1001 Cerita Horor

1001 Cerita Horor
Perempuan di Tengah Foto Part 6


__ADS_3

Kedua, walaupun ini jalan pintas. Jalan ini, saya rasa, sedikit banyak pasti ramai dilewati orang. Jadi seharusnya banyak orang yang tahu keberadaan makam ini. Tetapi lokasinya yang di tengah-tengah jalan, dan masih seperti ini saya mulai merasa ini sepertinya bukan makam tua, tetapi ini hanya buatan baru-baru ini. Seseorang, memalsukannya.”


“Dan ternyata dugaan kamu benar. Ini bukan makam. Seseorang membuatnya. Tetapi siapa yang melakukannya? Untuk apa? Sampai sebegitu niatnya membuat papan lapuk dan menulis aksara Jawa Kuno,” tanya Ibrom lalu tiba-tiba berkata, “Jangan-jangan…. Jangan-jangan pembuat makam ini… salah satu dari tiga perempuan itu?”


“Saya juga sebetulnya ada dugaan seperti itu. Dan kamu tahu? Sriyani kuliah Sastra Jawa…”


“Oh ya? Kenapa baru kamu bilang sekarang?”


“Saya pikir informasi itu tidak penting dan tidak nyambung dengan kasus ini. Tetapi sekarang melihat ini dan mencoba menyusun kembali, sepertinya berkaitan. Lihat, Sriyani pucat pasi ketika melihat papan nisan. Mungkin. Ini mungkin yah… Dia takut bukan karena mengganggu makan, tetapi karena dia tahu pesan nisan itu ditujukan untuknya. Dia tahu ada orang yang mengincarnya.


Untuk supaya Sriyani melihat makam ini, pelaku harus mengantarnya ke sini, kemudian membuat makam ini…”


“Apakah tidak terlalu berlebihan?”


“Brom, walau ini sudah menyangkut hantu dan mistis, bukan berarti nalar dan logika tidak kita pakai. Coba lihat, makam ini palsu. Seseorang membuat pesan mengancam. Lalu tiba-tiba ada foto penampakan. Lalu tiba-tiba Sriyani mati dan Elsa gila. Kamu tahu, siapa yang paling tidak apa-apa di sini?”


“Kamu pasti gila… Tidak mungkin…,” Ibrom menggeleng-geleng kepalanya.


“Entahlah. Asas praduga tidak bersalah tetap berlaku. Hanya saja kita perlu interogasi dia lebih lanjut. Lagipula tugas kita di sini selesai. Dan,” saya tiba-tiba terpikir satu hal dan berhenti, “Gawat!”


Ibrom terperanjat, melihat saya tiba-tiba berlari menuruni rumah sakit. Dia ikut berlari. “Ada apa?”


“Elsa! Elsa bisa jadi dalam bahaya!” teriak saya sambil berlari.


“Kenapa?” teriak Ibrom lagi.


“Bisa jadi kejadian semalam itu hanya pengalihan supaya hari ini tidak ada kita!” teriak saya jengkel. Seharusnya paranormal juga perlu belajar deduksi. Kan mereka kadang juga mengurus begituan, pikir saya.

__ADS_1


Saya berlari masuk ke rumah sakit, tetapi terlambat. Elsa sudah meninggal. Kata dokter, Elsa tiba-tiba beringas kemudian menghantam kepalanya ke dinding terus menerus. Perawat tidak berhasil mencegahnya. Sekarang jenazahnya sedang di ruang Saya dan Ibrom saling menatap, kemudian kami langsung berjalan ke kamar Illiana.


“Irfan, Ibrom, Bagaimana hasilnya?” Illiana menoleh ke kami ketika kami berjalan masuk.


“Illiana, Elsa sudah meninggal..” jawab saya langsung.


“Iya, tadi saya sudah mendengarnya dari perawat,” ujarnya dengan mata sayu.


“Kamu yang melakukannya bukan?” tanya saya langsung ke sasaran.


“Ya?” saya bisa melihat dia terperanjat tidak menyadari saya tiba-tiba berbicara begitu. “Apa maksudnya?”


“Kamu yang membunuh Elsa bukan? Kamu yang membunuh Sriyani bukan?”


“Pak Irfan, mohon jangan bercanda dengan saya, mereka adalah teman saya. Jangan sembarangan fitnah!” suara Illiana meninggi. Menahan amarah. Atau berusaha menyembunyikan ketakutannya?


Ibrom menatap saya kebingungan, tetapi saya mengabaikannya. Ini adalah upaya untuk mengorek informasi.


“Ketika kami mencari petunjuk di makam, semuanya terlihat jelas. Kamulah yang membuat makam itu. Biar saya cerita ulang apa yang kamu lakukan. Kalian bertiga ketika setelah sampai puncak gunung dan bermaksud pulang, kalian melalui jalan pintas. Di cerita sebelumnya, kamu berbohong bahwa Elsa yang mengetahui jalan pintas. Faktanya adalah kamu yang mengarahkan mereka ke situ.


Ketika sampai di makam palsu itu, kamu membiarkan Sriyani melihat papan nisan, bertulisan ancaman. Sriyani tahu pesannya, tetapi Elsa tidak. Itu sebabnya Sriyani dari situ mulai tidak tenang. Dan foto, juga kamulah yang mengambil foto. Sebagai ancaman lanjutan untuk mereka berdua. Dari awal turun gunung itu, semuanya sudah diorkestra dari kamu.


Target pertama adalah Sriyani, dan saya yakin entah dengan cara apa kamu memunculkan patung laknat itu untuk membunuh Sriyani. Dan berikutnya kamu mulai mencoba membunuh Elsa di rumah sakit tua untuk menciptakan seolah-olah mati karena gangguan makhluk halus. Tetapi gagal, karena ada orang lain yang datang. Kertas berisi jawa kuno itu hanya pengalihan.


Saya rasa untuk melakukan pembunuhan itu, perlu waktu. Itu sebabnya kamu pun datang ke rumah sakit. Selain menghilangkan kecurigaan, juga memungkinkan kamu memantau situasi rumah sakit. Sayangnya kamu selalu tidak berkesempatan untuk membunuh Elsa.”


Saya berhenti dan melihat reaksi Illiana. Dia hanya menatap saya dengan tajam. Seolah-olah saya adalah target berikutnya. Tapi saya tidak mempedulikannya.

__ADS_1


“Terakhir ketika kami mau ke gunung mencari makam itu, malamnya malah diserang patung misterius itu lagi. Saya rasa serangan itu ada dua alasan. Pertama sebagai ancaman untuk kami supaya jangan coba-coba mengganggu makam. Kedua sebagai alasan supaya kamu tetap di rumah sakit lagi. Dengan begitu kamu bisa membunuh Elsa.”


“Cerita hebat Pak Polisi. Tetapi bukti apa yang kamu punya? Fitnah kamu itu terlalu keji!” cetus Illiana dengan suara bergetar.


“Illiana, jujur saja, saya sebetulnya sudah tahu itu adalah perbuatan kamu. Tetapi kami sudah meminta salah satu perawat di rumah sakit untuk menjaga kamu. Dalam artian, mengawasi kamu secara diam-diam. Kamu tidak tahu bukan? Saya sebelum ke sini, sudah memastikan dengan perawatnya. Kamu memang sempat berdiri di luar pintu komat-kamit sesuatu. Dan sesaat setelah itu, Elsa kembali menjadi gila dan menghantam kepalanya ke dinding…” ujar saya mengeluarkan ponsel berisi video rekaman 3GP berupa Illiana sedang berdiri di depan pintu.


Ibrom akhirnya pun mulai berbicara. “Sisa serpihan patung yang muncul semalam juga sudah saya simpan. Kamu tahu saya adalah paranormal juga. Saya bisa dengan mudah menelesuri siapa yang membuat ini. Sudahlah Illiana, kamu mengaku saja.”


Illiana langsung lunglai. Dia menerima kekalahannya.


Ah, ternyata Ibrom memang bermanfaat di kasus ini. Memang tidak salah membawa serta dia untuk kasus ini. Saya melanjutkan, “Jujur. Kami tidak bisa menangkap kamu. Karena bukti seperti itu tidak kuat, dan tidak ada pasal yang bisa dipergunakan untuk menuntutmu. Jadi lebih baik mengaku saja”


Illiana hanya menangis. Kemudian dia mulai cerita bahwa Elsa dan Sriyani, dua orang ini pernah satu kelas dengannya. Dia sebetulnya tidak terlalu dekat dengan mereka berdua. Soalnya Sriyani dan Elsa dulunya merupakan pembuli. Banyak yang menjadi korban, dan Illiana adalah salah satunya. Setiap kali diganggu, Illiana menahannya dan tidak pernah melaporkan ke guru ataupun orangtua, karena takut membuat orangtuanya khawatir.


Pernah sekali dia ditampar dan dilukai. Ibunya belakangan melihat luka tersebut dan bertanya siapa yang melakukannya. Illiana tidak mau mengakui dan bilang dia terjatuh. Tetapi Ibunya akhirnya mencari tahu sendiri, yang akhirnya mengetahui kalau Sriyani sering mengganggu anaknya. Ibunya memutuskan konfrontasi langsung  ke Sriyani. Saat itu sedang di sekolah. Elsa dan Sriyani sedang turun tangga hingga tiba-tiba dicegat ibunya Illiana untuk meminta kejelasan. Belum sempat dia buka mulut, karena takut, Sriyani dan Elsa berlari, tetapi tidak sengaja menyenggol mama Illiana. Akhirnya mama jatuh dan karena kepalanya menghantam keras ke lantai, nyawanya tidak tertolong.


Kedua siswi itu begitu ketakutannya dan tidak masuk sekolah dua minggu. Illiana pun berhenti sekolah di sana, dan pindah. Akhirnya Illiana merencanakannya untuk membalaskan dendamnya semenjak itu. Dia dari dulu memang sudah memiliki kelebihan, tetapi belakangan demi dendamnya dia justru menggunakan kelebihannya itu untuk memperdalam ilmu hitam. Yang bisa dia manfaatkan untuk melaksanakan pembunuhan tanpa jejak dan bukti. Tidak ada yang bisa menghentikannya.


Dia kembali mendekati dua orang mantan teman sekelasnya. Dia menjalin hubungan baik dengan mereka. Mereka yang masih tidak tahu perempuan yang mereka bunuh adalah ibunya Illiana, menerima Illiana. Meminta maaf jika dulu sering mengganggunya. Mereka menyesal karena kenakalan mereka banyak mengganggu yang lain. Tetapi dendam Illiana atas kematian ibunya tidak pupus. Semua pertemanan itu tujuannya hanya untuk menciptakan kematian untuk keduanya…


Perempuan yang di tengah foto itu, sengaja dia membuat penampakan. Selain untuk menakut-nakuti mereka, juga untuk membuat mereka sadar, apa yang telah mereka lakukan beberapa tahun silam. Karena Illiana membuat patung hantu itu semirip mungkin dengan wajah ibunya…


Saya menggeleng-geleng kepalanya. Dendam hanya akan membuat orang terjerumus lebih dalam. Membuatnya hidup sengsara. Sekarang, karena semuanya sudah terjadi, tidak ada yang bisa dilakukan lagi.


Ibrom dengan kemampuannya akan menghilangkan ilmu hitam yang dimiliki Illiana, dan menggunakan mantra untuk menghilangkan ingatan Illiana tentang semua ini. Sebagai bentuk hukuman juga sebagai bentuk dia supaya menjadi orang lebih baik lagi. Dia besok akan terbangun sebagai salah satu korban yang melihat penampakan. Tetapi penampakan itu hanya karena faktor dia stres. Setelah beberapa hari dia akan normal lagi.


**SELESAI**

__ADS_1


__ADS_2