Ace Of Disaster

Ace Of Disaster
Episode 29


__ADS_3

Posisi Ayhner saat ini sedang dihimpit oleh dua orang laki-laki bertubuh besar. Pakaian yang mereka kenakan bukanlah berasal dari kalangan bangsawan. Artinya mereka adalah rakyat biasa yang kekurangan uang. Tetapi, beberapa bangsawan di tempatnya ada juga yang memakai pakaian berantakan sama seperti keempat orang pria yang berada di dalam kereta ini. Namun, mereka baik sekali karena tidak mengikat kaki dan tangannya maupun menutup mulutnya agar tidak berisik.


Ayhner tidak sempat panik setelah melihat salah satu dari mereka lupa mengunci pintu kereta. Wajah mereka pun tidak terlalu sangar baginya. Entah apakah ia sudah terbiasa dalam situasi terhimpit seperti ini hingga ia mampu bisa dengan mudahnya mencari jalan keluar.


”Kemana Paman akan membawaku pergi? Apakah paman sadar kalau paman sudah melakukan penculikan?” tanya Ayhner sembari menatap laki-laki di sebelah kanannya.


”Kau diam saja di sana atau aku akan mengikat mulutmu!” jawabnya membentak.


”Dari tadi aku tidak berteriak meminta tolong kan? Untuk apa melakukannya? Lagipula, Paman dengan paksa membawaku ke dalam kereta kuda. Harusnya paman memiliki alasan yang bagus kan?”


”Kau akan lihat nanti setelah kau sampai! Sekarang diamlah!” jawab yang lain.


”Kalau begitu keluarkan aku sebentar. Aku ingin buang air besar. Kalian tidak mau ada kotoran di dalam kereta kan?”


”Bilang saja kau ingin lari dari kami dan hanya mengada-ngada ucapanmu.” laki-laki di depannya sepertinya sudah menaruh curiga padanya ia sudah merencanakan sesuatu.


”Kenapa begitu? Aku juga tidak tahu dimana ini. Lagipula, kalau aku ingin lari sudah kulakukan sejak tadi. Kereta ini berjalan lambat dan pintunya juga tidak dikunci. Aku tinggal berlari saja dan menjatuhkan diri dari kereta kuda ini. Mudah kan? Aku rasa anak-anak yang pernah kalian culik juga akan melakukan hal yang sama.”


”Diamlah! Aku akan mengikatmu sekarang!” salah satu laki-laki itu mengeluarkan sebuah tali dan bergerak mendekatinya. Ia ingin mengikatnya namun, dia tidak tahu kalau Ayhner memiliki kebiasaan menyimpan pisaunya di balik jubahnya.


Dengan begitu cepat, ia langsung membelah tali itu menjadi dia kemudian melemparkan dirinya keluar dari kereta kuda. Dengan hanya menggunakan sebuah pisau, keempat laki-laki ini menghindar agar tidak terluka.


Begitu Ayhner terlempar dari kereta kuda dan sempat terbanting beberapa kali, ia akhirnya lega karena bisa keluar dari ketegangan yang terjadi padanya selama satu jam. Kereta kuda yang mengangkutnya itu pun berhenti. Keempat pemuda tadi langsung berkeliaran mengejar dirinya.

__ADS_1


Dia berlari menjauhi mereka mengikuti jejak kereta kuda ini dan bersembunyi dibalik pohon. Hari sudah cukup malam bahkan bulan sudah muncul di depannya. ”Tidak bisa dibiarkan! Harus dibunuh!”


DORRR!!


Peluru nyaris saja melubangi kakinya. Ia cukup terkejut melihat keempat laki-laki ini membawa senjata api yang bisa melukai dirinya hanya dalam satu tembakan.


”Bagaimana aku bisa mengalahkan peluru dengan kecepatan tinggi hanya menggunakan sebuah pisau biasa? Ahh, aku tidak pernah terpikir untuk membawa senjata seperti itu yang banyak terlihat di rumah.” gumamnya kesal.


”KAU TIDAK AKAN BISA LARI!” teriak seorang laki-laki yang terus menarik pelatuknya.


Satu kalimat yang terlintas dipikirannya saat laki-laki itu terus membuat peluru keluar dengan sia-sia. ”Dia pasti sudah gila!”


”Apa apa apa yang harus aku lakukan sekarang? Aahhh!” berbeda dengan Ayhner yang dulu. Ayhner yang sekarang lupa kalau biasanya ia akan langsung membunuh siapapun yang memperlakukannya dengan buruk. Tetapi, kali ini ia terus memikirkannya secara matang-matang.


Suara laki-laki itu datang dari arah atas. Lantas Ayhner langsung menatap ke atas dan dia melihat seorang laki-laki yang sedang duduk santai di salah satu dahan pohonnya sembari melihatnya dari atas. Rambut putih dengan pakaian putih, dia tampak seperti bulan yang kedua.


Dia adalah Luois. Namun, karena Ayhner kehilangan ingatannya, ia tidak tahu siapa yang sedang mengajaknya bicara.


”Ahh, tuan, maksudku kakek penjaga hutan ini?” tanya Ayhner bingung.


”Kakek penjaga hutan katamu? Aku tidak terlihat setua itu kan? Kau sendiri terlihat seperti bayi.”


”Aku pikir rambutmu yang putih itu karena faktor usia. Ternyata dari sananya ya?” Ayhner memberi jeda. ”... Kamu ingin menolong tetapi aku tidak mau memiliki hutang budi pada seseorang. Jadi, aku akan menghadapinya sendiri.”

__ADS_1


Luois mengalihkan perhatiannya sembari bermain sebuah tali merah yang ada di jarinya membentuk bentuk sesuatu yang indah. ”... Kamu tidak memintanya juga pasti akan aku lakukan. Toh, kamu tidak sadar kalau suasananya sudah sunyi?”


Ayhner tiba-tiba menyadarinya. Ia pun mulai memperhatikan sekitar dan benar saja suara tembakan yang didengarnya juga tidak terdengar lagi. Memangnya apa yang dilakukannya? Ia juga tidak mendengar suara teriakan maupun adu tembakan di sini. ”Bagaimana itu terjadi? Apa yang kau lakukan?”


”Hanya menyelamatkanmu. Itu saja.”


Luois tiba-tiba terlihat sangat kesakitan. Ia terus memegangi dadanya dan karena rasa sakit yang luar biasa itu, ia langsung terjatuh ke bawah dari atas dahan pohon yang cukup tinggi. Ayhner yang melihatnya panik dan langsung mendekatinya. Ia mencoba melihat apa yang terjadi padanya dan tepat di dadanya, terdapat sebuah luka yang masih terbuka dengan bercak-bercak darah yang mengotori pakaiannya.


”Bagaimana bisa kau tidak perhatian pada lukamu sendiri?! Parah sekali. Aku tidak membawa kain apapun untuk menutupinya.”


Ayhner mencoba mencari bangunan yang ada di sekitarnya melihat kesadaran Luois yang semakin memudar. Tak jauh di sana, ia melihat sebuah bangunan tua yang cukup besar dan sudah lama tidak ditinggali. Langsung saja, ia memapahnya dan berjalan menuju rumah yang dilihatnya.


Sampainya di sana, ia langsung menjatuhkannya di ruangan depan. Rumah itu tampak sudah sangat tua dengan barang-barang yang masih berada di tempat yang sama. Di rumah ini, pasti ada sesuatu yang bisa digunakan untuk menutup lukanya.


Ia pun mencoba mencarinya di dalam sebuah lemari yang tampaknya dulu dimiliki oleh seorang wanita. Tepatnya di laci bagian bawah, terdapat sebuah kotak obat yang isinya masih lengkap dengan kain kasa di dalamnya. Ia tidak akan menggunakan obatnya karena curiga obat itu sudah lewat batas waktu penggunaan.


Luka yang ada di tubuh Luois tampaknya belum diobati sama sekali. Ia hanya membersihkannya dari darah lalu membersihkannya lagi. Cara ini bukanlah cara yang terbaik untuk menyembuhkan luka sayatan besar yang menggores tubuhnya dari dada sampai perut. Beruntungnya Ayhner ingat sesuatu. Saat kecil, ia sering diajari Ivonne bagaimana cara membungkus luka seseorang. Karena saat itu, ia sering mendapatkan luka yang banyak akibat orang-orang yang menginginkan darahnya untuk sembuh secara instan.


”Seperti luka sayatan pedang. Di waktu sekarang, memangnya masih ada yang menggunakan cara kuno seperti itu?” gumam Ayhner sembari membungkus luka luar di tubuh Luois.


Dalam keadaan seperti itu, Luois masih memejamkan matanya. Ia tampak menahan sakit ketika Ayhner membungkus lukanya. ”Hei! Kau masih bangun kan? Terima kasih sudah menolongku.”


Perlahan Luois membuka matanya, menatap Ayhner dengan seluruh tenaganya. ”... Bagaimana aku bisa membiarkannya? Kamu, orang pertama yang menemukanku. Aku yang seharusnya berterima kasih.” ucapnya dengan bergumam setelah itu ia terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya ia terjatuh ke samping setelah Ayhner selesai membungkus lukanya.

__ADS_1


__ADS_2