
”Maaf, untuk sambutan yang tidak berkesan pagi tadi. Sebagai gantinya aku seduhkan teh untukmu.” Aciel menaruh secangkir teh hangat di depan meja sofa. Saat ini, dirinya dan yang lain sedang berkumpul mengelilingi meja seperti akan mengadakan sebuah rapat besar.
Ayhner sendiri masih terdiam meski begitu, mulutnya terus mengunyah makanan manis yang ada di atas meja. Ivonne tampak menyeka kantung matanya berkali-kali. Dia pasti sudah mendengar kabarnya. Tapi yang terpenting bagi dirinya, Ayhner telah kembali pulih seperti semula.
”Hari ini, porsi makan mu terlihat sangat baik. Aku sengaja menyiapkan makanan manis untukmu mengingat kau pasti lapar setelah tidak mengunyah selama berhari-hari.” ucap Aciel duduk di sebelahnya sembari melayangkan senyum padanya.
Senyum itu tampak tidak berkesan sama sekali dan malah membuat Ayhner merinding. Ia kemudian berdiri menjauhinya dan duduk di sofa yang bersebelahan dengan Eldric. ”... Aku tidak suka jika seseorang terlalu memperhatikanku.” ucapnya tanpa ragu.
”Orang lain saja mampu membuat hatinya senang. Apa yang kau lakukan selama ini sampai-sampai membuatnya semakin menjauh darimu?” cibir Ivonne sembari mengalihkan perhatiannya.
”Setidaknya aku melakukan sesuatu untuk membuatnya senang, kan? Kau sendiri apa yang kau lakukan untuk keponakanmu?” balas cibir Aciel.
”Hanya gertakan. Memangnya kau takut aku tidak akan melakukannya?” ketus Ivonne.
Ayhner berhenti mengunyah makanan dan menatap ke arah mereka berdua, ”... Apakah kalian ini pasangan suami istri? Bawaannya marah-marah terus.” ucapnya cuek.
Aciel langsung menjawab kesalahpahaman ini. ”... Tentu saja kami ini hanya saudara dekat. Kalau saja kami berdua bukan suadara, mustahil aku akan menikahi gadis seperti dirinya.”
”Kalau tahu dia adalah orang tua yang payah, aku juga tidak akan menikahinya.” balas Ivonne.
”Ah, itu. Bukankah masih banyak laki-laki dan perempuan diluar sana? Kalian tidak perlu membandingkan diri kalian masing-masing.” ucap Eldric mencoba untuk memisahkan keributan mereka berdua.
Saat ingin menjawab dengan nada keras, tiba-tiba mereka semua berhenti saat mendengar Ayhner tiba-tiba tertawa mendengar semua keributan ini. Ia tampak senang meski hanya untuk melepas penat yang sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. ”... Aku masih tidak mengenal kalian tetapi, kalian ini cukup lucu.” ucapnya sembari tertawa dengan memejamkan matanya.
__ADS_1
Pemandangan sejuk terjadi. Setelah bertahan pada rasa cemas yang berlangsung selama berhari-hari, mereka akhirnya bisa melihat Ayhner tertawa seperti ini. Rasanya seperti terlahir kembali dan mendapatkan suasana yang baru. Aciel pun juga turut senang dan ikut tertawa bersamanya.
...~o0o~...
”Di sini, ya?”
Gill berada di tengah sebuah hutan yang Idipasangi tembok-tembok besar. Menurut orang-orang yang tinggal di sekitarnya, hutan itu dipenuhi dengan monster-monster. Namun, sejauh apapun ia berjalan, tidak ada satupun monster yang berada di sini. Ia hanya menemukan satu yang sekarang berada tepat di depannya.
Monster itu berada di dalam sebuah gua batu. Tidak terlihat oleh seorangpun karena ia terkurung dalam gelap. Wujudnya tampak seperti larva kupu-kupu berwarna merah. Monster itu tampaknya sedang sekarat karena dipenuhi oleh luka yang sangat parah. Monster ini tidak bisa berjalan lagi. Karena itu, ia bersembunyi di sini untuk menghindari para manusia yang akan membunuhnya.
”Jenis yang sama yang pernah aku temui selain kupu-kupu bulan biru.” Gill merogoh saku jasnya dan mengambil sebuah jam saku berwarna emas di dalamnya. ”... Aku akan melepaskanmu dari rasa sakit. Sebagai gantinya, berjanjilah kau akan menjadi pelayan setiaku.”
Jam saku itu terlempar ke arah monster di depannya. Jam itu meledak, memicu sebuah cahaya yang mampu membutakan pandangan. Kupu-kupu merah juga bertebaran ke langit-langit kemudian menghilang dalam beberapa detik. Hanya berlangsung selama beberapa detik, wujud monster besar itu seketika menghilang. Kemudian di bawah sana, ia melihat sesosok gadis yang tampak masih berusia 14 tahun sedang duduk di saja sembari memegangi tubuhnya yang tak memiliki luka lagi.
Gill berjalan mendekat sembari mengulurkan tangan untuk gadis kecil ini. Ia menatapnya dengan serius dan berkata, ”... Mulai sekarang, namamu Aima. Jadilah pelayan yang setia padaku.”
...~o0o~...
Luois melintas pada sebuah bangunan tua yang sudah lama tidak ditinggali. Tepatnya bangunan itu berada di sebuah wilayah kumuh yang hanya ditinggali oleh beberapa orang. Tak sampai sepuluh orang, mereka semua adalah seorang pengemis yang tidak mampu lagi bekerja. Sementara bangunan tua yang berada di depannya adalah bangunan besar yang dulu ditinggali oleh kalangan bangsawan.
”Aku benar-benar tidak ingin berada di sini. Tapi, orang itu memancingku untuk kemari. Oh, iya. Bukan manusia. Tetapi monster. Monster yang sangat berbahaya dan mampu memancing monster-monster lain untuk menyerang.”
Sosok boneka besar yang bentuknya menyerupai seorang laki-laki berambut putih dengan ujung hitam muncul di belakangnya. Matanya merah terbuat dari kancing pakaian dengan ukuran yang lebih besar. Dahulu kala, ia menjadi objek percobaan Ayahnya sendiri. Dan sekarang, adalah waktu yang tepat untuk membalas.
__ADS_1
...~o0o~...
”Ohh, Eldric! Anakku sayang! Bagaimana keadaanmu saat ini? Ibu sangat mencemaskanmu.” Nyonya Hanley langsung memeluk erat Eldric begitu Eldric baru saja membuka pintu dan tidak sempat mengatakan apapun.
”Lepaskan aku! Kau akan membuatku mati!” Eldric tampak berusaha melepaskan diri dari pelukan Ibunya. Disusul dengan Tuan Hanley yang berjalan menghampiri mereka berdua.
”Baguslah kau sudah kembali, Eldric. Ibumu sangat mencemaskanmu mengenai kejadian kemarin.” ucapnya.
”Itu benar. Apakah masih ada yang terluka? Atau bagian mana yang masih sakit? Kau seharusnya tetap beristirahat saja di rumah. Memangnya hal penting apa yang kau lakukan di luar sana sampai memaksakan diri?” ucap Nyonya Hanley dengan begitu cemas.
”Aku hanya pergi keluar untuk berjalan-jalan!”
”Apakah kau baru saja menjenguk temanmu yang sakit? Aku dengar banyak orang yang terluka bahkan sebagian pasukan Anjing Ratu. Beruntungnya kau masih baik-baik saja kami sudah senang sekali.” ucap Tuan Hanley meski mulanya ia tidak tahu kemana Eldric pergi tadi.
”Benarkah? Kamu punya seorang teman? Siapa namanya? Bagaimana keadaannya sekarang? Harusnya kau menjenguknya bersama kami.” lanjut Nyonya Hanley.
Eldric terdiam sejenak. Seperti ada sesuatu yang berat untuk dikatakannya. Dia tidak ingin jujur pada mereka berdua. Ayhner mengalami hilang ingatan dan ia harus memulai semuanya dari awal. Ia yang sejak awal jauh dari kedua orang tuanya, tidak mungkin mengatakan hal jujur secara tiba-tiba.
”Ahh, dia baik-baik saja. Setidaknya dia sudah sadar dan sudah berjalan seperti biasa. Pola makannya juga berangsur membaik.” jawabnya seadanya.
”Baguslah kalau dia sudah baik-baik saja. Aku senang karena akhirnya kau memiliki seorang teman. Jaga dia baik-baik. Jangan sampai kehilangan.” ucap Nyonya Hanley sembari menepuk pundak Eldric.
Eldric yang mendengarnya merasa sedikit tenang. Ia pun mengangguk dan menjawab, ”Iya.”
__ADS_1