
Sore itu, ketika hujan lebat tengah mengguyur sebagian besar kota Kalingga. Terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki areal Rumah Sakit Bintang, tampaknya mobil tersebut tengah membawa penumpang yang sedari tadi berkutat dengan rasa khawatir dan panik.
Para suster telah menunggu, stand by dengan sebuah kursi roda yang nampaknya sudah disiapkan untuk diduduki oleh seorang pasien. Dan benar saja, mobil tersebut memuntahkan seorang laki-laki dan wanita muda yang tengah mengalami pendarahan pada kandungannya. Wanita tersebut langsung dirujuk ke ruang bersalin, sementara sang pria yang tak lain adalah suaminya hanya diperbolehkan mengantar sampai di koridor depan tempat bersalin istrinya.
Setelah sekian jam terbunuh, akhirnya penantian berbuah hasil. Susan, wanita yang sejak tadi memperjuangkan hidup dan mati tersebut kini dapat bernafas lega. Buah hati yang selama 9 bulan dikandung dengan penuh perjuangan tersebut akhirnya lahir ke dunia dengan jalan sesar. Ini adalah anak yang ketiga dari hasil perkawinan mereka.
Jodi, yang tak lain adalah nama dari pria itu terlihat masih menunggu. Sudah hampir 3 jam ia menunggu, tapi sama sekali belum mendengar tangisan bayi. Namun dari kejauhan terlihat pria berpostur agak tinggi dengan segera mendekati Jodi.
“Selamat Pak Jodi, anak bapak telah lahir dengan selamat. Tapi...” kata seorang pria berjas putih yang sebagian wajahnya ditutupi masker berwarna hijau.
“Tapi kenapa Dok? Lalu bagaimana keadaan istri saya, apa dia baik-baik saja?” sambut pria itu heran sembari mengernyitkan alis.
“Istri bapak baik-baik saja, ya.. bapak bisa lihat sendiri lah. Terlalu berat untuk saya menyampaikannya kepada bapak, dan bapak pun harus tabah menerima kenyataan ini.” sambung sang dokter tersenyum tipis di balik balutan masker, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Jodi yang tertegun dengan tanda tanya besarnya.
Terlihat Susan terdiam diatas ranjang putih dengan pandangan kosong dan mata sayu.
“Apa yang terjadi pada bayi kita?” tanya Jodi khawatir.
Susan tetap diam seribu bahasa, pandangannya hanya tertuju pada sebuah box bayi yang ternyata didalamnya terdapat sang buah hati.
“Ayo jawab Susan, kenapa diam saja?” Jodi semakin geram sambil menggoyangkan kedua lengan istrinya.
“Anak kita Mas. Dari awal ia diangkat dari rahim ini, aku belum mendengar sedikitpun ia menangis.” jawan Susan, masih memandangi box dengan tatapan kosong.
“Kau serius?” sambung Jodi menyakinkan.
“Aku tak tahu, mungkin aku yang terlalu berhalusinasi. Atau..”
“TIDAK! Tidak mungkin, aku tidak percaya!” tukas Jodi tak yakin dengan kesaksian istrinya. Jantungnya seakan berhenti sejenak, aliran darah seakan mengalir tak terarah dari arus normalnya.
Suara gemuruh petir disertai hujan yang begitu deras malam itu menyertai peristiwa miris pasangan suami istri tersebut. Dan tak ada yang tau apa yang terjadi setelah malam itu berlalu.
Seorang gadis remaja yang kira-kira umurnya baru menginjak 17 tahun, tengah berlari tunggang-langgang ditengah keramaian pasar malam. Sepertinya ia sedang dikejar oleh Pol PP yang malam itu sedang mengadakan penertiban terhadap gelandangan dan pengemis.
Orang-orang terpostur kekar itu telah berhasil menangkap sebagian dari gelandangan yang biasa mengadu nasib di seputaran Pasar Sengol. Namun, sebagiannya lagi berhasil kabur menuju tempat persembunyian mereka. Biasanya para gelandangan yang berhasil kabur tersebut sudah mahir dan profesional dalam mengantisipasi bahaya razia itu. Tak ayal bila mereka dengan mudah bisa lolos dari sergapan para Satpol PP.
Mobil-mobil besar dengan belasan gepeng di dalamnya telah pergi meninggalkan hiruk pikuknya Pasar Sengol. Terlihat gadis remaja berpenampilan lusuh dengan rambut panjang terurai terdiam sembari menatap belasan teman seperjuangannya yang tertangkap. Memakai topi yang ujungnya diputar 180 derajat ke belakang menambah berandalnya raut gadis yang sebenarnya berperangai polos itu.
Berbekal sebuah gitar kecil, langkah gadis yang biasa dipanggil Lara ini kian mantap menyisir setapak demi setapak sebuah jalan raya yang terbilang lengang itu. Makhlum, jika sudah memasuki pukul 11 malam, jalanan di Kota Kalingga ini memang sudah sepi. Biasanya yang berlalu-lalang ketika ini hanya gelandangan yang tengah mencari tempat untuk beristirahat dan berlindung dari dinginnya malam yang menusuk.
Sepertinya Lara telah menemukan tempat tujuannya. Ya, sebuah emperan toko yang cukup luas nyaman untuk berbaring dan memainkan beberapa lagu dengan gitar kecilnya, sembari membunuh rasa takut akan kejamnya kehidupan di dunia. Tak ada yang bisa dipakai untuk membalut tubuh dari dinginnya hawa selain baju tipis yang melekat pada tubuh Lara. Dengan rasa iba pada diri, gadis itu pun mulai memetik senar-senar tipis bernada ritmis itu. Petikan-petikan itu bernada sendu, pas betul dengan kondisi hidupnya sekarang. Tanpa sadar ia pun mulai terlelap.
“Heh gembel, bangun! Enak saja tidur di depan kios orang, pelangganku pada pergi tuh.. cepat bangun, heh!”
Tiba-tiba Lara dikejutkan oleh suara ribut-ribut. Lara membuka mata sembari mengusapnya. Tahu-tahu di depannya sudah berdiri seorang wanita paruh baya dengan raut murka. Dan raut tersebut ditujukan pada Lara yang telah menumpang tidur di depan kios wanita tersebut.
Seusai membereskan barang bawaannya, Lara langsung pergi meninggalkan wanita pemarah dengan kiosnya itu.
__ADS_1
Pagi ini memang cerah, namun raut Lara tak pernah sekalipun terlihat cerah. Dalam cerahnya dunia ini, ia masih merasakan redup dalan jiwanya. Dalam terangnya langit pagi ini, masih ada celah gelap di setiap rongga kehidupannya. Semua saling bersinergi membentuk paradoks dalam realita hidup seorang Lara.
Tak ada yang lebih indah bagi Lara selain memetik senar-senar ritmis dari gitar kesayangannya itu. Nada-nada indah selalu tercipta dengan alunan harmoni yang spektakuler. Ia tak pernah memberi nama setiap melodi yang ia ciptakan, ia hanya ingin melodi-melodi itu bebas tanpa terikat oleh apa pun dari dalam dirinya.
“Wah, merdu sekali petikan-petikan gitarmu Nak!”
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara seorang pria yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Bila dilihat dari penampilannya yang menggunakan setelan jas hitam dan sepatu yang mengkilap, sepertinya ia orang yang terpandang dan tentunya kaya.
Lara melongo menatap pria tersebut, tanpa sepatah kata pun untuk membalas pujian sang pria. Ia hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk : tanda berterimakasih.
“Lho, kok cuma senyum? Siapa namamu, boleh Om tau?” tanya pria itu lagi seolah memaksa karena merasa tak ada respon jawaban.
Karena terdesak, Lara langsung meraih kertas dan pensil dari dalam tas lusuhnya dan menulis nama “Larasati. Boleh dipanggil Lara.” pada permukaan kertas putih tersebut. Lalu memperlihatkannya pada pria itu sembari tersenyum lebar.
Pria itu mengernyitkan kening seolah bertanya pada dirinya, “Apa dia bisu?!”
Lara menurunkan senyum lebarnya ke bentuk awal, ia kebingungan melihat tampang sang pria. Dan pemandangan itu berlangsung sekitar beberapa detik sebelum akhirnya seorang pria lain berpakaian dinas mendatangi pria bersetelan jas hitam tersebut.
“Lapor Pak Jodi, rapat dewan akan segera dimulai. Mohon bapak berkenan mesuk ke dalam mobil untuk menuju gedung DPRD.”
Pria berseragam dinas itu, yang ternyata asisten dari Jodi Dharmawan, seorang pengusaha kaya dan sekaligus sebagai ketua DPRD Kabupaten Kalingga.
“Oh, baik. Sekarang saya menuju ke sana. Tapi, beri saya waktu 3 menit lagi.”
“Baik Pak!”
“Boleh lain kali Om menjumpai kamu di tempat ini lagi Lara?” tanya Jodi ramah.
“Hemm....”
Lara hanya mengangguk tanda setuju, karena tak ada yang bisa ia ucapkan selain memperlihatkan bahasa tubuh.
Seiring dengan itu, Jodi tengah bersiap-siap untuk berangkat dengan asistennya. Ia masih sempat melambaikan tangan pada Lara. Entah mengapa pertemuan singkat itu menjadi pertemuan yang istimewa bagi seorang ketua DPRD yang selalu sibuk berkutat dengan urusan politik dan sosial.
“Sampai jumpa Lara...”
Lara turut membalas dengan lambaian tangan.
Berawal dari sebuah petikan gitar. Jodi dan Lara menjadi sering bertemu semenjak kejadian itu. Mereka terlihat akrab layaknya ayah dan anak. Lara juga dibelikan baju baru, sepatu baru, tas baru, dan gitar baru yang membuat Lara makin berbunga-bunga. Selepas bekerja Jodi selalu menyempatkan diri untuk bertemu Lara.
Taman Kota Kalingga adalah saksi bisu bertemunya dua insan yang saling berparadoks dalam kehidupan mereka masing-masing. Benar-benar mukjizat Tuhan yang maha sempurna. Mereka sering jalan-jalan bersama, bercerita bersama dan menyanyi bersama dengan iringan gitar Lara. Hingga tak disadari karisma seorang pemimpin sudah tak nampak lagi pada perangai Jodi, yang ada hanya karisma seorang ayah.
******
“Aku sudah membuang bayi itu!”
“Apa? Apa kau sudah gila Susan? Itu darah daging kita, tega nian kau seorang ibu berbuat seperti itu! Dimana kau buang anakku? JAWAB!!!”
__ADS_1
Jodi tak percaya istrinya akan berbuat sekeji itu. Namun terlambat, bayi itu telah dibuang ketika Jodi tengah bertugas di luar pulau Bali.
“Di TPA. Dan mungkin sekarang dia sudah mati dimakan anjing. Sudahlah, anggap saja aku tidak melahirkan lagi setelah Victor dan Ria : anak pertama dan kedua Susan.
“Kau itu benar-benar.... aaaagghhhhh!!!!”
Hampir saja tangan Jodi melayang ke pipi kanan Susan, namun tertahan dan dihempaskan ke arah lain. Jodi tak ingin membuat perkara lebih panjang dengan istrinya yang sudah berjasa membesarkan kedua anaknya hingga mereka berhasil seperti sekarang. Namun, di sisi lain Jodi tidak mungkin melaporkan istrinya ke polisi atas tindakan kriminal pembuangan bayi. Dibalik jabatan tingginya, ia sekeluarga dan rumah sakit yang dulu menjadi saksi bisu kelahiran bayi malang itu menutup rapat-rapat rahasia ini. Dengan uang kerjasama pun berjalan dengan lancar dengan pihak rumah sakit.
*****
Lara kebingungan melihat Jodi yang tengah hanyut dalam lamunannya. Ia mencoba untuk menyadarkannya dengan menyenggol lengan pria itu.
“Eh Lara, maaf. Om...”
Jodi tak sadar bahwa barusan flashback dari masa lalunya terputar kembali. Ia teringat dengan putrinya yang dibuang. Kembali ia menatap Lara yang sedari tadi memperhatikannya.
“Apa mungkin, apa mungkin kau putriku yang hilang itu? Katakan padaku Lara sayang..” ucap Jodi dalam hati.
“Jika Om boleh tau, siapa orang tuamu? Dan kau tinggal di mana Nak?”
Lara terdiam. Mulai meraih kertas dan pensil kesayangannya, lalu menulis.
“Saya tidak punya orang tua. Saya tidak punya rumah. Saya hanya punya gitar. Saya lahir dari sampah, mungkin orang tua saya adalah sampah.”
Kata-kata yang polos atau mungkin tidak polos sama sekali bagi Jodi, membuat ia tercengang akan kesaksian Lara. Bagaimana mungkin ia bisa berkata seperti itu.
Namun di benak Lara, itu hanya kata-kata biasa yang tak ia tau persis maknanya. Makhlum, Lara belum sempat mengenyam bangku sekolah selama hidupnya. Tapi Lara punya semangat yang tinggi untuk belajar, buktinya ia bisa menulis meskipun ada banyak makna yang ia tak mengerti. Bahkan ia tak pernah tau apa itu orang tua, yang ia tahu hanya sampah. Dan mungkin, Lara juga tidak tahu apa itu sampah. Tak ada bedanya.
Jodi masih terjebak dalam keterkejutannya. Ia mulai memutar balik otak dan ingatannya. Mulai membuka kembali lembaran-lembaran album suram yang telah terkubur rapi oleh kebusukan. Tak lama kemudian ia tersadar. Sadar akan gadis yang ada di depannya itu adalah benar anak kandungnya yang telah lama hilang 17 tahun yang lalu.
“Lara, mau ya jadi anaknya Om?”
Lara hening sejenak. Mencoba menyadarkan diri, ia tak bermimpi. Lara meyakinkan sekali lagi dengan bahasa tubuhnya.
“Benar Lara, Om serius. Dan sekarang juga kamu akan Om ajak ke rumah Om, gimana? Mau ya?”
Seperti mendapat 2 Joker dan 4 As sekaligus, ini keberuntungan yang sulit dipercaya oleh Lara.
Lara mengangguk tanda setuju. Sungguh ajaib. Dalam hitungan beberapa detik hidup Lara berubah 360 derajat. Dari meminta sedekah, kini mampu memberi sedekah. Baju lusuhnya berubah seketika menjadi dress putih yang cantik dan mewah. Rambutnya yang kusam tak terawat itu dirombak habis-habisan oleh hairstyles kepercayaan Jodi di salon yang cukup megah dan elite.
Beberapa jam yang lalu Lara masuk ke salon sebagai Lara yang kumuh dan lusuh. Namun 2 jam kedepan, keluarlah seorang putri cantik dengan rambut yang telah dismoothing dan wajah yang berbinar-binar. Kini Lara telah siap memasuki rumah megah orang nomor satu di Kalingga, Jodi Dharmawan.
Jodi dan Lara akhirnya sampai di rumah kediaman Jodi. Mereka disambut oleh pekarangan yang luas nan asri, dengan kolam renang besar di sisi kanan dan taman yang indah disisi kiri. Tampak dari kaca mobil bola mata Lara terbelalak dan menyapu seluruh isi pekarangan rumah itu. Bila pekarangannya saja sudah megah begini, lantas bagaimana isi di dalam rumahnya? Batin Lara bergumam.
Benar saja, rumah Jodi sangat megah dan indah. Ada 4 pilar besar yang terbuat dari bahan marmer menyambut kedatangan mereka. Rumah itu terlihat berkilau, karena 90% bahan luar dari rumah itu adalah bidang-bidang marmer putih yang mahal. Rumah itu tampak elegant berdiri kokoh di depan Lara.
**BERSAMBUNG**
__ADS_1