
"Sar, besok aku akan ke Medan. Ada pekerjaan, aku ingin melihat Rembulan walaupun dari jauh. Tolong berikan alamat rumahnya." Raditya memohon pada Sarah yang duduk di depannya.
Mereka bertiga bertemu di kafe tempat Sarah sering nongkrong bersama Rembulan. Tadi Raditya menelpon Sarah dan mengajaknya bertemu di kafe. Dia sudah tak bisa menahan keinginannya melihat Rembulan walaupun dari jauh.
Sarah tampak berpikir, menimbang-nimbang. Rembulan tak ingin mendengar sedikitpun tentang Raditya, Sarah kadang memancing dengan menceritakan sedikit tentang Raditya. Rembulan langsung mengalihkan pembicaraan dan tak pernah bertanya lebih lanjut. Sarah takut Raditya akan kecewa.
"Aku dikasih apa kalau kasih alamat Rembulan? Ini taruhannya nyawa lho," katanya bercanda dan disambut dengan lirikan tajam dari David. Sarah cemberut demi melihat lirikan mata David. Ih, nggak bisa bercanda!
"Begini saja, akhir-akhir ini Rembulan sedang mencoba menulis novel. Dia sering menulis di sebuah kafe langganannya. Aku pernah diajak ke sana. Dia selalu memilih duduk di sudut dan akan duduk di sana selama beberapa jam. Nanti aku akan tanyakan alamatnya padamu dan jam biasa dia ke sana." Sarah tahu percuma Raditya diberikan alamat Rembulan dan menunggu Rembulan keluar ntah kapan.
"Caranya? Rembulan pasti curiga." Raditya sedikit pesimis.
__ADS_1
"Tenang saja, aku pasti punya cara. Aku sangat mengenalnya. Gampang lah itu!" Sarah menjentikkan jarinya. David tersenyum lebar lalu membelai lembut kepala Sarah.
***
Disinilah Raditya berada sore ini. Melihat perempuan itu memasuki kafe dengan langkahnya yang tegak. Raditya menutupi wajahnya dengan topi dan sengaja berada duduk di balik pilar agar tidak terlihat oleh Rembulan.
Beberapa bulan tidak melihat perempuan itu membuat jantungnya bagaikan berlari. Andaikan dia bisa menyentuh perempuan itu. Kali ini cukuplah melihat sosoknya dari jauh. Matanya tak bisa lepas memandang perempuan itu. Perempuan itu tetap terlihat cantik seperti terakhir dia melihatnya.
***
Ah, sialan! otaknya buntu. Dia sengaja sudah keluar dari cangkangnya dan mencari suasana baru tetap tak bisa menuliskan novelnya.
__ADS_1
Rembulan sudah beberapa kali mendatangi kafe ini, dulu bahkan dia pernah mengajak Sarah ke sini. Entah mengapa Rembulan tidak berminat untuk mencari kafe lain, dia sudah terpikat dengan suasananya. Rembulan mengedarkan pandangan ke segala arah, mungkin ada sesuatu yang bisa dijadikan inspirasi. Bisa saja inspirasi berasal dari sepasang pengunjung yang sedang berpegangan tangan, bunga, beberapa perempuan yang sedang tertawa atau laki-laki dibalik pilar yang menutupi dirinya dengan topi. Laki-laki itu terlihat misterius.
Namun dia tidak menemukan satupun yang bisa dijadikan inspirasi. Tetap buntu.
Beberapa waktu disitu, kali ini Rembulan merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya. Duduknya menjadi tak tenang. Segera dia menandaskan kopinya. Rembulan berdiri dan pergi meninggalkan kafe.
--Tamat--
Penulis mengucapkan terima kasih buat semua yang sudah membaca karya ini terutama pembaca setia yang selalu memberikan support berupa like, vote dan komentar.
Mungkin penulis akan lama mulai menulis karya baru karena harus melakukan revisi untuk beberapa novel.
__ADS_1
Terima kasih banyak buat semua. Jangan lupa kasih komentar ya. Itu akan membuat penulis semakin bersemangat untuk menghasilkan karya dan memperbaiki tulisan.