1001 Cerita Horor

1001 Cerita Horor
Melodi Kematian Part 2


__ADS_3

Jika tadi Lara telah dimanjakan oleh keadaan rumah yang super mewah itu, kini ia harus terkagum-kagum ria juga dengan fasilitas yang dimiliki rumah tersebut. Dua orang security datang menghadap pada Jodi selaku tuan rumah. Lalu mereka membukakan pintu dan mengawal kedua majikannya memasuki rumah.


“Nah, Lara. Sekarang ini rumah barumu, dan sekarang Om akan tunjukkan di mana kamarmu.” kata Jodi sembari menuntun Lara.


“Dan, ini dia kamar barumu. Om harap kamu suka ya Nak? Sekarang Om harus pergi dulu, ada rapat penting yang harus Om hadiri. Baik-baik di sini ya Sayang.”


Setelah menunjukkan kamar pada Lara, Jodi langsung meninggalkan Lara dengan kamar barunya itu. Dengan sebuah lambaian tangan oleh Jodi dan dibalas pula oleh Lara, Jodi mengakhiri kebersamaan mereka.


“Siapa gadis itu, Yah?”


Seru seorang wanita paruh baya dari arah belakang Jodi. Semakin lama wanita itu semakin mendekat. Langkah Jodi jadi terhenti mendengar seruan tersebut. Segera ia membalikkan badan.


“Dia anak kita, anak yang telah tega kau buang!” sambut Jodi dengan nada agak tinggi.


“Apa?”


“Ya, dan sekarang dia tinggal bersama kita di sini, di rumah yang berhak ia huni!”


“Ta..tapi, dia sudah mati 17 tahun yang lalu!”


“Belum, buktinya 17 tahun setelah itu aku menemukannya!”


Jodi berlalu meninggalkan Susan dan tidak melanjutkan pembicaraan serius itu panjang lebar. Sementara Susan masih terdiam, antara shock dan tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Jodi, suaminya.


Dalam waktu yang bersamaan pula, Lara sedari tadi sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Artinya ia letah merekam semua percakapan antara Jodi dan Susan dalam memorinya yang benar-benar kosong. Butiran bening mulai menitik dan membasahi pipi mulusnya. Dadanya terasa sesak dan jantungnya terasa dihujam belati yang sangat tajam. Lara lemas.


Genap seminggu sudah rebeca menjalani hari-hari bak seorang putri kerajaan. Walaupun butuh sedikit adaptasi, namun kehadiran Jodi yang selalu menemaninya ditengah kesibukan-kesibukan Jodi yang padat membuat Lara semakin kerasan tinggal di rumah tersebut.


“Lara mau sekolah?”


Pertanyaan singkat itu membuat Lara agak sedikit kaget dan ada rasa gembira di dalamnya. Seketika Lara mengangguk tanda setuju.


Meskipun Lara dibesarkan dalam kerasnya kehidupan jalan, tetapi itu tak membuat niatnya surut untuk menuntut ilmu. Selama di jalan ia banyak belajar dari murid-murid sekolahan yang sesekali menyempatkan waktu untuk mengajarinya membaca dan menulis. Mata tak ayal, perlahan Lara semakin pintar. Dan kini ia siap menantang dirinya untuk mengenyam bangku sekolah.


Karena daya nalar Lara yang cukup baik untuk menangkap pelajaran, Jodi tidak menyekolahkannya di SLB melainkan di sekolah biasa seperti anak-anak normal lainnya. Dan tak tanggung-tanggung, SMA negeri yang berpredikat RSBI pun menjadi pilihannya untuk Lara. Jodi yakin Lara mampu dan bahkan lebih mampu melebihi kelebihan anak lainnya di sekolah itu.


“Terimakasih Om.”


Lara tersenyum sembari memperlihatkan kata-kata yang ditulis pada permukaan kertas.


Jodi hanya membalas dengan sesungging senyum dibibirnya.


Jodi terduduk di sebuah ruangan. Matanya terus memandang serius pada seorang wanita yang tengah berbicara dihadapannya. Tanpa mengurangi sedikit rasa hormat, wanita itu berbicara panjang lebar mengenai Lara, anaknya.


“Sepertinya bapak harus segera merujuk Lara pada psikiater ahli.”


“Maksud ibu?”


“Saya tidak tahu dengan cara apa saya harus memberitahu hal ini pada bapak. Tapi bapak tetap harus tahu.”


“Apa yang sebenarnya terjadi?” Jodi makin penasaran.


“Kemarin kali kelima Lara masuk BK atas kesalahan yang sama. Dua diantara korban Lara, sekarang tengah menjalani perawatan di rumah sakit. Namun tadi pagi kami baru mendapat kabar bahwa salah satu dari mereka meninggal dunia dengan luka yang cukup parah di kepalanya.”


“Ya Tuhan, berita buruk macam apa ini!”

__ADS_1


Seru Jodi, tak percaya dengan apa yang barusan ia simak. Dan sekaligus tak percaya bahwa seorang Lara yang polos mampu melakukan hal tersebut.


“Maaf Pak, seburuk apa pun berita ini bapak tetap harus mengetahuinya. Kami juga tak percaya dengan hal ini. Lara seorang anak berprestasi, ia sempat menjuarai beberapa olimpiade dalam ajang OSN. Namun sejak sikapnya berubah beberapa bulan yang lalu, kami menjadi ngeri dan sekaligus shock olehnya.”


“Lalu, mengapa tak ibu ceritakan dari dulu masalah ini pada saya?”


“Awalnya memang seperti itu, tapi kami takut. Kami juga telah sepakat untuk men-dropout Lara dari sekolah. Kami takut kalau-kalau korban semakin banyak berjatuhan gara-gara satu orang siswa. Namun hasilnya nihil, kami tetap tidak berani mengingat jabatan bapak selaku orang nomor 1 di kota ini.”


Wanita itu kian berpasrah di depan Jodi. Sudah sekian jam mereka terjebak dalam kondisi yang amat krodit seperti itu.


Sepertinya suasana kelas XII IPA1 mendadak seru pagi itu. Terlihat seorang gadis terduduk dengan darah dikepalanya. Teman-teman lainnya tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya bisa berngeri-ngeri ria menyaksikan kejadian itu.


Lara hanya menatap gadis itu dengan pandangan tajam seolah penuh dendam. Kemudian ia berlalu meninggalkan kelas. Tak ada yang tahu kemana ia pergi.


Suasana mencekam mulai terasa di sekolah terpandang tersebut. Hingga akhirnya awak media berhasil mengabadikannya di dalam sebuah surat kabar. Nama Lara Dharmawan seakan menjadi topik hangat yang tak habis-habis diperbincangkan seluruh media sosial. Kini Lara telah menjadi buronan para paparazzi.


Menjadi pusat perhatian dalam waktu yang cukup singkat membuat Lara menjadi semakin tak tenang. Sudah beberapa minggu ia absen dengan alasan yang tidak jelas. Tentu ini hal ini sekaligus menjadi ketenangan tersendiri bagi pihak sekolah yang sudah resah dengan ulah sadis Lara.


Di sebuah rumah sakit besar di daerah Kalijati.


“Apa sebenarnya yang terjadi pada anak saya, Dok?”


Suara barito Jodi memecah keheningan ruangan yang hampir seluruhnya bernuansa putih tersebut. Terlihat seorang dokter yang tengah serius menganalisis hasil psikotes dari anak Jodi, Lara.


“Hasil ini sungguh mencengangkan Pak. Belum pernah saya menghadapi kasus semacam ini selama saya bekerja sebagai psikiater.”


“Memangnya hasilnya seperti apa?”


“Baik akan saya jelaskan, namun sebelumnya bapak harus menyiapkan mental yang cukup untuk mendengar hasil riset ini.”


“Begini, anak bapak mengidap penyakit PSIKOPAT. Psikopat itu sendiri berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Pengidapnya sering disebut SOSIOPAT. Namun tidak berarti orang gila. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan. Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan. Psikopat biasanya memiliki IQ yang tinggi.”


Psikiater itu memaparkan dengan jelas penyakit yang diidap oleh Lara. Bak disambar petir di siang bolong. Jodi shock bukan kepalang. Berkali-kali ia menghela nafas panjang, namun tak juga kunjung menenangkan kegundahannya. Kali ini ia benar-benar sangsi untuk mengajak Lara tinggal di rumah itu. Lara benar-benar orang sakit.


“Sudah saya katakan dari awal, ini butuh mental yang tinggi. Seseorang biasanya sulit mencerna kenyataan yang amat pahit, yang sabar ya Pak Jodi.”


“ Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang terhadap Lara, Dok?”


“Mengingat ini sangat berbahaya bagi keselamatan bapak sekeluarga, saya sarankan bapak membawanya ke tempat rehabilitasi mental. Bukan rumah sakit jiwa ya Pak! Tapi REHABILITASI MENTAL. Oia, di mana anak bapak sekarang? Saya harap ia tidak berada dekat dengan orang-orang yang dibencinya.”


“Di rumah, Dok.”


Suasana hening sejenak. Dan tiba-tiba....


“Astaga, di rumah saya bilang, Dok??? Maaf, saya harus segera pulang!” kata Jodi, sebelum akhirnya ia melesat secepat kilat menuju rumah.


Sementara sang dokter tampak bingung melihat reaksi Jodi.


Jodi memasuki pekarangan rumahnya dengan tergesa-gesa, seperti sedang dikejar oleh monster yang menyeramkan. Biasanya ada security yang menyambutnya, namun rumah tampak dalam keadaan sepi. Ia masih ingat ketika ia pergi dari rumah dengan meninggalkan Susan, Victor, Ria dan Lara di rumah. Sebenarnya ia tahu bahwa hubungan istri dan anak-anaknya tidak terlalu baik dengan Lara, tapi sebelum ia mendapat berita mencengangkan ini semua tampak baik-baik saja, pikirnya. Sementara Susan telah berkomitmen bahwa ia tak akan menerima Lara sebagai anak yang pernah ia lahirkan. Bagi Susan itu adalah aib bagi orang terpandang seperti dirinya.


BRRRAAKKKKK.......!!!!


Jodi telah memasuki pintu utama rumahnya yang tak terkunci itu. Namun Jodi agak bersemangat membukanya hingga terdengar suara bantingan pintu yang cukup keras.


Semua ruangan di lantai satu telah diperiksa, tak juga ia temui istri dan anak-anaknya. Jodi menaiki tangga dengan langkah yang semakin dipercepat. Dan sampailah ia di lantai dua rumahnya. Di sana ada sebuah kamar mandi besar, 3 kamar, dan sebuah ruang kerja miliknya. Pertama Jodi memeriksa kamar mandi. Dan...

__ADS_1


“Aaaaaaaaggghhhhhhh....!!!”


Jodi berteriak histeris menyaksikan pemandangan yang amat mengerikan di depannya. Dua mayat manusia terbujur kaku di tempat yang agak berjauhan. Kedua mayat itu tak lain adalah security yang selalu setia menjaga rumah megah itu. Keduanya tewas dengan luka gorok di leher. Ia tak tahu atau atau mencoba untuk tidak mencari tau siapa gerangan orang sadis yang tega melakukan hal ini.


Dari kejauhan, tepatnya di kamar nomor 3 paling ujung dari tempatnya sekarang terdengar samar-samar suara petikan gitar. Ia seolah tau itu adalah Rebeca, namun nada petikan gitar tersebut terasa sangat asing di telinganya. Seharusnya Lara memainkan melodi yang gembira seperti ketika ia pertama bertemu lara yang tengah memainkan gitarnya. Namun yang ia dengar kini adalah melodi menyeramkan seolah sedang berkabung. Mengapa Lara berubah.


Jodi seolah merasakan penderitaan yang di alami Lara sejak dulu. Andai saja ia tidak terlalu sibuk dengan urusan kepolitiknnya, pasti Lara kecil tidak sampai dibuang oleh Susan. Dan kini semua itu tinggal penyesalan belaka. Dengan langkah gontai Jodi langsung menuju kamar ketiga yang merupakan sumber dari bunyi petikan gitar Lara atau bukan Lara yang sebenarnya.


Jodi membuka pintu.


Jiwa Jodi seakan lepas dari badan kasarnya, berkali-kali ia menepuk pipinya ke kanan dan ke kiri. Ini kenyataan.


Pemandangan yang lebih seram dari pada mayat-mayat security itu kian membuatnya tak sanggup untuk berdiri dengan kakinya sendiri. Jodi tumbang dan tertunduk. Ia shock berat.


“Mengapa seperti ini Lara?”


Kalimat bernada lirih terlontar dari bibir Jodi. Kini ia tak punya lagi cukup tenaga untuk membentak bahkan marah.


Sementara Lara tak merespon dan masih tetap betah dengan petikan-petikan gitarnya yang menyeramkan.


Suasana tersebut bertahan kira-kira sekitar 1 menit sebelum akhirnya kejutan yang lain mulai menampakkan diri pada Jodi yang ketika itu telah perpasrah diri menerima kejutan selanjutnya.


“Aku hanya mencoba menghantar kepergian mereka dengan lagu kematian ini, dan aku harap mereka tenang di sana. Apa ini salah, ayah?”


Jodi bangkit dari posisinya yang tertunduk, ia menatap lekat pada Lara dan gitarnya yang berlumuran darah segar. Sementara Lara menatap tiga wujud yang tak lagi bernyawa itu :Susan, Victor dan Ria. Jodi pun sekaligus tercengang karena baru pertama kalinya Lara memanggilnya dengan sebutan AYAH.


“Ka...kau, bisa bicara Lara?”


Suara parau Jodi tampaknya memaksa Lara untuk turut menatapnya. Namun Lara tak lagi melanjutkan perkataannya yang cukup lancar itu.


“Apa motif dibalik semua ini? Mengapa kau berubah seperti ini, Nak?” lanjut Jodi.


Lara bangkit dan mendekati Jodi. Ia tersenyum sembari menjawab.


“Tidak ada. Aku hanya ingin mereka bahagia dan tidak terlalu lama menderita di dunia ini dengan rasa dengki dalam diri mereka.”


“Ta..tapi, ini terlalu sadis.....”


“Sadis ayah bilang? Mana lebih sadis dibanding dengan membuang anak kandung di tempat pembuangan sampah dan membiarkannya hidup sendiri dikejamnya kehidupan jalanan???”


Jodi terdiam. Nafasnya terasa tertahan sejenak dan jantungnya sakit. Seperti ada peluru nyasar yang mengenai tepat di jantungnya.


“Lagi pula ini tidak sebanding, kehidupanku yang sadis hanya dibayar dengan cairan kental berwarna merah ini. Sungguh tak adil!”


“Lalu, apa yang kau mau sekarang?”


Lara menatap tajam ke arah kedua bola mata Jodi. Rautnya yang polos kini menjelma menjadi raut kemurkaan yang tak pernah Jodi bayangkan sebelumnya.


Lara memeluk Jodi lalu berkata.


“Aku ingin ayah bahagia.... Di sana, dengan m e r e k a....!”


Hening... . . .


**SELESAI**

__ADS_1


__ADS_2