wujud manusia. Tak sampai 1 menit gumpalan itu berubah. Dan yang membuatku terkejut adalah, gumpalan itu kini berubah menjadi sosok seorang pria yang tak kukenal.
“S-siapa kau?” tanyaku gemetar.
“Aku? Namaku Virgo. Aku adalah pemilik diary ini sebelum kau.” Jawabnya sambil mendekat kearahku.
“K-kenapa kau b-bisa ada d-disini?”
“Aku akan menjelaskan tentang buku diary ini padamu.” Katanya yang membuatku tak mengerti. “Dulu aku juga sama sepertimu. Karena diary ini bisa mengabulkan semua permintaanku, aku terus menggunakannya sampai lembar terakhir. Saat aku menulis di lembar terakhir itulah aku mengerti kalau diary ini bukanlah diary yang hanya bisa mengabulkan permintaan pemiliknya, tapi diary ini juga memiliki kutukan.” Jelasnya panjang lebar.
“Iya, kutukan bagi siapa saja pemilik diary ini, maka orang itu akan menghilang dari dunia ini setelah mengisi lembar terakhir. Tapi orang itu tidak mati, melainkan terkurung dalam diary ini. Didalam diary itu ada banyak sekali siksaan. Disana kau akan merasa sangat kesakitan karena kau masih menjadi seorang manusia. Lalu jika kau ingin keluar dari dalam diary itu, maka kau harus mencari orang untuk menggantikanmu. Dengan kata lain orang itu akan dijadikan korban selanjutnya. Hanya saja saat kau telah berhasil keluar, wujudmu bukanlah sebagai manusia, melainkan sebagai roh. Itu artinya kau sudah mati. Dan sekarang giliranmu Lucy. Sama seperti lembar yang tersisa dalam diary itu. Sisa hidupmu hanya tinggal 2 tahun lagi. Karena setiap kau mengisi satu lembaran diary ini, maka itu artinya kau mengurangi satu tahun sisa hidupmu sendiri.” Sambungnya.
“Tapi aku belum mengisi lembar terakhir.”
“Itu dia masalahnya.” Kata Virgo sambil mengambil buku diary itu. “Didalam diary ini kau baru saja membuat kesalahan.”
“Kesalahan.”
“Yap. Kesalahan itu sangat fatal. Karena kesalahan itu sama saja artinya dengan mengisi lembar terakhir diary ini.”
__ADS_1
“Memang apa salahku?”
“Kau telah membuat permintaan yang tak bisa dikabulkan oleh diary ini. Yaitu, meminta buku diary ini untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Itu artinya kau juga telah bersedia menukarkan nyawamu dengan nyawa orang yang ingin kau selamatkan. Tapi kau masih bisa membatalkan permintaan itu dengan membakar lembaran ini. Tapi sisa hidupmu akan berkurang setengah tahun.”
“Kalau begitu berikan saja nyawaku pada ayahku!” kataku sambil menangis.
“A-apa?” Virgo kelihatan kaget setelah mendengar pernyataanku. “Tapi dalam diary ini masih ada 1lembar lagi. Kau masih bisa membuat permintaan yang lebih baik daripada kau harus memberi nyawamu untuk orang lain.” Virgo berusaha mengubah pikiranku.
“Lalu apa untungnya bagiku? Bukankah sama saja? Jika aku terus menulis di buku diary ini maka itu artinya aku mengurangi sisa hidupku. Lalu apa bedanya kalau aku memberi nyawaku pada ayahku yang selama ini selalu menjagaku?” kataku dengan sangat yakin.
“Apa kau yakin?” Virgo berusaha memastikan.
“Ya. Aku yakin dan benar-benar yakin.” Jawabku mantap.
“Baiklah. Kalau begitu sekarang peganglah tanganku.” Virgo mengulurkan tangannya. Aku menggengga tangannya yang dingin. “Sekarang aku akan memasukkanmu dalam diary ini. Aku jamin ayahmu akan selamat.” Sambungnya.
Cahaya putih menyinari sekelilingku. Tiba-tiba tubuhku terasa lebih ringan dari sebelumnya. Kulihat tubuhku berubah menjadi titik-titik cahaya yang bergerak masuk ke dalam diary itu. Semakin aku masuk ke dalamnya, lembaran buku diary itu berubah menjadi putih sama saat pertama kali aku menemukannya. Sementara semua hal yang kutulis selama ini hilang begitu saja. Hal itu terus terjadi sampai jiwaku benar-benar menghilang dari dunia ini.
4 hari kemudian…
Diary ini kembali lagi ke tempatnya semula. Tempat dimana Lucy menemukannya, yaitu di dekat container sekolah. Meski Lucy sudah terkurung dalam diary itu, tapi kutukannya tidak akan berhenti. Kini diary itu ditemukan lagi oleh orang lain. Lucy yang terkurung dalam diary itu benar-benar terkejut setelah melihat pemilik diary yang berikutnya. Karena orang itu addalah Rani sahabatnya sendiri. Kini Lucy hanya bisa berharap agar Rani tidak mengalami hal yang sama dengannya. Karena dia tak ingin, akan orang lain yang menjadi korban selanjutnya. Apalagi jika itu adalah orang yang sangat ia sayangi.
**SELESAI**
__ADS_1