
Jangan bermain-main dengan singa kalau tidak ingin merasakan taringnya.
Di sebuah rumah tua yang ada di pemukiman kumuh, Aciel yang tak membawa apapun lantas mengetuk pintunya tiga kali. Suara-suara beberapa orang terdengar dari dalam rumah ini. Ia menaruh curiga pada rumah ini karena rumah yang lain sudah tidak ditinggali oleh pemiliknya.
Tak lama setelahnya, seorang laki-laki bertubuh besar membuka pintunya sepanjang jari telunjuknya. Ia menatap Aciel yang memakai sebuah jubah hitam dan tudung untuk menutupi kepalanya. Merasa aneh dengan keberadaannya, laki-laki itu pun bertanya, ”Kau mau apa datang kemari?”
Aciel terdiam selama beberapa saat. Ia mencium aroma darah menyengat yang berasal dari dalam rumah. Untuk orang yang sudah sering mencium darah seperti Aciel, Orang lain pasti tidak akan bisa menyadarinya.
Tidak lama, Aciel menunjukkan wajahnya yang sedang tersenyum ramah seperti sedang menyapa Tuan rumah. ”Aku adalah polisi yang sedang menyelidiki kasus penculikan. Apakah kamu pernah melihat seseorang yang mencurigakan di sekitar sini?”
Laki-laki itu tampak terkejut kemudian melirikkan matanya ke arah kiri. ”Ahh, aku tidak pernah melihatnya. Hanya aku yang tinggal di sini bersama keluargaku.”
”Benarkah?” Aciel merunduk, menyeringai. Kemudian tangannya bergerak mencekik laki-laki yang tubuhnya lebih besar darinya. ”... Kamu orang yang aku cari.” dalam hitungan beberapa detik saja, Aciel mampu mematahkan leher laki-laki itu hanya dalam satu cengramannya.
Laki-laki itu tak sempat berteriak sehingga kedatangannya ini tidak memicu keramaian. Namun, saat pintu terbuka lebar, sekelompok laki-laki lain yang tubuhnya jauh lebih besar darinya juga berada di dalam rumah. Mereka tampaknya selalu waspada pada seseorang yang datang bertamu ke tempat persembunyian mereka.
Aciel yang tak bersenjata, menatap mereka dengan tatapan sangat marah dan penuh ancaman. Mata merahnya menyala seperti bulan yang sedang bersinar terang. ”Dimana kalian menyembunyikan putraku?”
...~o0o~...
Di pagi-pagi buta, Luois terbangun. Ia tidak sadar dirinya sudah tertidur sangat lama. Posisinya saat ini bersandar pada dinding ruang tamu. Sofa yang berada di ruangan itu sudah sangat kumuh dan rapuh. Permukaannya juga terlihat lembab dan tampaknya tidak nyaman untuk diduduki.
Luois tidak ingat bagaimana ia bisa sampai kemari. Kemudian ia menoleh ke arah kanan lalu melihat Ayhner yang sedang tidur di sebelahnya. Ia duduk tepat di sebelahnya dengan wajah yang sedang menghadap ke arahnya. Setelah itu, ia menjadi ingat bagaimana ia bisa sampai di sini.
”Bodoh! Bukannya pergi dari sini dia masih bertahan sampai sekarang.” gumam Luois. Ia mencoba membangunkannya dengan memegang pundaknya dan berkata, ”Hei! Bangunlah! Di sini berbahaya. Kau harus segera pergi.”
__ADS_1
Ayhner membuka matanya sedikit, menatap Luois dengan setengah sadar kemudian berkata, ”Oh, kakek penjaga hutan. Kalau kau ingin pergi, pergi saja. Aku ingin beristirahat di sini sebentar lagi. Belakangan ini, kepalaku sakit sekali.” ucapnya kemudian kembali tidur.
Luois memperhatikan dan terdiam sejenak, ”Tidurnya cepat sekali.” batinnya kemudian kembali bersandar di tempatnya tadi. Dia menatap ke arah sebuah kotak obat yang digunakan untuk mengobatinya. Ia membukanya dan ternyata benar, Ayhner tidak menggunakan obat untuk memperkecil lukanya dan hanya menggunakan kain kasa yang masih tersisa.
”Padahal dia bisa menyembuhkan lukaku dengan darahnya. Tidak perlu repot sampai membungkus lukaku dengan kain kasa seadanya. Tapi, apakah dia ingat?”
...~o0o~...
”Kau kemanakan putraku?” Aciel menginterogasi orang terakhir di tengah-tengah beberapa mayat yang semuanya mati dengan leher patah. Dia sungguh sangat marah. Ekspresinya, membuat beberapa orang tidak mampu menjawab pertanyaannya.
”K- kami tidak mengetahuinya. Empat orang yang bertugas membawa kereta, masih belum kembali sampai sekarang.” jawab orang itu dengan kesusahan karena sesak nafas.
Aciel terdiam sesaat. ”Sepertinya itu cukup.” setelahnya Aciel kemudian mematahkan leher orang itu lalu menjatuhkannya. Mayat-mayat di sini semua mengeluarkan darah yang cukup banyak dari dalam mulutnya. Kedua tangan Aciel pun tak luput dari cipratannya. Setelah tahu kalau kereta kuda itu belum sampai kemari, ia pun segera berjalan keluar untuk mencarinya.
Bayangan hitam mengambang di udara. Sepasang mata tak berbentuk dengan ratusan bentuk mata manusia yang ada di sekitar tubuhnya. Ia selalu menempel di sebelah Aciel dan selalu membisikkan sesuatu padanya.
”Aku pasti akan meminta bayangan darimu.” ucap Leth dengan suara mengerikannya.
”Ambil saja asalkan jangan usik orang-orang di sekitarku. Katakan, dimana keberadaannya sekarang?” ucap Aciel tegas.
”Khikk,... Kau begitu memaksa. Ini bukanlah hal bagus yang bisa kau dengar.” Leth memberi jeda. ”... Saat ini, dia sedang bersama dengan adik laki-lakimu. Kamu tahu dia jahat dan kamu pasti bisa menebak apa yang akan terjadi jika dia terus bersamanya.”
Mendengarnya membuat Aciel terkejut dan langsung memasang ekspresi marah tidak karuan. Dia mengepalkan tangannya sampai tidak sadar tangannya telah terluka. ”... Dimana tempatnya?”
”Tidak jauh dari sini. Tempat tinggalmu dulu yang menjadi kenangan masa kecilmu.”
__ADS_1
...~o0o~...
”Bisa tidur pulas seperti ini disaat keadaannya tidak baik. Dia memang mirip dengan Ayahnya.” gumam Luois sembari memperhatikannya dari posisinya yang sama.
Bisa sedekat ini, membuat Luois teringat sesuatu. Saat ia memutuskan pergi dari rumah dan mengasingkan diri ke tempat-tempat lain. Sembilan tahun lalu, ia bertemu dengan Ayhner untuk pertama kalinya. Dia masih belum tahu kalau Ayhner adalah putra dari Aciel dan Chloe.
Ayhner memintanya untuk menunjukkan jalan menuju rumahnya sementara dirinya sendiri tidak tahu dia sedang berada di mana. Ayhner masih belum mengatakan siapa orang tuanya selama keduanya saling berbicara ringan tentang kehidupan sehari-hari. Hingga pada akhirnya, Chloe datang sendiri menemui Ayhner dan langsung memeluknya karena cemas dan khawatir.
”Terima kasih karena telah menjaganya. Aku sangat berterima kasih.” Chloe begitu merendah padahal saat itu Luois tidak melakukan apapun selain bercerita.
”Aku tidak melakukan apapun untuknya.” jawabnya.
Saat Chloe dan Ayhner akan pergi, Ayhner memberi waktu untuk memberikan sesuatu padanya. Ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sesuatu di dalamnya. ”... Untukmu.” sebuah kartu as hati dari sakunya dan memberikannya pada Luois.
Kemudian ia kembali berkata, ”... Aku ingin bertemu dengan paman lagi. Entah sebagai musuh atau sebagai kawan. Karena, paman seperti Ayah kedua bagiku. Ayah yang lebih baik dari ayahku saat ini.”
Kata-kata itu, membuat Luois penasaran. Dan saat ia memutuskan untuk mengikutinya, ternyata orang yang Ayhner sebut sebagai Ayahnya yang sekarang adalah Aciel. Dia yang saat itu adalah kapten pasukan anjing ratu sangat sibuk sehingga waktu untuk berbicara dengannya juga sangat sulit didapat.
”Harusnya aku membencimu. Tetapi, kenapa saat ini aku tidak bisa melakukannya?”
Luois terdiam. Kemudian ia merasakan sesuatu yang menyeramkan yang ada di depan rumah ini. Suhu di sekitarnya mendadak dingin seperti salju sedang turun padahal belum. Ia pun semakin cemas hingga akhirnya, ia membawa Ayhner di atas punggungnya dan tepat setelahnya, pintu rumah ini hancur berkeping-keping.
Luois menghindar dari serpihan-serpihan batu yang berterbangan ke arahnya bersama dengan Ayhner. Setelah debu berhenti bermunculan akibat pasir dan batu yang hancur berantakan, sosok Aciel mulai terlihat di depannya dengan sorot mata mengerikan, menatap ke arah Luois yang berdiri di hadapannya.
”Aku sudah menduga ternyata kau yang melakukannya! Kembalikan dia padaku!”
__ADS_1