
Malam itu Sisi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan ketika itu ada nenek tua yang menyeberang jalan. Mobil yang Sisi gunakan menyerempet nenek itu dan mobilnya pun berhenti. Sssttt.. suara rem dari mobil Sisi. Lalu Sisi membuka pintu mobil dan ingin membantu nenek yang ditabraknya tadi. “Loh nenek yang tadi ke mana, kok gak ada?” tanya Sisi dalam hati. Ketika Sisi hendak masuk mobil kaki Sisi menginjak sebuah benda, yaitu sebuah cermin yang cantik. Tanpa pikir panjang Sisi langsung mengambilnya dan masuk mobil. Di sepanjang perjalanan Sisi terus memikirkan nenek yang tadi ia tabrak. Sesampai di rumah pamannya Sisi bertanya pada bibinya.
“Bibi, tadi aku menabrak nenek-nenek tapi setelah aku ke luar mobil kok gak ada tuh nenek.” Kata Sisi pada bibinya. “Kamu nabrak nenek itu di mana?” tanya bibi.
“Di jalan sepi, ya lumayan dekatlah dari rumah bibi.” jawab Sisi.
“Apa?! ya Allah Sisi, tempat itu sangat berbahaya penduduk sini gak berani lewat jalan itu kalau malam.” sahut bibi. “Ya maaf Bi, Sisi pikir itu jalan pintas.” jawab Sisi.
“ya sudah jangan diperpanjang lagi pula Sisi gak kenapa-kenapa kan.” Sahut paman.
“Enggak kenapa-kenapa kok, ya udah Sisi mau ke kamar Irena dulu.” jawab Sisi sambil melangkah menuju kamar sepupunya itu.
Angin bertiup kencang dari jendela kamar, tapi tak membuat Sisi merasa terganggu. Ia merebahkan tubuhnya di kasur sambil memejamkan matanya. Beberapa detik ia memejamkan mata, nampaknya ia mulai gelisah. Ia bangun dari tempat tidur dan melihat Irena nampak tidur pulas di sampingnya tanpa sengaja ia pun menoleh ke arah jendela dan ia melihat nenek yang ditabraknya tadi berada di Sisi jendela. Sisi kaget dan berteriak.
“Aaaakkkh… Tiiidaaaakkkk!!!” teriakan Sisi membuat seisi rumah bangun dan menghampiri Sisi.
“Ada apa si, kamu kenapa?” kata Irena sepupu Sisi.
“Tad.. tad-dii. Ak.. aku melihat nenek tua di situ!” jawab Sisi sambil menunjuk arah Sisi jendela.
“Mana? gak ada,” kata Irena.
“Krek… pintu kamar terbuka dan itu bibi dan paman. “Ada apa kalian?” tanya paman.
“Tadi Sisi lihat nenek yang Sisi tabrak di pojok jendela tadi paman,” jawab Sisi.
“Sudah-sudah, kamu tidur aja, gak ada apa-apa kok mungkin kamu cuma teringat saja.” sahut bibi.
__ADS_1
Paman dan bibi ke luar kamar, Sisi dan Iren kembali tidur. Pagi itu Sisi hendak mengambil cermin yang ia temukan tadi malam tapi tidak ada, dan Sisi bingung mencarinya ke sana ke mari tapi tak ketemu. “Ahh… mungkin aku lupa naruh.” gumam Sisi dalam hati.
“Pagi keponakanku Sisi,” sapa bibi.
“Pagi juga Bibi, aku buru-buru ke kampus ya soalnya ada urusan… daaaaaa.” jawab Sisi langsung pergi.
Sesampai di kampus ia menuju toilet buat benerin make up, tapi tak disangka cermin itu ada di bawah kaki Sisi. Lalu Sisi mengambilnya dan membuang cermin itu tanpa melihat bayangan yang ada di cermin itu. “Iihh tadi pagi ku cari gak ada, sekarang nongol,” gumam Sisi dengan nada kesal lalu membuangnya di tempat sampah.
“Hai Sisi.” sapa Ria dan Fani.
“Hai juga, ayo ke kelas,” jawab Sisi.
“Kalian ke kelas aja dulu aku mau make-upan dulu,” jawab Fani.
“Oke,” sahut Sisi. Saat Fani di toilet ia menemukan cermin tadi, lalu dimasukkan dalam tasnya dan pergi menuju kelas. “Guys, aku punya sesuatu nih cermin cantik,” kata Fani.
“Di toilet.” kata Fani. “Oh gitu.” jawab Ria.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, tetapi Fani belum ke luar juga dari kampus tinggal ia sendiri. Saat itu dia lelah dan ingin membersihkan wajahnya dengan pembersih yang ada di tasnya dan cermin yang ia temukan. Saat ia memandang cermin, di dalam cermin itu ada bayangan nenek tua. Cermin itu dibantingnya dan pecah tetapi bayangan nenek itu ke luar dan mencekik leher Fani hingga tak bernyawa lagi dan tubuh Fani tergeletak di lantai. Keesokan harinya mayat Fani ditemukan oleh anak-anak kampus tersebut.
“Ada apa ini kok rame?” tanya Sisi pada salah satu anak kampus.
“Fani temenmu meninggal,” jawab anak kampus itu.
“apa?” Sisi menangis seketika mendengar dan melihat kabar itu.
Setelah kepergian Fani, Sisi dan Ria merasa sedih. “Ri, apakah kepergian Fani ada kaitannya dengan cermin itu?” tanya Sisi. “Memangnya kenapa dengan cermin itu?” jawab Ria.
__ADS_1
“Ayo sekarang ke rumah Bibiku dan aku akan menanyakan tentang hal ini.” sahut Sisi sambil melangkah pergi.
Tit… Tit… Tit… suara mobil Sisi di depan rumah bibi dan paman Sisi.
“kok baru pulang Si, tugas kuliah numpuk ya?” tanya bibi.
“Enggak kok Bi,” jawab Sisi. “Oh ya Bi, ini temenku namanya Ria,” lanjut bicara Sisi.
“Oh selamat datang, ayo masuk,” sahut paman.
“paman, Sisi mau tanya kemarin kan aku nabrak nenek terus hilang tuh nenek. Malahan aku dapat cermin. Ini cerminnya,” sambil menunjukkan cermin yang dibawa Sisi.
“Masya Allah, ini cermin petaka. Kenapa kamu bawa?” tanya paman.
“Cermin ini udah aku buang, malah ditemuin Fani temanku.. dan Fani kemarin meninggal,” jawab Sisi.
“Iya Om, gimana caranya supaya cermin tidak mengganggu kita?” lanjut Ria.
“Ya sudah malam ini kita kembalikan cermin ini di jalan yang kamu tabrak nenek itu.” kata paman.
“Sendirian nih aku?” kata Sisi.
“Iya, karena itu cara satu-satunya dan kamulah orang yang pertama menemukan cermin ini,” sahut bibi.
“Baiklah aku akan mengembalikkan cermin petaka ini.” jawab Sisi.
Ketika Sisi sudah di tempat itu, Sisi membuang cermin itu. Tetapi Sisi dikejar oleh nenek itu dan nenek itu berkata. “Kau akan ku jadikan tumbal.” suara itu menjadikan Sisi gemetar dan mengendalikan mobilnya hingga hilang kendali dan… Brrraaakkk!! mobil Sisi menabrak pohon.
__ADS_1
**SELESAI**