1001 Cerita Horor

1001 Cerita Horor
Kejutan Terakhir


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku karena gemercik air mengenai wajahku, saat aku melihat jam sekarang baru pukul 1 malam, aku ingin kembali tidur saat aku menarik selimutku kembali tiba-tiba sebuah kertas kecil menempel di selimutku, kertas itu bertulis:


Halo Nadia! Maukah kamu menolong Mama? Coba kamu ke rak buku di ruang tengah sekarang dan coba kamu ambil buku Mama yang berjudul ‘Sepasang Mata Merah’ lalu kamu kasih ke kamar Mama, Terima kasih, sayang!


“Aduh Mama ada-ada saja, kenapa Mama tidak ambil sendiri? Huh aku baru tau Mama punya buku horror seperti itu,” ucapku malas, tetapi aku kerjakan perintah Mama tadi walaupun sedikit berlebihan memakai surat segala.


Aku membuka pintu kamar Mama karena ingin mengembalikan buku itu, tiba-tiba Papa dan Mama tidak ada di dalam kamar aku menemukan surat lagi di gagang pintu kamar Mama yang berisi:


Kamu pasti bingung Mama pergi kemana, bagaimana kamu sekarang ke dapur lalu masak telur dadar buatanmu yang sangat disukai Nenek, karena Nenek sebentar lagi akan datang, kerjakan sekarang!


Dengan kesal aku membanting buku itu, tiba-tiba di dalam buku itu ada pisau jatuh berlumuran darah, jantungku berdetak kencang karena aku takut Papa dan Mama kenapa-napa. Aku bergegas masak ke dapur, saat telur itu jadi aku langsung meletakannya di piring dan menaruhnya di meja makan. Seorang wanita tua yang wajahnya tertutup rambut putihnya itu lewat lalu ia langsung berlari ke tangga dan naik ke atas.

__ADS_1


“Itu siapa? Apakah itu Nenek? Katanya Nenek akan datang nanti, tetapi kenapa ia berlari dan berkeliaran sekeliling rumah tengah malam ya?” kataku berbicara sendiri.


Di kursi meja makan ada surat lagi yang berisi:


Terima kasih Nadia, apakah kamu barusan melihat seorang wanita tua berjalan ke atas? Coba kamu ikuti dia!


Lagi-lagi aku harus mengikuti perintah surat dari Mama itu, dan aku menuju atas. Saat aku melirik keluar jendela dekat tangga rumahku, wanita tua yang wajahnya tertutup rambutnya itu ternyata ada di luar sambil mencakar-cakar jendela rumahku. Tadi kan ia ke atas? Mungkin ia lewat tangga lainnya, aku coba ke luar saat aku ke luar tidak ada siapa-siapa. Malah, ada sepucuk surat dari Mama lagi yang berisi:


Aku bingung apa maksud surat yang ditulis oleh cat air merah itu, mungkin Mama ingin memberikan kejutan kepadaku? Aku pergi dari tempat itu dan kembali ke dalam. Saat aku naik ke atas, aku bertemu wanita itu yang barusan menempelkan sepucuk surat di pintu kamar Kak Sabrina yang berisi:


Masuk ke kamar Kak Sabrina, coba kamu ambil setangkai bunga mawar di dalam sana dan bawalah sampai rantai surat ini berakhir

__ADS_1


Aku segera masuk ke kamar Kak Sabrina dan aku menemukan setangkai bunga mawar di meja rias Kak Sabrina, saat aku melihat kaca ada seorang gadis sedang menyisir rambutnya.


“Nadia, rambut Kakak indah kan? Tolong sisirkan rambut Kakak untuk terakhir kalinya sayang, Nadia Kakak selalu menyayangimu,” ucap gadis itu, dari suaranya mirip Kak Sabrina. Aku tersentak kaget dan membaca do’a agar tidak ada makhluk gaib menggangguku, saat aku melihat ke belakang ternyata tidak ada siapa-siapa.


Ah mungkin itu hanya halusinasiku, batinku, aku langsung ke luar kamar dan mencari surat selanjutnya. Tiba-tiba kedua adik kembarku Vianna dan Vionna berlarian di hadapanku ia bermain sangat gembira dan mereka terlihat sangat bahagia.


“Via, Vio, kalian kok belum tidur? Nanti dimarahin Mama lho!” kataku mengingatkan mereka berdua.


“Ayo Kak Nadia, ikutan main! Hahaha!” tawa mereka yang masih berlari-larian dengan sangat riang.


**BERSAMBUNG**

__ADS_1


__ADS_2