Ace Of Disaster

Ace Of Disaster
Episode 22


__ADS_3

”Ayhner?! Kau ada di sini?!”


Aciel langsung mendobrak pintu dan memperhatikan sekeliling. Semua orang yang bekerja di sana menatap ke arahnya. Mereka heran dengan seragam militer yang masih dikenakan Aciel saat ini. Padahal dia tidak pernah menggunakannya saat ingin pulang ke rumah.


”Ada apa? Kau mencarinya?” tanya Ivonne sembari berjalan menghampirinya. Dia baru saja pulang dari pekerjaannya merawat ratusan pasien akibat serangan monster yang terjadi kemarin pagi. Jadi, dia tidak begitu tahu siapa saja yang ada di rumah ini.


”Saat ini zombi sedang menyerang gereja. Kau melihat Ayhner berkeliling di sekitar sini?” Aciel tampak berkeringat, cemas memikirkan Putranya yang mungkin sudah tidak ada di rumahnya. Zombi itu mengatakan kalau jumlah mereka lebih dari satu. Jadi,dia sempat berpikir kalau salah satu dari zombi itu juga menyerang kediamannya.


Ivonne berpikir sejenak. ”Aku rasa tidak. Aku baru saja kembali. Cobalah periksa kamarnya.”


Dengan cepat Aciel segera berlari menuju pintu kamar Ayhner yang berada di lantai dua. Dia tidak memperhatikan beberapa orang yang sedang membersihkan anak tangga dengan seember air dan kain. Lalu, ketika dia sampai di sebuah kamar dimana semua kejadian ini bermula, dia tidak melihat satupun jejak Ayhner berada di kamar ini.


Itu mustahil! Dia sudah mengatakan agar dia tetap berada di kamarnya. Tetapi, dia tidak pernah mendengarkan.


Hanya tinggal satu-satunya tempat yang seharusnya menjadi tempat tujuannya sejak awal.


Gereja.


”Ada apa Aciel? Apakah keadaannya sangat darurat? Sekuat apa zombi yang menyerang kali ini?” Ivonne mulai terlihat cemas melihat gerakan Aciel yang tidak bisa tenang meskipun sedikit.


Sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bermain-main. Situasinya sangat serius. Bahkan Aciel yang selalu terlihat tenang, mendadak panik setengah mati. Aciel tak memiliki waktu untuk menjelaskannya. Dengan segera dia berlari pergi meninggalkan rumahnya. Disusul Ivonne yang mencoba mencari seluk-beluk masalah yang terjadi saat ini.


Ketika pintu kayu itu dibuka, secara tidak sengaja dia menabrak Edmund yang awalnya datang untuk berkunjung. Dia juga sempat melihat Aciel yang pergi dengan terburu-buru seperti tengah mengejar sesuatu.

__ADS_1


”Ivonne, kenapa terburu-buru?” Edmund mencoba menatap wajahnya yang tampak pucat dan berkeringat cukup banyak.


Dengan cepat Ivonne langsung menghindarinya dan mencoba untuk berdiri kembali. ”Kau datang di waktu yang tepat! Kau pasti membawa kereta kuda kan?”


”Ya, tentu saja. Kenapa?”


”Aku pinjam kereta mu!” Ivonne tak memberikan waktu bagi dirinya sendiri untuk menjelaskan. Dia langsung menarik Edmund pergi menuju kereta kuda yang tampak terparkir tak jauh dari depan gerbang pagarnya.


Di sisi lain, Aciel mencoba bergerak cepat dengan menuju ke gereja. Tampak jelas situasi yang sangat ramai dipenuhi dengan orang-orang yang berusaha menjauh dari gereja. Mereka semua berlari ke arah yang berlawanan dengan Aciel hingga membuat pergerakannya sedikit terhalang.


Meski jaraknya dengan gereja tidak begitu jauh, dia mampu mencium aroma darah menyengat yang datang dari beberapa orang. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada pasukannya saat ini dan dia mulai merasa khawatir memikirkannya. Jika saja saat itu dia tidak memutuskan pergi ke rumahnya karena khawatir Ayhner masih berada di sana dan mengikuti ucapannya untuk tetap tinggal, mungkin kepanikan besar-besaran seperti ini bisa dihindari.


Krieet,...


”Oh? Sang tokoh utama akhirnya sudah datang.” ucap Ren berdiri disisi ruangan sembari menjatuhkan sebuah tubuh manusia ke lantai.


”Payah! Kenapa baru datang sekarang?” susul Rou


”Apakah dia masih berpikir Putranya akan mengikuti perkataannya untuk tetap di rumah?” lanjut Roe.


Aciel tak memejamkan matanya saat melihat seluruh pasukannya tumbang, nyaris terbunuh oleh ketiga zombi ini. Bahkan Hyacinth yang menjadi andalannya telah jatuh dengan luka tusukan dan tembakan yang ada di perutnya. Sungguh yang melihat kejadian ini pasti akan tercengang hingga dia tidak tahu apa lagi yang pantas dilakukannya untuk menebus semua kesalahannya.


”Ayhner, dimana dia?”

__ADS_1


Aciel mencoba menatap sekeliling. Amarahnya ini memuncak saat dia menatap ke arah mimbar dan tepat di atas semua meja batu, dia melihat putranya, sengaja dibaringkan di sana dengan pisau miliknya sendiri menancap di atas perutnya.


Tenang, dia tidak bergerak sedikitpun. Bahkan Aciel mulai curiga Ayhner telah kehabisan darah cukup banyak akibat pertarungannya yang tadi.


”Sepertinya, seluruh pasukanmu tidak sanggup melawan kami yang hanya berjumlah tiga. Aku pikir, berita tentang kemenangan pasukan anjing ratu dengan monster-monster besar diluar sana adalah kenyataan. Tapi tidak disangka, itu hanyalah hayalan semata.” cibir Ren yang duduk di salah satu kursi sembari menadahkan wajah kirinya pada telapak tangan.


”Kenapa repot-repot datang kemari? Toh, pertarungannya juga sudah selesai.” Rou menunjukkan senyum seringainya pada Aciel yang hanya diam mematung di tempat.


Aciel tak bergerak sedikitpun bahkan untuk mengedipkan matanya. Tangannya terkepal kuat seakan sedang memegang sesuatu yang tidak ingin dilepas olehnya. Matanya terbelalak, menatap ketiga zombi yang sudah membuat pertumpahan darah ini terjadi sementara mereka baik-baik saja.


Benar-benar sebuah pertarungan yang tidak seimbang.


Aciel mengangkat tangannya sejajar dengan bahu. Wajahnya suram dipenuhi dengan amarah yang membludak. ”... Leth! Ambil satu tahun kehidupanku. Bunuh mereka yang berada di hadapanku.”


Tampak dari manapun, Aciel terlihat sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Namun, tidak lama setelahnya, muncul sebuah suara mengerikan yang mengatakan, ”... Baiklah.”


”!....”


Kemudian beberapa detik setelahnya, asap hitam pekat muncul dari dalam tanah dan menembus ke lantai lantainya. Asap hitam itu mulai membentuk sesuatu, menyerupai seekor monster dengan mata mengerikan yang ada di seluruh tubuhnya. Dia memiliki empat kaki yang diletakkan di bawah. Serta, terdapat sebuah mulut besar raksasa yang tumbuh di perutnya.


Ketiga saudara kembar ini tidak menyangka dengan kemunculan monster tiba-tiba di hadapan mereka. Monster itu muncul setelah Aciel memberikan satu tahun kehidupannya. Namun, setelah memberikannya, darah mulai bercucuran keluar dari dalam hidung dan mulut Aciel. Rasa sakitnya pun nyaris seperti kematian. Meski begitu, dia masih mampu berdiri dengan kedua kakinya yang sedikit ditekuk.


Rou tiba-tiba tersenyum lebar, tak menduga kalau Aciel bisa melakukan hal semacam ini. ”... Yang benar saja! Apakah dia itu spesies ketiga? Setengah monster. Bukan! Tetapi, dia hanyalah wadah bagi monster yang tidak menerima kematiannya.”

__ADS_1


”Khiikk,... Khiikk,... Siapa pun tidak akan bisa lari dariku. Akan ku hancurkan kalian semua sampai ke tulang-tulangnya!”


__ADS_2