1001 Cerita Horor

1001 Cerita Horor
Saksi Tumbal Pesugihan


__ADS_3

KKN atau Kuliah Kerja Nyata umumnya berlangsung selama 1-2 bulan di daerah pedesaan. Lokasi KKN saya berada di Cianjur, sekitar 3 – 4 jam perjalanan dari terminal Pasir Hayam, tapi saya tidak mau menyebutkan secara detail nama daerahnya.


Tim KKN saya terdiri dari 16 orang yang berasal dari 7 fakultas berbeda. Ada fakultas ekonomi, komunikasi, hukum, sosial politik, pertanian, peternakan dan psikologi. Masing-masing fakultas diwakili 2 orang, kecuali pertanian dan peternakan yang mengirim 3 mahasiswa.


Setiba di lokasi, tempat tinggal tim dibagi dua. Tujuh anggota cewek menempati rumah lama milik Sekdes. Rumah ini bukanlah bangunan yang lama tidak dihuni. Sekdes pindah ke rumah barunya sekitar 1 minggu sebelum kedatangan kami.


Rumah ini menjadi base camp resmi, atau biasa kami sebut dengan Sekretariat. Anggota tim KKN sisanya menempati rumah yang cukup besar di dekat perbatasan desa dengan hutan. Rumah ini kami jadikan base camp tidak resmi karena lokasinya yang agak terpencil sehingga tidak khawatir mengganggu tetangga karena suara obrolan kami. Jarak terdekat tetangga dari base camp ini sekitar 100 meter.


Suatu malam, kami sedang berkumpul di basecamp. Tidak semua anggota tim KKN karena ada yang sedang belanja barang kebutuhan ke Cianjur, ada juga yang sedang ijin kembali ke Bandung. Sebelas orang yang tersisa malam itu, termasuk saya, sibuk membicarakan progres program-program yang sudah kami buat.


Tiba-tiba hujan turun sangat deras diikuti oleh petir dan angin. Kami yang sedang duduk di teras langsung pindah ke dalam rumah karena air hujan masuk akibat hembusan angin yang sangat kencang. Di ruang tengah, pembicaraan soal program pun kami lanjutkan.


Salah satu teman pamit buang air kecil sekaligus menawarkan diri membuatkan kopi. Tawaran yang langsung diterima dengan baik.


Sekitar 5 menit kemudian, teman tadi kembali tanpa membawa kopi.


“Mana kopinya? Katanya mau bikinin kopi?” Tanya Fitri, teman saya satu fakultas.


“Tunggu airnya mendidih. Eh, kalian tadi denger suara orang jerit nggak?” Miftah mengalihkan bahan pembicaraan.


Kami saling berpandangan. Bingung. Kemudian serempak menggelengkan kepala.


“Tadi pas lagi di kamar mandi, aku kayak denger suara orang njerit. Kayaknya suara perempuan. Atau nggak, suara anak-anak.”


Kami bersepuluh sama sekali tidak mendengar suara lain kecuali riuhnya bunyi hujan menimpa atap rumah.


Miftah kembali ke dapur tanpa bilang apa-apa lagi. Tidak lama kemudian, dia datang lagi sambil membawa nampan berisi kopi.


Menjelang tengah malam, hujan masih turun cukup deras namun tidak lagi dibarengi petir dan angin. Cuaca tidak memungkinkan saya dan teman-teman pulang ke Sekretariat, ditambah lagi kondisi jalanan yang gelap dan becek. Malam itu, kami putuskan untuk tidur di base camp. Toh, teman kami yang sedang ke Cianjur sudah mengabari mereka tidak bisa kembali karena hujan deras.


Saya dan teman-teman perempuan menempati kamar tengah, kamar yang paling besar. Kami berempat langsung *****, nempel (bantal) molor (tidur).


Tok. Tok. Tok…


Sayup-sayup, saya mendengar bunyi ketukan halus.


Tok. Tok. Tok…


Apa saya lagi mimpi?


Tok. Tok. Tok…

__ADS_1


Saya berusaha bangun dan mengaktifkan indera pendengaran, mencari sumber bunyi. Jendela? Pintu kamar? Atau… bunyi tetesan air sisa hujan?


Terdengar suara berderit pelan. Seseorang membuka pintu.


Jantung saya berdegub sangat kencang. Rasa kantuk mendadak hilang. Kondisi kamar yang remang menyulitkan saya melihat siapa yang membuka pintu. Selarik cahaya lampu dari ruang tengah masuk dari balik pintu.


Aah, ternyata Fitri yang membuka pintu kamar. Saya pun lega.


Fitri berbicara dengan seseorang dalam nada rendah. Saya tidak bisa melihat siapa lawan bicaranya karena terhalang daun pintu. Fitri kemudian mengalihkan pandangannya ke arah saya.


“Kenapa, Fit?” Saya bertanya.


“Elu belum tidur, Ty?” Fitri balik bertanya.


“Tadi sih udah, tapi kebangun lagi. Ada apa? Siapa itu?”


Dari balik pintu muncul wajah Reza. “Ty, elo bisa keluar sebentar? Urgent.”


Saya keluar kamar bersama Fitri. Di ruang tengah tempat kami berdiskusi tadi sudah berkumpul teman-teman cowok lainnya. Lengkap. Ada apa ini?


“Ty, Fit, elu inget tadi Miftah tanya soal orang njerit?” Reza membuka percakapan.


“Tadi kita denger lagi. Kita semua, bukan cuma Miftah.” Reza melanjutkan.


Saya dan Fitri cuma diam.


“Kayaknya, asalnya dari rumah yang di ujung kebun itu.” Miftah menambahkan.


Aku ingat rumah kecil di ujung kebun belakang. Rumah itu ditinggali oleh seorang ibu muda bersama mertua perempuannya. Kami biasa memanggilnya Teh Siti dan Mak Unyeh. Belum lama ini Teh Siti melahirkan anak pertamanya, seorang putri yang cantik. Kami sempat menjenguknya sekitar seminggu yang lalu sambil membawakan barang-barang kebutuhan bayi. Saat kami datang, kami tidak melihat suami atau bapak mertuanya. Kabar yang beredar, suami dan bapak mertuanya pergi merantau ke kota Jakarta.


“Aku sama Miftah mau ngelihat ke situ. Takutnya ada apa-apa.” Kata Reza.


Saya paham alasan Reza mengajak Miftah. Selain berbadan paling kekar, Miftah juga menguasai ilmu bela diri.


Dengan berbekal dua senter beam besar dan radio komunikasi portable, Reza dan Miftah keluar dari pintu belakang. Hawa dingin yang menusuk menyeruak masuk saat pintu terbuka.


Di ruang tengah, kami menunggu kabar dengan cemas. Sementara di luar, hujan sudah berhenti. Keadaan sangat senyap. Sama sekali tidak terdengar bunyi kodok yang biasanya bersuka ria setelah hujan. Begitu pula serangga dan burung malam, tidak ada satu pun yang bersuara. Saya ingat paman saya (dia seorang pecinta alam sejati) pernah bilang, alam yang terlalu sunyi bukanlah pertanda baik.


Sudah lebih dari 15 menit belum juga ada kabar dari Reza dan Miftah. Takut terjadi apa-apa dengan mereka berdua, Indra mencoba memanggil lewat radio komunikasi.


“Za… Miftah…”

__ADS_1


Tidak ada jawaban.


“Reza…. Miftah…” Panggil Indra lagi.


Masih belum ada jawaban.


“Reza… Miftah… Kalian baik-baik aja? Kalian di mana? Ganti!” Indra menaikkan volume suaranya.


Sedetik kemudian terdengar suara radio bergemersik.


“Roger, ini Reza. Ini siapa? Ganti.”


“Gue, Indra. Gimana, Za? Ganti.”


Kembali tidak ada jawaban.


“Za…!” Panggil Indra.


“Roger, Ndra. Sebentar gue balik dulu ke rumah. Nanti gue ceritain. Over and out.” Reza memutus komunikasi.


Sepuluh menit kemudian Reza dan Miftah sampai base camp. Dari wajah mereka berdua, kami tahu sesuatu yang buruk telah terjadi.


Sesampainya di ruang tengah, Reza langsung mendatangi peranti radio yang tadi digunakan Indra, sementara Miftah bergabung dengan kami tanpa bilang apa-apa. Reza kemudian mencari frekuensi radio yang biasa dipakai perangkat desa.


Saya melirik jam di tangan kanan. Sudah hampir jam 2 dini hari. Apa masih ada yang bangun?


Tiba di frekuensi yang dicari, terdengar suara-suara orang ramai bicara. Rupanya hujan deras dan angin kencang semalam sudah membuat beberapa pohon tumbang. Bahkan, ada satu yang menimpa bangunan sekolah dasar.


Reza memanggil Pak Kades melalui radio komunikasi.


“Muhun, Jang. Aya naon? Bapak keur mariksa tangkal nu ngarubuhan gedung sakolah.” Jawab Pak Kades. (Iya, Nak. Ada apa? Bapak lagi meriksa pohon yang menimpa gedung sekolah.)


“Ieu, Pak. Abdi aya kaperyogi ka Bapak. Penting pisan. Ganti.” Kata Reza. (Begini, Pak. Saya ada keperluan dengan Bapak. Penting banget.)


Reza berusaha bicara setenang mungkin, namun tetap tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang dirasakannya. Atau… rasa takut? Setidaknya itu yang saya rasakan.


Reza meminta Pak Kades datang ke base camp saat itu juga. Jika memungkinkan, Pak Kades juga mengajak seorang pemuka agama dan tenaga kesehatan. Pak Kades menyanggupi setelah mendengar penjelasan singkat Reza.


Sambil menunggu kedatangan Pak Kades, Reza menceritakan apa yang dialaminya bersama Miftah.


**BERSAMBUNG**

__ADS_1


__ADS_2