1001 Cerita Horor

1001 Cerita Horor
Perempuan di Tengah Foto Part 5


__ADS_3

Saya sebagai polisi selalu menangani masalah kriminalitas masyarakat. Tetapi jika menyangkut dengan masalah mistis dan sebagainya, itu betul-betul sudah bukan bagian dari tugas kami. Dikarenakan dari awal saya sudah ditugaskan untuk mencari tahu apakah ada tindak pidana di kasus kematian seorang perempuan, saya akhirnya harus melibatkan diri di kasus misterius ini. Dan ternyata kisah ini akan menjadi salah satu pengalaman yang paling seram dan berarti dalam karier kepolisian saya.


Dari luar ruangan, saya melihat Illiana dan Ibrom berdiri di sudut dengan wajah tegang. Saya langsung masuk ke dalam ruangan.


Ibrom langsung teriak “AWAS!”


Terlambat. Tiba-tiba saya merasa sekeliling saya berputar-putar. Saya bingung melangkah karena lantai tempat saya berpijak berputar-putar seakan saya berdiri di atas komidi putar. Ruangan serasa berputar.


Ada apa ini?


Mata saya mulai berkunang-kunang. Semakin lama semakin bintik-bintik itu memenuhi mata saya. Telinga saya berdenging.


Saya menyadari, sebentar lagi saya akan pingsan. Tetapi apa yang terjadi?


Ibrom melihat berlari ke arah saya, dia kemudian menarik tangan saya dan menyeret saya seolah-olah supaya saya tidak berdiri di situ, di depan pintu. Tetapi saya tidak mampu melangkah dengan benar karena pusing. Anehnya, begitu saya menjauh dari pintu masuk, tiba-tiba saya berangsur-angsur pulih kembali. Penasaran, saya menoleh ke arah pintu..


Ada yang berdiri di samping pintu


Setelah saya melihat beberapa saat, jantung saya sepertinya berhenti berdetak. Ternyata itu patung. Patung yang sama dengan di foto Illiana. Saya bisa melihatnya lebih jelas. Seorang pesinden dengan wajah tersenyum. Ukurannya sama dengan manusia dewasa. Patung ini terlihat seperti patung tua, dengan beberapa warna terkelupas sana sini. Sebagian cat warna sudah hilang, dan kami bisa melihat serat kayu di situ.


Ini pertama kalinya saya melihat patung itu. Sebelumnya hanya melihat di foto yang diberikan Illiana waktu itu. Jujur, pada saat melihat foto saja, saya sudah merasa sangat tidak enak. Patung di foto itu menatap ke depan, ke arah kamera, ke arah orang yang melihat foto. Dan tatapannya menusuk saya.


Dan malam ini, saya, melihat patung itu secara langsung!


Saya menatap Ibrom, apa yang harus kita lakukan? Dia melihat saya sekilas kemudian melihat ke Illiana. Tangan Illiana memegang korek api. Saya mulai mengerti apa yang ingin dilakukan mereka…


Illiana dari tadi mencoba mengorek keluar api, tetapi gagal terus. Saya mengambil korek dari tangannya, mencoba menyalakan api, sambil melihat patung itu. Sekarang Dia masih diam berdiri di situ.


Setelah beberapa kali menggesek korek dengan kotak, akhirnya api mulai menyala, Ibrom buru-buru menggulung kertas koran yang dia pegang, saya mencoba menyalakan api ke kertas koran.


Dalam kondisi normal, jika orang melihat apa yang sedang kami lakukan, mereka pasti menduga kami gila. Karena kami sedang mencoba membakar sesuatu di dalam gedung. Tetapi hantu patung itu membuat kami tidak bisa berpikir jernih. Dengan tangan bergetar, saya membakar kertas koran. Setelah koran mulai menyala, saya dan Ibrom mengendap-endap mendekati patung itu.


Tatapan patung itu sedang mengarah ke kami. Saya tidak tahu patung itu hidup atau tidak. Seiring satu langkah demi satu langkah, kepala saya mulai merasa berat lagi, tiba-tiba saya merasa terhuyung-huyung. Apa yang terjadi? Ibrom sepertinya juga mulai merasakan hal yang sama pada saya. Tetapi dia memaksa terus maju dan kemudian mendekatkan gulungan koran berapi ke patung. Api mulai membakar patung itu. Kami buru-buru berlari menjauh.


Saya mengira patung itu akan tiba-tiba bergerak dan menyerang kami. Tetapi ternyata tidak. Api mulai melahap patung mengerikan itu. Tidak ada apa-apa yang terjadi.


Mungkin itu memang hanya patung biasa? Tetapi kalau begitu siapa yang memindahkannya ke situ?

__ADS_1


Ibrom menjelaskan setelah saya keluar dari kamar, dia dan Illiana hanya menonton televisi sambil berbincang sebentar. Mereka berdua fokus di televisi, sampai tiba-tiba televisi berubah statis, dan tiba-tiba saja patung itu sudah berdiri di posisi sana. Tidak bergerak.


Badan patung hampir menghitam semuanya. Api mulai padam. Aneh, apakah apinya padam sendiri?


Ibrom bersumpah, dia tidak melihat siapapun dari tadi. Dia duduk di sebelah ranjang Illiana, dan pasti akan sadar kalau memang ada yang meletakkan patung itu, lagipula…


TIBA-TIBA PATUNG ITU BERGERAK!


Saya mencoba melihat lebih seksama tetapi sepertinya


PATUNG ITU BERGERAK KE ARAH KAMI!


“Aaah!” saya tidak bisa berkata-kata, dan hanya berteriak. Illiana juga menjerit. Ibrom segera menoleh karena dari tadi dia berdiri membelakangi patung. Reflek saya langsung maju dan menendang patung itu. Patung itu untuk beberapa saat mundur. Dengan masih ekspresi senyum, dia kembali bergerak maju.


kaki dan tangannya bergerak seperti manusia. Hanya saja, wajahnya masih kaku tidak berubah. Masih tetap dengan senyuman. Beberapa bagian badannya sudah menghitam karena kami membakarnya. Tetapi kelihatannya patung itu tidak terlalu menggubris jika kami telah membakarnya.


Saya bersiap-siap untuk menendangnya jika dia mendekat lagi, Ibrom mencoba membaca doa-doa yang dia ketahui. Tetapi saya bisa melihat sepertinya tidak mempan dengan makhluk itu. Ketika saya mencoba menendang dia terlebih dahulu menepis saya sehingga saya jatuh, dan dia juga mendorong Ibrom dengan keras hingga terjerembab.


Kemudian maju mencekik Illiana.


Ibrom segera memisahkannya. Saya mencoba menendang patung itu lagi. Patung itu terjatuh, tetapi masih tetap mencekik Illiana, yang ikut terjatuh juga. Saya menendang kepalanya sekeras-kerasnya. Kepala mulai copot dan berguling-guling di lantai. Tetapi Illiana tetap tersekat. Dia sudah hampir hilang kesadaran.


Gawat, patung itu tidak mau melepaskan tangannya.


Saya mulai berpikir mencoba mematahkan lengan monster itu. “Illiana bertahanlah!”


Saya dengan keras menghantam lengan patung, dan sekali pukulan hanya membuatnya retak. Akhirnya saya mencoba memukul sekali lagi. Akhirnya patah juga!


Sisa satu lengan. Saya kali ini dengan tenaga yang lebih kuat menghantam tangannya. Kali ini tangannya langsung patah. Ibrom langsung menendang patung tanpa kepala itu mundur. Tangan yang memegang di leher Illiana, segera saya singkirkan. Untunglah dia masih sadar. Dia terbatuk-batuk sambil memegang lehernya.


Terlihat jejak cekikan sangat jelas.


Patung itu kembali berdiri. Dengan dua lengannya yang patah dia kembali maju ke arah kami. Saya mengambil kursi lipat dan menghantam ke badan patung itu sekeras-kerasnya. Patung itu tumbang. Kali ini Ibrom dengan segera langsung menginjak kaki patung. Saya juga dengan keras-keras menghantam kakinya supaya patah.


Ibrom kemudian segera mengeluarkan gulungan koran lain dari tasnya. Saya merogoh kocek mengeluarkan korek api tadi, menyalakannya dan kami sekali lagi membakar patung itu. Patung itu kembali terbakar. Tetapi saya lihat patung itu sudah tidak bergerak.


Setelah itu baru kami bisa duduk tenang…

__ADS_1


Pagi harinya, setelah melihat kondisi Illiana ditambah situasi semalam, sudah pasti dia tidak bisa ikut. Jadi saya dan Ibrom memutuskan untuk naik.


Tetapi saya memastikan perawat harus terus berada di sampingnya. Karena Illiana menjadi traumatis setelah diserang semalam. Walaupun patung itu berdasarkan catatan mereka, hanya muncul sore atau malam, kita tidak mau bermain-main dengan resiko.


Pagi itu juga kami berangkat ke gunung. Tetapi kami harus mengira-ngira lokasinya kuburan itu. Karena mereka bertiga menggunakan jalan pintas yang ada di pertengahan gunung, kami memutuskan untuk mengikuti rute mereka. Kami naik dulu ke puncak, lalu dari atas baru mulai mencari jalan pintas yang mereka lewat.


Setelah sekitar setengah jam, akhirnya kami menemukan ada sebuah jalan kecil di samping jalan utama. Mungkinkah itu jalurnya?


Kami berjalan ke situ, dan memperhatikan sekitar untuk melihat apakah ada gundukan tanah. Sebetulnya ada satu hal yang membuat saya tidak tenang. Tetapi saya tidak yakin.


Kami berjalan hampir satu jam. Sebentar lagi kami sepertinya sudah akan sampai kaki gunung. Ibrom merasa, kita tidak lama lagi akan menemukan kuburannya. Dan benar saja. Saya melihat ada gundukan tanah. Dan di satu sisi terdapat nisan dari kayu.


Kayu nisan sudah terlihat lapuk. Walau begitu tulisan aksara kuno masih bisa dilihat. Saya menoleh ke Ibrom. Ibrom sedang mencoba membandingkan buku aksara Jawa Kuno untuk mencocokkan maknanya. Kalau saya melihat dari sudut orang awam, ini agak berbeda dengan yang ditemukan di kertas. Karena ini lebih pendek.


“Ini beda dengan kertas yang kamu temukan kemarin,” jawab Ibrom.


Saya mengangguk.


“Ini.. ini bukan kutukan. Ini tertulis seperti pesan” jelas Ibrom. “Disitu maknanya kurang lebih ‘Sang anak dari ibu yang meninggal tragis akan membalaskannya.”


Bukan nama yang tertera. Sesuai dugaan saya. Ada yang tidak beres. Saya mengusulkan tetap melakukan rencana kami di awal, “Ayo kita lakukan!”


“Fan, kita beneran mau melakukannya?”


“Ya!” jawab saya tegas. Kami berdua mengeluarkan sekop, dan mulai menggali kuburan itu kembali.


Tadi pagi, saya yang menggagas ide untuk membawa sekop dan menggali makamnya. Ibrom sangat-sangat menentangnya. Tiga perempuan yang sekedar mengusik makam saja akibatnya satu mati, satu meninggal. Dan Kita malah ingin menantangnya dan menggali kuburnya. Dia bilang saya gila.


Tetapi saya meyakinkan dia, kemungkinan besar kita justru akan menemukan jawabannya setelah menggali makam ini.


Butuh waktu sekitar satu jam menggali cukup dalam. Ibrom dan saya melihat lubang kosong. Di dalamnya tidak ada apa-apa.  Tidak ada tulang atau apapun. Semuanya kosong.


“Dugaan kamu benar. Makam ini… kosong,” kata Ibrom.


“Iya. Dugaan saya benar berarti. Pertama, jika ini adalah makam tua dan tidak ada yang merawatnya, seharusnya gundukan tanah ini sudah pasti rata dengan tanah. Tetapi mengapa masih ada gundukan. Tetapi kalau dibilang ini ada yang merawat, tidak terlihat terawat, papannya lapuk, seolah-olah ingin menegaskan ke orang ini kuburan kuno.


**BERSAMBUNG**

__ADS_1


__ADS_2