
Eldric mengetuk pintu saat ia tiba di depan mansion Leory. Awalnya penjaga rumah ini tidak mengizinkannya untuk pergi menemui salah satu anggota keluarga. Namun dengan berkedok kenalan lamanya dan ikut serta dalam tragedi yang terjadi di gereja beberapa hari lalu, penjaga di sana akhirnya mengizinkannya untuk mengetuk pintunya. Namun, ia tidak menjamin pelayan atau anggota keluarga mengizinkannya masuk ke dalam.
Setelah menunggu selama beberapa saat, seorang pelayan wanita akhirnya membuka pintunya sedikit dan menyapanya dari celah pintu yang hanya berjarak 30 senti. Matanya tampak dingin saat menatap Eldric. Sepertinya saat ini mereka sedang tidak ingin menerima satupun tamu.
”Halo, Apakah Ayhner ada di dalam? Aku ingin menemuinya sebentar.”
Pelayan itu terdiam selama beberapa saat sembari melirikkan matanya ke arah yang lain. ”... Saat ini Tuan muda tidak bisa ditemui oleh siapapun. Tolong pergilah. Tuan rumah tidak menerima satupun tamu apapun alasannya.”
”Begitu ya?” Eldric memberi jeda. ”... Tapi, bisakah aku tahu bagaimana keadaan Ayhner sekarang? Apakah dia baik-baik saja?”
Pelayan itu tampak suram. ”... Itu rahasia. Silahkan pergi!” dengan membanting pintunya, Eldric sudah tahu pelayan itu melarangnya masuk ke dalam rumah. Tentu hal itu semakin membuat Eldric penasaran mengingat luka parah yang dialami Ayhner saat itu.
”Membuatku kepikiran saja.”
Eldric akhirnya berjalan pergi mengurungkan tujuan awalnya. Ia berjalan biasa melewati halaman luas dengan rumput hijau yang tergelar serta beberapa pagar bunga yang ada di beberapa tempat. Harum, aroma bunganya tercium sejak ia menginjakkan kakinya di gerbang masuknya.
Angin cukup kencang nyaris membuat topinya terbang. Ia pun penasaran darimana arah angin ini. Hingga perhatiannya terbawa pada sosok anak laki-laki yang sedang duduk dihadapan sebuah pohon kecil yang memiliki pot hancur. Entah terjatuh atau sengaja dihancurkan, anak itu terus memperhatikannya.
__ADS_1
”Ayhner, kau kah itu?”
Eldric berjalan menghampirinya. Tanpa sadar anak itu langsung menatap ke arahnya dengan wajah yang dihiasi plester dan bekas luka. Kedua matanya bengkak seperti baru saja bangun dari tidur panjangnya. Ternyata benar, anak yang dilihatnya ini adalah Ayhner.
”Kau benar Ayhner! Apakah kau sudah merasa baik-baik saja? Seharusnya kau berada di tempat tidurmu dan beristirahat.” Eldric berhenti tepat di depannya dan berlutut di sana.
Anehnya Ayhner menatap Eldric dengan bingung seolah ia tidak mengenal siapa Eldric dan mengapa ia repot-repot menyapanya. ”... Kamu siapa? Aku tidak mengenalmu.” ucapnya dengan tatapan yang sama.
Eldric sangat terkejut bahkan nyaris tidak mampu berkata-kata lagi. Ia coba perhatikan mungkin ia salah orang. Namun, dilihat darimanapun, ia tetaplah Ayhner Leory yang dikenalnya.
Ayhner mencoba mengingatnya akan tetapi, ia tidak bisa melakukannya dan hanya menggelengkan kepalanya. Apa yang dikatakannya hanya membuat kepalanya sakit seakan ingin meledak. ”... Tolong jangan berusaha membuatku ingat. Kepalaku sakit sekali.” ucapnya sembari memegangi kepalanya.
”Ada apa denganmu, Ayhner? Sesuatu terjadi pada kepalamu?” Eldric berusaha menyentuh Ayhner akan tetapi, Ayhner langsung menepisnya dan menatapnya dengan ekspresi sedih.
Melihatnya membuat Eldric langsung berhenti untuk mencoba menyentuhnya. Seketika ia menjadi terdiam, menatapnya dengan prihatin. Ia hanya tidak menyangka Ayhner melupakannya. Atau mungkin, ia tidak sengaja melupakannya karena sesuatu.
”Hei, Ayhner. Bukan masalah besar kalau kau sampai melupakanku. Sejak awal, aku juga tidak begitu mengerti tentang dirimu. Kau jarang sekali bercerita tentang kehidupanmu. Yah, aku merasa itu juga tidak terlalu penting karena aku hanya sekedar orang yang menumpang lewat di depanmu. Tapi, aku tidak keberatan kalau kau ingin menceritakannya. Aku pun, akan berusaha mencari jalan keluar untukmu kalau kau berada dalam masalah. Karena, pertemuanku denganmu bukanlah sebuah kebetulan.”
__ADS_1
Ayhner sempat terkejut namun hanya berlangsung selama beberapa saat. Ia tampak tak menduga dengan yang dikatakan Eldric tadi. Memang ia tidak ingat bagaimana ia bisa mengenal Eldric hingga sejauh ini. Tetapi ia mampu merasakan pentingnya peran Eldric dalam kehidupannya yang lalu.
Tanpa sadar, tangannya menarik lengan pakaian Eldric. Ayhner berkedip beberapa kali karena tidak menyangkanya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Seolah-olah, ia telah bertemu seorang tokoh protagonis dalam sebuah novel yang pernah menginpirasi dirinya.
”Kenapa aku merasa seperti ini? Aku merasa takut dan gelisah. Tapi, aku tidak tahu darimana datangnya. Kenapa, orang sepertiku bisa bertahan hidup sampai sekarang? Kenapa tidak sejak dulu, aku memilih untuk mati?” kedua mata Ayhner seketika berkaca-kaca. Lalu, tanpa disadari olehnya, seseorang berlari dari arah belakangnya dan langsung memeluknya erat.
Ternyata, ia adalah Aciel yang sudah mendengar semua pembicaraannya saat ia sedang mencarinya. Ia pun turut sedih dengan pernyataan yang dikatakan Ayhner tadi. Lagi-lagi, kesalahan yang sama dilakukan olehnya. Ia tidak bisa menunjukkan wajahnya lagi jika hal ini terjadi berkali-kali.
”Maafkan Ayah, Ayhner. Aku memang tidak berguna bahkan untuk Chloe. Aku telah melanggar semua janji yang aku katakan pada kalian berdua. Aku memang pantas mendapatkan balasannya.”
Ayhner terdiam selama beberapa saat. Ia menyentuh lengan Aciel yang menahan kedua pundaknya lalu melepasnya kembali. Anehnya ia tidak merasakan apapun dalam dirinya ketika Aciel mengatakan kesalahannya. Jauh berbeda dengan Eldric tadi. Rasanya, ada yang kurang di sini. Ia masih belum bisa mengingat semuanya dan alasan mengapa tiba-tiba Aciel datang lalu meminta maaf padanya.
Diwaktu bersamaan, Luois memperhatikan mereka dari balik celah rumah. Ia tampak tak berekspresi apapun sembari bersandar di dinding dan melipat tangannya. Aroma bunga yang sama yang dulu pernah dirasakannya. Rasanya seperti bernostalgia ke rumah orang tuanya yang sudah lama tiada.
Luois menarik nafas. ”... Ahh, aku benci jika harus kembali kemari. Membuatku ingin menghancurkan semuanya saja.” ucapnya sembari menatap ke arah yang lain. ”... Tapi, sayang sekali ya. Suasananya tidak seramai yang dulu. Aciel Leory, kita lihat sampai kapan kau akan bertahan dengan monster yang hidup dalam dirimu kalau kau terus menumbalkan satu tahun kehidupanmu. Akan ku buatkan akhir yang bahagia untukmu.”
Setelah melihat keadaannya yang semakin membaik, Luois segera berjalan pergi dari sana tanpa diketahui maupun dilihat oleh siapapun yang melintas di sana.
__ADS_1