
”Cinta itu datang, dari rasa kasihan. Sen, kau percaya dengan kata-kata itu?” Gill memperhatikan kejadian yang terjadi di gereja dari sebuah jendela bangunan tinggi. Sejak awal dia sudah tahu apa yang akan terjadi di dalam gereja itu namun, dia memilih untuk diam dengan tidak memberitahukannya pada siapapun.
Sen menuangkan sebuah teh hangat ke dalam gelas sebelum menjawab, ”Tentu Tuan. Bisa saja cinta itu tidak hanya datang dari rasa kasihan tetapi, juga rasa penyesalan dan datang dari orang yang tepat.”
”Kenapa itu bisa terjadi? Apakah cinta hanya bisa dimiliki oleh manusia?”
”Tentu tidak. Tuan hanya belum menemukannya.”
”Bagaimana kalau aku tidak juga menemukannya? Orang tuaku juga tidak pernah mencintai putranya sendiri. Apakah aku bisa mempercayai takdir?”
Sen terdiam menatap sosok belakang Gill yang terlihat frustasi. Sen sudah menemani Gill saat usianya tujuh tahun dan dia menyaksikan yang dilakukan oleh semua orang di rumahnya yang dulu. Gill anak yang dibuang dan tidak diinginkan oleh orang tuanya. Kemampuannya yang sama seperti monster, membuat mereka merasa ketakutan.
”Tuan tidak perlu khawatir.” ucap Sen dengan sopan. ”... Saya tidak keberatan jika saya orangnya.”
BRAKK!!!!
Suara dentuman terjadi berkali-kali di dalam sebuah gereja yang sudah menjadi arena pertarungan. Leth, monster yang tak memiliki wujud itu terus menyerang ketiga saudara kembar ini bahkan sampai memporak-porandakan semuanya. Dia sudah tidak peduli apakah dia harus menghancurkan mayat mereka bertiga. Yang pasti, nyawa haruslah dibayar dengan nyawa!
Di sisi lain, Aciel tengah berjalan menghampiri Ayhner dengan berjalan pelan. Kakinya seolah mengerti isi hatinya. Dia tidak ingin melihat keadaan putranya yang terlihat mengerikan dengan darah yang keluar dari seluruh tubuhnya. Dia juga merasa sangat menyesal karena harus meninggalkannya. Baru saja Aciel mengobati rasa sakit yang dialami Ayhner selama ini, kini dia kembali dipertemukan dengan rasa sakit ketika melihat Putranya nyaris meregang nyawa.
Aciel mengabaikan pertarungan yang terjadi di sekitarnya. Dia terus berjalan hingga akhirnya dia berada di samping Ayhner yang masih terbaring di atas meja batu. Keadaannya sungguh mengenaskan. Meski nafasnya masih berhembus, dia tidak mampu membayangkan rasa sakit yang sudah dialami oleh Ayhner selama pertarungannya.
Dengan segera, Aciel melepas pisau yang masih menancap di tubuhnya kemudian memeluknya erat dan tidak melepasnya selama beberapa saat.
__ADS_1
”Maafkan aku, Ayhner. Lagi-lagi, aku membuatmu menderita seperti ini.” ucap Aciel sembari menahan tangisannya.
Aciel berusaha menenangkan dirinya dan selama beberapa saat itu, dia mencoba membawa pergi Ayhner keluar gereja untuk diobati. Beruntung saja saat itu Ivonne dan Edmund ikut datang ke tempat mereka dengan membawa rekan-rekannya yang lain.
Ivonne nyaris tidak bisa bernafas saat mencium aroma darah yang berasal dari dalam gereja. Beruntung Edmund segera menenangkannya untuk tidak terlalu menganggapnya berlebihan.
”Ivonne, tenanglah sedikit. Aku ada di sini.” ucap Edmund sembari memegang kedua pundak Ivonne, menahannya agar tidak terjatuh.
”Terima kasih, aku baik-baik saja.” Ivonne langsung menjawab. ”... Tapi, siapa yang menjadi penyebab semua kekacauan ini? Aroma darahnya tajam sekali dan semua orang takut mendekat.”
”Hei! Ivonne!” Aaron tiba dan memanggil namanya sembari berlari menghampiri. Dia terlihat terburu-buru dengan wajahnya yang mulai panik karena memiliki sesuatu yang harus segera dikatakan olehnya.
”Aaron, kau baru saja sampai kemari?” tanya Ivonne, menatapnya berdiri tepat di depannya dengan kelelahan.
Ivonne memasang raut wajah tidak percaya. Dia mulai menyimpulkan bahwa ini adalah alasan mengapa saat itu Aciel tidak sempat mengatakan apapun dan terburu-buru untuk pergi ke tempat ini.
Hanya berselang beberapa detik setelahnya, pintu gereja kembali terbuka. Kali ini, Aciel keluar tidak sendirian. Melainkan ditemani oleh Ayhner yang keadaannya masih sama seperti tadi. Aciel juga tampak terluka cukup parah dengan bekas darah yang keluar dari hidung dan mulutnya yang masih terlihat sangat jelas.
”Aciel, kau,...”
Ivonne seketika terdiam di tempatnya yang sama begitu dia melihat Ayhner terluka sangat parah. Wajahnya pucat dan keringatnya terus menghujani wajahnya. Saat ini, Ivonne paling takut melihat orang tersayangnya terluka sangat parah apalagi jika terjadi pada keponakannya.
Nafasnya seketika berhenti dan kedua lututnya melemas sehingga ia langsung terjatuh. Aaron datang untuk menenangkannya sementara Edmund langsung berlari menghampiri Aciel untuk melihat keadaan mereka berdua.
__ADS_1
”Apakah dia masih hidup?” tanya Edmund yang langsung berinisiatif membawa Ayhner dari Aciel.
Aciel mengangguk pelan dengan wajahnya yang terlihat lesu. ”... Ya, dia masih bernafas. Tolong cepat obati dia sebelum terlambat. Periksa seluruh tubuhnya apakah ada luka tersembunyi atau tidak.”
”Baiklah, aku akan segera mengobatinya.” dengan segera, Edmund langsung membawa pergi Ayhner menuju pengungsian terdekat. Setelahnya, Aciel terdiam sejenak untuk menenangkan dirinya sebelum akhirnya dia melihat ke arah Ivonne yang jatuh berlutut dengan wajahnya yang terlihat sangat ketakutan.
Langkahnya berjalan kembali menghampiri Ivonne seorang diri. Sebagai kakaknya, dia tahu apa yang menjadi ketakutan terbesar Ivonne selama ini. Dia sangat takut pada kematian yang terjadi pada orang yang dicintainya. Wajar kalau dia mengalaminya. Di hari pernikahannya, terjadi sebuah kejadian besar yang mengakibatkan kematian beruntun termasuk calon pasangannya.
BRUKK!!!
Aciel jatuh berlutut tepat di depan Ivonne yang gemetaran dengan wajahnya yang pucat dan berkeringat sangat banyak. Tangannya kemudian bergerak untuk memeluknya dari depan dan mengelus kepala belakangnya untuk menenangkannya sesaat.
”Ivonne, tenanglah. Semua baik-baik saja. Ayhner masih hidup. Kita yang akan menyelamatkannya.”
AAARRRGGGGHHHHH!
Suara teriakan datang dari dalam gereja. Ledakan asap terjadi dan mengakibatkan seluruh pintu dan jendela terbuka secara paksa dari dalam. Dari dalam pintunya, muncul sebuah jari raksasa yang membawa kepala dari tiga bersaudara yang menyerang tadi. Bisa ditebak, mereka bertiga sudah mati dengan tubuh yang hancur dan hanya menyisakan bagian kepala.
”Kerja yang bagus.”
...~o0o~...
”Tidak aku sangka akhirnya aku tahu kemampuan aslinya. Pantas saja aku selalu merasa ada yang berbeda darinya dibandingkan dengan manusia-manusia yang lain.” ucap Luois yang berbicara di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan boneka-boneka yang menggantung di langit-langit.
__ADS_1
Luois memegang sebuah permata berwarna merah dan mengangkatnya ke atas. ”... Aciel Leory, kau sungguh munafik. Kau ingin membunuh semua spesies manusia tapi kau sendiri menyimpan spesies manusia yang berbahaya dalam dirimu. Haruskah aku memberi keadilan untukmu setelah apa yang terjadi pada Putramu?”